
Dirga langsung merangkul pinggang ramping Milea dan Zefa tersenyum kecil melihat sedikit kemesraan tersebut. Sisi buruk juga nakalnya mendominasi, dalam benaknya Zefa berkata jika ia sangat mengasihani Milea sebab saat ini Dirga sedang tergila=gila padanya.
Selesai sarapan mereka lalu berbincang ringan sebentar kemudian baru pulang. Beberapa hari berlalu Raka melihat teman baiknya itu banyak melamun seperti malam ini. Raka duduk di sampingnya kemudian bertanya ada apa dengan Dirga yang sudah membuat dia sedikit khawatir.
“Asli kali ini lo sangat mengkhawatirkan, ada apa sih!” Dengan wajah sangat penasarannya Raka bertanya sambil membuat diri mereka kini saling berhadapan membuat Dirga merasa risih sebab jarak mereka yang dipikir terlalu dekat.
Sambil mendorong tubuh Raka, pria itu berucap, “Apaan sih lo pake acara deket banget.”
“Ya elo kenapa, gak biasanya lo kek gini, jangan bilang semua gara-gara si Zefa?”
Hela nafas panjang terdengar sebelum akhirnya Dirga mengangguk lemas. Raka mengendus kasar setelah mengetahui jawaban Dirga, “Memangnya kenapa lagi, kalian bertengkar?”
“Lebih dari itu.”
“What!” Teriak Raka dengan mimik wajah yang sangat terkejut, pikirannya sudah kemana-mana ketika Dirga bilang kalau lebih dari yang diperkirakan.
“Maksud lo lebih dari marahan itu apa! lo diputusin sama dia, dia udah gak mau ketemu lo lagi? lo ketahuan bawa cewek lain kali atau mungkin lo mainnya kurang memuaskan buat dia,” kata Raka dengan kalimat terakhir yang dibuat berbisik.
Mendengar ucapan terakhir temannya itu Dirga langsung memberikan pukulan dan berhasil membuat Raka meringis. Bukannya menjelaskan, Dirga malah beranjak dan menjauh dari Raka yang membuat rasa penasaran sobatnya tersebut semakin menggunung.
Raka terus mengikuti Dirga seperti anak kecil bahkan ia juga merengek sampai Dirga dibuatnya jengkel. beberapa kali pria itu menghela nafas panjang sebab menahan kekesalan tingkah Raka tetapi pada akhirnya Dirga mengalah juga.
Dia duduk dengan tegap dan raut wajah serius, Raka duduk di hadapannya terpaku siap menjadi pendengar yang baik. Satu demi satu keluar dari bibir Dirga, rangkaian kalimat yang dibuat DIrga sangat dan gampang dimengerti.
__ADS_1
“Gua bakal nikahin Zefa dalam waktu dekat,” kata Dirga dengan tenangnya namun membuat Raka terkejut bukan kepalang.
Raka yang tadi duduk tenang dan manis langsung beranjak dan bolak balik jalan mendengar keinginan temannya tersebut. Berkali-kali dia berkata jika ada yang salah dengan diri Dirga, salah satu saraf otaknya sudah ada yang terputus ungkap Raka.
“Gak lah Ka, gua sadar betul kok dengan apa yang bakal gue lakuin ini,” masih dengan wajah datarnya dia berkata seolah tindakan yang akan dilakukan tidak menyimpang.
“Parah lo Ga, jelas lo gak sadar klo kayak gini, lo sadar kan kalian itu sama-sama punya pasangan,” ungkap Raka dengan nada yang sedikit ditinggikan, “terus … bagaimana caranya kalian kembali menikah, error otak lo Bro,” kembali Raka berkata dengan tatap dan nada bicara yang juga sama.
“Au ah, gimana nanti aja deh, tapi lo tau sendiri kan … kalau gua punya mau lo tau kan bagaimana!”
“Ah, terserah lo deh … kalau lagi kayak gini lo udah pasti susah di bilangin, males gua, percuma.”
Raka pamit dengan sedikit rasa kecewa dengan sobatnya itu, dirinya masih bisa memaklumi jika dia hanya bermain dengan wanita lain di luar pernikahan tetapi jika sampai mau menikahinya lagi jujur saja tidak setuju apalagi ia sangat tahu bagaimana Milea.
Dirga duduk termenung melihat pemandangan diluar jendela, dia kembali memikirkan ucapannya tadi pada Raja. Ia tidak merencanakan itu sama sekali. Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya bahkan saat ini dirinya berpikir apa itu yang ia inginkan di otak bawah sadarnya.
Hampir satu bulan sudah mereka hanya berkomunikasi melalui pesan singkat atau telepon. Baik Zefa dan Dirga saat ini masih tidak bisa menemukan waktu agar mereka bisa bersua. Tidak bisa menemui Zefa untuk mengeluarkan hasratnya ternyata sangat berpengaruh pada rasanya untuk Milea.
“Mas, kamu capek yah?” suara lembut bertanya dari atas tempat tidur.
Dirga menoleh, ia melihat Milea sudah siap dengan pakaian haramnya yang memang selalu bisa membuat dirinya langsung bergairah tetapi kali ini dia tidak merasakan itu. Tidak ada rasa, tidak ada hasrat sama sekali untuk menyentuh bahkan mendekati Milea saat ini.
“Iya sayang, maaf yah … aku sudah lelah banget, ngantuk,” jawab Dirga yang lalu merebahkan diri dan menutup tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
Senyum tipis terlihat, wanita itu menyembunyikan rasa kecewanya, “Iya sayang gak apa, kamu istirahatlah,” balas Milea kemudian mendekat dan beri satu kecupan singkat di kening, pipi serta bibir Dirga yang hanya dibalas senyum setipis kulit bawang.
Pria tersebut langsung menutup kedua matanya sedangkan Milea masih menatap wajah sang suami yang kini dirasa sangat berbeda. Ia tau kalau dirinya tidak bisa membuat perasaan seseorang berubah begitu pula dengan apa yang di rasa Dirga saat ini pada Zefa.
Sikap dinginnya ini sudah sangat jelas untuk Milea seberapa besar Zefa sudah membuat suaminya berpindah rasa. Dari semua yang pernah dilewati mengenai kenakalan sang suami, baru kali ini sangat berpengaruh untuk suami, dirinya juga hubungan mereka.
“Sepertinya usahaku sia-sia,” ucapnya terdengar sedikit lirih, “percuma aku minta Zefa menjauh kalau Mas Dirga seperti ini.”
Wanita malang itu menutup seluruh tubuhnya kini, ia hanya bisa memeluk guling yang ada di sampingnya sambil menahan hasratnya yang tidak bisa dikeluarkan malam ini sambil beberapa kali menghela nafas halus.
Siang itu, dua wanita cantik sudah duduk manis di sebuah cafe, salah satu dari mereka baru saja tiba. Setelah minuman datang mereka mulai berbasa-basi dan berbincang ringan walau keduanya merasa sama-sama tidak nyaman.
Gelas tinggi berisikan es segar diletakkan, tubuhnya dibuat bersandar lalu duduk santai. “Jadi bagaimana, apa yang buat kamu ajak kita ketemuan lagi?” tanya wanita yang terlihat cantik dan bertubuh indah pada orang yang ada di depannya yang juga tidak kalah ayu namun masih kalah body goalsnya.
“Iy, aku cuma mau mengucapkan terima kasih saja karena kamu sudah menepati janji untuk menjauhi Suami aku,” balasnya yang langsung dijawab cepat lawan bicaranya.
“Siap, gak masalah. Lalu … apakah ada perkembangan setelah aku menjauh dari Mas Dirga dengan hubungan kalian!”
Hela nafas terdengar, “Tidak, malah Mas Dirga semakin menjauh dariku, entah kenapa,” jawabnya dengan wajah sedikit lesu.
“Apa kau sudah lakukan apa yang aku lakukan Mil?”
“Sudah, tapi percuma,” serunya, “dia kalau punya keinginan harus dapat.”
__ADS_1