
Dirga tersenyum tipis lalu berkata, “Apa perlu lo tanya lagi!” Tandas Dirga yang membuat Raka langsung beranjak dari duduknya.
“Okey, gua siapin semuanya dulu dan kalian tunggu disini sebentar,” tutur Raka kemudian berlalu keluar ruangan.
Dirga menghela nafas halus, Zefa melirik dengan lirikan yang membuat kening Dirga sedikit mengkerut. “Kenapa Ze, apa ada yang salah?”
Zefa sedikit menggeser tubuhnya kemudian dia bertanya kenapa Dirga menyewa ruang pribadi untuk mereka padahal Zefa berada bersama yang lain di luar dan menikmati suasana sama seperti pengunjung yang ramai tidak masalah.
Dirga mendekat kemudian merangkul tubuh Zefa, seketika wanita itu mematung karena mendengar bisikan Dirga yang juga membuat bulu kuduknya berdiri. “Aku sengaja karena aku ingin berdua dengan kamu.”
Perlahan salivanya masuk ke tenggorokan, bisikan itu dengan kata-katanya sangat menggoda dan membuat otak Zefa langsung berpikir ke arah yang sedikit berbelok. Bayangan apa yang akan mereka lakukan berdua di ruangan itu pun sekilas muncul di benaknya.
Sedikit di gelengkan kepala Zefa agar pikiran kotor itu tidak terus mengkontaminasi otaknya. Jujur dia ingin menikmati malam ini bersama Dirga tetapi di satu sisi dirinya juga merasa sedikit takut melakukannya.
“Mas, kita di sini tidak lama kan?” tanya Zefa dengan sedikit rasa takutnya.
“Emm … tergantung!”
“Kok!”
Senyum tipis di perlihatkan Dirga sebelum menjawab, “Iya, bagaimana nanti saja.”
Baru Dirga ingin melanjutkan ucapannya pintu ruangan terbuka. Raka masuk untuk memberi kabar jika ruangan yang di booking Dirga sudah siap, pria itu mempersilahkan Dirga dan Zefa untuk pergi dan menikmati waktu mereka disana segera.
Dirga pamit bersama Zefa, mereka menuju ruangan itu tanpa diantar Raka sebab Dirga sudah tau di mana letak ruangannya. Sepanjang jalan tangan Dirga tidak lepas dari pinggang ramping Zefa yang di rasa pria itu sama sekali tidak memiliki lemak.
__ADS_1
Sesekali jari nakalnya memberikan remasan gemas yang membuat tubuh wanita itu sedikit meliuk karena geli. Gerak serta suara manja Zefa membuat Dirga ingin cepat sampai ke dalam ruangan, sampai di tempat Dirga membuka pintu dan mereka masuk bersamaan.
“Waw!” Seru Zefa karena ternyata dalam ruangan itu sudah terdapat banyak minuman juga makanan bahkan buah serta cemilan.
Sudah pasti ada alat karaoke yang akan membuat mereka bisa menghibur diri sendiri, bersenang-senang. Zefa langsung pergi melihat-lihat ruangan yang ternyata cukup besar itu, banyak fasilitas kecil yang ada di sana namun Zefa sangat menyukainya.
“Kamu suka bernyanyi?” tanya Dirga sambil mendekat.
Zefa menoleh seraya menjawab dengan gumam dan anggukan kepala. “Aku suka nyanyi bahkan aku sering melakukannya dengan teman-temanku, kami sering karaoke ketika sedang berkumpul, kami juga sesekali pergi ke tempat khusus untuk mengeluarkan hobi ku itu,” jawabnya panjang dan lebar.
“Emm, bagus lah kalau begitu," balasnya dengan senyum yang membuat satu alis Zefa terangkat.
"Kenapa kamu senyum seperti itu, apa yang kamu pikirkan Mas?"
Dirga tertawa lalu mendekat dengan tatap penuh keinginan lalu membalas, "Itu artinya kamu bisa menghibur aku dong sayang," ucapnya dengan penuh goda.
Dirga seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada saat ini, kembali dia menggeser tubuhnya semakin dekat. Kulit mereka sudah saling menempel saat ini, jatung Zefa semakin dibuat berdebar dengan tatapan Dirga yang tidak lepas darinya.
Tangannya mulai digenggam erat, wajah mereka kian mendekat dan semakin dekat. ‘Ya ampun, gimana ini,’ benaknya. Zefa memang wanita yang bebas, dia suka sekali memperlihatkan kemolekan tubuhnya juga suka berhubungan baik dengan banyak pria namun kejadian juga suasana yang seperti ini baru saja dialami.
“Emm, Mas!” Tegur Zefa membuat pria itu menghentikan aksinya yang hendak memberikan sesuatu pada wanita di depannya tersebut.
“Iya,” sahut Dirga lalu mereka diam beberapa saat, “jangan bilang kamu tidak menginginkan ini?” timpal Dirga dibalas senyum tipis Zefa.
Seakan tidak ingin tahu apa yang diinginkan Zefa dan tidak ingin mengerti juga, Dirga langsung membuat bibir mereka saling menempel. Mata Zefa membesar saat Dirga tiba-tiba melakukan itu, gerakan pertama tidak mendapat respon dari Zefa tetapi Dirga terus melakukannya dengan lembut.
__ADS_1
Pria itu terus melakukannya sampai terdengar gumam dari dalam mulut Zefa, “Emm.” Dirga merasa senang, perlahan mata indah Zefa mulai tertutup tanpa dirinya mau karena menikmati sentuhan yang dilakukan Dirga di bibir lembutnya.
Sentuhan itu membuat desir nikmat di tubuh keduanya, mereka menikmati semua rasa yang mereka lakukan. Keduanya terlena dengan apa yang mereka lakukan, tubuh mereka semakin menempel menekan. Keduanya lupa jika mereka mempunyai pasangan yang saat ini sedang menunggu kepulangan mereka.
Milea duduk termenung di meja makan setelah dia masak semua masakan kesukaan suaminya, sesekali dia melihat pesan singkat yang bahkan belum dibaca oleh sang suami sampai detik ini. “Kamu kemana sih Mas, sudah berapa jam masih juga belum lihat hp, apa sesibuk itu sampai-sampai membuka hp saja tidak!’ keluh Milea yang mulai merasa bosan.
Sama halnya dengan Milea, ketika sampai di rumah Primus di buat sedikit bertanya karena Zefa ternyata belum juga sampai ke rumah. Pria itu hanya mendapati adiknya Lala yang ada di sana.
“Benar Istriku belum pulang La?” tanya Primus lagi memastikan.
“Ya ampun Kak, nggak percaya banget sih sama aku,” sahut Lala sedikit kesal, “aku disini sudah dari jam lima sore dan Mbak Zefa tidak ada sampai sekarang,” kembali dia berkata.
“Kemana lagi dia, masa sampai selama ini perginya!”
“Coba Kaka telepon,” saran Lala.
Primus menghela nafas lalu mengambil ponsel dari saku celana, dilihat isi dari pesan singkat dan ternyata pesan yang dikirimnya sejak sore juga belum di lihat Zefa. Pria itu mengurungkan niatnya menghubungi Zefa, dia memilih ke kamar untuk membersihkan diri lalu istirahat
Baru tiga langkah Primus kembali berhenti dan balik badan, “Kamu sudah makan?” tanya primus baru ingat.
“Sudah Mas, tenang aku sudah beli banyak cemilan juga kok,” sahutnya sambil tertawa kecil.
Tenang mendengar jawaban Lala pria itu kembali melanjutkan langkahnya sementara itu istrinya yang sedang ditunggu masih menikmati sentuhan dari pria lain yang saat ini berhasil menggetarkan hatinya. Perlahan tubuh Dirga mulai mengarahkan tubuh Zeffa untuk mengikuti gerak tangannya.
Pria itu membuat Zefa kini duduk diatas pangkuannya tanpa mereka melepaskan tautan yang sedang mereka lakukan. Tautan yang lakukan semakin membuat tubuh mereka panas sampai Zefa tersadar sejenak dan melepaskannya.
__ADS_1
“Mas, sudah yah!” Pinta Zefa lembut.