Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Ara


__ADS_3

Malam masih belum berlalu, sayup-sayup angin menghembus pelan. Suasana hening masih menyelimuti. Ketenangan untuk bermunajat ke Sang Illahi. Ketenangan di sepertiga malam mengantarkan do’a kepada Yang Maha Kuasa.


“Ara bangun Ra.” menggoyangkan lengan orang yang bernama Ara. Yang dibangunkan masih terlelap dalam mimpinya.


“Astagfirullah Ara bangun dong, katanya mau tahajud. Ihh tidur kaya kebo deh.” menggoyangkan lagi bahu Ara.


“Hemm, bentar lagi tanggung pangerannya sudah didepan rumah.” mengoceh membicarakan pangeran dengan mata masih terpejam.


“Astagfirullah Ara, pangeran terus ya mimpimu, dosa tau.” wanita Menoyor kepala Ara dengan telunjuknya.


“Apa sih Ulfa denget lagi nih, nanti pangerannya keburu pergi. Masih dingin juga. Lima menit lagi ya.” masih mengoceh sembari menarik selimut menutup sampai ke kepalanya.


“Astagfirullah Ara, Lima menit apaan nanti kamu malah kebelabasan molor sampe subuh. Nanti tak bilangin Ustadzah Ani loh Biar kamu kena marah terus disiram air sama ustadzah Ani Kayak waktu itu, emang mau !” ancam gadis yang dipanggil Ulfa itu.


Mendengar kata marah, disiram air. Mau tak mau akhirnya Ara membuka matanya. Dia tidak mau mulai bangkit dan merapikan tempat tidur walaupun masih sempoyongan.


“Nahkan kebiasaan ini anak, di ancam dulu baru bangun.”


“Uaaaahh. Iya ini aku udah bangun, gak usah cerewet. Sana cepet ke masjid nanti aku nyusul.”


“Beneran loh nyusul awas molor lagi, tak bilangin ustadzah Ani beneran loh !” Ulfa bicara lagi.


“Nggeh Ndoro.” jawab Ara.


“Awas kalau gak nyusul, tak pites kamu.” Ulfa berlalu dan pergi menuju masjid untuk melaksanakan solat tahajud berjamaah.


Setelah memastikan Ulfa pergi Ara kembali menjatuhkan dirinya diatas selimut dan bantal yang sudah ia susun tadi.


“Aaah enaknya tidur, mana masih dingin lagi, tidur lagi ah. Lagian besok-besok lagikan bisa tahajud.” Ara kembali meringkuk dan matanya perlahan mulai terpejam.


Sampai


“Zelena Arayaa !” Suara melengking itu membangunkan kembali kesadaran Ara sekaligus meruntuhkan mimpi pangeran berkudanya.


“Kamu masih belum bangun ya !” seru wanita itu.


Ara bangun dengan panik, ia mengenali suara itu. Ya itu suara ustadzah Ani. ustadzah yang disegani karena kedisiplinannya terhadap para santriwati.


“Pinter baru bangun ya.” menjewer telinga Ara.


“Aduhh, aduh sakit ustadzah. Aduhh lepasin dong zah.” Ara kesakitan memegang tangan ustadzah Ani yang men jewer telinganya.


Ustadzah Ani merasa kasihan melihat Ara kesakitan memegang telinganya kemudian melepas tangannya.


“kamu kebiasaan ya kalau disuruh bangun malah tidur lagi.”


“Ia maaf ustadzah soalnya tadi masih ngantuk. hehehe.” nyengir tanpa dosa sambil memegang telinganya yang masih sakit dirasanya.


“Dasar bocah, udah sana siap-siap kita solat tahajud bareng. kamu kan udah gede jangan jadi contoh yang gak baik ya buat adek-adeknya.” Ustadzah Ani mengingatkan Ara dan mengelus pucuk kepala Ara dengan lembut.


“Ia zah, Ara minta maaf ya.” Ara merasa bersalah dengan perilakunya.


“Ya udah cepet ambil wudhu, biar ngantuknya ilang. Ustadzah tunggu di masjid ya sama Ulfa.”


“Iya zah.”


Ara berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai masih dikuasai rasa kantuk itu.


Pasti Ulfa ini yang laporin aku ke ustadzah Ani. Awas kamu Fa lihat aja nanti.Ara menggerutu dalam hati.


****


Masjid pagi itu sudah penuh dengan jamaah yang pasti santrinya. masjid yang letaknya dilingkungan Pondok pesantren kenamaan di Bandung. Tak lama terdengar Suara merdu kumandang azan subuh menggetarkan jiwa dan hati.


Suara yang indah membuat siapapun tak mau sedetik pun lalai untuk tak mendengarkan. Semua orang tahu siapa pemilik suara indah nan merdu itu. Pastilah itu suara Ustadz Ghifari.


Suara yang lembut berhasil membuat semua orang takjub dan bangga. Bukan hanya wajah tampan dan perangainya yang baik, keindahan suaranya mampu menghipnotis manusia. Menyadarkan betapa indahnya ciptaan sang Maha Kuasa.


Sementara itu di bagian shaf santri putri.


“Ya Allah merdu banget suara calon imam.”

__ADS_1


“Astagfirullah, masyaallah, subhanallah calon imamku.”


“Masyaallah indahnya.”


“Subhanallah merdunya.”


Celotehan santri putri dengan kehaluan tingkat tinggi. bermimpi bisa menggapai bintang di langit. Mimpi hehehe.


Ulfa sahabat Ara itupun tak ketinggalan menghalu.


“Masyaallah calon imamku.”


Ulfa menopang dagunya dengan tangan kanannya. Matanya terpejam membiarkan suara calon imam halunya agar masuk ke relung hatinya mengalir syahdu dengan darahnya. Ulfa melirik Ara sahabatnya, ternyata suara indah nan merdu Ustadz Ghifari belum mampu menembus dinding kantuk di pelupuk mata Ara.


Bagaimana tidak ? Disaat orang lain dengan khusuknya mendengarkan kumandang azan bak dari surga itu. berbeda dengan Ara.


Gadis itu menopang kepalanya dengan kedua tangannya. kepalanya sedikit terantuk-antuk menahan beban kantuknya.


sepertinya sangat berat sekali, terlihat dari kedua tangan Ara yang keberatan memangku kepalanya.


Ulfa hanya menggeleng heran dengan kelakuan sahabatnya itu, masih sempat-sempatnya ngantuk mendengar suara ustadz dambaan. Ulfa mendorong Ara dengan jari telunjuknya, dan berhasil membuat Ara oleng dan hampir tersungkur kedepan jika tidak segera sadar.


“Iss apaan sih Fa !” Ara memukul lengan sahabatnya itu.


“Lagian ada suara azan dari surga malah tidur.” Ulfa gantian menoyor kepala Ara.


“Iss kan main toyor pala’ aja sih lu Fa !”


“Ya maaf. makanya melek. merem mulu matanya tak colok nanti.”.


kedua manusia itu masih ribut dengan toyor- menoyor kepala.


“Ehemm ! ” deheman keras menghentikan aksi Ara yang hendak mencubit pinggang Ulfa.


Ara dan Ulfa menoleh bersamaan ke arah deheman tadi, yang ternyata berada pas di shaf belakang mereka.


“Hehehe Ustadzah Ani.” ucap mereka bersamaan sambil meringis.


Tak lama suara iqomah menggema itu pertanda bahwa Abah sudah tiba di tempat pengimaman solat. Abah adalah sebutan para santri untuk Kyai besar Muhammad Ali Fuad pemimpin Pondok Pesantren Nurul Jannah itu.


Beliaulah yang biasanya memimpin solat jamaah lima waktu bagi santri-santrinya.


***


Matahari mulai berdiri gagah menyinari alam semesta. Kesibukan pun terlihat di asrama putri pagi ini. Ada yang bersiap-siap sekolah, bersih-bersih, menyiapkan sarapan pagi, ada yang baru mandi. Tak terkecuali Ara dan Ulfa yang sedang bersiap untuk berangkat kuliah, yang kebetulan jadwal masuk kuliah pagi.


Pondok Pesantren Nurul Jannah yang tidak menyediakan fasilitas untuk mencapai keselamatan akhirat saja. Disana juga memberikan pendidikan seperti halnya sekolah lain.Mulai dari tingkat MI, Mts, MA dan perkuliahan. Pondok Pesantren yang besar bukan ? tentunya besar karena mampu menampung ribuan santri untuk menuntut ilmu dunia akhirat disana.


“Fa udah siap belum mau berangkat nih ?” seraya mengambil buku diatas lemari.


“Siap bos yuk berangkat.” beranjak dari


depan lemari dan menghampiri Ara.


“Kalian gak mau sarapan dulu ?” tanya seseorang.


“Gak usah mbk kami ada kelas pagi hari ini, nanti kami makan dikantin kampus aja.” Jawab Ara.


“Iya mbk sama aku juga.” Ana menimpali.


“Ya udah kalau gitu, semangat ya.”


“Ok mbak Siti makasih deh perhatiannya. Jadi pengen cium. Muachh” Ara memberikan ciuman jarak jauh untuk Mbak Siti itu.


“Bocah gendeng.” Ulfa menoyor kepala Ara.


“Ihh Ulfa ! suka ya sama kepalaku, iya kepalaku cantik kan kayak yan punya. hahaha.”


“Ihh geer.”


“Dasar kalian ini. ” mbk Siti hanya tertawa melihat tingkah Ara dan Ulfa. Baginya mereka berdua itu mood booster untuknya.

__ADS_1


“Kami berangkat Mbk Assalamualaikum.” ucap keduanya bersamaan.


“Waalaikumsalam .” Jawab Mbk Siti.


***


Ara dan Ulfa sudah sampai kelas mereka, mereka setiap hari kamis selalu memiliki jadwal pagi. karena dosen meminta waktu pertemuan mereka dipercepat dengan alasan dosen itu ada jadwal dengan kelas lain.


Mau tidak mau mereka memaklumi dosen alasan tersebut.


Apalagi dosen mereka juga terkenal karena kepintarannya. Bukan hanya pintar paras tampan, tubuh yang mampu menggoda setiap mata kaum Hawa. Bukan hanya kaum Hawa, kaum Adam pun terpesona dengan ketampanan dan keindahan tubuhnya.


Siapa lagi kalau bukan Pak Ghifari.


Ya itulah namanya siapa yang tak kenal dengan sosok satu ini. Suara yang indah nan merdu, tampan rupawan, pintar ilmu dunia dan akhirat.


Ustad di pesantren sekaligus dosen di universitas pesantren. Paket komplit, kata Ulfa. Dunia dapat akhirat digenggaman.


Tak heran bila banyak kaum hawa menghalukannya menjadi calon suami mereka.Termasuk Author hehe.


“Calon imam kok belum dateng ya Ra ?” Ulfa bertanya dengan Ara disampingnya.


“Tanya sendiri sono.”


“iss Ara kan orangnya belum dateng juga.” mencebikkan bibir kesal. “Lagian ya Ra aku perhatiin kamu itu kek gak tertarik gitu sama pak Ghifari. Kamu masih waras kan, masih sehatkan? “ memegang kening Ara.


“Iss pegang-pegang lagi, aku masih waras ya.” mengibaskan tangan Ulfa. “Lagian apa sih spesialnya Pak Ghifari biasa aja kali ya. Gantengan juga pangeran mimpiku. Wek” menjulurkan lidah.


“astagfirullah kayaknya kamu perlu operasi mata biar sehat mata kamu Ra.”


Ara membelalakkan mata mendengar ucapan Ulfa. “kenapa emangnya?"


“Ya kamu orang gantengnya kek nabi Yusuf gitu, terus suaranya indah kek nabi Daud dibilang biasa aja. Kan gak waras kamunya.”.


“Hahaha. Fa Ulfa bisa-bisanya ngomong gitu.” Menepuk keras pundak sahabatnya itu.


“Lagian Fa, emang kamu pernah lihat nabi Yusuf ?”.


Yang ditanya hanya menggelengkan kepala.


“Terus emang kamu pernah denger suara nabi Daud, sampe bilang suaranya mirip nabi Daud ?” Lanjut Ara.


Yang ditanya lagi-lagi hanya menggelengkan kepala.


“Kan belum pernah, kok bisa berspekulasi kek gitu. Lagian ya pasti cakepan nabi Yusuf dan bagusan suara nabi Daud daripada pak Ghifari.” Cicit Ara.


“Tapikan itu tadi perumpamaan aja Ra.” Ulfa membela diri.


“Au ah serah kamu dah.” Ara melanjutkan kembali acara menulisnya yang gagal diganggu Ulfa.


“Ih kamu gak asik malah nulis mulu. Emang lagi nulis apa sih ?”.


“Kamu nih berisik dari tadi jadi ilang semua inspirasi aku kan.”


Ulfa hanya bingung menatap sahabatnya itu, kok bisa ada manusia seperti Ara pikirnya.


Akhirnya mereka tenggelam dalam kesibukan masing-masing sampai dosen yang ditunggu datang.


Mereka dengan serius mendengarkan penjelasan Pak Ghifari. Entah mereka serius memperhatikan penjelasannya atau malah serius memperhatikan keindahan yang ada di depan mereka.


Pak Ghifari dosen muda, rupa wajah mempesona ditambah statusnya yang masih sendiri. Wanita mana yang tak tertarik dengan Dosen itu.


Tapi itu semua tak berlaku bagi Ara, dia memang tidak suka dengan dosen didepannya itu. Ditambah Ara juga memiliki jadwal ngaji Diniyah dengan Ustadz itu.


Menurut Ara sangat membosankan selalu melihat wajah orang itu terus-terusan. meskipun tidak di tempat kuliah atau di asrama banyak teman-teman, adik santri bahkan ustadzah yang terpesona dengan kharisma sang pujangga Ghifari.


Yahh. Ara memang sedikit berbeda. hihihi.


Lanjut part 2 gak nih ? -_-


Jangan lupa tinggalin jejak ya. 🤗like, komen.

__ADS_1


__ADS_2