
Di kediaman Rafan tampak masih sepi. Semuanya masih sama, penghuni rumah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Deru mesin mobil datang dari luar, sosok anak kecil keluar dari sana dengan girang. Di ikuti oleh wanita muda di belakangnya.
"Hati-hati sayang, nanti jatuh loh lari-lari !"
Si Kecil tidak menghiraukan seruan ibunya dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Papa Rafan ! Papa !" teriaknya sambil berlari menuju kamar Papanya.
"Hati-hati Rafka. "
Anak kecil bernama Rafka sampai di kamar Papanya.
"Assalamualaikum Papa, Rafka udah pulang !" serunya girang, tapi tak menemukan Papa di kamarnya. "Papa ! Papa Rafan dimana !"
"Sayang, Papa lagi mandi." ucap Hana sudah berada di belakang Rafka. "Tuh dengerin air kamar mandi." menunjuk pintu kamar mandi dan tak lama Rafan keluar hanya berbalut handuk di pinggangnya.
"Papa !"
"Wah, Rafka udah pulang ?"
Rafan melangkah menyambut Rafka ke dalam gendongannya.
"Rafka, Papa belum pake baju. Rafka sama Mama dulu ya." bujuk Hana.
"Gak mau !" Rafka mengeratkan pegangannya pada Rafan. "Mau sama Papa !"
"Iya tapi Papa mau pakai baju dulu ya."
"Hua ! gak mau sama Mama ! Mama pelit sama Rafka !" tolaknya.
"Kamu keluar aja, biar Rafka sama aku." ucap Rafan. Tak banyak kata, Hana pergi keluar dari kamar.
"Rafka duduk dulu di sini ya. Papa mau pakai baju dulu."
Rafka mengangguk setuju dan Rafan mendudukkan Rafka di ranjangnya. Dan segera berpakaian. Rafka memperhatikan Rafan dengan seksama dari belakang.
"Tadi pergi kemana sama Mama ?" tanya Rafan ikut duduk di samping Rafka.
"Tadi pergi nemenin Mama belanja. Tapi Rafka bosen Pa !" kesalnya.
"Kenapa kesal ?"
"Mama belanja lama aaaaa banget . Terus Rafka minta eskrim gak di beliin Mama, katanya nanti sakit. Padahal kan Rafka belum makan apa-apa !"
Rafan tersenyum dan mengacak rambut Rafka, gemas dengan ekspresi wajah kesalnya saat bercerita. "Ya udah, gimana kalau Rafka beli eskrim sama Papa !" tawarnya.
__ADS_1
"Beneran Pa !" binar kebahagiaan muncul di mata Rafka.
"Iya."
"Hore ! beli eskrim !" Si Kecil Rafka tak berhenti melompat kegirangan. Rafan tersenyum kecil melihat tingkah Rafka yang lucu. Muhammad Rafka Al-Hasan, pangeran kecil yang lahir sebab pernikahan Rafan dengan Hana. Umurnya belum genap 3 tahun, tapi tubuh dan pola tingkah laku Rafka sudah seperti anak-anak umur 5 tahunan. Cara berpikir dan kepintarannya sangat lah apik.
Ya, Rafan sudah melangsungkan pernikahan dengan Hana. Tentunya karena permintaan sang Kakek, Herman. Rafan tidak bisa lagi menolak permintaan Herman untuk menikahi Hana, seperti biasa ancaman Herman hanya tentang kematiannya yang semakin dekat.
Tapi, hingga kini Herman masih sehat saja. Bahkan setelah Rafan menikah, Herman tak lagi mengalami sakit-sakitan. Semuanya karena keajaiban sehingga Herman bisa terus sehat, itulah yang di katakan oleh dokter kepercayaan keluarga Herman.
"Kalian mau kemana ?" tanya Hana melihat Rafan yang sudah rapi dan menggendong Rafka.
"Kita mau beli eskrim. Mama gak usah ikut." jawab Rafka.
"Mas, kenapa di turutin si. Nanti bisa pilek Rafka nya."
"Sekali-sekali, kasihan Rafka. Kamu ajak dia belanja, tapi dia minta eskrim aja gak di beliin."
"Tuh Mama, dengerin kata Papa." ucap Rafka sambil mengangguk, Seolah menyetujui ucapan Rafan.
"Kami berangkat dulu cari eskrim. Assalamualaikum." pamit Rafan.
"waalaikumsalam."
"Dah Mama." Rafka melambaikan tangannya pada Hana.
******
"Pa mau yang itu,"
"Boleh, tapi jangan kebanyakan ya."
Rafka mengangguk cepat dan menarik Rafan agar mendekat ke etalase kaca berisi eskrim.
"Pa, Rafka mau eskrim itu, itu yang itu. Em, yang itu juga, terus yang itu. Ah, mau semuanya." rengek Rafka. Rafan tersenyum, dan mencubit pipi chubby Rafka.
"Jangan banyak-banyak, gak baik untuk kamu."
"Yahh, Papa." Rafka menunduk lesu.
"Udah yuk, pesen dulu eskrim nya." ajak Rafan, di angguki oleh Rafka.
"Rafka pilih deh mau eskrim yang mana, nanti Kakak ganteng itu yang ambilin." tunjuk Rafan pada laki-laki yang tersenyum padanya. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya laki-laki itu karyawan toko.
"Mas tolong bantu anak saya." pinta Rafan.
__ADS_1
"Hai adik ganteng, mau eskrim yang mana ?"
Rafka melihat laki-laki itu dan tersenyum. "Kakak juga ganteng, tapi lebih ganteng Papa. " pujinya. Laki-laki ber name tag Dio itu tersenyum malu dengan pujian Rafka, begitu juga dengan Rafan.
"Makasih, ganteng Siapa namanya ?"
"Rafka ganteng Kak, "
Rafan dan Dio tersenyum kecil melihat tingkah Rafka yang menggemaskan. "Dek Rafka yang ganteng , mau eskrim yang mana ? nanti Kakak ambilin."
"Rafka ganteng mau eskrim yang itu, itu terus itu. Em, itu juga."
Rafan tersenyum dan mengeratkan gendongan Rafka. Tiba-tiba saja Rafan teringat akan Ara yang juga sangat menyukai eskrim. Cara Ara memesan eskrim sama persis dengan Rafka yang memesan eskrim.
*Dia sudah pergi, tapi kenangannya masih bersama ku. Andai kamu ada disini Ra, dan Rafka adalah anak kita, mungkin seru ya. Aku pasti bakal repot dan kalah, kalau kamu dan Rafka kita rebutan eskrim. Pasti lucu liatnya. Kalau itu beneran terjadi, kayaknya mending aku beli pabrik eskrim sekalian di rumah.
"Hufhh* " Rafan mengusap kasar wajahnya dan tersenyum getir membayangkannya. Rafan beralih memperhatikan Dio dan Rafka masih sibuk dengan eskrim.
******
"Ara ! Kamu di panggil direktur tuh disuruh ke ruangannya sekarang !" teriak seorang laki-laki dengan nafas ngos-ngosan.
"Hah ! aku kenapa !"
"Ya mana aku tahu, ayo cepat !"
"Iya, Pak Nico Fina saya duluan ya."
Ara segera pergi meninggalkan kantin perusahaan dan mengikuti Bayu yang memanggilnya tadi.
*****
"Apa Pak ! Jadi saya mau di pindahkan ke kantor pusat !"
"Iya Ra. Saya tahu kamu itu pintar dan kompeten. Proyek besar kita pun selesai sesuai harapan dan itu berkat ide kamu. Dan banyak investor, juga perusahaan lain yang mulai melirik ke perusahaan kita. Jadi saya berniat untuk memindahkan kamu di kantor pusat, itu juga untuk kamu biar lebih baik lagi."
"Tapi Pak, itukan kerja tim saya juga."
"Iya saya tahu itu. Semuanya terserah kamu, sangat di sayangkan kalau kamu dengan kemampuan sebagus ini hanya berkecimpung di kantor kecil ini. Ada baiknya kamu keluar dan cari pengalaman baru untuk menambah wawasan kamu. Saya yakin kamu bisa jadi wanita karir yang sukses. Ini kesempatan besar Ra. Lagian kantor pusat itu, mantap banget Ra untuk kamu."
" Sebenarnya Ra, kemarin Kantor pusat langsung menghubungi saya perihal proyek kita. Dan mereka meminta saya agar mau memindahkan Kamu untuk mengurus proyek di sana."
Ara diam, bingung harus bagaimana. Dia membenarkan direkturnya itu, sayang sekali jika dia tak mengambil kesempatan ini. Tapi, dia sudah merasa nyaman di kantor ini, tidak rela jika harus meninggalkan pekerjaan, teman, tim yang disayanginya.
"Saya pikir-pikir dulu ya Pak."
__ADS_1
"Baiklah saya kasih waktu sampai besok Ra. saya harap kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk dirimu sendiri."
"Baik Pak."