Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Kesal


__ADS_3

Malam sudah larut, suasana asrama putri mulai sepi. Masih ada beberapa santriwati yang belum tidur. Biasanya mereka para mahasiswi yang masih mengerjakan tugasnya.


Ara juga masih terjaga, ia belum bisa tidur. Pikirannya masih melayang-layang mengingat adegan ciuman pertamanya dengan Rafan.


Sesekali ia memegang bibirnya, ciuman Rafan seolah membekas di bibirnya.


Astaghfirullah ya Allah, aku gak dosa kan tadi. Dia suamiku, ia dia Rafan suamiku.


Ara tersenyum sendiri mengingatnya.


Tring...


Sebuah Pesan masuk di HP Ara.


"Sayang."


"Kenapa belum tidur?"


"Sayang, jangan di read aja."


Ara terkekeh geli membaca pesan yang di kirim Rafan.


Ya, panggilan sayang itu Rafan yang menginginkannya, setelah ciuman mereka di kampus tadi siang. Sebenarnya ia juga senang dipanggil seperti itu, tapi dia masih malu untuk mengakuinya.


"Belum ngantuk." jawab Ara


"Ini sudah lewat tengah malam. kenapa belum ngantuk." tanya Rafan.


"Atau kamu masih mengingat kejadian tadi siang ya. Mau mengulanginya lagi 🤭."


Ara salah tingkah sendiri membaca pesan Rafan.


"atau besok kita pulang ke rumah saja. biar lebih bebas puas lagi😂."


Rafan dan Ara sama-sama tersenyum lebar. Ara tak menyangka jika Rafan bisa mengirim pesan yang menurut nya sedikit vulgar itu.


Rafan pun tak tau kenapa jari-jarinya bisa mengirimkan kalimat seperti itu.


Aaa, pasti dia sekarang sedang senyum-senyum. Aaa, pasti imut sekali ekspresi wajah nya.


Rafan tengah membayangkan Ara sekarang sedang tersenyum. Ingatannya terus menerus mengingat senyuman Ara, bibirnya yang mungil itu sudah berhasil ia dapatkan.


Rafan menyentuh bibirnya, ciuman Ara masih membekas di bibirnya.


Tring...


Pesan masuk di HP Rafan.


Nama pengirim pesan yang bernama mine.


*Mine


"Selamat tidur suamiku💜"


Rafan senang bukan kepalang. Andai saja bukan di pesantren. Akan langsung di peluk erat istrinya itu. Dia tersenyum lebar penuh arti bahagia.


"Selamat tidur juga sayangku😘"


Ara terkekeh geli dengan emoticon Rafan.


Dia hanya membacanya, kemudian mematikan HP dan bersiap untuk tidur.


Demikian dengan Rafan. Senyuman masih bertengger manis di masing-masing sudut bibir mereka sampai mereka terlelap.


Keindahan cinta yang dititipkan kepada dua insan yang tengah di mabuk cinta.

__ADS_1


*******


"Ara sarapan !" teriak Ulfa.


"Iya bentar." Ara mengaitkan jilbabnya kesamping. Tren hijab yang diletakkan disamping tapi masih menutupi dada dan sedikit hiasan bros disana. Menambah anggun penampilan Ara.


Ara menggunakan gamis warna Navi dengan sedikit garis-garis warna putih di bagian bawah dan lengannya. Dipadukan dengan jilbab yang berwarna senada lebih muda, membuatnya tampak semakin cantik.


Ya, Ara memang cantik.


"Sarapan apa kita pagi ini." sudah duduk disamping Ulfa dan Siti.


"Biasa nasi goreng." jawab Ulfa.


Mereka bertiga mulai sarapan bersama dengan khusuk.


"Aku dengar ustadzah Nisa lagi deket ya sama pak Ghifari ?" tanya seorang santri pada Nisa.


Ya, kebetulan Ara dan ustadzah Nisa satu kamar. Ara sangat kesal mengingat kejadian kemarin. Tapi dia harus bersikap biasa saja. Toh Rafan sudah jadi suaminya.


"Eh kata siapa enggak kok." jawab Ustadzah Nisa sambil tersenyum.


"Kan, ciee ustadzah. Pepet aja terus Zah kan belum ada yang punya." lanjut santri itu


Hei !! aku istrinya tidak lihat apa.


Ara bicara dalam hati.


"Sst. udah Mutia gak usah di bahas gak enak sama yang lain." sahut Nisa.


"Nggak tau Zah, mereka juga pasti setuju kalau ustadzah jadian sama ustadz Ghifari." lanjut Mutia.


Ustadzah Nisa tersenyum senang mendengarnya.


"Hei gak boleh pacaran Mutia dosa !" seru Ara yang sudah terlihat kesal dengan Ustadzah Nisa dan Mutia.


"Ya gak bisa gitu dong. Aku juga cocok ya sama pak ganteng." Ulfa tak mau kalah.


Ara memutar malas matanya.


"Sudah-sudah, kalian nih masih pagi aja rebutan pak Ghifari. Nanti orangnya keselek tau." Siti berusaha menengahi.


"Tapi emang yang paling cocok sama Pak ganteng itu cuma ustadzah Nisa. Diakan cantik, pintar, baik, hafidz lagi. Siapa coba yang gak mau sama ustadzah Nisa." Mutia masih berkoar-koar.


Cih, iya baik cantik hafidz. Kemarin dia sudah menjebak suamiku biar bisa berduaan dengan nya. batin Ara.


"Muti udah, kamu sarapan dulu." sahut Siti.


Mereka kembali diam dan menikmati sarapannya. Ara sudah tak bernafsu lagi untuk sarapan. Dia memutuskan untuk segera berangkat ke kampus dan diikuti oleh Ulfa.


Mereka sedang memakai sepatu. tiba-tiba datang Kia.


"Ustadzah Nisa dipanggil sama ustadz Rafan. beliau tunggu di kampus katanya. Ustadzah disuruh cepat." ucap Kia.


Hati Ara mencelos sakit mendengar ucapan Kia.


"Kan apa aku bilang, ustadzah Nisa itu emang cocok sama pak ganteng. Lihat kan pagi-pagi sudah di cariin." ucap Mutia melirik sinis ke arah Ulfa dan Ara.


Sebenarnya ucapan Mutia di tujukan untuk Ulfa, tapi Ara juga merasa sakit hatinya.


Ustadzah Nisa hanya tersenyum lalu pergi. Ara dan Ulfa menyusul di belakangnya karena mereka sama-sama akan ke kampus.


*******


Ara dan Ulfa berjalan ke ruangan kelas mereka.

__ADS_1


"Si Mutia itu emang mak lampir ya ra. mulutnya pengen deh ku rues rues. ihh" ujar Ulfa sambil meremas-remas tangannya kesal.


"Sabar Fa gak boleh gitu." sahut Ara.


"Kesel aku tu, sok kecantikan aja dia. cantik enggak sok banget. Emang tau apa dia tentang pak ganteng. pake jodoh jodohkan lagi sama ustadzah Nisa. Gak cocok tau. cocoknya sama aku. kesal Ulfa.


Ara hanya diam, bingung harus menjawab bagaimana ?, ia tak bisa membayangkan sikap Ulfa padanya kalau tau dia sudah menikah dengannya.


"Yuk cepetan, nanti kita telat lagi ke kelas Pak Robin." Ara mengajak Ulfa untuk cepat ke kelas.


******


Hari mulai siang, kelas Ara sudah selesai. Tapi merek masih ramai di dalam kelas.


Seperti kebiasaan sebelumnya, Ustadz Mukorrobin juga mengajar di kelas Ara.


Karena jam terakhir biasanya Pak Robin panggilan saat dikelas, dia selalu membuat kuis sebelum pulang.


"Seperti biasa ya, kita kuis dulu." ucap Robin.


"Yah, pak !" jawab siswa bersamaan.


"Jangan kuis terus pak !" sahut Hanif.


"iyaa pakk." jawab sekelas berbarengan.


"Terus kita ngapain, mau langsung pulang." tanya Robin.


"Bahas tentang nikah aja pak !!" seru Ulfa semangat.


"Hu !" siswa sekelas menyoraki Ulfa.


Ara hanya tersenyum melihat tingkah Ulfa yang bar bar pikirnya.


"Ya udah kita bahas nikah, hitung-hitung sambil belajar kan. kalian nantikan mau nikah juga." sahut Robin menyetujui ide Ulfa.


Suasana kelas jadi ramai dan gaduh, mereka tampak bersemangat membahas masalah pernikahan.


Suara ramai dan sorak sorai kelas Ara terdengar sampai ke ruangan dosen.


Rafan penasaran mendatangi kelas Ara. ia mengintip dari celah jendela, dan terkejut melihat Ara tengah berdiri dan berbicara dengan kerasnya.


Karena penasaran dengan apa yang di ucapkan Ara, Rafan semakin mendekat ke arah pintu ia menguping.


Robin menyadari ada yang sedang menguping,.memberi isyarat Ara untuk diam dulu.


Ara diam juga seisi kelas, Robin ingin tau siapa yang sedang menguping.


Rafan yang semakin penasaran, suara Ara malah tidak terdengar lagi. Sampai ia menyenderkan tubuh ke pintu kelas. Pintu kelas dibuka secara tiba-tiba oleh Robin, dan menyebabkan Rafan hampir terjatuh jika tidak menjaga keseimbangan.


"Wahhh ternyata ada yang menguping guysss." Robin meledek Rafan yang malu ketauan sudah menguping.


Siswa kelas terkekeh kecil, Ara hanya tersenyum melihat tingkah Rafan.


"Kenapa menguping bung." tanya Robin menepuk pundak Rafan.


"Aku tadi hanya penasaran kenapa kelas kalian ribut sekali sampai terdengar di ruang dosen." jelas Rafan.


"Ya masuk dong kenapa harus nguping ?"


Rafan bingung nharus jawab apa. Dia melirik ke Ara, yang dilirik hanya cuek maaih kesal dengan perkataan Mutia tadi pagi.


Kenapa dia cuek ? dia marah ?. Tapi kenapa ??.


Rafan bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Hello guys author up lagi nih. Jangan lupa tinggalin jejak ya🤗.


__ADS_2