Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Takdir Cinta


__ADS_3

Di balkon kamar Rafan yang mewah, beratapkan kanopi perpaduan dengan kaca semi-transparan, furniture sederhana namun elegan menambahkan kesan modern. Angin malam berhembus syahdu, geraian rambut hitam panjang Ara beterbangan di terpa angin. Tatapan kosongnya melambungkan tinggi pikirannya.


" Sayang."


Rafan memeluk dari belakang meletakkan dagunya di bahu Ara. Mencium lembut bahu Ara, menyingkirkan anak rambut yang menempel di leher Ara, lalu mencium lembut leher mulus Ara.


Ara diam tak menggubris kegiatan Rafan. Pelukan hangat, ciuman lembut, deru nafas Rafan tak mengganggu lamunan Ara.


"Mas" suara lembut Ara menghentikan ciuman Rafan di lehernya.


"Kenapa sayang ?"


"Kamu percaya dengan takdir ?" nada kesedihan jelas terdengar.


"Percaya"


"Lalu apa mas percaya tentang cinta sejati?"


Rafan tahu arah pembicaraan istrinya. Dia membalikkan badan Ara untuk menghadapnya. Melihat kesedihan yang jelas terpancar dari wajah Ara.


"Lalu apa kamu juga percaya jika cinta sejati itu ada ?"


Ara Menggeleng pelan, dia tak tau harus percaya atau tidak.


"Ra tatap aku."


Ara mendongakkan kepala menatap Rafan.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak tentang cinta sejati, yang pasti cinta sejati itu ada. Aku sendiri pun tidak tahu apa definisi dari cinta dan apa itu cinta sejati Ra.


Tapi, cukuplah percaya bahwa cinta sejati itu ada. Dan dengan kamu aku bisa tau cinta itu apa, mungkin cepat atau lambat juga aku akan tau apa itu cinta sejati Ra." Rafan meraih Ara kedalam pelukannya.

__ADS_1


Aku harap begitu mas


"Apa mas yakin cinta sejati mas aku ?" tanya Ara.


"Please Ra, kamu jangan pikirin yang dibilang kakek tadi ya. Aku gak mau lihat kamu sedih gini." Rafan mengeratkan lagi pelukannya, dia tahu apa yang tengah dirasakan Ara.


"Aku cuma takut mas, takut akan takdir cinta sejati tak berpihak pada kita." air mata Ara lolos, hatinya terasa sakit mengatakannya.


Aku takut kita tak selamanya bersama


"Sst, udah ya. Kamu gak perlu takut, ada aku. Aku suamimu yang akan melindungi kamu dari rasa takutmu. Tak peduli dimana pun, kapan pun itu, dalam kondisi apapun aku akan tetap jadi tameng, jas hujan, selimut hangat dan payung untukmu. Lautan api akan ku seberangi."


Ara terkekeh kecil. Rafan selalu bisa membuatnya tersenyum dengan caranya sendiri. "Kan mas malah bercanda ihh." mencubit kesal pinggang Rafan.


Rafan terkekeh pelan. " Yang penting kamu bahagia. Kan cantik kalau senyum gini." mengunyel-unyel gemas pipi Ara.


"Udah yuk masuk, dingin diluar." ajak Rafan.


"Mas"


"Iya"


Mereka tengah berpelukan, dengan nyamannya Ara menyenderkan tubuhnya di dada Rafan. Melingkarkan tangannya di pinggang Rafan, begitu pun dengan Rafan.


"Aku minta maaf ya" mengelus dada Rafan.


"Kenapa minta maaf terus. Sayang kan gak ada salah. Kamu tiap malem sebelum tidur selalu minta maaf sama mas."


"Ya gakpapa. Kan takut aja aku punya salah sehari ini sama mas. Terus mungkin mas gak ridho dengan apa yang aku lakukan hari ini. Kalau umur aku gak sampe besok pagi dan aku belum minta maaf dan belum dapat maaf dari mas. Kan bahaya." cicit Ara.


"Sayangku Memang Solehah banget ya." mencium pucuk kepala Ara.

__ADS_1


"Kan aku emang solehah."


"Kan mulai sombong."


"Hehehe, sombong sama suami sendiri gakpapa lah."


"Berarti kalau suami mesum sama istri juga bolehkan ?" goda Rafan.


"Ya boleh dong." jawab Ara cepat. " Eh bentar, mas tadi nanya apa ?" merasa janggal.


"Dasar kebiasaan, gini nih kalau gak konsen." menyentil kening Ara.


"Tadi mas nanya apa ?"


Rafan mensejajarkan tubuhnya dengan Ara. Menatap wajah merona istrinya.


"Mas nanya boleh mesum gak ? terus kamu jawab boleh."


"Ih masa aku jawab gitu tadi."


Rafan mengangguk dengan menggemaskan.


"Mas Mikirnya mesum mulu deh." protes Ara.


"Kan sama istri sendiri udah sah dong." beo Rafan.


"Kan gitu t…."


Bibir Rafan membungkam mulut Ara, memberi ******* dan menggigit kecil di bibir Ara. Ara memejamkan mata ikut menikmati ciuman Rafan. Ara pun tak segan membalas ******* Rafan. Dia sudah belajar beberapa trik ciuman dari suaminya itu. Ara sendiri curiga darimana Rafan belajar dan tau trik ciuman, padahal Rafan pertama kali ciuman juga bersama Ara.


Malam itu berlalu dengan panas, angin malam tak lagi berpengaruh pada dua insan yang di mabuk cinta dan indahnya surga dunia. Sesaat melupakan kepenatan dan kesedihan yang mendera jiwa dan raga.

__ADS_1


__ADS_2