
Rafan terus mencoba menghubungi nomor Ara. Namun, nomor Ara tak bisa di hubungi. Perasaan cemas dan khawatir menggerayangi pikiran Rafan, entah kenapa dia masih memikirkan Ara. Ah iya, Rafan lupa. Bukankah dirinya menyesal telah melepaskan Ara.
Lamunan Rafan buyar setelah suara sopir mengatakan jika mereka sudah sampai tujuan. Selepas membayar ongkos, Rafan masuk ke dalam rumah dan disambut oleh Laras.
"Ya ampun, anak Mama sudah pulang. Kamu gak apa-apa kan ? Cerita sama Mama." memeriksa kondisi Rafan, takut ada yang terluka.
"Rafan gak apa-apa Ma. Cuma capek aja, Rafan mau istirahat dulu ya."
"Ya udah, kamu istirahat ya."
Rafan melangkah gontai menuju kamar atas. Laras memandang sedih punggung Rafan yang berlalu dari hadapannya.
"Fan." panggil Laras.
Rafan menghentikan langkahnya dan menoleh pada Laras. "Iya Ma."
__ADS_1
"Mama tadi telepon Ara." lirih Laras.
Rafan membelalakkan matanya lebar, lalu refleks berlari menghampiri Laras.
"Bener Mama telepon Ara ! diangkat gak Ma ! Dia bilang apa ! Apa Mama tau dimana Ara !" Rafan mengguncang bahu Laras.
Laras terenyuh, anaknya ternyata masih peduli dengan mantan istrinya. Laras menghembuskan nafas pelan. "Iya Mama telepon dia tadi, Katanya dia gak pulang ke rumah ayahnya, dia pulang ke rumah kakaknya di Semarang."
"Hufhh, pantas saja Dia tidak ada dirumahnya. Nomornya pun tidak bisa di hubungi."
"Dia memang tidak mau menjawab telepon mu."
"Dasar anak bodoh !" Laras memukul lengan Rafan. "Memangnya kau siapa hah ? sampai dia harus menjawab telepon mu ! Sekarang aja baru cemas, udah mantan ya, jadi gak usah nyesel kamu." ketus Laras.
Rafan hanya menunduk lesu, perkataan Laras menusuk dirinya. Dia benar-benar menyesal, haruskah dia meminta maaf dan membujuk Ara untuk kembali.
__ADS_1
"Ah sudahlah, Mama gak mau ikut campur lagi. Mama mau ngurusin persiapan pernikahan kamu."
"Apa Ma ! Pernikahan aku ! siapa yang mau nikah Ma ?"
"Ya kamulah, ini Kakek mu yang perintah. Mama sama Papa gak bisa nolak, lagian kamu juga udah cerai dari Ara. Kamu mau nolak juga gak bisa, Kakek bakal marah besar dan malah ngancem pake sakitnya lagi. " tutur Laras.
"Tapi Ma, Rafan belum mau nikah." raut wajah Rafan memelas
"Mama gak bisa apa-apa Fan. Maafin Mama ya. Mama juga udah kasih tau Ara kalau kamu mau nikah sama Hana. Dia nitip salam buat kalian, katanya semoga bahagia dan lekas di beri momongan. Ara juga minta maaf, Dia gak bisa datang katanya." Laras mengusap air matanya yang hampir mengalir, tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.
Rafan tertegun sejenak, kenapa hatinya terasa sakit mendengar penuturan Laras, tangannya mengepal erat. Ingatannya lagi-lagi kembali pada ucapan Nisa.
Wanita yang tidak bisa hamil lebih sakit dan kecewa Fan, karena mereka merasa tidak bisa menjadi wanita seutuhnya.
Kenapa ini terasa sakit ? Kami baru berpisah sembilan hari. Kenapa dia harus mengatakan itu, Apa dia sesakit itu. Arghh !! Siallll !!
__ADS_1
Laras mengelus lengan Rafan, lalu berlalu pergi. Rafan dengan gontai melangkah pergi ke kamar untuk istirahat dan memikirkan pernikahan dadakannya.
Bintang ku, kembalikanlah hatiku yang kau bawa. Aku tak sanggup lagi terus begini. Kau kejam, kau pergi membawa semuanya, kenapa kau tak meninggalkan sedikitpun hatiku di sini.