Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Ara Cemburu


__ADS_3

Siang itu Ara sedang duduk santai di kamarnya . memainkan HP dan senyum senyum sendiri. Ulfa merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu dan menegurnya.


" Ara, kenapa sih senyum senyum sendiri dari tadi aku perhatiin." mendekat Ara.


"Gak ada apa-apa kok. cuma lagi inget bacaan di novel romantis bawaannya baper aku." ucapnya bohong.


Maafin aku ya Fa, aku boong sama kamu.Kan gak mungkin aku bilang senyum senyum sendiri gara-gara bacain chat Pak Rafan. Bisa gawat dong.


"Lah wong kamu lagi megang HP senyumnya, kok malah bawa 2 novel. gimana sih Ra !"omel Ulfa.


"Udah ah, aku mau makan laper nih. Mau makan gak." tanya Ara mengalihkan pembicaraan Ulfa.


"Mau dong, tolong ambilkan ya. males gerak nih. Udah nyaman . hehehe"


"Dasar nempel aja sono sama lantai."


Ara pergi untuk mengambil makan siang. Kebetulan di pesantren sudah ada yang memasak. Jadi para santri hanya fokus untuk mengaji dan sekolah lainnya. Disamping kamar Ara jadi tempat pembagian Makan para santri untuk di blok Ara.


Karena santriwati banyak, maka di buat blok-blok sendiri. Setiap blok punya tempat makan sendiri, untuk memudahkan kegiatan santri, dan mengurangi antrian panjang santri jika mau mengambil makan.


Ara tengah makan siang dengan Ulfa, ada juga beberapa teman kamarnya yang juga makan siang. Biasanya mereka makan bersama membentuk kelompok kelompok kecil.


Seperti itulah pesantren semua kegiatan dilakukan bersama-sama, mulai makan, tidur, mengaji, bersih-bersih dan lainnya.


Kebersamaan yang tidak bisa didapatkan ditempat diluar pesantren.


"Assalamualaikum." Ucap seseorang.


"Waalaikumsalam, eh Kia sini makan nareng kita." ajak Ulfa.


"Monggo mbak, anu mbak saya tadi disuruh manggil mbak Ara, sampean ditimbali (dipanggil) Abah." ucapnya sedikit ngos-ngosan.


"Astaghfirullah, ya Allah lupa aku mau ngasih proposal ke Abah." Ara menepuk dahinya pelan.


"Aduhh Ra kok bisa lupa to? itukan Abah yang perintah." tutur Siti.


"Maaf mbak, lupa bener aku."


"Udah cepetan sana."


Ara bangkit dengan cepat mengambil laptopnya dan langsung pergi menemui Abah.


*****


Alhamdulillah Abah gak marah. kirain mau dimarahin aku tadi.


Ara mengusap dadanya lega sembari melangkah ke asrama untuk mencari Rafan.

__ADS_1


"Maaf mbak ustadz Ghifari gak ada dikamarnya. Mungkin beliau lagi di kampus mbak. Atau mau saya panggilin aja mbak ustadz Ghifari nya." kata seorang santri putra yang namanya Ara tidak ketahui.


"Oh iya gak usah kang, biar saya aja yang ke kampus. sebelumnya makasih ya."


Ara melangkah pergi ke kampus, dia lupa mau menanyakan nama kang santri tadi.


Karena saking banyaknya jumlah santri, Ara hanya menghapal nama-nama yang sering ditemuinya saja.


"Kira-kira Pak Rafan dimana ya?" Ara celingukan mencari Rafan di ruangan dosen. Tapi, sepertinya tidak ada orang, ruangan dosen tertutup dan terlihat sepi.


Ara melihat Ustadz Imam temannya Rafan keluar dari salah satu kelas dan langsung menghampirinya.


"Nah itu ada ustadz Imam. Tanya ajalah sama dia." Ara sedikit berlari ke arah Ustadz bernama Imam.


"Assalamualaikum pak ustadz." Ara memberi salam.


"Waalaikumsalam. Eh Ara ada apa Ra ?"


"Maaf Pak ustadz, bapak liat ustadz Ghifari tidak. soalnya saya mau ini ngurusin proposal di suruh sama Abah." jelas Ara.


"Oh Ghifari, itu dia di dalam kelas yang itu." menunjuk kelas tempatnya ia keluar tadi.


"Ooo makasih ya pak, saya kesana dulu."


"Iy sama-sama. saya juga ada urusan. Duluan ya Ra." Ustadz Imam pun pergi.


Ara terkejut, entah kenapa hatinya sakit melihat Rafan sedang berdua dengan Ustadzah Nisa didalam kelas itu.


Walaupun jarak mereka berjauhan. Ara bisa melihat Rona wajah Ustadzah Nisa yang bahagia.


Ara segera mengatasi emosinya, ia harus tau batasan nya di pesantren.


"Assalamualaikum." Ara mengucap salam.


"Waalaikumsalam."Rafan dan Ustadzah Nisa menjawab salam bersamaan, lalu melihat siapa yang datang.


Cihh, lihatlah jawab salam aja bareng. Ara menggerutu dalam hati.


Rafan kaget melihat Ara di sana, lalu melirik sekilas ke ustadzah Nisa. Melihat lagi ke Ara.


Ara tersenyum dengan manisnya, sesuatu yang disembunyikan disenyumannya itu.


Astaghfirullah, Ya Allah gimana ini Ara pasti salah paham liat ustadzah Nisa disini. Imam kemana sihh. Lama banget.


Batin Rafan sambil terus melihat Ara yang berjalan ke arah mereka.


"Aduh maaf mengganggu ya Pak ustadz, ustadzah Nisa." ucapnya masih tersenyum.

__ADS_1


"Eh gakpapa Ra, ada perlu apa?"tanya Ustadzah Nisa.


"Ini zah saya lagi ada perlu sama Pak ustadz Ghifari. Tadi disuruh Abah buat cek lagi proposal bareng Pak ustadz." tutur Ara.


"Oh ya udah silahkan disini aja gakpapa kan Ra ?, biar saya temani kan gak boleh dua-duaan sama yang bukan mahram." cicit Nisa.


Cihh, dasar tak tau malu. Gak boleh dua-duaan sama yang bukan mahram. Lah dia tadi ngapain gak dua-duaan. Sama suami orang lagi.


Ara membatin lagi sambil melirik sekilas ke Rafan yang diam saja.


Rafan dan Ara akhirnya berdiskusi tentang proposal di temani Ustadzah Nisa yang tak tau malu itu, pikir Ara.


Seperti nya Memang seperti itu. Ustadzah Nisa sesekali mendekati Rafan dan Ara yang sedang diskusi. Dia sedikit bertanya tentang apa isi proposal, gimana buatnya, bla-bla lah. Ara jengah melihat tingkah Ustadzah Nisa yang terlihat sedang Caper Cari perhatian ke Rafan.


Dasar ganjenn. Ara masih memaki-maki dalam hati dia sadar jika itu salah. Tapi, yaa begitulah Ara jika sudah kesal.


Astaghfirullah ini Nisa malah deket-deket lagi, nanya muluu!. Arakan bisa tambah salah paham kalo gini. Batin Rafan.


Setelah selesai urusan proposal Ara pamit untuk pulang. Ustadz Imam pun sudah kembali ke kelas itu.


Syukurlah Imam sudah datang. Aku bisa nyusul Ara nih, jelasin semuanya biar gak salah paham lagi."


Rafan pun izin keluar pada Imam dan Nisa. Katanya masih ada beberapa hal yang lupa dikasih tau ke Ara.


Ustadz Imam pun mengiyakan.


Rafan melihat Ara yang masih melangkah untuk pulang ke asrama.


Itu dia.


Rafan mempercepat langkahnya mengejar Ara.


"Ra tungguu," Rafan memegang tangan Ara, suasana sedang sepi jadi tidak apa-apa pikirnya.


"Maaf Pak saya mau pulang ke asrama. saya mau istirahat capek." Ara mengibaskan tangan Rafan yang memegang tangannya.


"Tunggu bentar Ra. aku mau jelasin yang kamu liat tadi gak seperti yang kamu pikirkan."


"Saya capek pak, saya malas bahas itu. Saya permisi." Ara melangkah pergi.


Rafan menarik tubuh Ara ke celah kecil di antara ruang kelas. Ara kaget hampir saja laptop yang dipegangnya terjatuh.


Belum sepenuhnya pulih kagetnya Ara dikejutkan dengan Rafan memeluknya erat.


A, apaan ini. Pak Rafan meluk aku disini.


Ara masih membulatkan matanya kaget.

__ADS_1


Hayyy, jangan lupa ya like and komenšŸ¤—


__ADS_2