
Hari yang melelahkan bagi Rafan dan Ara. Mereka baru pulang dari liburan ke puncak Bogor. Sengaja Rafan mengajak Ara untuk pergi berlibur agar tidak terlalu jenuh di rumah. Karena Rafan yang sudah bekerja di kantor, dan Ara yang di rumah saja. Padahal Ara ingin sekali pergi bekerja di kantor membantu Rafan seperti cita-citanya yang ingin bekerja kantoran. Tapi Rafan tak mengizinkannya untuk bekerja.
"Apa kau lelah sayang ?" tanya Rafan mendekati Ara yang tengah tidur terlentang, lalu ikut berbaring di samping Ara.
"Iya mas, capek. Padahal kan kita pergi liburan malah capek ya."
"Tapi kamu suka kan liburan, walaupun capek ?"
"Suka si, jadi agak fresh gitu, hehe. Makasih ya mas udah ngajakin aku liburan." ucap Ara dan memeluk Rafan.
"Kamu tertekan ya Ra di rumah ?" selidik Rafan.
Ara tertegun, bingung harus jawab bagaimana. .
"E, Enggak kok mas. Cuma bosen aja, makanya mas izinkan Ara kerja ya." Akhirnya hanya kata itu yang terlontar dari bibir Ara, rengekan memohon. Ia tak enak hati jika harus jujur pada Rafan.
"No, mas yang satu itu gak bakal kasih izin. Kalau kamu ikut kerja, dapat uang, terus siapa yang ngabisin uang gaji mas ?"
"Tapi bosen di rumah terus." Ara memainkan jarinya di dada Rafan.
"Biar gak bosen ngapain ?"
"Gak tau. "
"Kamu hobi baca sama menuliskan ?" tanya Rafan.
"Iya suka."
"Gimana kalau kamu nulis aja. Nanti mas beliin perlengkapan buat kamu nulis. Lagian sayang bakat mu kalau gak di kembangkan."
"Yang bener mas ?" Ara menatap Rafan dengan binar bahagia.
"Iya."
"Oke kalau gitu aku setuju." Ara menganggukkan kepala dan memajukan tangan mengepal di depan dada.
Rafan gemas melihat reaksi Ara "Imutnya istriku." mencubit lembut pipi Ara.
"Besok kita pergi beli perlengkapannya ya ?" ajak Rafan.
"Tapikan mas kerja besok."
"Pulang kerja kita pergi."
__ADS_1
"Okeee. makasih ya mas." memeluk girang Rafan.
Rafan tersenyum kecil dan membalas pelukan ara. Jujur Rafan tahu jika sebenarnya Ara tidak terlalu nyaman tinggal di rumah. Banyak alasan, tapi yang jelas karena Kakek Herman. Herman selalu saja berbicara yang tidak-tidak kepada Ara, ditambah dengan adanya Hana yang sering main ke rumah Herman.
Bahkan para pembantu di rumah Herman seperti berpihak kepada Herman. Mereka sesekali menyindir Ara yang belum juga memiliki keturunan. Tapi Ara tak menggubris itu semua.
*****
Makan malam pun tiba, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Ara tengah membantu para pembantu menyiapkan makanan. Ada Hana juga yang ikut makan malam, Hana berinisiatif untuk membantu Ara. Namun, ada niat terselubung didalamnya.
Prakk.
Tiba-tiba terdengar suara keributan dari arah dapur. Sontak saja semua yang di meja makan menuju dapur untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa ini ribut-ribut ?" tanya Laras.
"Itu Nya, Non Ara pingsan." jawab Bi Inah.
"Apa !" seru Rafan kaget.
"Araa !" seru Rafan melihat Ara sudah terbaring tak sadarkan diri dilantai. Mangkuk berisi sup ayam sudah berhamburan di sampingnya.
"Kenapa bisa pingsan begini hah !" teriak Rafan mengangkat tubuh Ara.
"Maaf den, bibi gak tau. Tadi non Ara baik-baik aja. Tapi, tiba-tiba pingsan gitu."
"Iya Fan." tambah Laras.
Dengan cepat Rafan membawa Ara ke kamar.
"Ma tolong panggilkan dokter !" seru Rafan.
"Iya !" sahut Laras.
Tidak lama dokter pribadi keluarga Rafan datang dan segera memeriksa keadaan Ara.
"Bagaimana keadaan istri saya dok ?" tanya Rafan cemas.
Dokter itu tampak ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Rafan.
"Kenapa diam dok ! Istri saya baik-baik saja kan !" seru Rafan.
"Rafan sabar." Laras menenangkan Rafan. Fadil Laras, Hana ikut untuk melihat Ara.
__ADS_1
"Bisa kita bicara berdua dengan tuan." ucap dokter itu pada Rafan.
Semua orang di kamar Rafan mengernyitkan dahinya. Ada apa sebenarnya, kenapa harus bicara berdua.
"Ma, Pa. Rafan mau ngomong sama dokter Adi. Kalian tunggu diluar ya." pinta Rafan.
Tak menunggu lama Laras keluar di ikuti Fadil dan Hana dibelakangnya.
Laras tampak mondar-mandir cemas didepan kamar Rafan.
"Dokter Adi lama banget ya."
"Sabar ma." sahut Rafan.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ara. Kenapa dokter Adi lama sekali. Batin Hana.
Klek.
Pintu kamar Rafan terbuka, dokter Adi keluar di ikuti Rafan di belakangnya.
"Gimana dok keadaan menantu saya ?" tanya Laras cemas.
"Ara gakpapa." sahut Rafan. Dokter Adi mengangguk setuju.
"Alhamdulillah," Laras mengelus lega dadanya, begitu pun dengan Fadil. Hanya Hana yang tampak tak senang di sana.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Mari tuan, nyonya." Dokter Adi membungkukan badan memberi hormat pada Laras dan Fadil.
"Mari dokter," Fadil mempersilahkan. dan ikut pergi mengantarkan dokter Adi.
"Mama mau liat Ara ya Fan ?" pinta Laras.
"Besok aja ya ma. Ara biar istirahat dulu."
"Ya udah deh. Kamu istirahat juga ya."
Kemudian Laras dan Hana pergi meninggalkan Rafan untuk beristirahat.
Rafan menutup pintu dan menguncinya. Rafan sudah berdiri di samping Ara yang belum tersadar juga. Sorot matanya menunjukkan kesedihan yang teramat dalam.
Kenapa ini semua harus terjadi sama kamu Ra ? Baru tadi kamu tersenyum bahagia diizinkan untuk menulis lagi. Tapi kamu malah harus menghadapi tantangan baru lagi. Aku gak tega untuk bicara ini dengan kamu nanti. Aku gak mau kamu makin tersakiti dengan berita ini.
Rafan mengusap kasar wajahnya, lalu mendekat meraih jemari Ara, menciumnya lembut dan beralih mencium kening Ara.
__ADS_1
Aku janji Ra akan selalu ada buat kamu, mencintai, melindungi, menyayangi kamu dalam kondisi apapun itu, Aku akan selalu berusaha untuk bahagian kamu Ra.
Ciuman lembut Rafan berakhir. Rafan kemudian ikut tertidur memeluk erat Ara bersama kegundahan hatinya.