
Rafan dan Ara hanya diam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Raut wajah kecewa kedua orang tua yang selalu terbayang jika kedua insan itu menolak untuk dalam waktu dekat dinikahkan.
Lidah keduanya terasa kelu untuk mengucapkan penolakan. Mereka akhirnya memutuskan untuk tetap mengikuti rencana yang disiapkan ayah mereka.
“Oke Ara mau nikah tapi ada syaratnya.” ucap Ara.
“Syarat apa mbak ?” tanya Budi.
“Nanti kalau Ara nikah acaranya harus sederhana aja. terus hanya kerabat dekat yang di undang. terus anak pesantren juga jangan sampe ada yang tau kalau aku udah nikah sama Pak Ghifari.”jelas Ara.
“Saya gak setuju, saya mau di rayakan dengan besar pernikahan anak saya. Lagian anak saya ini satu-satunya cucu Ayah Herman, pasti beliau mau acara pernikahan ini di gelar dengan mewah.” Jawab Laras.
“Ma, tenang dong” Fadil menenangkan istrinya.
“Ya kalau tante gak mau ya udah. Kita gak jadi nikah aja.” Cicit Ara.
“Mbak gak boleh gitu ! gak sopan !” Seru Budi menegur putrinya itu.
Akhirnya setelah perdebatan panjang dan alasan-alasan yang di utarakan Ara sudah diterima kedua keluarga itu untuk menggelar resepsi pernikahan secara sederhana.
Fadil pun menyetujui dan akan menanggung resiko jika ayahnya Herman Fadilah menanyakan perihal pernikahan cucu semata wayangnya itu.
Aku juga kan mikirin perasaan santri putri. mereka kan banyak yang suka menghalukan nikah sama Pak Ghifari. Kalau mereka tau aku nikah sama nih ustadz bisa berabe urusan. Gumam Ara.
****
Proses lamaran berjalan dengan lancar dan begitu juga dengan pernikahan antara Rafan dan Ara. Kini mereka sudah sah menjadi suami istri.
“Uhhh capeknya badan ku.” Ara menggeliat ke kanan dan ke kiri memutar pinggangnya melepas lelah.
Acara pernikahan sudah selesai, tamu-tamu sudah mulai pulang. Tinggal beberapa kerabat Ara dan Rafan yang masih tinggal.
Kakek Herman pun datang, meskipun dengan wajah yang tampak tidak suka dengan acara pernikahan hari itu. Tapi Ara tak mau ambil pusing, biarlah semua berjalan seperti kehendaknya.
“Bu aku izin ke atas ya, capek mau istirahat.” Pinta Ara pada Nisa.
“Ya udah istirahat, nak Rafan istirahat juga ya.”
“Iya bu.” jawab Rafan.
Ara sudah berjalan menaiki tangga dan berhenti melangkah lalu membalikkan badannya. melihat siapa yang mengikutinya naik tangga.
“Bapak mau ngapain ikutin saya.” tanya Ara pada Rafan yang kini di belakangnya dengan wajah datarnya itu.
Dasar menyebalkan. pikir Ara
“Ara gak boleh ngomong gitu sama suami. Lagian kan nak Rafan udah jadi suami kamu ya wajarlah kan kalau kalian istirahat satu kamar.” jelas Nisa.
“Yahh bu, aku gak mau tidur bareng pak ini.” menunjuk rafan dengan tatapan matanya. “Cariin kamar sendiri bu ya, ya bu. please bu.” rengek Ara pada ibunya.
“No, no.” Nisa menggelengkan kepala. “Kamar semua penuh buat keluarga. Jadi gak ada kamar kosong. Barang nak Rafan juga sudah dikamar kamu semua. udah sana naik kasian nak Rafan capek tuh mukanya.” Nisa mengibaskan tangan mengusir Ara agar cepat naik ke kamarnya.
__ADS_1
Dengan terpaksa Ara menuruti perkataan ibunya, dan membiarkan laki-laki itu tidur di kamarnya.
Ara langsung merebahkan diri di ranjang kesayangannya itu. Tanpa memperdulikan tatapan dingin Rafan padanya.
“Bapak kenapa liatin saya gitu.” bangkit dari tidurnya. “ Itu kamar mandi , bapak duluan aja mandinya,nanti gantian saya.” ucap Ara.
Rafan hanya diam dan melangkah ke kamar mandi meninggalkan Ara.
“Ihh. Dasar nyebelin dari tadi diam mulu. gak bisa ngomong apa gimana sih bapak itu.” gerutu Ara. “Astagfirullah Ara gak boleh gitu, itu namanya durhaka sama suami.” Ara berbicara kepada dirinya sendiri.
Setelah mereka selesai mereka memutuskan untuk tidur. Ara yang terus bicara tanpa ada balasan dari lawan bicaranya mulai kesal.
“Dasar suami aneh, dari tadi aku ngomong gak ditanggepin.” sindir Ara.
“Bapak mau pake selimut yang mana, ini atau ini.” Ara menenteng selimut warna hitam dan abu-abu yang memiliki motif sama yaitu kotak-kotak.
“Terserah.” singkatnya.
“Astagfirullah berilah kesabaran padaku Ya Allah.” Ara mengelus dadanya pelan. “Punya suami dari tadi diajak ngomong jawabannya Cuma mengangguk, heem, iya, terserah huh. Dahlah capek aku.” Ara membaringkan diri di ranjang.
Rafan tak juga bergeming, masih dengan posisi duduk bersandar dan kaki selonjor di ranjang yang sama dengan Ara.
Ditengah mereka ada guling yang memisahkan. Sebenarnya Ara ingin suaminya itu tidur saja dilantai. Tapi tidak berani melakukan itu. mengingat keluarga suaminya masih ada di lantai bawah.
Bisa berabe nih, kalau tante Laras liat anak kesayangannya aku suruh tidur di lantai. Auto pecat deh jadi mantu. Pikir Ara.
“Pak Rafan, yah saya panggil bapak gitu aja ya. Pak Rafan lebih enak dengernya. Ara masih berbicara sendiri.
yang diajak bicara hanya terdengar deru nafasnya,masih sibuk dengan benda pipih ditangannya.
“Astagfirullah, emang gini ya kalau punya es balok. Dingin diam aja dari tadi. Serasa ngomong sama manekin akuu.” ceriwis Ara.
“Pak Rafan.”
“Hemm.”
“Iss bapak bisa ngomong kan, dari tadi ya hem, ya hem terus. kayak gak tau alfabet lain apa. Kalau lagi ngajar lancar aja tuh ngomongnya” omel Ara.
“Iya, tenang aja saya gak bakal ngapa-ngapain kamu. Jadi kamu bisa tidur tenang gak usah mikir aneh-aneh.” jawab Rafan.
Ara membulatkan matanya mendapat jawaban panjang dari Rafan.
“Nah gitukan enak. dari tadi coba kan enak akunya gak nyerocos aja sendirian.”
“Ya udah kamu tidur udah malem, pasti capek kan ?”
“Hem.” jawab Ara.
Dasar bocah mau balas dendam sama aku. Rafan.
Ara sudah terlelap dalam mimpinya.menarik selimut sampai ke leher bahkan hampir menutup dagunya. Hitung-hitung perisai saat dia tidur.
__ADS_1
Kepala Ara ditutupnya menggunakan bantal. Entahlah itu suatu kebiasaan Ara jika tidur. Tidak mau pakai bantal. Seharusnya bantal tempatnya di bawah kepala, bantal Ara malah ada di atas kepalanya. Dia bilang nyaman seperti itu.
Rafan melirik sekilas istrinya itu.
Dasar aneh, orang tidur bantal dibawah kepala dia di atas kepala. Gumam rafan menggelengkan kepalanya.
Emang dia bisa nafas apa tidur gitu. Rafan penasaran bagaimana Ara bisa tidur, jika wajahnya ditutup bantal, selimut sampai dagu. gimana nafasnya coba. pikir Rafan
Rafan tak mau terlalu penasaran dengan istrinya itu. badannya sudah lelah ia ingin segera mengistirahatkan badannya itu.
Sebenarnya Rafan sudah mengantuk dari tadi, tapi Ara ngomong terus jadi kantuknya ia tahan sampai Ara tidur.
Ada banyak chat dari teman-teman Rafan yang menanyakan keberadaannya. Biasanya mereka akan pergi untuk mendaki gunung atau sekedar traveling saat liburan.
Rafan menjelaskan kepada teman-temannya bahwa dia sedang di rumah kerabatnya di sumatera untuk merayakan pernikahan. Rafan sengaja berbohong dia juga tak mau teman-temannya mengetahui perihal pernikahannya.
Rafan tiba-tiba setuju dengan alasan Ara untuk tidak mempublikasikan pernikahan mereka ke teman-temannya.
Hari sudah mulai larut malam. Dikamar pengantin baru itu tidak ada kegiatan layaknya pengantin baru biasanya.
hanya deru nafas dua insan yang sudah terlelap dalam tidurnya masing-masing.
Sampai,
Grepp,
Sebuah tangan memeluk sesuatu.
Aysss dasar bocil kenapa juga pake peluk-peluk segala.
Rafan menggerutu kesal kala tangan Ara sudah memeluk erat pinggang Rafan.
Waktu menunjukkan pukul 02:00 dini hari. Guling yang seharusnya menjadi pemisah antara Ara dan Rafan kini sudah di bawah kaki Ara.
Tangan Ara sudah memeluk erat tubuh Rafan. Mungkin Ara menganggap itu guling kesayangannya.
Rafan perlahan memindahkan tangan Ara dari atas tubuhnya. Tapi Ara malah mengeratkan pelukkannya dan malah menambah menindih tubuh Rafan dengan kakinya.
Rafan sudah seperti guling yang dipeluk Ara. Ia mencoba mendorong pelan Ara untuk melepaskan pelukan itu. Ia tak mau sampai Ara bangun dan malah menuduh dirinya melakukan yang tidak-tidak.
Rafan memindahkan pelan tangan Ara. Dan Ara malah membenamkan wajahnya di dada Rafan yang bidang.
Hembusan nafas Ara yang hangat berhasil menembus sampai dada Rafan. Wajahnya seketika memerah. Rafan masih normal. Laki-laki mana yang tak terpancing dengan keadaan seperti itu.
Hah malah makin kenceng aja pelukannya.
Akhirnya Rafan mengalah dan membiarkan Ara memeluk tubuhnya seperti guling yang empuk.
Mama tolongin Rafannn !
semoga suka🤗.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak ya🤗🥰.