
Rafan benar-benar marah pada Ara. Sejak keluar dari kamar sampai menjelang tidur, Rafan terus mendiamkan Ara, sekedar melirik pun tidak. Ara merasa bingung harus berbuat apa ? Ara ingin menegur Rafan, tapi raut wajah Rafan sangat tak bersahabat. Ini pertama kalinya Rafan begitu marah pada Ara.
"Mas " panggilan Ara yang ke sekian kalinya tak juga membutuhkan sahutan. Rafan masih sibuk dengan laptop di depannya. Entah apa yang tengah di kerjakan, terlihat sangat fokus dan tak menggubris panggilan Ara.
Karena Rafan tak menggubris panggilan, Ara beranjak dan duduk di samping Rafan.
"Mas, kamu masih marah ya sama aku soal tadi sore ?" Rafan masih diam. "Mas jawab dong, jangan diam saja." Ara meringsek mendekati Rafan. "Mas," Ara mengguncang lengan Rafan.
" Tidur sana, Gak usah ganggu. Aku lagi sibuk." ketus Rafan sambil terus mengetik.
Ara menunduk lesu. Harus bagaimana agar Rafan tak lagi mendiamkan dirinya. Ara msih tak beranjak pergi, kepalanya tertunduk, air matanya mengalir begitu saja dan tangannya mengepal erat di paha.
Rafan tak sedikit pun melirik. Namun, hatinya jadi iba mendengar suara sesegukan kecil Ara.
Dia menangis.
Rafan paling tidak bisa melihat wanita menangis apalagi jika Ara yang menangis. Rafan menghentikan kegiatannya, beralih menatap Ara yang masih menunduk. Rafan bisa melihat bahu Ara yang bergetar menahan tangisnya.
Rafan mendekap tubuh Ara "Jangan menangis, ku mohon." ucapnya. Tangis Ara makin pecah saat Rafan mendekapnya. Alhasil baju Rafan basah karena air mata Ara.
"Oke menangis lah, selesaikan dulu tangisanmu."Rafan menepuk punggung Ara pelan.
Tak lama Ara berhenti menangis, mendongak menatap Rafan. "Sudah selesai nangisnya ?" tanya Rafan. Ara hanya mengangguk kecil.
"Kenapa kamu nangis ?" lanjut Rafan.
"Gak papa, hiks."
"Gak papa kok nangis ?"
Ara menatap manik Rafan, tak tampak lagi kemarahan disana.
"Mas masih marah sama aku ?"
"Enggak."
"Terus kenapa dari tadi diemin aku ?"
Ara mengerjap matanya, membuat Rafan tak bisa menolak pesona sang istri.
"Gak papa." mengalihkan pandangan agar tak melihat bola mata Ara.
"Jangan marah lagi ya. Ara takut lihat mas kayak tadi." ucap Ara sembari memainkan telunjuknya di dada Rafan.
"Mas gak marah kalau kamu mau nurut sama mas."
"Iya deh, aku nurut aja. Tapi mas gak boleh gitu lagi ya !" Ara mengerjap memohon.
Rafan tersenyum " Iya, Mas gak bisa lama-lama marah kalau kamunya imut gini. " ujar Rafan mencubit pipi Ara.
Hari sudah larut malam, Rafan sudah terlelap tidur memeluk Ara. Yang di peluk belum bisa tidur, selain faktor pelukan Rafan yang terlalu erat, Ara msih memikirkan perihal pernikahan kontrak Rafan dan Hana.
Sengaja Ara tak menyinggung soal Hana. Dia tak mau membuat mood Rafan buruk lagi. Ara mengelus rambut Rafan, sesekali mengecupnya. Rafan tidur sangat tenang, kepalanya meringsek ke dada Ara, mencari kehangatan katanya. Tak butuh waktu lama Ara pun tertidur menyusul Rafan.
******
__ADS_1
"Mas berangkat sayang. Assalamualaikum."
Rafan berpamitan setelah mencium kening Ara. Pemandangan yang sangat indah di pagi hari.
"Waalaikumsalam, hati-hati mas."
Rafan tersenyum lalu melajukan mobil untuk berangkat ke kantor. Ara kembali masuk rumah yang sudah sepi sepagi ini. Semua anggota keluarga sudah pergi untuk bekerja, Herman pun tak kalah pagi perginya.
Ara hanya menggeleng pelan sambil tersenyum, ternyata suaminya pemalas. Papa mamanya yang pangkatnya tinggi sudah berangkat kerja, malah dia sengaja telat masuk kerja. Rafan bekerja di perusahaan milik keluarganya, tapi masih dalam jabatan rendah. Herman bilang, Rafan masih harus belajar dari bawah dulu.
Bergegas Ara naik ke kamarnya untuk melanjutkan kegiatan menulisnya lagi. Baru beberapa kata yang di tulisnya, handphone Ara berdering.
Siapa yang telepon, kok nomor tak di kenal.
"Halo."
"Assalamualaikum Ara."
Suara perempuan, siapa ya ?
"Waalaikumsalam, maaf ini siapa ya ?"
"Ini Hana Ra. "
" Oh Hana, maaf ya soalnya belum punya nomor kamu. Jadi gak tau deh kalo yang telepon kamu."
"Gak papa Ra, aku yang minta maaf ganggu Waktu kamu."
"Oh enggak kok, gak ganggu."
Perbincangan terjadi cukup lama, sampai akhirnya Ara tak jadi menulis lagi, dan berencana untuk pergi ke cafe karena diundang oleh Hana.
*****
Setelah membayar ongkos Taxi, Ara memasuki area cafe tempat ia janjian dengan Hana.
Ara celingukan mencari keberadaan Hana, sampai Hana melambaikan tangannya.
"Maaf ya nunggu lama pasti. " ucap Ara setelah duduk bersama Hana.
"Gak papa, lagian aku juga baru nyampe."
"Beneran baru datang juga?"
Hana mengangguk sambil tersenyum.
Cih padahal sudah hampir dua jam aku duduk di sini.
"Alhamdulillah kalau gitu." jawab Ara mengelus dadanya.
Mereka pun berbincang-bincang cukup lama.
"Kamu kenapa lihat aku gitu ?" tanya Ara tak nyaman di lihat dari tadi oleh Hana.
"Kamu cantik Ra. Pantes aja Rafan suka sama kamu."
__ADS_1
Ara tersipu malu "Makasih Han, kamu juga cantik kok."
"Maaf Ra, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Silahkan."
"Bagaimana hubungan mu dengan Rafan ?"
Ara terdiam sejenak, kemudian tersenyum, " Alhamdulillah, hubungan kami baik-baik saja. Ya walaupun kemarin mas Rafan sedikit marah. Tapi sekarang gak marah lagi kok." tutur Ara.
"Kenapa Rafan marah ?" selidik Hana.
"Mas Rafan marah, gara-gara aku marahin dia karena mau menceraikan kamu setelah kamu melahirkan cucu untuk kakek."
Raut wajah sedih, menghampiri Ara.
"Jadi kamu sudah tahu itu ?" tanya Hana lagi.
"Apa mas Rafan benar-benar memberikan kontrak pernikahan ke kamu Han ?" Hana mengangguk sebagai jawaban.
"Mas Rafan emang keterlaluan. Dia mau mempermainkan janji suci yang si ikrar kan di hadapan Allah."ucap Ara geram.
" Jadi Kamu gak setuju Ra kalau Rafan nanti menceraikan aku ?"
Ara mengangguk mantap, meskipun hatinya berkata lain, dia tak mau egois.
"Aku iri sama kamu Ra." ucap Hana sembari mengaduk minumannya.
"Kamu sangat di cintai Rafan. Dia tak pernah begini sebelumnya. Dia dulu sangat menghormati kakeknya. Tapi, besarnya cinta Rafan ke kamu, dia bahkan berani membentak kakek."
Ara tertegun. Jadi ini maksudnya mau nyalahin aku, karena mas Rafan melawan kakek.
"Hahaha, cinta memang seperti itu Han, semua hal akan dilakukan untuk orang yang di cintai."
Hana hanya membalas dengan senyuman getir.
Tidak salah Rafan mencintai wanita seperti dia. Lihatlah bibirnya masih bisa tersenyum walau aku mentertawakan dirinya. Dasar bodoh, pantas saja Rafan jadi bodoh menikah dengan Ara yang bodoh.
Mereka melanjutkan perbincangan sambil menikmati hidangan yang disajikan.
"Makasih ya Ra, sudah mau datang ke undangan ku." ucap Hana memeluk Ara yang hendak pulang.
"Iya, sama-sama Han. Aku pamit duluan ya, soalnya ada kerjaan di rumah."
Ara bangkit dari duduknya, namun tiba-tiba.
"Aduhh, kok kepala ku pusing banget ya." Ara memegang kepalanya yang terasa pusing.
Hana tersenyum menyeringai.
"Kamu kenapa Ra?" pura-pura panik.
"Gak tau Han, kepala ku pusing banget."
"Ya udah kamu duduk aja dulu. Aku Mau bayar dulu ke kasir. Nanti aku anterin kamu pulang."
__ADS_1
Ara tak menjawab dan kembali menduduki kursinya tadi. Sakit kepalanya lama kelamaan semakin terasa. Sampai akhirnya Ara tak sadarkan diri lagi.
Hahaha, obatnya sudah bekerja ternyata.