
Ara mulai mengerjakan tugas yang Abah berikan. Dia mengerjakan dibantu Rafan. Teman-teman Ara merasa sangat iri dengannya. Bagaimana tidak iri, bisa melihat ustadz ganteng dari dekat, terus lama lagi.
Terlebih lagi ustadzah Nisa, ustadzah cantik dan pintar yang di kabarkan dekat dan suka dengan ustadz ganteng alias Rafan.
Ustadzah Nisa cemburu tapi tak memperlihatkan jika ia cemburu. Dia hanya bertanya tanya sedikit tentang ustadz Ghifari.
Ara meladeni dengan senang hati pertanyaan, sampaikan salam dari teman-teman, bahkan santri putri lainnya tentang ustadz Ghifari suaminya.
Kadang ia takut dan kasihan membayangkan jika mereka tau hubungannya dengan ustadz Ghifari.
"Iya nanti aku salamin deh." ucap Ara. Ini sudah yang kesekian kalinya para santriwati menitipkan salam untuk Rafan.
" Sampaikan ya Ra. Awas loh gak di sampaikan Ra." ujar salah satu dari teman Ara.
Bahkan ada juga yang menitipkan makanan dan barang untuk Rafan. Ara bersedia membantu memberikan kepada Rafan. Yahh walaupun akhirnya makanan atau barang itu akan dimakan bareng oleh Ara dan Rafan. Barang barang yang diberikan pada Rafan, diberikan lagi ke santri putra.
"Bawa apalagi kamu Ra?" tanya Rafan melihat Ara kesusahan membawa tumpukan barang di atas laptopnya dan satu plastik di tangan satunya.
"Biasalah pak titipan santri."
"Kenapa gak kamu tolak aja sih Ra ?" tukas Rafan.
"Janganlah Pak kasihan mereka sudah susah payah beli dan nyiapin buat bapak."
Lagi-lagi Rafan bingung dengan pemikiran Ara.
Dia gimana sih. Masak gak cemburu minimal sakit hatilah aku diperhatiin banyak orang.
Masak cuma aku yang cemburuan liat dia sama orang lain.
Rafan menggerutu dalam hati, bagaimana bisa dia sendiri yang cemburuan. Teringat kemarin Ara dan ustadz Mukorrobin temannya tertawa dengan Ara begitu akrabnya.
Rafan akui dia tidak seperti ustadz Mukorrobin yang mudah bergaul dengan lingkungan sekitar. sama seperti Ara Homuris dan humble pada semua orang.
Tapi tetap saja dia tidak suka Ara akrab dengan laki-laki lain, sedang kan dengan nya tidak, pikir Rafan.
"Nih ada yang bawain baju koko mahal,." Ara mengeluarkan baju dari kantong plastik. "Ini harganya mahal Pak, Dua ratus lima puluh ribu kalo gak salah kemaren saya lihat harganya. keren gak pak?" Ara mengacungkan jempol nya.
"Biasa aja."
"Iyalah wong baju bapak juga mahal-mahal, jadi gini mah biasa."
"Udah gak usah ngurusi itu barang, kita lanjutkan dulu proposal Abah."
Ara menurut dan mulai mengerjakan lagi proposal bantuan dana untuk pembangunan asrama putri.
"Ustadz Mukorrobin kemana pak ?" tanya Ara celingukan mencari ustadz ganteng satu itu.
Ustadz Mukorrobin juga tak kalah ganteng dari Rafan, dia punya lesung pipi.jika senyum menambah kesan manis di wajahnya. Tapi karena sifatnya yang terlalu Pede an santri banyak yang sebal sama dia.
Kecuali Ara karena mereka sepertinya sama-sama menyebalkan 🤭.
"Ngapain tanya dia.?" Rona wajah Rafan tak suka.
"Ya gakpapa sih, nanya aja. masa cuma kita berdua disini, nanti timbul fitnah lagi." sahut Ara mulutnya sibuk mengunyah makanan pemberian teman-teman nya untuk Rafan.
__ADS_1
"Dia ada urusan katanya."
"Yahh gak seru deh."
Rafan mengernyitkan dahi tak suka dengan kata-kata Ara.
"Kenapa kan ada saya, saya kan suami kamu. lebih berhak berduaan dan ngobrol sama kamu. Diakan bukan mahram kamu. Dari kemaren kamu malah tertawa sama dia, padahal ada saya." ketus Rafan.
"Jadi ceritanya bapak cemburu nihhh." sahut Ara seolah tau kondisi hati Rafan.
"Iya saya cemburu puas."
Ara tertawa mendengar Rafan mengatakan cemburu pada ustadz Mukorrobin. Ara juga tidak memungkiri bahwa dia senang jika Rafan cemburu.
"Hahahaha, bapak cemburu nih ye." goda Ara.
"Udahlah gak usah dibahas lagi, ini kerjakan." Rafan menghentikan tingkah Ara, bisa-bisa dia khilaf dengan tingkah istrinya, yang semakin hari semakin menggoda itu.
Tapi dia sadar sekarang masih di ruangan dosen, di kampus masih agak ramai mahasiswa. Bisa gawat jika mereka dengar Ara teriak kalau nanti dia melakukan hal yang tidak tidak.
*****
Siang itu Ara, Ulfa dan Hanif salah satu teman sekelas Ara di kampus. Mereka sedang membahas mengenai tugas kampus yang semakin banyak menjelang wisuda. Kebetulan mereka ada waktu lenggang siang itu, jadi mereka memutuskan untuk ngobrol sejenak.
"Astaghfirullah bener deh aku sama tugas kampus, mana mau skripsi lagi. alamak." Ucap Ulfa.
"Samalah aku juga pusing, tau gini gak kuliah aku." sahut Hanif.
"Kalem broo, jalani aja. Gak usah ambil pusing jalani prosesnya." timpal Ara.
Hanif mengangguk kan kepalanya tanda setuju dengan perkataan Ulfa.
"Yee itulah belajar makanya, kan udah ku bilang rajin-rajin aja belajar. Kalau ada yang gak paham tanya ke aku aja. mungkin.aku juga gak paham. hahaha." Tawa Ara pecah.
"Leh dasar Ege." .
" Temen lu itu Nif."
Mereka tertawa bersama.
Rafan yang mendengar suara tertawa Ara, langsung menuju sumber suara.
Hatinya tiba-tiba.panas melihat Ara duduk agak dekat dengan Hanif dan tertawa dengan begitu akrabnya.
Apa-apaan ini kenapa mereka disini. batin Rafan
" Heyy." Seru Rafan mengagetkan Ara dan teman-temannya.
"Ngapain kalian ngumpul di sini, mana bareng laki-laki yang bukan mahramnya lagi. Mau nabung dosa hahh?" Terdengar nada kesal Rafan.
Ara dan temannya hanya menundukkan kepalanya dan diam, mereka takut. Tak pernah mereka melihat Ustadz Ghifari se marah itu.
"Pulang ke asrama masing-masing cepat. ini sudah siang, kalian ada kegiatan lainnya kan." perintah Rafan suaranya terdengar sangat marah.
Nyali Ara menciut, ia tak tau jika Rafan bisa se mengerikan itu saat marah.
__ADS_1
Kok malah jadi serem sih kalo marahh. kan aku takut. Batin Ara.
Mereka menurut perintah Rafan dan pergi ke asrama masing-masing.
"Sumpah Ra, Pak ganteng ngeri banget ya kalo lagi marah." Ulfa memeluk erat lengan Ara, ia masih merinding mengingat wajah Rafan yang marah.
"Aku juga gak tau, kenapa se marah itu dia." sahut Ara.
Apa jangan-jangan Pak Rafan cemburu liat aku sama Hanif tadi dekat duduknya.
Mereka mempercepat langkahnya, meninggalkan Rafan yang masih marah didalam kelas.
"Astaghfirullahaladzim." Rafan mengusap wajahnya kasar.
"ampunilah hamba ya Allah, hamba tadi cemburu melihat istri hamba dengan laki-laki lain. Ampunilah dosa istriku dan teman-temannya ya Allah."
Rafan menyesali perbuatannya tadi. Dia juga melihat Ara yang terlihat sangat ketakutan saat ia membentak keras tadi.
Maafin aku Ra. aku gak bermaksud bikin kamu takut. batin Rafan.
Ara sudah sampai di asrama. Dia dan Ulfa masih syok dengan kejadian tadi.
Tring...
Tring...
sebuah pesan masuk di HP Ara.
"Maaf Ra, saya tadi gak bermaksud untuk bikin kamu takut."
"Saya gak.mau nanti malah timbul fitnah."
"Saya gak suka kamu deket-deket sama laki-laki lain. sudah pernah saya bilang kan saya cemburu kalo liat kamu sama laki-laki lain."
"Saya juga gak mau kamu malah terjerumus dalam dosa, deket dengan laki-laki yang bukan mahramnya. apalagi kamu sudah menikah."
Ara kaget dan langsung tersenyum mendapat pesan sekaligus perhatian dari suaminya.
"Maafin saya juga pak. tadi saya yang salah. gak seharusnya saya deket sama Hanif. Saya seharusnya tau batasan saya 🙏🙏.
Mengetik.....
Tring...
Pesan masuk lagi.
"Lain kali lebih hati-hati ya."
"Siap komandan👩✈️👩✈️." balas Ara.
Chating sudah berakhir. Baik Ara dan Rafan sudah tenang dan senang. Sama-sama mendapatkan respon bagus satu sama lain cukup. Masalah tak perlu selamanya menggunakan emosi, apalagi jika sudah menikah. Bicarakan secara baik-baik, dan Carikan solusi bersama, itu baik. Perlunya introspeksi diri juga penting, agar tak saling menyalahkan satu sama lain.
Udahh up nihhh. Jangan lupa yahh tinggalkan komentar, like and favorit biar gak ketinggalan.
Hadiah juga boleh 🤭🤗.
__ADS_1
Terimakasih untuk para pembaca 🤗.