Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
First Kiss


__ADS_3

Rafan masih memeluk Ara dengan eratnya bahkan lebih erat. Ia tak mau jika Ara salah paham dengan yang dilihat Ara tadi.


Sampai Ara memukul-mukul pelan dada Rafan, karena dia sudah susah bernafas di pelukan Rafan. Baru Rafan melepaskan pelukannya.


"Maaf Ra, saya gak bermaksud bikin kamu susah nafas. saya cuman mau jelasin yang kamu lihat tadi itu gak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan. Tadi, kami tidak berdua di sana. Tadi ada ustadz Imam juga, tapi tiba-tiba dia ada urusan penting katanya. Jadi dia ninggalin kami berdua." Jelas Rafan menyesal.


Ara tertegun sejenak, dia tahu ustadz Imam keluar dari ruangan yang sama dengan Rafan. Dia juga tau Rafan bagaimana, ia tidak semudah itu dekat-dekat dengan perempuan yang bukan mahram nya. Apalagi Rafan sudah menikah dengannya.


Tapi Ara tak mau tau. Dia masih saja merasa kesal, entah kesalnya kepada siapa. Kepada Ustadz Imam yang meninggalkan Rafan dan ustadzah Nisa disana, atau marah pada Rafan dan ustadzah Nisa.


"Bukan urusan saya." Jawab Ara dengan wajah kesal.


Sepertinya dia cemburu. batin Rafan sambil tersenyum kecil melihat wajah kesal Ara.


"Ngapain bapak senyum-senyum sendiri. Ohh atau jangan-jangan bapak senang bikin saya kesal, atau senang bisa berduaan dengan Ustadzah Nisa, iyaa!!" seru Ara bertambah kesal.


"Nggak Ra." Sahut Rafan.


"Ah sudahlah, males saya. Saya mau pulang ke asrama." Ara melangkah pergi tapi ditahan Rafan. "Minggir Pak saya mau pulang. Jangan kayak gini. Ini masih di kampus nanti ada yang liat kita berduaan disini malah jadi fitnah lagi." cicit Ara sembari menyingkirkan tubuh Rafan di depannya.


Rafan malah semakin maju dan mengepung Ara dengan kedua tangannya menempel di dinding.


"Pak minggir, saya mau pulang." teriak Ara kesal.


Rafan semakin maju mendekatkan wajahnya ke Ara.


Ara sudah deg-degan dengan tingkah Rafan itu.


"Bapak mau ngapain, gak usah macem-macem ya. atau saya teriak ini." ancam Ara takut-takut gemetar.


"Teriaklah gakpapa biar semua orang tau kalu kita berduaan disini. Sekalian kita kasih tau mereka kalau kita sudah menikah." Rafan semakin menempelkan tubuhnya dilaptop Ara yang dipegang di depan dada Ara.


"Pak lepasin !" Ara berusaha memberontak.


"Saya cuma mau jelasin yang tadi Ra. saya mau kamu percaya sama saya." Rafan melembutkan suaranya.


Hembusan nafas Rafan sampai terasa di wajah Ara, karena dekatnya jarak mereka.


Ara hanya diam. Dia masih berpikir harus percaya atau tidak.


Rafan sendiri gemas melihat wajah Ara dari dekat untuk kedua kalinya. Matanya tertuju pada bibir mungil dan merona milik Ara. Ia menelan dengan kasar menahan nafsunya.


"Pak sa..."


Ucapan Ara tatkala langsung berhenti. Rafan sudah menempelkan bibirnya ke bibir lembut Ara. Rafan sudah tidak tahan kali ini.


Ara sangat terkejut, maniknya membulat sempurna. Refleks ia mendorong rubuh Rafan untuk menjauhinya.


Tapi Ara kalah cepat dengan Rafan.


Rafan sudah meraih pinggang Ara memeluknya erat dan menahan tengkuk Ara dengan tangan satunya.


Ara memberontak, ia memukul kecil Rafan. Tenaganya kalah jauh, tangan satunya pun memegang laptop agar tak jatuh.


Karena lelah Ara menyerah dan membiarkan Rafan melanjutkan kegiatannya.


Rafan yang melihat Ara pasrah semakin menarik dalam tengkuk Ara, ia mulai ******* pelan bibir mungil Ara.

__ADS_1


Ara memejamkan matanya, mencoba untuk menikmati ciuman pertamanya itu dengan sang suami. tangannya pun sudah beralih membalas pelukan Rafan.


Rafan semakin gencar setelah mendapat pelukan balik, walaupun Ara tidak membalas ciumannya. Ara terasa sangat kaku, mungkin itulah ciuman pertamanya bagi Ara. Tapi Rafan merasa senang.


Cukup lama mereka berciuman. Rafan melepaskan pagutannya menyadari Aranyang sudah susah bernafas.


"Maaf." ucap Rafan dengan nafas yang masih ngos-ngosan, keningnya menempel dengan kening Ara.


Ara masih ngos-ngosan, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Dia mulai mengatur nafasnya agar normal kembali. Tubuhnya agak gemetar.


Astaghfirullah, ya Allah apa yang aku lakukan. Kenapa aku berciuman sih. Ya Allah jantung ku lari-larian seperti ini. batin Ara.


Rafan mengatur nafasnya. Ia menangkup wajah Ara dengan dua tangannya. Menatap wajah cantik yang sudah membuatnya kelepasan.


Yang ditatap berusaha menundukkan kepalanya, menyembunyikan malu karena sudah menikmati ciuman yang seharusnya memang sudah menjadi hak suaminya.


"Maaf Ra." lagi-lagi Rafan meminta maaf.


"Aaa, ee. Saya percaya sama bapak. E, e saya mau pulang ke asrama dulu pak." Ucap Ara malu-malu.


Rafan tersenyum mendengar jawaban Ara. Ia melepaskan tangannya dari wajah Ara.


"Terimakasih."


Rafan memberi jalan keluar untuk Ara.


"Ee, saya permisi dulu pak." Ara pamit sambil menundukkan kepala menutupi wajahnya malu.


"Tunggu Ra." Rafan menarik kembali Ara kepelukkannya.


Ya Allah apalagi iniiiii. Bisa kena jantungan aku kalo di peluk-peluk terusss.


"Gimana pak?" tanya Ara. Mulut Ara dibekap tangan Rafan agar tidak bersuara.


"Hmmmmh. Mmmhh"


Ara menarik tangan Rafan dari mulutnya.


"Ssst. Jangan berisik. Imam sama Nisa ke arah sini." Rafan berbisik pada Ara.


Tak lama Ustadz Imam dan ustadzah Nisa lewat bersama mereka jalan sambil berbincang.


"Sial aku hari ini Mam. Aku Nyuruh kamu pergi ehh malah Ara dateng. Kan gagal lagi mau ngobrol sama ustadz Ghifari." suara itu terdengar seperti suara ustadzah Nisa. Pikir Ara dan Rafan.


"Ya gimana Nis, aku tadi mau nyegah Ara. Tapikan, dia di suruh sama Abah. Gak berani aku mau nyegah dia." jawab Imam.


"Ya coba kamu bilang, gak liat gitukan bisa." tambah Ustadzah Nisa. "Mana tadi lama Ara didalam, dia usah selesai kamu datang. Rerus Ustadz Ghifari malah nyusul Ara." tambahnya kesal.


"Ya besok-besok lagi aja, nanti tak bantuin lagi kamu deketin Ghifari." jawab Imam.


Suara ustadzah Nisa dan ustadz Imam sudah ridak terdengar lagi.


Rafan dan Ara masih di persembunyiannya.


Mereka tak habis fikir ternyata Ustadzah Nisa yang merencanakan semua itu.


Ara jadi merasa bersalah dengan Rafan. Ia sudah menyangka Rafan melakukan hal yang tidak tidak.

__ADS_1


Rafan sendiri kesal temannya Imam bekerjasama dengan Ustadzah Nisa untuk mengelabuinya.


Tapi dia tidak bisa marah, dia tahu mereka tidak tau apa-apa tentang pernikahannya dengan Ara.


"Mereka sudah pergi pak?" tanya Ara.


"Sepertinya sudah Ra." Rafan mengecek lagi keadaan sekitar, sudah sepi.


"Maafin saya pak. saya sudah menyangka yang tidak-tidak tentang Bapak." Ara menundukkan kepalanya menyesal.


Rafan tersenyum kemudian meraih rubuh Ara dan memeluknya lagi lebih erat.


"Gakpapa Ra, wajar kalau kamu marah. Saya juga gak habis fikir mereka merencanakan semua ini." ucap Rafan sambil mengelus pucuk kepala Ara.


"Tapi saya senang." lanjutnya.


"Jadi bapak senang dijebak sama mereka kayak gini, biar bisa berduaan sama ustadzah Nisa lagi. gituu. iyaaa!!" seru Ara kesal.


Rafan terkekeh kecil.


"Kan malah ketawa." sungut Ara.


"Saya suka kalo kamu gini, kamu marah kalau saya dekat dengan orang lain. itu yang saya suka." jawab Rafan.


Ara gugup, jujur sepertinya ia memang cemburu melihat Rafan dengan wanita lain, tapi malu mengakuinya.


"Ra." Panggil Rafan.


"Hmmm."


Rafan terkekeh lagi mendengar jawaban Ara.


"Kamu cantik,"


Deg


Jantung Ara serasa melompat keluar dari tempatnya. Wajahnya sudah merona lagi mendengar ucapan Rafan.


"Kamu sangat cantik." lanjut Rafan.


Aaaaaa maluuuuu!!. Ibuu Ara mau ngilang ajaa. Ara maluu!!. Ara menjerit dalam hati.


Wajahnya tambah memerah dan Rafan terkekeh lagi.


"Ra." panggil Rafan lagi.


Ara memberanikan diri menatap Rafan. Tatapan mereka saling bertemu kembali.


Rafan mendekatkan wajahnya ke wajah Ara, menarik tengkuk Ara dan memulai lagi ciumannya.


Ara diam dan menyambut ciuman itu, membiarkan Rafan melakukannya sekali lagi. Sejenak Mereka larut dalam lingkaran bahagia yang mereka ciptakan sendiri. Rasa bahagia dan malu kembali menyambangi kedua insan yang tengah di mabuk asmara.


Aaah indahnya cinta.


Jeng-jeng author udah up lagi nih.


Gimana baper gak🤭. Kalau baper jangan lupa like and komennya ya. Biar author nambah semangat bikin bab yang banyak bikin baper😁.

__ADS_1


Terimakasih untuk para pembacašŸ¤—.


__ADS_2