
Rafan dan Ara memutuskan untuk kembali ke pesantren. Meskipun Laras belum rela mereka pergi, karena mereka baru menginap beberapa hari dirumah. Mengingat Ara ada kegiatan kuliah yang tidak bisa ditinggalkan, jadi Laras mengizinkan mereka kembali ke pesantren.
"Hati-hati dijalan ya Fan. pelan-pelan aja bawa mobilnya, kasihan Ara." Laras menasehati Rafan.
"Iya ma, Rafan pamit dulu ya." mencium tangan Laras.
"Ara pamit juga ma."
"Iya Ra, nanti kalau urusan kuliah udah selesai cepet pulang ya." Laras memeluk tubuh Ara.
"Insyaallah ya ma."
Mobil yang dibawa Rafan sudah hilang dari pandangan Laras. Ia memutuskan untuk masuk ke rumah.
"Pak nanti berhenti di pangkalan ojek tempat biasa ya." masih ber
"Kenapa berhenti disana ?, kan saya juga mau ke pesantren."
"Kan kita udah sepakat buat nyembunyiin status pernikahan kita."
"Mau sampai kapan ?" tanya Rafan gusar.
"Gak tau," Ara mengangkat bahunya.
Rafan menghembuskan nafas kasar. Dia tidak mengerti jalan pikiran istri nya. Bukankah seharusnya ia bangga bisa menikah dengan ustadz yang selama ini menjadi idaman banyak orang pikir Rafan.
Tapi ia tak mau membuat Ara tak nyaman dengan terbongkar nya status pernikahan mereka.
"Terserah dengan mu lah,"Rafan fokus kembali ke jalan. "Tapi, ingat jaga batasan mu dengan yang bukan mahram mu, kamu sekarang istriku." tambah Rafan.
"Iya Pak Rafan, saya juga tau batasan saya."
Sesuai keinginan Ara. Mobil Rafan berhenti di ojek pangkalan biasa tempat santri mengojek. Karena biasanya Ara naik ojek setelah bus yang dikendarai berhenti di pangkalan ojek, dulu saat belum menikah.
"Kita sudah sampai kenapa belum keluar?" Melihat Ara yang masih belum keluar mobil.
"Ihh, bapak gimana sih kok gak paham." jawab Ara kesal.
"Haa, apa ? memang nya pahami apa?" tanya Rafan bingung.
Ara menengadah kan tangannya didepan Rafan. "Nafkah istri mana ?, aku gak bawa uang , gak dikasih ayah kemaren." memasang wajah imut campur kesal dengan laki-laki didepannya ini.
Rafan cengo.
Dasar giliran uang aja minta nafkahin aku, giliran minta nafkahin suami harus latihan dulu, mana masang muka imut gitu terus.
Rafan mengambil dompet disaku jaketnya, menyerahkan 5 lembar uang ratusan ribu.
"Ini cukup." menyerahkan uang ke Ara.
"Wahhh, ini mah cukup banget," mengambil cepat uang di tangan Rafan.
"Udah keluar sana, itu banyak tukang ojek. Nanti saya ikutin dari belakang."
"Siapp bosss ! Assalamualaikum Pak Rafan" berlagak memberi hormat, kemudian tersenyum.
"Waalaikumsalam."
Ara pun keluar dan langsung memilih ojek untuk mengantarkan nya ke pesantren. Mobil Rafan mengikuti dari belakang menjaga dari kejauhan.
******
Kegiatan Rafan dan Ara berjalan seperti semestinya, Ara sedang melaksanakan kegiatan KKN disekitar pesantren. Kadang kala Rafan dan Ara bertemu, tapi mereka seperti tidak ada apa-apa.
Kadang Rafan menanyakan kabar Ara lewat chat. Mereka sudah saling bertukar nomor telepon sejak mereka dirumah Ara.
Tak terasa Ara sudah menyelesaikan kegiatan KKN nya. Dia sudah kembali lagi ke pesantren.
Malam itu kebetulan kelas Diniyah Ara si pesantren Rafan yang mengajar. Dia mengajar kitab Fiqih dikelas Ara.
Bisa dipastikan jika gurunya Ustadz Ghifari, itulah panggilan santri untuk Rafan. Para siswa tidak akan tidur, bagaimana bisa mereka melewatkan rezeki didepan mata.
__ADS_1
"Baiklah saya kira malam ini kita cukupkan dulu sampai disini ngaji kita ya, jangan lupa untuk diulas kembali materi malam ini."Ucap Rafan.
"Baik Pak ustadz," jawab mereka bersamaan.
Walaupun kadang ada yang melebihkan jawaban seperti.
"Baik pak ustadz ganteng."
,"Siap calon suamiku."
" Siap calon imam ku."
Dengan suara kecil tentunya.
"Baik saya akhiri, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Mereka membereskan perlengkapan ngaji bersiap untuk pulang ke asrama, begitupun dengan Ara.
Rafan belum juga beranjak dari kursinya. Para santri biasanya akan keluar setelah Ustadz dan ustadzah mereka sudah keluar.
"Kalian silahkan keluar dulu, Zelena Araya ikut saya menghadap Abah."
Uacapan Rafan tentu membuat semua orang dikelas kaget dan bertanya-tanya, sambil menatap Ara. Tapi mereka tidak mau bertanya sekarang, mereka sudah berencana akan menanyakan perihal itu nanti di asrama, pikir mereka.
"Ra ada apa kamu sampe di panggil ngadep Abah?" tanya Ulfa menyenggol lengan sahabatnya itu penasaran.
" Mana ku tau." jawab Ara dengan santainya. Tapi percayalah dia sudah takut-takut gemetar, tangannya berkeringat dingin.
Ada apa ini ya Abah manggil ?, jangan-jangan Abah udah tau lagi kalau aku udah nikah sama Pak Rafan.
"Nanti cerita loh awas enggak,?" lanjut Ulfa.
"Iyaaa."
Semua santri sudah keluar kelas Rafan menyusul keluar terlebih dahulu sambil mengajak Ara.
"Ayo Ra."
"Saya kenapa dipanggil Abah Pak." tanya Ara sambil berjalan mendekat ke Rafan. Karena keadaan sudah agak sepi di jalan menuju ndalem (rumah Abah/Kyai).
"Nanti kamu tahu. Ayo cepat nanti keburu malam, Nanti timbul fitnah ." Rafan melangkah lebih cepat.
Timbul fitnah juga gakpapa kitakan sudah nikah. sahut Aran dalam hati.
Ara mengikuti langkah Rafan dengan cepat.
"Assalamualaikum," Rafan mengucap salam.
"Waalaikumsalam, "Sahut Abah. "Oh Nak Ghifari sudah sampai, ayo masuk, mbaknya juga ayo masuk." mempersilahkan Rafan dan Ara masuk.
"Nggeh bah." jawab mereka bersamaan.
Mereka masuk langsung menuju ruang tamu.
"Kalian sudah tau bukan perihal apa Abah panggil." tanya Abah.
"Sampun (sudah )." jawab Rafan.
"Dereng (belum)." jawab Ara.
Abah tersenyum melihat perbedaan jawaban suami istri didepannya ini.
"Lah gimana to, wong sudah suami istri kok malah beda jawabannya." Abah sedikit terkekeh kecil.
Ara kaget sebenarnya tapi ia menyembunyikan ekspresi kagetnya.
Pasti Pak Rafan sudah kasih tau ke Abah ini.
"Ndak usah tegang nduk, ndak papa ndak usah takut. Ustadz Rafan sudah kasih tau ke Abah. Abah maklumlah namanya jodoh kita gak ada yang tau." jelas Abah Ali.
__ADS_1
Ara dan Rafan tersenyum.
"Yang penting kalian bisa jaga batasan walaupun sudah menikah inikan di pesantren." lanjut nya. "Oh iya sebenernya kalian dipanggil kesini itu ada urusan lain yang mau Abah bicarakan. Ini silahkan diminum dulu tehnya." Abah Ali memang dikenal sangat baik dan ramah terhadap santrinya.
"Inikan Abah mau ada rencana untuk nambah bangunan di asrama putri, karena santri tahun ini semakin banyak. Nah Abah mau minta tolong nduk Ara untuk bantu Abah buat proposal bantuan dana untuk membiayai pembangunan kita. Ustadz Ghifari sudah cerita juga kalau kamu bisa buat proposal begitu. Jadi Abah minta bantuan kamu.
Biasanya kan Ahlun yang buat, tapi dia ada urusan penting di Kairo, jadi belum bisa pulang." jelas Abah.
Jujur Ara sedikit kaget, tapi ia tau Rafan sudah tau tentang dirinya yang punya beberapa penghargaan di rumah Ara dulu.
"Bisa nduk bantu Abah ?"
pertanyaan Abah menyadarkan lamunan Ara.
"Nggeh saget bah."
"Alhamdulillah kalau bisa, nanti ustadz Ghifari yang bantuin kamu. Kalian kan sudah menikah, jadi Abah gak perlu was-was kalau kalian bareng. Kalau ada apa-apa kan gak papa malah bagus, ya kan pak ustadz?" tanya Abah ke Rafan sembari terkekeh.
Rafan dan Ara hanya diam sambil tersenyum malu.
Setelah selesai urusan dengan Abah. Rafan kembali ke tempat istirahat ustadz dan Ara kembali ke asramanya.
"Istirahat Ra, gak usah main HP terus."
"Ihh, bapak sotoi deh, Sok tahuu," Ara menekan kata sok tahu. "Siapa juga yang main HP terus." lanjut nya.
"Wa kamu masih suka keliatan online ya, tengah malem."
"Ciee bapak stalking aku ya. cieeee." goda Ara.
Wajah Rafan memerah ketauan memperhatikan Ara dari dunia online.
"E, enggak. siapa uang stalking kamu." jawabnya gugup.
"Ehh bilang nggak kok gugup gitu." Ara senang menggoda Rafan Sampai wajah Rafan memerah.
"Udah sana pulang, tidur jangan lupa sikat gigi." mengibaskan tangannya mengusir Ara. Nisa parah kalo Ara diladeni pikirnya.
"Kannn, cieee malah nambah perhatian. Ciee cieee." Ara semakin menggoda.
"Udah Raaa, sana tidurrr." usir Rafan lagi.
"Iyaa, aku pulangg. Jangan kangen ya suami aku." Ara tersenyum menggoda dan mengejek.
Rafan diam dan menatap Ara.
Manisnya, astaghfirullah itu bibir minta disosor.
Rafan mengusap wajah nya pelan, tidak tahan melihat tingkah Ara yang menurutnya meluluhkan nya.
"Istri tercinta pulang ya suamiku,"
tersenyum sambil berjalan menjauh meninggalkan Rafan yang masih kaget itu.
Rafan menarik sudut bibirnya.
Entah kenapa dia suka mengawasi Ara dari kejauhan meskipun Dia tau Ara bisa menjaga martabatnya sebagai seorang istri.
Rafan diam-diam merindukan Ara, ingin memeluk Ara seperti di danau waktu itu. tak mau berpisah barang sedetik saja. Dia ingin selalu melihat Ara.
Ara sudah berlalu dari pandangannya, mereka berlawanan arah. Rafan melangkahkan kakinya untuk istirahat.
Ara terus melangkah sambil merutuki kebodohannya.
Bisa-bisanya aku ngomong gitu sama Pak Rafan. Dasar bodoh.
Memukul pelan kepalanya sendiri. Kemudian dia lekas tersenyum mengingat wajah Rafan yang memerah tadi.
Emang damagenya beda ya Pak ustadz ganteng kalo senyum, hehehe.
Malam itu tampak berbeda, ada kebahagiaan tersendiri yang datang tanpa di duga sebelumnya.
__ADS_1
Jangan lupa mampir like ya guysss🤭🤭
Ketik komen, klik favorit juga boleh🤗