Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
POCS (Part 2)


__ADS_3

Pagi hari menyapa dengan indah, senyuman mentari menyeruak masuk ke dalam kamar Rafan. Suasana pagi yang indah. Tapi tidak dengan Ara, pagi itu rasanya ingin menenggelamkan suaminya yang jahil itu ke dalam inti bumi. Senyuman jahil Rafan malah menambah kekesalan Ara.


Bagaimana tidak Ara kesal, Rafan terus-terusan menggoda dan menjahilinya. Pagi itu sudah tiga kali Ara harus mandi karena perbuatan Rafan. Padahal Ara sudah berencana untuk membantu memasak Bi Inah.


"Sayang jangan cemberut gitu, nanti jelek loh." goda Rafan.


Ara merengut mencebik kan bibirnya kesal, "Bodo amat." jawabnya.


"Hahaha," Rafan tergelak melihat ekspresi Ara yang menggemaskan, ingin mencium tapi takut Ara tambah kesal. Karena kesal Ara sengaja mencekik Rafan dengan dasi yang sedang di pasangkan Ara, Alhasil Rafan tercekat. "Uhuk, uhuk, Ya ampun sayang, tega sama mas ya."


" Bodo amat."


Rafan menarik pinggang Ara memeluknya, sampai tubuh mereka saling menempel. "Mau naik ranjang lagi ?" bisik Rafan tepat di telinga Ara.


Wajah Ara memanas, "Aa ! Mas mesum." Ara memberontak sambil memukul dada Rafan. Rafan tergelak dan melepaskan pelukannya.


"Udah sarapan yuk. Tenang, mas gak bakal naik ranjang lagi. Nanti, kamu malah kelelahan, terus pingsan kayak tadi malem."


Ara menatap Rafan merasa bersalah. "Maaf ya mas, pasti semalem aku ngerepotin pingsannya."


"Iya ngerepotin kamu pingsannya, mana berat lagi kamunya."


"Ih kan, mas gitu. Salah mas sendiri dong, masa sehari mau lima kali mainnya. Kan aku capek." sungut Ara tak terima di bilang berat.


Rafan tergelak lagi. "Haha, tapi kamu sukakan ?"


Wajah Ara memerah lagi.


Dasar mesum.


"Udah gak usah di bahas, kita sarapan. Pasti mereka udah nunggu di bawah." ucap Ara mengalihkan pembicaraan Rafan.


"Gak mau sarapan di kamar ?" bisik Rafan dengan nada sensual.


"A ! udah ya mas. Gak lagi pokoknya !" Ara menyambar jilbab di dekatnya, lalu berlari meninggalkan Rafan.


Rafan terkekeh melihat tingkah Ara yang malu-malu, lalu mengejar Ara yang sudah lari duluan.


*******


Benar saja, anggota keluarga lainnya sudah di meja makan.


"Kenapa lama sekali ?" tanya Laras.


"Maaf ma, tadi kelamaan ngobrol kami." jawab Ara.


"Ngobrol apa ngobrol ?" goda Laras.


"Udah ya ma. Gak boleh ikutan masalah anak muda." sela Rafan.


"Kalian mau sarapan, apa mau ngobrol !" seru Herman.


Semuanya lantas terdiam dan memulai sarapan.


"Kamu tidak mau menjelaskan sesuatu pada kami Fan ?" tanya Herman tiba-tiba.


Semua menatap Rafan penasaran.


"Menjelaskan apa pa ?" tanya Fadil.


"Tentang Ara semalam." sahut Herman.


Tentang aku.

__ADS_1


Apa kakek sudah tahu. Pasti dokter Adi sudah menceritakan tentang Ara. Ah mau bagaimana lagi, kakek Memang berkuasa.


Rafan menghela nafas panjang. Dia tahu kekuasaan kakeknya. Walaupun ia meminta dokter Adi untuk tidak bercerita pada orang tuanya, apalah daya mengahadapi sang kakek.


Mas Rafan kenapa ya. Dia menyembunyikan sesuatu dari aku.


"Kakek dengar, Ara menderita POCS."


Ara tertegun. POCS, apa itu ?


"Itu belum benar kek, nanti kami akan periksa ke dokter." sahut Rafan.


"Periksa apa mas ? kamu kok gak cerita sama aku." tanya Ara.


"Ara juga belum kamu kasih tau ternyata." ucap Herman. "Biar kakek yang menjelaskan."


"Cukup kek ! biar nanti Rafan yang menjelaskan." seru Rafan.


Semua orang di meja makan, benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi.


"Kenapa nanti, sekarang saja. Kita kan lagi kumpul."


Rafan mengepalkan tangannya di paha, menahan amarahnya. Rafan kesal dengan Herman yang seolah memancing dirinya.


"Oke kakek saja yang menjelaskan, kalau Rafan tidak siap. Jadi menurut pemeriksaan dokter Adi tadi malam, Ara di diagnosa memiliki penyakit POCS. POCS itu sindrom Polikistik ovarium, yang dimana jika seorang wanita mengidap penyakit tersebut. Maka, kemungkinan dia akan mengalami kemandulan atau tidak bisa punya anak."


Tring


Sendok makan yang di pegang Ara refleks terlepas dari tangannya. Tubuhnya seketika menegang, kepalanya pusing, dadanya terasa sesak dan wajahnya seketika memucat. Bukan hanya Ara, Fadil dan Laras juga tampak syok mendengar penuturan Herman.


"Sayang kamu gakpapa ?" tanya Rafan khawatir melihat wajah Ara sudah pucat.


"Pantas saja kalian belum di karuniai momongan. Istrimu ternyata mandul. heh menyedihkan." ucap Herman mengejek.


"Kalian periksa juga percuma, pasti benar yang dikatakan Adi. Dia dokter terbaik untuk keluarga ini. Kalau mandul ya tetep mandul." balas Herman.


"Cukup kakek !" bentak Rafan.


Buliran bening Ara sudah tak mampu terbendung lagi. Tangannya meremas erat bajunya. Fadil dan Laras masih diam, bingung harus bagaimana.


Laras akhirnya mendekati Ara memeluk dan menenangkannya.


"Jangan nangis sayang."


"Periksalah sekarang saja. Biar kita tahu Dia benar mandul atau tidak." Pernyataan Herman benar-benar membuat Rafan naik pitam.


Braak


Rafan menggebrak meja makan. "Cukup kek, jangan terus-terusan menyudutkan Ara !" sentak Rafan.


"Kamu berani bentak kakek sekarang ya. Cuma mau karena bela dia, wanita mandul." sarkas Herman menunjuk Ara.


"Cukup pa ! jangan kelewatan !" sahut Fadil, mulai muak dengan Herman.


"Ini juga semua salah kamu !" seru Herman beralih menunjuk ke Fadil. "Kalau kamu gak pake janji-janji mau menjodohkan Rafan dengan anak sahabat kamu, gak mungkin ini bakal terjadi. Sudah papa bilang Budi itu hanya parasit di hidup kamu ! sekarang malah nambah anaknya jadi parasit. Heh memalukan."


Ara geram sendiri mendengar Herman menghina ayahnya. "Cukup kek ! kakek boleh hina saya tidak dengan ayah saya." serunya.


"Wah lihatlah, sudah berani membentak kakek hah ! mana sopan santun mu, katanya lulusan pesantren. Mana buktinya hah !" balas Herman tak mau kalah.


"Cukup kek ! Jangan lagi menghina istriku !"


Dengan cepat Rafan menarik Ara membawanya pergi keluar dari rumah.

__ADS_1


"Mau kemana kalian hah ! kakek belum selesai bicara !" teriak Herman. Rafan tak bergeming masih menarik tangan Ara yang masih menangis. Rafan tak mau sampai menyakiti Herman, jika Herman terus-terusan menyudutkan Ara.


"Rafan !!"


Teriakan Herman tak lagi terdengar setelah Rafan menaiki mobilnya, dan melaju kencang meninggalkan rumah.


"Pa sudah pa, biarkan Rafan pergi dulu." ucap Fadil.


"Alah ini semua juga gara-gara kalian. Cucuku harus menikah dengan wanita mandul." jawab Herman kesal sambil beranjak pergi.


Fadil dan Laras hanya menghela nafas berat, melihat Herman meninggalkan meja makan.


*****


Mobil yang di kemudikan Rafan masih melaju kencang. Di jalanan agak sepi, Rafan menghentikan mobilnya. Menatap istrinya yang masih diam, tapi air matanya terus mengalir.


"Sayang." panggil Rafan. Ara masih tak bergeming, tangannya masih meremas baju yang dikenakan.


"Sayang," Rafan mendekat menyentuh bahu Ara. Namun langsung di tepis Ara. Rafan kaget dengan respon Ara.


"Kenapa mas gak bilang sama aku hah !" tanya Ara disela tangisnya.


"Maafin mas sayang. Sebenarnya mas mau bilang sama kamu. Tapi gak sekarang. Mas mau nunggu waktu yang tepat untuk bilang ke kamu."


"Waktu yang tepat kalau aku sudah di hina sama kakek gitu !" sarkas Ara.


"Bukan gitu maksudnya sayang."


"Udahlah aku mau pulang." tukas Ara.


"Kamu mau pulang, nanti ketemu kakek lagi."


"Aku mau pulang ke rumah ayah sama ibu !"


Rafan tercengang, "Jangan sayang, kita pulang ke rumah mas aja ya. Nanti mas yang jagain kamu dari kakek." pinta Rafan.


"Gak mau, pokoknya mau pulang ke rumah Ara !" tangis Ara makin pecah.


Rafan kebingungan sendiri. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Laras.


Mama kenapa ya.


*Rafan : Assalamualaikum ma,


Laras : Waalaikumsalam Fan, kamu sekarang di mana nak ?


Rafan : Rafan masih dijalan ma. Kenapa ma.


Laras : Kakek kamu Fan.


Rafan : Kakek kenapa ma* ?


Hai para readerku, up lagi nih.


๐Ÿ˜ Gimana emosi gak nih sama Herman. Yang emosi silahkan angkat jempolnya ๐Ÿคญ.


Jangan lupa untuk selalu like, komen dan dukungannya untuk author.


Love you all๐Ÿค—๐Ÿ’™


...Herman pov :...


...Gini amat jadi Kakek-kakek ๐Ÿ˜Œ๐Ÿคญ...

__ADS_1


__ADS_2