
Hujan gerimis mengguyur bumi, alam seakan turut bersedih atas apa yang menimpa Ara. Sosok cantik dengan mata sembab menghiasinya, yang terus melihat keluar jendela.
Mau kemana aku ? Pulang ke rumah ayah, itu tidak mungkin. Lebih baik aku pergi ke pesantren saja.
"Pak tolong antar saya ke jalan ini ya." Ara menyerahkan kertas berisikan alamat pesantren.
"Baik non."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menerobos gemericik hujan yang mulai turun dengan derasnya.
Untuk mengusir perasaan sedihnya, Ara membuka aplikasi chat nya.
50 Pesan belum terbaca.
My Sister
Ara membuka pesan dari Sarah. Senyum sumringah terbit dari bibirnya.
Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi untuk pergi ke rumah Kak Sarah.
Tanpa pikir panjang Ara meminta sopir untuk memutar balik arah dan menuju ke stasiun kereta, dan segera menuju Semarang.
****
"Kamu si mendadak datangnya."
"Kan aku sudah chat Kakak tadi, lagian kenapa gak di balas ?" tanya Ara sembari mengunyah makanan yang di sajikan Sarah. Pasalnya sejak dari Bandung, perut Ara tak di isi apapun hanya air tawar yang keluar masuk didalam tubuhnya.
"Kakak lagi kerja tadi, handphone di mainin sama Fariz tadi."
"Oh gitu, Btw Kak Danu kemana Kak ? Masih kerja ?"
Sarah terdiam sejenak lalu menjawab "Iya lagi ada kerjaan diluar kota. Baru kemarin perginya, katanya sih mau seminggu."
"Oh gitu." Ara kembali mengunyah makanannya.
"Kamu sendiri tumben main kesini, suaminya gak diajak ? atau lagi marahan ?"
"Lagi marahan." ketus Ara.
"cih baru aja satu tahun rumah tangga, udah ribut aja. Mana perginya pake bawa baju se koper. Marahan apa di usir kamu ?"
Ara tampak kesal dengan perkataan Sarah, "Udah Kak gak usah di bahas. Males dengernya."Ketusnya
Sarah pun diam dan melanjutkan makan. Dia tahu gelagat aneh Ara yang seperti menyembunyikan sesuatu.
Tak terasa sudah satu Minggu Ara tinggal di rumah Sarah. Kegiatan sehari-harinya hanya menjaga Fariz saat Sarah bekerja. Saat Sarah pulang, Ara akan masuk ke kamar, duduk dan diam menopang dagu pada kakinya. Kadang Sarah merasa heran dengan sikap adiknya, saat di tanya, selalu menjawab tidak apa-apa.
Ara bisa berbohong tapi guratan kesedihan di wajahnya terlihat jelas oleh Sarah. Suatu malam Sarah memergoki Ara tengah menangis di dekat jendela, ingin rasanya Sarah menenangkan Ara. Tapi, dia tahu tabiat Ara yang sangat tidak suka jika sedang menangis di ganggu.
"Ara ! sudah siap belum ?" seru Sarah.
__ADS_1
"Belum Kak, lagi milih baju."
"Astaghfirullah, dari tadi belum nemu ?" Sarah melongok ke kamar Ara dan benar saja, Ara masih sibuk memilih baju yang akan dipakainya. Rencananya mereka akan pergi berbelanja ke Mall, kebetulan Sarah sudah gajian dan bahan-bahan dapur sudah hampir habis.
"Kak pinjam baju kamu ya ?" Ara akhirnya menyerah, baju miliknya terasa tidak ada yang cocok untuk di pakai.
"Ya udah sana cepetan."
Ara berlari cepat menuju kamar Sarah yang letaknya agak jauh dengan kamar yang di tempati Ara.
"Aduh, pilih yang mana ya. Mana bagus-bagus semua baju Kakak."
Ara sibuk memilih baju dan akhirnya menjatuhkan pilihan pada gamis berwarna merah maroon kesukaannya. Saat mengambil baju, Ara ikut menjatuhkan sesuatu. Sebuah amplop putih, lalu Ara memungutnya.
"Apa ini ?"
Ara mem bolak-balikkan amplop itu, karena penasaran Ara membuka dan membaca isinya.
Setelah tahu isi surat itu refleks Ara menjatuhkannya.
*Akta Cerai
Jadi Kak Sarah sudah bercerai. Kenapa dia berbohong padaku ? Kenapa dia menyembunyikan semua ini* ?
Ara mengambil lagi akta cerai milik Sarah. Meletakkannya kembali ke lemari.
Tiga bulan surat itu diterima kak Sarah. Berarti ini sudah lama. Apa ayah dan ibu tahu ya ? Atau Memang Kakak sengaja menyembunyikan semua ini.
"Sudah dapat bajunya ?"
"Cepetan dandan, nanti keburu siang ini."
"Iyaa"
Tak lama mereka sampai di pusat perbelanjaan, Sarah tampak sibuk mencocokkan pakaian untuk Fariz yang sudah rewel. Usia Fariz baru menginjak empat tahun. Ara menatap Sarah yang membujuk Fariz agar diam dan tidak rewel, bibir Ara menyunggingkan senyuman. Bahagia sekali sepertinya jika mempunyai anak, memilihkan baju, menyuapi makan, memandikan dan mengajak bercanda.
Tak terasa air mata Ara menetes haru. Lagi-lagi Ara teringat akan Rafan, merindukan sosok yang dicintainya. Bagaimana kabarnya, sehat atau tidak, makan atau belum. Hal-hal seperti itulah yang kini masih berputar dengan setianya di pikiran Ara. Andaikan saja dia bisa memberikan keturunan pada Rafan, mungkin kini dirinya dan Rafan tengah berbahagia bersama.
"Bunda jangan lama-lama ih." protes anak kecil berpipi chubby pada bundanya.
"Sabar sayang, dikit lagi ya." bujuk Sarah.
"Liat tu, Tante Ala jadi nangis nungguin." Fariz menunjuk Ara yang terpaku.
Sarah melirik Ara, "Kamu nangis dek ?"
Ara cepat-cepat menghapus air matanya, "Enggak, udah cepetan dong. Lapar nih."
"Bentar, dikit lagi nih."
Selesai berbelanja sekaligus makan mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
*****
"Belum tidur dek ?" tanya Sarah melihat Ara yang masih menonton televisi.
"Belum ngantuk, Kakak juga ngapain belum tidur. Fariz udah tidurkan."
"Fariz udah tidur. Kakak belum ngantuk."
Sarah duduk bersama Ara menonton sambil ngemil jajan dari belanja siang tadi. Ara melirik Sarah, berusaha mencari guratan kesedihan di wajahnya, tapi Ara tak menemukan adanya kesedihan.
Mungkin Kakak udah move on kali ya.
"Kak Ara boleh nanya sesuatu gak ?"
"Tanya apa ?" sahut Sarah tanpa melihat Ara.
"Kak Danu masih ada kerjaan ya ?"
Pertanyaan Ara sontak menghentikan Sarah yang sedang mengunyah makanannya, lalu menoleh pada Ara.
"Kenapa tanya gitu ?" nada bicara Sarah sudah beda.
"Tanya aja sih. Kakak gak nyembunyiin sesuatu kan dari aku ?" Ara bermaksud memancing kakaknya untuk jujur.
"Maksud kamu apa ?"
"Maaf Kak, tadi siang waktu aku ambil baju di lemari Kakak. Aku nemu akta cerai Kakak dengan kak Danu. Kalian benar-benar cerai ya ?"
Sarah terlihat kaget dan menatap Ara. "Iya Kakak udah pisah sama Mas Danu." ucapnya.
"Apa ! jadi beneran kakak udah cerai ?" seru Ara. Sarah mengangguk mantap.
"Kenapa bisa cerai kak ?" tanya Ara penasaran.
"Mas Danu selingkuh, dan sudah punya anak dengan selingkuhannya." ucap Sarah gamblang tanpa rasa sedih sedikit pun.
"Astaghfirullah, Kak Danu selingkuh." Ara membekap mulutnya tak percaya. Kakak ipar yang selama ini dikenalnya pendiam, ramah, baik hati dan masuklah dalam daftar laki-laki setia kelihatannya itu ternyata bisa berselingkuh.
Malam sudah larut, tapi kedua saudara itu masih anteng mengobrol. Televisi yang seharusnya mereka tonton, malah telivisi nya yang menonton Sarah dan Ara mengobrol. Malam itu Ara jadi mengetahui alasan Sarah bercerai dengan Danu dan tidak merasa sedih meskipun sudah bercerai.
Alasannya yaitu, tidak ada gunanya mempertahankan penghianat dalam kehidupannya. Sebesar apapun rasa cinta tapi, jika sudah di bumbui penghianatan tak akan indah lagi rasanya.
Pernyataan Sarah mengenai Bajingan itulah panggilan yang di sematkan Sarah untuk mantan suaminya, masih terngiang-ngiang di kepala Ara. Ingatannya lagi-lagi kembali pada Rafan. Akankah Rafan akan membencinya sebagaimana Sarah membenci mantan Kakak iparnya. Tapi, penghianatan ini bukan kehendak Ara, Ia pun merasa sebagai korban. Tapi, Rafan tak mau mendengarkan alasannya sedikit pun. Sakit memang, tapi nasi sudah menjadi bubur.
Ara menatap pesan di handphone miliknya, Pesan yang dikirim oleh nomor tak di kenal, tapi Ara tahu siapa pengirimnya. setelah melihat pesan berisikan akta cerai Ara dan Rafan. Cepat sekali bukan, Ara pun tak tahu bagaimana bisa mengurus berkas perceraian secepat itu. Atau karena Rafan berasal dari keluarga sangat terpandang, sehingga segala sesuatu urusannya di utamakan.
Ah entahlah Ara tak mau ambil pusing dan segera mematikan handphone lalu tidur.
*****
Sosok laki-laki menggunakan piyama hitam, duduk termenung di balkon kamarnya. Menatap langit yang tak berbintang beberapa
__ADS_1
malam ini. Bayangan senyuman seseorang tergambar indah di kediaman langit malam.
Langit sudah mewakili hatiku. Dia kesepian beberapa malam ini tanpa bintang di sampingnya. Langit merindukan bintangnya yang pergi. Dan Bintangku di mana kau, Kembalilah Bintangku, Aku merindukanmu.