Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Malu (Part 1)


__ADS_3

"Menurut mu." Rafan menyeringai.


Aaaa, ibu !. Ara takut


Wajah Ara sudah seperti kepiting rebus. Ia ingin melarikan diri dari situasi itu. Tapi tak bisa, Rafan sudah di atasnya.


Aaa, kenapa liatin aku gitu sih. Muka aku ada apanya ya. aku belum cuci muka lagi.


Ihh jangan-jangan ada tai mataku.


Ih jorokk.


Dengan cepat Ara membersihkan matanya, takut ada kotoran disana.


Rafan yang masih melihat Ara dari atas tersenyum dengan Ara yang menggemaskan itu.


Astaghfirullah, kenapa menggemaskan sekali.


"Ih bapak jangan liatin gitu si." Ara mencoba mendorong dada Rafan, dia kalah kuat.


"Kenapa ? memangnya gak boleh ?"


Rafan makin mendekatkan tubuhnya dan hampir menempel pada Ara.


"Stop pakk!!, jangan deket-deket."


"KENAPA RA!" Rafan malah menempelkan tubuhnya.


"Ihh bapakk." Ara membulatkan matanya, merasakan tubuh Rafan menempel dengannya.


"Ssst, jangan banyak gerak, semakin kamu gerak, aku tempelin lagi nih." Rafan menyeringai.


"Aaa, bapak !! Turun ihh !" Ara malah memberontak, memukul pelan dada Rafan.


Rafan tak main-main dengan ucapannya. Dia malah menjatuhkan kepalanya ke dada Ara.


Ara merasa kaget, bola matanya seakan mau keluar dari tempatnya. Kepala Rafan


Hangat. pikir Rafan.


"Aaaa, bapak mesum ya !!" Ara berteriak sambil menarik kepala Rafan dengan kuatnya.


"Aaa, sakit Ra!" Rafan berusaha melepaskan tarikan Ara lalu reflek duduk. Ara kemudian melepaskan tarikannya.


Rafan mengusap kepalanya pelan. "sakit tau."


"Ya Bapak sih ! ngapain pake nempel-nempel segala."


"Baru nempel Ra, gak ngapa-ngapain !" Rafan masih mengusap kepalanya yang masih sakit.


Ara merasa bersalah melihat Rafan yang kesakitan. "Sakit ya Pak ?" mendekat ke Rafan lalu menyentuh kepala Rafan yang sakit. "Maaf."


Sudut bibir Rafan getar, ia sedang senang.


"Iya sakit banget, kamu nariknya kuat banget."


Sebenarnya sakitnya agak mereda. Tapi, Rafan rela pura-pura kesakitan jika mendapat perhatian dari Ara.


"Ini sakit ?" menyentuh kepala Rafan.


"A, iya sakit itu. Kayaknya kulit kepala aku rasanya lepas ini. aduhh." memegang kepalanya pura-pura kesakitan.


"Astaghfirullah, maaf pak suer deh Ara gak sengaja tadi." Ara menyahut dengan panik, ia tak menyangka jika tarikannya bisa sampai separah itu.


"Saya liat ya pak." Ara memajukan tubuhnya dan berdiri dengan lututnya sebagai tumpuan. Dia meraih kepala Rafan dan melihat apakah kulit kepala Rafan benar-benar lepas atau tidak.


"A, pelan-pelan Ra."


"Iya maaf pak."


Rafan tersenyum,


"Gak lepas kok pak kulitnya." ucap Ara masih mengusap pelan kepala Rafan.


"Iya tapi masih sakit. Harus di obatin kayaknya."

__ADS_1


"Obatin apa pak ? nanti biar saya yang ngobatin." sudah kembali ke posisi duduk semula.


"Di usap-usap aja pelan. Dulu mama sering gitu kalau aku pernah ke pentok meja kepala ku."


"Ya udah sini saya usapin."


Rafan girang bukan main. Dia segera mendekat ke depan Ara.


"Ini sakit ini." Rafan menyodorkan kepalanya ke Ara. Mereka tengah berhadapan. Ara tak menyadari bahwa Rafan tengah tersenyum, sedangkan dia merasa sangat cemas.


"Disini."


"Iya."


Ara mengusap pelan kepala Rafan.


Ya, Rafan tersenyum lagi penuh kemenangan.


Maaf ya aku pura-pura sakit. Mau sakit terus gini aja biar di perhatikan, hehehe. Liat muka kamu nambah cantik kalau lagi khawatir. Gemesnya.


"Udah belum pak ?"


"Belum masih sakit, ini nih sakit nih." menuntun tangan Ara ke tempat lain.


"Tapikan saya cuma narik yang ini tadi. Kok ini ikutan sakit." tanya Ara.


" A, itu kamu tau gak satu kesatuan tubuh. Dimana satu anggota yang merasakan sakit pasti semuanya ikut merasakan sakit." jelas Rafan.


"Ooh , gitu." Ara menurut tanpa curiga.


Fuihh. untung percaya.


Ara sudah menghentikan usapannya, tangannya sudah pegal.


"Sudah ya pak, pegel nih tangan." menjulurkan tangannya yang pegal-pegal.


Rafan kasihan. "Ya udah mendingan gak sakit lagi." mengusap kepalanya untuk meyakinkan Ara.


"Tangan kamu pegel ?"


"Sini." Rafan meraih tangan Ara dan memijatnya.


"Gak usah pak." mau menarik tangannya tapi ditahan Rafan.


"Udah gakpapa."


Ara menatap wajah suaminya, ia kagum dengan Rafan yang perduli dengannya.


"Kenapa liatin gitu ?" pertanyaan Rafan membuyarkan lamunan Ara.


"Eh, enggak papa." Ara memalingkan wajahnya malu.


Rafan lagi-lagi tersenyum. Dia sangat senang jika Ara malu-malu.


"Ra."


Ara menoleh. "Iya." jawabnya.


Mereka saling diam, tatapan mereka bertemu. Entah apa yang ada dipikiran keduanya. Tangan Rafan sudah sampai di wajah Ara, mengusap pelan pipi lembut istrinya.


Pelan tapi pasti, mereka sudah berbagi nafas dalam ciuman. Ratan semakin menarik tengkuk Ara untuk memperdalam ciuman. Ara pun ikut terbuai, dia sendiri sudah menahankan tangannya di dada Rafan.


"Fan. A, aduh maaf mama ganggu ya. Mama keluar deh. Pintunya jangan lupa di kunci Fan."


Laras tampak malu memergoki anaknya tengah bermesraan dengan istrinya. Dia tadi hanya memastikan mereka sudah bangun, hari sudah sore pikirnya.


Dasar pengantin baru, lupa waktu dan tempat deh. Tapi kau juga dulu suka gitu ya, hehehe


Laras menggeleng pelan dan berlalu dari kamar Rafan.


Ara dan Rafan yang tampak malu dan syok karena kepergok, langsung melepaskan ciuman.


Mama ganggu aja deh .


"Kan gara-gara bapak nih. Kan ketauan mama."

__ADS_1


"Lah kok aku, kan kita yang ciuman."


"Iss, kan bapak yang duluan."


"Kamu juga pake di sambut."


"A ! au ah bapak gitukan. Malu aku." Nada bicara Ara sudah kesal.


"Udahlah gak usah dipikirin. Lagian mama juga pasti maklum kan kita pengantin baru."


"Ih, pengantin baru dari mana coba ?"


"Udahlah, mending kita mandi siap-siap solat ashar. Atau mau lanjutin lagi."


"Iss, dasar laki-laki mesum." Ara memukul pelan lengan Rafan.


"Hahaha, mesum sama istri sendiri kan halal."


"Udah pakk!!. Solat ashar dulu."


"Berarti kalo udah selesai solat, boleh deng lanjut mesumnya."


"Ihh, dasar."


Ara pergi meninggalkan Rafan menuju kamar mandi. Rafan terkekeh puas menggoda istrinya. Ia segera menyusul Ara.


"Bapak mau ngapain ?" tanya Ara, melihat Rafan sudah di sampingnya.


"Mau mandilah terus solat ashar."


"Gantian, aku duluan mandinya." Ara sudah membuka pintu kamar mandi.


"Mandi bareng aja biar cepet."


Rafan mengutarakan ide yang gila menurut Ara.


"Apaan si, pokoknya aku mandi dulu." Ara menyerobot masuk dan langsung mengunci pintu.


Rafan menggedor kuat dari luar.


"Sayanggg!, mandi bareng dong."


"Gak papa lah, oitakan udah sah. udah halal." teriak Rafan.


Dasar gila.


Ara tak menggubris teriakan Rafan. Dia segera mandi dan berwudhu dengan cepat. Selesai mandi Ara menepuk dahinya pelan.


Astaghfirullah, lupa bawa baju lagi.


Gara-gara Pak Rafan ini, kan jadi lupa.


Ara memandang kesal handuk ditangannya. Handuk kekecilan tak bisa menutup seluruh tubuhnya. Baju yang ia pakai tadi sudah basah.


Ridak mungkin kan dia keluar hanya menggunakan handuk seperti itu. Menunjukkan rambutnya saja belum pernah, apalagi hanya pakai handuk.


Aaaaa, ibuuu tolongin Araa!!


Hatcimmm...


Nisa bersin-bersin terus.


Sopo seng ngrasani aku.


(Siapa yang ngomongin aku).


Haii author up lagi nih.


Gimana seru gak🤭, kalau seru jangan lupa dukungan dan semangat buat author ya.


Gak tau author rasanya seneng banget kalau ada yang like dan komen. Apalagi daftar favorit. Jadi semangat gitu🤭.


Terimakasih untuk para readerku.💜


🤗🤗*.

__ADS_1


__ADS_2