Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Nyamuk


__ADS_3

"Cieeeee, cie orang spesial." Ulfa berbisik pelan.


"Iss diem napa Fa, berisik." Menutup telinga dua tangannya.


"cie gak mau diganggu. cie cie."


"berisik Ulfa tampol nih."


"Iya deh maaf , hehehe."


Acara penutupan lomba classmeeting telah selesai. Santri sudah kembali ke asramanya masing-masing.


*****


Waktu terus berlalu, hari ini tiba waktunya liburan bagi santri. Pulang ke rumah dan bertemu keluarga tercinta.


Sama halnya seperti Ara yang pulang ke rumah suaminya, di Bandung.


Rafan dan Ara sudah janjian untuk bertemu ditempat yang aman. Rafan menunggu di mobil, sedangkan Ara naik ojek seperti biasa agar tak membuat curiga orang-orang.


"Mau langsung pulang atau gimana ?" tanya Rafan saat Ara sudah berada di mobil.


"Mau makan dulu laper."


"Ya udah, mau makan apa ?"


"Makan nasi pakai ayam goreng kremes, terus sambal, emmm pasti sangat enak kan." Ara mengusap mulutnya membayangkan makanan itu sudah bersarang di mulutnya.


Rafan terkekeh kecil melihat tingkah Ara.


"Oke berangkat."


Rafan melajukan mobilnya cepat.


"Lapar banget ya ?"


"Hem." jawab Ara masih fokus dengan makanan didepannya.


"Pelan-pelan aja makannya, nih sampe belepotan." Rafan mengusap sambal yang belepotan di bibir Ara.


Ara terkejut sekaligus malu, kemudian menundukkan kepalanya.


"Ternyata bener ya, yang ayah kamu bilang."


Ara mengangkat kepalanya sambil memicingkan matanya. "Apa yang bener ?"


"Yang ayah bilang waktu itu, kalau kamu itu suka makan pake belepotan lagi." Rafan terkekeh geli melihat Ara tengah malu.


"Ya itukan, em mungkin bawaan dari lahir. Iya bawaan dari lahir." seru Ara menyangkal pernyataan Rafan yang kenyataannya memang benar.


"Oo, jadi bawaan dari lahir gitu." ucap Rafan dengan nada mengejek.


"Au ah, males. Mau makan aja aku." melanjutkan lagi makannya yang tertunda.


Rafan menghentikan ejekannya dan mulai ikut menikmati hidangan yang sama dengan Ara. Dia tak mau membuat mood Ara berubah, bisa berabe urusan pikirnya.


*******


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." terdengar jawaban dari dalam rumah.


Ara dan Rafan sudah sampai di rumah megah itu. Bukan rumah, tepatnya istana. Ini kedua kalinya Ara menginjakkan kaki di rumah layaknya istana megah itu.


"Ya ampun calon mantu udah dateng."


"Iya ma." Ara mencium tangan mertuanya.


Laras menyambut kedatangan Ara dan Rafan, lalu cipika-cipiki dengan mantunya itu. Ara sebenarnya belum terbiasa dengan hal seperti itu. Tapi, Rafan bilang, mamanya Memang suka begitu.


"Ehemm, anak sendiri gimana nih," Deheman Rafan menghentikan tingkah Laras yang antusias menyambut Ara. " Dianggurin ceritanya."


"Ya ampun, ada anak mama juga toh. "


Rafan berdecak kesal. " Astaghfirullah ma, segede ini gak keliatan."


"Nggak, tadi mama cuma liat mantu mama doang. hehehe."

__ADS_1


Ara tersenyum melihat tingkah anak dan ibu itu, menggemaskan batinnya.


"Udah yuk masuk, kalian pasti laperkan. Mama udah masakin makanan spesial buat kalian."


Ara terkejut dan nampak bersalah. Dia tak menyangka mertuanya akan menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan mereka.


"Nanti aja ya ma, Ara kayaknya capek." ujar Rafan yang tau jika Ara sudah kenyang.


"Jadi kalian gak laper nih?" sorot mata kesedihan terlihat Dimata Laras.


Ara merasa tak enak hati melihat raut mertuanya tampak sesih. " Kita makan aja yuk Pak, kebetulan banget nih laper."


Rafan memicingkan matanya.


Bukannya tadi sudah dua porsi dia makan. Ini sudah lapar lagi.


Ara menyenggol lengan Rafan, tau apa yang dipikirkan suaminya.


"Udah yuk kita makan. Ayo ma." Ara menggandeng tangan mertuanya menuju meja makan mendahului Rafan.


"Nih mama siapin makanan kesukaan Rafan, sama Ara."


Betul saja dimeja sudah lauk dan nasi kesukaan Rafan dan Ara.


"Mama ambilin ya." Laras sudah mau mengambil naai untuk Ara.


"Ah gak usah ma, Ara ambil sendiri aja. ngerepotin mama nanti."


"Ya udah deh. Rafan mama ambilin ya."


"Gak deh ma Rafan masih kenyang." ucap Rafan jujur, dia memang sudah sangat kenyang.


"Kamu udah makan ?" tanya Laras.


"Belum kok ma, " jawab Ara cepat.


"Tapi katanya masih kenyang Ra." sahut Laras.


" Pak Rafan pasti lapar ma, biar kami makan bareng aja ya." Ara mendekat ke arah Rafan.


"Ayo pak buka mulutnya, saya suapin, aaa."


"Duh kan, pengantin baru emang manis ya. Pake disuapin segala baru mau makan." sindir Laras.


"Mama jealous ya." ejek Rafan.


"Ih pede, mama juga dulu pernah ya gitu. Malah papa yang nyuapin mama."


Ara terkekeh kecil mendengarnya. Rafan melirik Ara yang tersenyum.


Duh manisnya.


******


"Duh perutku penuh rasanya. Padahal cuma makan sedikit aku." Ara tampak kesusahan bangun dari duduknya.


Mereka sudah di dalam kamar Rafan.


"Iya kamu makan sedikit, nyuapin akunya di banyakin." sahut Rafan dengan nada kesal.


"Hehehe, ya maaf Pak, sengaja." Ara terkekeh melihat Rafan juga tampak kekenyangan.


"Kenapa gak ditolak aja tadi ?"


"Ya gak enak lah Pak. emang bapak gak liat tadi mukanya mama sedih gitu waktu bapak nolak diajak makan."


Rafan tau itu, tapi ia juga tau jika Ara sudah kenyang.


"Tapikan kamu sudah makan banyak tadi."


"Ya gakpapalah pak, nyenengin hati mama. makan dikit.kok aku tadi."


"Iya kamu dikit, yang ngabisin aku."


Ara terkekeh, Memang benar ia tadi makan sedikit. Sisanya Rafan yang menghabiskan.


"Solat yuk pak, nanti keburu habis waktunya." Ara melihat jarum jam sudah diangka dua siang.

__ADS_1


"Ayok."


Mereka pun melaksanakan solat Dzuhur berjamaah, kemudian memutuskan untuk tidur siang karena cukup lelah diperjalanan pulang dari pesantren.


Ara sudah terlelap duluan di ranjang king size milik Rafan. Saking ngantuk dan lelahnya juga efek kekenyangan, Ara langsung tidur. Dia masih menggunakan jilbabnya, Ia belum berani untuk membuka jilbabnya di depan Rafan. Malu katanya.


Rafan ikut naik di ranjang, menikmati raut wajah Ara yang teduh. Dia menyentuh wajah Ara pelan takut mengganggu. Mata, pipi, hidung Ara tak luput dari sentuhan Rafan.


Tangannya berhenti di bibir mungil yang tampak menggoda.


Ayo cium aku.


Mumpung yang punya masih tidur.


Kira-kira seperti itulah godaan yang Rafan rasakan, bibir Ara berbicara sendiri 🤭.


Rafan tersenyum mendekati wajah Ara.


Cup.


Ciuman singkat dia berikan. Ara tak bergeming dia memang kelelahan.


Rafan tersenyum lagi dan ikut terlelap disamping Ara.


****


Ara menggeliat, membuka mata merasa ada sesuatu yang berat menimpa perutnya. Ada sesuatu yang hangat juga menyapu wajahnya.


Hah! aduhh kok dipeluk gini si.


Aaaa,.


wajah Ara memerah.


Rafan masih tidur ia sudah memeluk Ara. mereka berhadapan langsung.


Ara menatap wajah Rafan yang masih terlelap, terlihat damai raut wajahnya.


Ya Allah suamiku emang ganteng ya.


Ara memberanikan diri menyentuh wajah Rafan. tangannya berhenti bergerak di bibir Rafan.


Lihat bibir ini yang mengambil ciuman pertama ku.


Ara mengusapnya perlahan, kemudian beralih ke pipi Rafan dan menekankan jarinya disana.


*Hihihi lucu juga ya.


Tuk tuk*.


Ara mengetuk jarinya disana.


"Suka." ucap Rafan tiba-tiba mengagetkan Ara. Ia sudah bangun dari tadi dan membiarkan Ara bermain-main dengan wajahnya.


Ara menarik tangannya menjauh, tapi lebih cepat gerakan Rafan menahannya, agar tangan itu tetap di pipinya.


"Em anu pak itu ada nyamuk, iya nyamuk." ucap Ara gugup, wajahnya sudah merona malu.


"Nyamuk apa nyamuk ?" goda Rafan.


"Heee, bener cuma nyamuk tadi." Ara menganggukkan kepala meyakinkan Rafan. Matanya berbinar, ia tak tahu Rafan tak tahan dengan wajah Ara seperti itu.


Gemesnya.


Dengan cepat Rafan sudah di atas Ara. Nafasnya memburu melihat istri cantiknya itu.


"Ba, bapak mau ngapain ?" ucap Ara terbata.


"Menurutmu ?" Rafan menyeringai.


Aaaaa, ibuuu Ara takutttt.


Hai up lagi nih.


Yang minta crazy up, insyaallah ya.


Tapi jangan takut, author usahain up tiap hari.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like,komen and favorit biar gak ketinggalan up terbaru.


🤗🤗.


__ADS_2