Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Salah Paham


__ADS_3

Hari berganti, Ara sudah sembuh. Namun beberapa hari terakhir Ara belum bertemu dengan Rafan. Ia ingin mengucapkan terimakasih untuk obat yang dibelikan Rafan. Ara sudah mengucapkan terimakasih dari chat. Tapi, dia ingin mengucapkan secara langsung sekaligus bertanya kenapa Rafan marah waktu itu.


Dia kemana sih. Kok gak keliatan beberapa hari ini. Di chat juga gak dibales, sakitnya cuma di read lagi. Mau tanya siapa ya. Tanya sama santri putra nanti malah curiga.


Ara mendekap erat tubuhnya lagi, duduk sambil menatap langit malam.


*****


Dia mencari ku ternyata.


Rafan tersenyum membaca pesan yang dikirim Ara. Sengaja ia hanya membaca pesan yang masuk tanpa membalasnya. Dia ingin melihat seberapa besar usaha Ara untuknya.


"Gak dibales ?" tanya seorang laki-laki yang duduk di samping Rafan.


"Males." meletakkan Hpnya di meja, lalu mengambil minum yang disajikan pelayan Cafe.


"Udah berapa hari gak dibales ?"


Rafan masih diam, menyeruput secangkir kopi di tangannya.


" Hampir lima hari."


"Dia pasti khawatir dengan mu."


"Mungkin."


Rafan menyeruput lagi kopinya. Dia tengah di cafe bersama sahabatnya Robin.


Ya, ustadz Mukorrobin sudah mengetahui hubungan antara Rafan dan Ara.


Robin curiga dengan Rafan yang sikapnya berubah tiba-tiba marah-marah saat kesal dengan Ara. Robin mendesak Rafan untuk cerita. Rafan menolak, karena Robin terus mendesak akhirnya Rafan mau cerita.


"Bagaimana perasaan mu padanya ?" tanya Robin menatap serius sahabat yang sudah sangat dikenalnya itu.


Rafan menggeleng pelan. Ia pun bingung perasaannya pada Ara. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya jika tak melihat Ara. Hari-harinya selalu memikirkan Ara, buktinya hari ini, sudah berkali-kali ia memikirkan Ara.


"Kenapa kau tak memastikannya ?"


Rafan menaikkan alisnya " Bagaimana caranya ?"


"Hemm." sok berfikir. Rafan menunggu jawaban Robin.


"Apa alasan mu tertarik dengan Ara ?" lanjut Robin.


"Aku ?" menunjuk dirinya sendiri.


"Bukan! tapi Imam."


"Kok Imam ?"


"Astaghfirullah Rafan, ya jelas kamulah. Masa Imam, Memang siapa lagi yang tertarik sama Ara kalau bukan kamu. Kamukan suaminya."


"Oh gitu." menunduk . "Aku gak tau alasannya." menghembuskan nafas lemas.


"Mungkin saja itu bisa dikatakan cinta Fan."


Rafan masih diam, ia mengingat pernikahan mereka yang dilandasi keterpaksaan. Namun lagi-lagi beberapa waktu ini, Rafan mulai tertarik dengan kehidupan sang istri. Sifat Ara yang Ceria, selalu bisa menggodanya, dan membuatnya tersenyum. hari-hari Rafan kini terasa lebih berwarna.


Robin juga menyadari itu, sekarang sahabatnya banyak tersenyum kecil saat sendirian.


"Ah sudahlah, kita pulang saja. Kau selesaikan sendiri saja masalahmu. Kau tau kan, Aku belum berpengalaman dalam hal tersebut." ajak Robin, lalu beranjak dari kursinya dan meraih kunci mobil lalu ke kasir untuk membayar minumannya.


*****


"Araaa!!!, cepetan geh!"


"Sabar Fa!, lagi nyari buku nih."


Ulfa tengah menunggu Ara untuk mengembalikan buku ke perpustakaan kampus.


"Udah ayo." ajak Ara.


Mereka berangkat menuju perpustakaan kampus. Kebetulan ini hari terakhir mereka harus mengembalikan buku. Jatah waktu yang diberikan pihak perpustakaan hanya tiga hari.


Jika melewati batas, mereka akan dapat denda seribu rupiah per bukunya.


"Kampus sepi ya."


"Kan hari Jum'at ini Fa."


"Oh iya, lupa."


Setelah mengembalikan buku, Ara berencana untuk meminjam buku lagi. langkahnya terhenti, nafasnya memburu, dadanya bergemuruh.


Rafan, ya Rafan yang dilihat Ara. Bukan hanya Rafan, disana ada ustadzah Nisa dan ustadz Robin juga. Mereka tampak dekat, ustadzah Nisa duduk di depan Rafan. Dia sesekali mengajak bicara dua orang ustad didepannya.


"Ra,"Ulfa menepuk pundak Ara, melihat juga ke arah Rafan. " Jadi minjam buku gak nih ?". Ulfa berusaha untuk mengalihkan perhatian Ara, ia tau sahabatnya pasti sakit hati.

__ADS_1


Ara tak bergeming, matanya terus tertuju pada Rafan.


Jadi ini alasannya dia tak membalas pesanku.


Ada yang baru ternyata. Dasar laki-laki. Ara mengumpat dalam hati. Dia merasa sangat kesal, tangannya mengepal kuat menahan emosi.


"Ara ayok !"Ulfa menarik tangan Ara untuk pergi dari sana.


Robin merasa jengah dengan sikap Nisa, bisa-bisanya ustadzah itu tidak menganggap dia ada disana. Dari tadi hanya Rafan yang di ajak ngobrol, dirinya hanya sesekali diajak ngobrol.


Kalau bukan permintaan Rafan untuk menemaninya, ia takkan mau. Robin mengalihkan pandangannya dan tak sengaja bertatapan dengan Ara. Ia mengerjap, memastikan itu benar Ara.


Hadeh, bisa salah paham ini.


Robin berganti melirik Rafan, menyenggol lengan Rafan. Ustadzah Nisa masih sibuk membaca.


"Fan, lihat ke samping kiri mu. pelan-pelan saja." bisik Robin.


Rafan menoleh, dan terkejut.


Araa!


Rafan gelisah melihat Ara tengah menatapnya tajam. Ia ingin segera menghampiri Ara, tapi diurungkan niatnya melihat masih ada Nisa disana.


"Ayo Fa." Ara menarik tangan Ulfa dan pergi dari sana.


"Gak jadi minjam buku lagi ?"


"Gak usah, kita pulang aja."


Ara mempercepat langkahnya, diikuti Ulfa disampingnya.


"Yang sabar ya Ra."


Ara hanya diam masih melangkah cepat.


"Aku mau ke toilet dulu ya." Rafan beralasan pergi ke untuk menyusul Ara. Robin paham dan mengiyakan, begitu juga Nisa.


Ara mana ya


Rafan mencari Ara, ia tak menemukan Ara disana. Rafan mempercepat langkahnya ke kampus, karena itu satu-satunya jalan setelah keluar dari perpustakaan.


Itu dia.


Rafan melihat Ara berjalan dengan cepat meninggalkan area kampus bersama Ulfa.


"Ara tunggu !" panggil Rafan.


"Ra di panggil Pak Rafan."


"Biarin aja, aku mau pulang."


"Araa !" seru Rafan semakin dekat dengan Ara, langkahnya yang besar mampu dengan cepat mengejar Ara.


"Ra. Kasian Pak Rafan tuh, lari-lari ngejar kita." ucap Ulfa.


"Biarin. kalau kamu mau ngobrol sana, aku mau pulang."


"Ara tunggu dulu !" Rafan memanggil lagi.


"Ra berhenti." Ulfa mencekal tangan Ara untuk berhenti.


Rafan sudah sampai di dekat Ara. Ulfa yang paham situasinya bergegas pergi.


"Mau kemana ? tunggu aku." Ara menahan Ulfa agar tak pergi.


"Hehehe, itu aku mau ke perpustakaan lagi mau minjam buku lagi. Kamu disini aja, aku duluan ya." Ulfa melangkah pergi kembali ke perpustakaan lagi.


Rafan dan Ara sama-sama diam.


"Mau ngapain bapak ? "


"Ra, aku mau jelasin yang kamu lihat tadi gak seperti yang kamu pikirkan." meraih tangan Ara langsung di tepis Ara.


"Saya masih banyak urusan." melangkah pergi meninggalkan Rafan.


Dengan cepat Rafan meraih tangan Ara kemudian menarik Ara ke belakang kelas.


"Pak lepasin saya." berusaha melepaskan pegangan Rafan ditangannya.


Rafan terus melangkah ke belakang kelas.


"Pak, sakitt ! lepasin." Ara sepertinya memang kesakitan. Rafan terlalu erat memegang tangannya.


Rafan menyenderkan Ara di dinding, meraih tangan Ara yang dipegangnya tadi, ternyata benar memerah.


"Maaf aku gak bermaksud buat nyakitin kamu."

__ADS_1


Tangannya ditepis Ara. Mata Ara sudah berkaca-kaca, tak menyangka Rafan bisa sekasar.ini memperlakukannya.


"Maaf Ra." nada bicara sudah memelas.


"Bapak mau ngomong cepetan, saya masih banyak urusan. " berbicara dengan pandangan kearah lain tak mau menatap Rafan.


"Ra."


Rafan meraih wajah Ara untuk menatapnya.


Tangannya di tepis lagi oleh Ara.


"Kalau bosan bilang, jangan ngilang. Kalau udah ada yang baru, bilang. Jangan bikin khawatir" ucap Ara terbata-bata.


Rafan kaget. "Ra."


"Kalau gak niat bales gak usah dibaca sekalian. Jangan bikin orang Merasa bersalah. Dikiranya enak apa di diemin. Kalau ada yang lain bilang, kan aku bisa pergi." Ara sudah meneteskan air matanya.


"Ra." menghapus air mata Ara.


"Saya tau saya siapa, saya sadar itu. Tapi setidaknya bapak hargai saya. "air matanya mengalir deras. " Kalau gak suka bilang, jangan diem terus ngilang."


"Ssst."


Rafan menyentuh bibir Ara dengan telunjuknya. Ia tak sanggup melihat Ara menangis, wanita yang belakangan ini selalu mengganggu pikirannya, yang membuat merasakan rindu teramat sangat, tengah menangis dihadapannya.


"please Ra jangan ngomong gitu, dengerin aku dulu. tatap aku Ra."


Ara sesegukan kecil, maniknya beralih menatap Rafan, ia melihat kesedihan dimata Rafan.


"Maaf, aku gak bermaksud bikin kamu khawatir, aku gak bermaksud bikin kamu kesel. Tapi kamu perlu tau, aku gak ada wanita yang lain atau wanita baru apapun itu. karena aku sayang kamu Ra. cuma kamu yang aku mau, gak ada yang lain." menungkup wajah Ara dengan dua tangannya.


Ara menatap laki-laki didepannya, mencari kebenaran Dimata Rafan. Dia tak menemukan kebohongan disana.


"Please, percaya sama aku." Rafan menempelkan keningnya pada kening Ara.


Ara seketika menjauhkan keningnya dari Rafan. Tatapan mereka bertemu lagi. Rafan menatap Ara, dari mata hidung dan berpindah ke bibir mungil Ara.


Indahnya mahluk-Mu ya Allah.


Ara masih diam, lidahnya terasa kelu tak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya seolah percaya dengan pernyataan Rafan, bahwa hanya dia yang diinginkan Rafan.


Melihat Ara diam, Rafan memberanikan diri mengecup bibir Ara.


Ara kaget tapi tak menolak, wajahnya merona meskipun ini bukan yang pertama kali untuknya.


Merasa tidak ada penolakan, Rafan kembali melanjutkan aksinya. Mulai ******* pelan, mencoba untuk membuka mulut Ara.


Ara terbuai. Dia memejamkan mata menikmati sentuhan Rafan. Bibirnya terbuka mempersilahkan Rafan mengeksplor lebih dalam. Ia berani membalas ******* Rafan.


Rafan melepas pagutannya untuk mengambil nafas. Ara ngos -ngosan, nafasnya memburu di dadanya, rona di wajahnya semakin kentara.


Ragan tersenyum kecil, menempelkan keningnya pada kening Ara.


"Trust me, please."


Ara mendongak menatap Rafan, tersenyum lalu mengangguk. Kini mereka berbagi nafas kembali dalam ciuman lembut. Kedua tangan Ara sudah melingkar di pinggang Rafan, menjinjitkan kakinya. ia kalah tinggi dari Rafan.


Tubuh Rafan pun sudah menempel di tubuh Ara


tanpa jarak sedikit pun. Tangan Rafan menahan tengkuk Ara, seolah tak rela ciuman berakhir dengan cepat. satu tangannya membantu menopang pinggang Ara. Ciuman berlangsung lama, sesekali mereka melepas pagutannya untuk mengambil nafas dan melanjutkan kegiatannya lagi.


Di perpustakaan.


"Ustadz Ghifari lama banget ya ke toiletnya " ucap Nisa.


"Diare kali dia."jawab Robin.


Tungguin aja sampe matahari terbit dari barat. Gak bakal kesini lagi tu anak, hihihi. Lucu juga tadi liat wajah Ara marah gitu.


Robin membatin sambil tersenyum. Nisa memperhatikan Robin yang tersenyum sendiri.


"Kenapa senyum-senyum gitu ?"


"Oh, gakpapa ini bukunya lucu." menunjukkan buku si tangannya.


Nisa mengernyit heran.


Buku Kimia dibilang lucu !? Dasar orang pintar mah aneh.


Nisa menggeleng pelan.


Dasar kepo.


Haii author up lagi nih.


Maaf kemarin gak up, lagi ada kesibukan di dunia nyata 🤭.

__ADS_1


Eitss, tapi jangan lupa untuk tinggalin jejak ya, like, komen and favorit juga ditunggu 🤭.


🤗🤗


__ADS_2