
Ulfa dan Ara kembali ke kamar, sepanjang jalan menuju kamar, Ulfa menggoda Ara terus menerus.
"Cieee, yang abis disenyumin suami."
"Apaan sih gak lucu tau Fa. udah ya nanti didengar yang lain gawat."
"Upss, iya lupa." menutup mulutnya keceplosan.
****
Hari beranjak siang, setelah solat Dzuhur para santri putri mengadakan kegiatan baca Alquran bersama.
Ara sedang berhalangan, jadi dia tetap dikamar dan memainkan Hpnya berbalas pesan dengan Rafan.
Rafan : Gak ngaji ?
Ara : Hehehe, lagi ada tamu.
Rafan : Oh gitu, oh iya tadi itu temen kamu ?
Ara : Yang minta tolong buang sampah tadi ?
Rafan : Iya
Ara : Iya dia temen aku, Oh iya Pak aku kamren lupa kasih tau bapak temen aku tadi itu udah tau soal pernikahan kita. Gkpp kan ?. Aku juga udah bilangin dia biar gak cerita sama siapapun.
Rafan : Ya udah gkpp, yang penting dia bisa jaga rahasia.
Ara : Dia sahabat aku. pasti dia bisa jaga rahasia sahabatnya.
Rafan : Ya udah aku percaya sama kamu.
Kamu suka ngemil.
Ara : iya, aku suka ngemil. Emang kenapa ?
Rafan : gkpp, cuma jarang sering-sering. Apalagi cemilan ringan kayak itu gak baik buat kesehatan.
Ara : Cemilan yang mana ?
Rafan : itu tadi sampah bungkus cemilan yang aku buang. Itu punya kamu kan* ?
Pasti ulah si Ulfa ini. Dasarrr Ulfa !
*Ara : Bukan, itu sampah cemilan punya temen aku yang tadi.
Rafan : Dia bilang punya kamu.
Ara : Ihh bukan, itu anak emang agak-agak.
Rafan : Agak-agak gimana ? kamu jangan temenan sama dia deh kalo dia Agak-agak. nanti kamu ketularan lagi.
Ara : 🤣😂😂 Allahuakbar bapak, bukan agak-agak gimana. maksudnya dia memang gitu agak-agak jahil anaknya😂.
Rafan : Ohh, kirain*.
Ara tengah mengetik balasan pesan. Tiba-tiba Rafan melakukan panggilan telepon.
Aduh pake nelpon segala lagi, mau ngapain sih ? aku angkat gak ya, ah udahlah angkat aja. Kamar masih sepi juga.
"Halo assalamualaikum," ucap Ara
"Waalaikumsalam."
"Bapak kenapa nelpon ?"
"Gakpapa kangen aja sama kamu."
Apaa!! kangen!
Ara gugup jadi salah tingkah, padahal Rafan hanya bilang kangen dari jarak jauh. tapi dia sudah gugup seperti itu.
"Ehemm." Ara menetralkan rasa gugupnya. " Ka, kangen aku ?" memastikan telinganya tak salah dengar.
"Iya kangen kamu."
Aku bener dia kangen. wajahnya memerah.
"Oh gitu."
"Kok gitu jawabnya."
__ADS_1
"Ya emang harus jawab gimana." gugup Ara menjawab sambil meremas ujung bajunya.
"Kamu gak suka aku kangenin ?"
"E, em. gimana ya ? menurut bapak gimana ?" tanya balik
Rafan sebenarnya mulai geram disana. Dia merasa hanya dia yang selalu berusaha untuk menumbuhkan rasa pada Ara. Tapi, Ara tidak melakukan hal yang sama dengannya.
"Sudahlah kalau gak suka di telepon matiin aja." bicara dengan nada kesal.
Kok marah si. Apa aku kelewatan ya bicaranya.
Ara cemas.
"Maaf pak bukan gitu maksud saya. Tapi itu, eh anu itu." Gugup.
"Sudahlah matiin aja teleponnya."
Tut...
Panggilan telepon berhenti, dimatikan oleh Rafan.
"Yah kok malah marah sih, emang aku salah ngomong apa sih." Ara bingung dan cemas, tak biasanya Rafan marah seperti ini. Pertama kalinya Rafan marah dengannya.
"Aduhh ya ampun, perut aku sakit banget lagi. tadikan udah sembuh, kok kumat lagi si." Ara meremas perutnya yang sakit nyeri haid. Ini hari pertama dia haid, jadi seperti biasanya ia sakit perut, tapi gak sesakit itu.
*****
Ara masih berguling ke sana kemari sambil memegang perutnya yang keram. Ulfa sudah pulang dari ngajinya, dan mendapati Ara tengah kesakitan.
"Ya Allah Ara kamu kenapa ?" panik menghampiri Ara.
"Perutku sakit Fa."
"sakit, kok bisa ? sakit nyeri haid maksudnya ?"
Ara mengangguk lemas. Siti datang lalu menghampiri Ara.
"Ya Allah Ara kenapa." Siti ikutan panik.
"Dia nyeri haid mbak. tapi gak tau kenapa gini. Biasanya gak sesakit ini katanya." jawab Ulfa.
Ara menggeleng, biasanya dia sudah sedia obat pereda tapi sekarang obatnya sudah habis. Jadwal haidnya pun tak sesuai dengan jadwal bulan-bulan sebelumnya.
"Ya udah Fa kamu tolong beliin obat buat Ara ya!" pinta Siti.
"Iya mbak aku siap-siap dulu." Ulfa bergegas mengganti mukenah dengan jilbabnya, lalu lari keluar beli obat di kantin pesantren.
"Kamu taham bentar ya Ram" Siti mengusap lengan Ara. disambut anggukan kecil Ara.
Ulfa masuk lagi tergesa- gesa.
"Udah dapet obatnya, cepet banget ?" tanya Siti.
"Hehe belum mbak, uangnya ketinggalan." Ulfa nyengir lalu mengambil uang di atas lemari.
"Astaghfirullah Ulfa." Siti menepuk keningnya. Ara sendiri terkekeh kecil melihat tingkah Ulfa.
****
Ulfa sudah sampai di kantin. Sialnya obatnya habis.
"Duh jadi gimana dong mbak, penting banget nih." tanya Ulfa pada penjaga kantin.
"Kalau butuh banget, itu toko si depan biasanya nyetok." ujar penjaga kantin menunjukkan toko depan pesantren disamping asrama putra.
"Ada mbak ya disana ?"
"Iya ada mbak."
Ulfa bergegas lari menuju toko yang ditunjukkan tadi. Dia sepertinya memang sedang sial, atau nasib Ara yang lagi sial. banyak santri putra tengah berdiri tak jauh dari toko, tapi mereka dalam jumlah banyak.
Nyali Ulfa menciut. Dia tak seperti Ara yang pede nya setinggi langit. Mungkin walaupun Ara jadi satu-satunya wanita si bumi, dia akan tetap dengan pedenya lewat diantara rombongan kaum Adam.
Ya, Ara emang beda.
Ulfa tengah celingukan mencari seseorang yang bisa membantunya membeli obat. Matanya berbinar melihat sesosok pahlawan kesiangan nya.
"Pak Ghifari!" serunya.
Santri putra yang mendengar suara Ulfa menoleh ke sumber suara. Rafan pun menoleh merasa namanya di panggil, lalu menghampiri Ulfa.
__ADS_1
"Ada apa panggil saya." tanya Rafan.
"Itu pak, Ara sakit." jawabnya pelan takut para santri mendengar ucapannya walaupun jarak mereka agak jauh.
"Apa!, sakit apa dia ?" Rafan panik.
"Dia nyeri haid pak, saya lagi cari obat. tadi mau beli dikantin malah abis. Katanya Mbak kantinnya di toko itu jual obatnya." menunjuk toko yang ramai santri putra didepannya.
"Kenapa gak kesana cepetan." ucap Rafan.
"Saya malu pak, banyak santri putra. hehe."
"Astaghfirullah, udah tunggu sini, saya aja yang beli." Rafan meninggalkan Ulfa yang masih mematung tak percaya, Rafan langsung gerak cepat sekali, pikirnya.
"Ehem, mbak." panggil Rafan mengusir malu karena harus membeli obat itu. Dia masih kesal dengan Ara. Tapi, ia tak mau Ara kesakitan jika tak dibantu.
"Iya mas ada yang bisa saya bantu ?" jawab pelayan toko.
"Ada obat untuk nyeri haid gak ?"
Penjaga toko kaget mengernyitkan keningnya heran. Berani sekali laki-laki didepannya beli obat seperti itu. Tapi, ia tak mau kepo
"Ada mas, ma.."
"saya beli mbak, ini uangnya." belum selesai bicara sudah dipotong Rafan yang kemudian menyerahkan uang selembar dua puluh ribuan.
Penjaga toko dengan cepat mengambil pesanan Rafan.
"Ini mas obatnya." menyerahkan kantong plastik.
"Makasih mbak." bergegas meninggalkan toko
"Mas kembaliannya."
"Ambil aja mbak." berteriak tanpa menoleh. Yang penting Ara dulu sekarang, pikirnya.
Santri putra pun terkejut dengan Rafan yang tergesa. Kemudian menghampiri Ulfa yang masih menunggunya.
" Ini obatnya cepet sana." menyerahkan obat lalu menyuruh Ulfa pergi.
"Iya Pak, terimakasih." pergi dengan cepat meninggalkan Rafan.
Hufhh. Nafas Rafan ngos-ngosan, padahal dia hanya lari-lari kecil. Mungkin efek dari kekhawatirannya pada Ara.
Kenapa tadi gak bilang aku coba kalo sakit perut. Batinnya.
******
Ulfa sudah sampai di kamar, lalu menyerahkan obat ke Ara untuk diminum.
"Makasih ya Fa." ucap Ara selesai minum obatnya.
"Iya, sama-sama Ra." menjawab sambil ngos-ngosan.
"Kamu beli dimana obatnya kok lama banget, ngos-ngosan lagi." tanya Siti.
"Aku beli di toko depan mbak. soalnya dikantin habis."
"Yah maafin ya Fa, aku malah ngerepotin kamu jadinya."
"Udah gakpapa, yang beli juga bukan aku." ucap Ulfa.
"terus siapa yang beli?" tanya Ara dan Siti bersamaan
"Pak Ghifari." bisik Ulfa, takut yang lain dengar.
"Apa!" Siti dan Ara stok mendengarnya.
Ulfa menceritakan kronologi kejadiannya sampai Rafan yang harus turun tangan membantu.
"Pak Rafan tadi cemas banget tau Ra, waktu aku bilang kamu yang sakit."
"Beneran." mata Ara berbinar seketika, Rafan tadi kesal padanya. Tapi, Rafan masih peduli dengannya.
Maafin aku Pak.
Hei-hei update lagi nih.
Masih sama, jangan lupa like dan komennya ya. Favorit juga deh . Ditunggu semua🤭
🤗🤗
__ADS_1