
Pagi hari seperti biasa Rafan sedang bersiap untuk pergi ke kantor. Rafan berdiri menghadap cermin untuk memasang dasi. Gerakan tangannya lihai memutar memasukkan dasi sampai terlihat rapi. Rafan Memandang bayangan dirinya di cermin, melihat Ara tengah tersenyum padanya.
Mas ! Mau pake baju yang mana !
Mas cepetan dong mandinya !
Ih mas ! buruan udah di tunggu mama di bawah. Mas ! Udah ya, jangan lagi, semalam kan sudah.
Rafan tersenyum kecil mengingatkan suasana paginya yang dulu di penuhi omelan Ara. Dia mengusap wajahnya kasar, berusaha membuang semua kenangan indah miliknya.
Rafan melewati meja makan dimana keluarganya sedang sarapan, juga ada Hana disana.
"Rafan, sarapan dulu !" seru Laras.
"Rafan sarapan di kantor aja ma." sahutnya.
"Rafan berhenti !" Seruan Herman menghentikan langkahnya dan memutar badan melihat Herman.
"Duduk dan makan sarapan mu, ada yang mau Kakek bicarakan." ajak Herman.
"Kakek sudah mengurus berkas perceraian mu, nanti sekretaris Kakek akan mengantarkannya pada mu." lanjut Herman.
"Terimakasih kek."Sahut Rafan sembari memakan sarapannya.
"Dan untuk pernikahan mu dengan Hana, Kakek akan persiapkan semuanya." ucap Herman tersenyum penuh arti pada Hana.
"Tidak perlu secepat itu Kek. Bisakah kita menundanya sampai aku siap."
"No, tidak bisa. Kematian Kakek tidak bisa di tunda Rafan ! ingat itu !"
Brakkkk
Rafan menggebrak meja makan dengan kuatnya. "Cukup Kek ! Jangan mempermainkan kematian ! Bisa tidak Kakek jangan mengancam ku dengan kematian Kakek !"
Rafan beranjak dari meja makan, tak menghiraukan panggilan Laras dan Fadil.
"Pa, tolong jangan paksa Rafan. Beri dia waktu, Fadil yakin Rafan pasti belum bisa melupakan Ara. Tolong mengerti untuk Rafan." pinta Fadil.
"Alah kalian semua sama saja ! Tidak ada yang peduli dengan umur ku !"
Herman pun pergi meninggalkan meja makan, di ikuti Rafan di belakangnya.
*****
__ADS_1
"Arghh !" Rafan memukul setir mobilnya. Meluapkan kekesalannya pada benda mati itu.
Pikirannya kalut, dengan kecepatan tinggi Rafan melajukan mobilnya menuju kantor.
Rafan Memandang akta cerai di mejanya. Sekretaris Herman yang memberinya tadi. Tangannya tergerak meraih amplop putih itu dan membacanya. Rafan meremas ujung kertas didalam pegangannya. Rasa kesal dan menyesal memenuhi rongga dadanya. Dia memejamkan mata, menyenderkan tubuhnya mencari ketenangan disana.
"Don, keruangan ku sebentar."
Tut Rafan langsung mematikan telepon tanpa menunggu jawaban dari orang yang diteleponnya.
"Cih, untung cucu bos, kalau tidak sudah ku pecat kau!" geram seseorang di seberang sana.
*****
Rafan sudah sampai di bandara bersama dengan Doni.
"Terimakasih sudah mengantarkan ku Don, pulanglah. Jangan beritahu siapapun tentang kepergian ku." Rafan menepuk pundak Doni dan berlalu pergi.
"Dimana Rafan ? kenapa dia belum pulang ?" ucap Laras cemas.
"Mungkin dia lembur ma."
"Tapi gak biasanya Pa. Ini sudah lewat jam biasa dia pulang." Laras mondar mandir di depan Fadil.
"Semoga aja Pa."
Deru mesin mobil Herman terdengar. Tak lama Herman muncul seorang diri, tidak ada Rafan dan sekretaris yang biasanya mendampingi.
"Ada apa ? kenapa kalian terlihat panik ?" tanya Herman, melihat gelagat aneh Laras.
"Papa pulang sendiri." tanya Fadil.
"Seperti yang kamu lihat, sekretaris ku ada urusan keluarga. Ada apa sebenarnya ?"
"Em, sebenarnya Rafan belum juga kembali ke rumah Pa."
"Huh. Kemana lagi anak itu ? Ah sudahlah biarkan saja. Mungkin dia ada urusan."
"Iya Pa."
"Ya sudah. Kalian istirahat saja, Papa mau istirahat." ucap Herman lalu meninggalkan Fadil dan Laras.
Laras dan Fadil bersamaan beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamar tidur.
__ADS_1
"Pa, Mama coba telepon Rafan dulu ya ?"
"Iya ma."
Laras mencoba menghubungi nomor Rafan dan tersambung.
Laras : Assalamualaikum Rafan, kamu kemana si nak ? Mama sama Papa khawatir tau !
Rafan : Waalaikumsalam, maafin Rafan Ma. Rafan lupa pamitan sama Mama.
Laras : Pamitan ! Memangnya kamu pergi kemana Fan ? jangan bikin Mama khawatir.
Rafan : Mama tenang aja, Rafan pergi ke Sumatera ketempat Paman Budi.
Laras : Apa ! Sumatera ! Paman Budi ! Kenapa kamu ke sana Fan !
Rafan : Rafan ada urusan disini. Mama tenang aja ya. Besok Rafan balik kok. Rafan mau istirahat dulu ya Ma. Assalamualaikum.
Laras : Tunggu Rafan jelasin ke Mama, kenapa kamu kesana ! Rafan ! Rafan !
Tut-tut
Sambungan telepon terputus. Laras jingkrak-jingkrak kesal Rafan tak menjawab panggilan Laras.
"Mama kenapa ?" tanya Fadil yang baru keluar dari kamar mandi.
"Rafan Pa. Dia gak pulang karena pergi ke tempat Mas Budi."
"Apa ! Budi ! Kenapa Rafan pergi ke sana !"
"Mama juga gak tau. Tadi Mama tanya sama Rafan. Eh, malah dimatiin teleponnya."
Fadil mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, mencoba menerawang apa kira-kira yang dilakukan Rafan di tempat sahabatnya itu.
"Dasar anak durhaka ! Di telepon malah di matiin terus." Laras melempar handphonenya ke ranjang dengan kesal.
"Sabar Ma, mungkin Rafan ada urusan penting di sana."
"Iya Pa. Tapi kalau Papa Herman tahu, Rafan pasti kena marah papa."
"Sstt, udah tenang. Jangan kasih tau Papa, cukup kita yang tau oke. Percaya aja sama Rafan ya." Laras mengangguk paham dengan perkataan suaminya.
Hai readerku tersayang, maaf ya kemarin gak up. Di rumah lagi ada acara, jadi sibuk banget, Maaf ya 🙏.
__ADS_1