Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Rafan Yang Jail


__ADS_3

Waktu terus bergulir cepat. Setahun sudah pernikahan Ara dan Rafan berjalan. Namun, mereka belum juga di karuniai momongan. Mereka tetap sabar dan berusaha. Hubungan suami istri keduanya berjalan dengan harmonis. Malam itu contohnya, Rafan selalu jahil dan menggoda Ara.


"Mas, jangan pegang-pegang. Aku gak mau wudhu lagi nih. Isya juga denget lagi tuh." Ara menutup wajahnya dengan mukenanya, menghindari sentuhan nakal Rafan.


"Bener gak mau di pegang ?" goda Rafan sudah mengusap kepala Ara. Gerakan tangan Rafan sudah kemana-mana menggelitik perut Ara.


"Hahaha, Mas udah geli. aduhh udah geli, hahaha." Ara berguling kegelian dan tanpa sadar memegang tangan Rafan.


Rafan tersenyum "Katanya gak mau dipegang, eh malah megang ya." sindir Rafan.


"Siapa yang megang hah ?" seru Ara tak terima dan belum sadar.


Rafan mengulum senyum, matanya melirik ke tangan Ara yang memegang tangannya. Ara mengikuti lirikan mata Rafan.


"Astaghfirullah," cepat-cepat Ar melepaskan pegangannya. "Kan mas batal deh. males tau mau wudhu lagi. Dingin !" sungut Ara memajukan bibirnya kesal.


"Ya kalau dingin tinggal di angetin. Tenang aja mas bisa kok angetin kamu."


"Iss, kan gitu aja terus." kesal memukul Rafan.


Rafan tergelak, lalu merengkuh tubuh Ara ke pelukannya. Ara pun tak menolak dan berlanjut mengomel kesana kemari mencurahkan kekesalan pada Rafan.


Rafan tersenyum mengeratkan pelukannya lagi, sesekali mencium kepala Ara. Setelah tak mendengar ocehan Ara, Rafan mengendurkan pelukannya.


"Udah selesai ngomelnya ?" menungkup wajah Ara.

__ADS_1


"Belum" menggeleng memasang wajah kesal. Tapi, menurut Rafan malah imut.


"Aduh gemesnya istriku." mengunyel-unyel gemas pipi Ara.


Cup


Ciuman kilat Rafan mendarat sempurna di bibir Ara. Yang di cium membelalakkan mata, lalu menundukkan kepala malu.


"Masih Kesel " sungut Ara.


"Cium lagi nih kalau masih kesel." ancam Rafan.


"Kan gitu deh. s...." bibir Rafan membungkam bibir Ara. ******* lembut, Ara tak menolak ia tampak menikmati ciuman lembut Rafan. Merangkul kan tangannya ke leher Rafan. Untuk beberapa saat mereka berbagi nafas dalam ciuman, dan mengehentikan kala kumandang adzan isya terdengar.


"Kita lanjutkan abis solat ya olahraganya." Rafan mencolek hidung Ara.


"Kan kakek mau cicit. Jadi harus ekstra kerja keras."


Ara menundukkan kepalanya sedih. Begitu besar harapan Rafan dan keluarganya agar Ara segera hamil. Tapi, Ara sendiri belum bisa mewujudkan harapan mereka.


Rafan menatap Ara, kenapa dia bersedih, pikirnya.


"Kamu kenapa sayang?"


Ara mendongak menatap Rafan "Mas pengen cepet punya anak ya ?" tanya Ara, matanya sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Iya, tapi kan itu belum rejeki kita. Kamu jangan sedih gitu dong." merengkuh tubuh Ara lagi dalam pelukannya.


"Maafin aku mas, aku belum bisa kasih anak buat kamu." Ara sudah menangis di dada Rafan.


"Gak boleh gitu. Anak itu rezeki dari Allah jadi kita harus sabar ya." mengelus punggung Ara menenangkan.


Ara semakin terisak dalam pelukan Rafan.


"Sst udah, jangan nangis lagi ya. Mending kita solat terus berdoa kepada Allah, supaya lekas dikasih momongan."


Mereka pun Solat isya berjamaah di kamar. Selesai solat Bi Inah mengetuk kamar Rafan.


"Maaf den, bibi ganggu."


"Iya gakpapa bi. Ada apa?"


"Aden sama non Ara disuruh kebawah sama tuan besar. Tuan Fadil dan nyonya Laras juga sudah menunggu den."


"Ada apa ya bik"


" bibi kurang tau den"


"Ya udah bibi turun dulu. nanti saya nyusul."


Bi Inah mengangguk lalu pamit turun duluan. Rafan memerintahkan Ara untuk bersiap-siap turun.

__ADS_1


Ada apa kakek mengumpulkan kami. Sepertinya sangat penting.


__ADS_2