
Dua bulan sudah berlalu, Ara dan Rafan memutuskan untuk kembali ke pesantren. Herman sebenarnya tidak mengizinkan mereka untuk pulang ke pesantren, akan tetapi karena Ara masih ada kepentingan kuliah akhirnya herman mengizinkan.
"setelah urusan kuliah Ara selesai segera kembali ke rumah Rafan."
"Iya kek, mungkin tinggal beberapa bulan lagi urusan Ara selesai, kami akan langsung pulang ke rumah."
"Baguslah kalau begitu."
"Kami pamit dulu ma, pa kakek."
Rafan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah.
*****
Seperti biasa Ara minta di turunkan di pangkalan ojek.
"Hati-hati sayang."
Cup
Rafan mengecup kening Ara, dan dibalas Ara yang mencium tangan Rafan.
Mereka berpisah disana, Ara mengendarai ojek motor dan Rafan mengikuti dari belakang.
"Assalamualaikum, " ucap Ara.
"Waalaikumsalam, Araaa !!!" suara cempreng itu memenuhi gendang telinga Ara. Siapa lagi kalau bukan Ulfa.
"A, kangen." berlari menyambut Ara dan memeluknya.
"Sama aku juga kangen. Tumben duluan masuk biasanya nunggu mepet liburan, baru datang."
"Udah ah tobat Ra. Masa kena denda terus aku gara-gara sering telat pulang ke pesantren."
"Dasar Ulfa."
Mereka pun banyak bercerita tentang pengalaman liburan. Di kamar Ara, baru ada Ara dan Ulfa saja. kebetulan mereka harus mengurus untuk kegiatan skripsi dan wisuda. jadi mereka kembali ke pesantren lebih awal.
Waktu berjalan dengan cepat sampai tiba saatnya Ara dan Ulfa wisuda bersama. Orang tua Ara datang menghadiri acara wisuda Ara. Tanpa sepengetahuan Rafan dan Ara, orang tua mereka datang bersama.
__ADS_1
"Aduhh, mama mertua pake ikut segala lagi" Ara tampak mondar-mandir cemas setelah mendapat kabar dari Rafan tentang kedatangan orang tua dan mertuanya.
Tenanglah nanti aku yang akan bilang dengan mereka. Rafan menenangkan Ara lewat telepon.
Bagaimana aku bisa tenang. Kenapa harus kesini semua sih. Bagaimana jika orang-orang tau.aku sudah menikah. Haa. bagaimana ini ?
Ara masih seperti setrika panas.
"Ara kenapa si mondar-mandir terus. Pusing tau liatin kamu." Ucap Ulfa sambil memoleskan make up.
"Gak tenang aku Fa ."
"Masalah tadi ?"
"Iya" jawab Ara sambil duduk karena lelah juga mondar-mandir pikirnya.
Ulfa menghentikan kegiatannya, beralih menatap Ara. "Apa sebenarnya yang kamu takutkan Ra ? Kamu takut nanti kalau orang-orang tau kamu itu udah nikah sama Pak Rafan mereka bakal benci kamu, musuh kamu gitu ?"
Ara mendongak ganti menatap Ulfa " Itu sebagian alasannya."
"Lalu sisa sebagian alasannya apa ?"
Ulfa beranjak mendekati Ara, menoyor kepala sahabatnya itu. " Dasar bodoh, memangnya siapa yang sakit hati hah?" serunya.
Ara melotot tak suka Ulfa yang mengatainya bodoh.
"Apa melotot !" Ulfa berkacak pinggang di depan Ara. "Please deh Ra, jangan bodoh. Jangan bilang kamu gak mau nyakitin perasaan orang-orang yang selama ini menghalukan Pak Rafan, yang jelas-jelas itu haram bagi mereka. Sadar woy !" Ulfa menoyor kepala Ara lagi.
"Ih, jangan main kepala dong" protes Ara.
"Lagian kamu itu kenapa sih selalu mikirin orang lain, kebahagiaan orang lain. Bisa gak sekali aja mikirin kebahagiaan diri kamu sendiri." Ulfa menekankan jari telunjuknya ke bahu Ara.
"Maksud kamu ?" Ara bingung dengan statement Ulfa tentang dirinya.
"Jangan pura-pura gak tau. Aku sahabat kamu Ra, aku tau kamu itu selalu mementingkan perasaan orang lain dibandingkan perasaan kamu sendiri. Kamu kira aku gak tau kamu suka sama Hanif, bahkan kamu rela jadi Mak comblang Hanif sama aku Gara-gara Hanif bilang suka sama aku. Padahal jelas-jelas kamu yang suka sama Hanif. Tapi kamu dengan bodohnya selalu Mikirin perasaan orang lain. Kenapa kamu gak jujur sama aku, kenapa gak bilang kalau kamu suka Hanif. Kenapa Ra?" seru Ulfa berapi-api.
Ara bungkam, bagaimana bisa Ulfa tau tentang perasaannya pada Hanif, jelas-jelas dia sudah menghapus semua tentang Hanif yang pernah di tulisnya.
"Kenapa diam Ra. Kamu bingung kan aku tau darimana. Aku itu sahabat kamu. Walaupun kamu gak bilang aku tau Ra." bisik Ulfa pelan.
__ADS_1
"Maafin aku Fa, aku gak bermaksud...."
" Kamu tu termasuk kategori egois. Seneng Banget nyakitin perasaan sendiri. Selalu memikirkan tentang orang lain tapi diri kamu sendiri gak kamu pikirkan. Aku gak mau maafin kamu." sela Ulfa.
Ara menatap tak percaya sahabatnya itu. "Kamu gak mau maafin aku ?" sudah berkaca-kaca.
"Gak" masih bersikeras menolak untuk memaafkan. Sejenak kemudian Ulfa tak tega melihat Ara sudah menangis. " Gak usah nangis deh." berdecak kesal kemudian luluh mendengar sesegukan kecil Ara. "Oke aku bakal maafin kamu, tapi ada syaratnya"
Ara mengusap air matanya menatap Ulfa penuh binar. "Apa syaratnya ?"
"Berjanjilah padaku untuk selalu memikirkan kebahagiaan dan perasaan mu terlebih dahulu. Jangan selalu memikirkan tentang perasaan dan kebahagiaan orang lain Ra. Kamu sendiri juga patut bahagia."
Ara mengerjap tak percaya sahabatnya begitu perhatian dengannya. Ara memeluk erat Ulfa. tangisnya semakin pecah. Untung saja hanya mereka berdua dikamar, jadi tidak apalah menangis lebih keras.
"Makasih Fa, kaulah sahabat terbaik akuu"
"Sama-sama. udah jangan nangis, ntar luntur make-upnya. Kan malu dilihat sama suami. hehe"
"Iss, apaan sih Fa."
"Udah yuk kita berangkat, keburu acaranya mulai."
"Sebentar, aku moles dikit ya." Ara berjalan menuju lemari memperbaiki make-upnya.
"Lagian pake drama nangis segala." seru Ulfa kesal.
"Terharu itu namanya Bambang !" jawab Ara tak kalah kesal, padahal dia tadi sudah terharu dengan ucapan Ulfa.
Tak lama kemudian Ara dan Ulfa berangkat ke kampus untuk mengikuti wisuda. Ibu Ara dan Ulfa tadi mampir sebentar ke asrama putri, lalu pergi duluan ke kampusnya.
Ara sudah bertekad apapun yang terjadi nanti. Dan saat semua orang tau tentang statusnya, ia harus menerima kenyataan. Ara tau tak semua orang menganggap dirinya coxok untuk Rafan. Ara sadar ia hanya seperti butiran ketumbar untuk Rafan yang butiran berlian, tak sebanding pikirnya.
Jika ada yang mencemooh atau menghinanya karena bersanding dengan Rafan, akan ia hadapi.
Oke semangat Ara. Kamu pasti bisa !
Hai up lagi nih. Maaf kemarin gak up. Lagi banyak kerjaan banget sampe malem😁. Maafin author ya🙏.
Jangan lupa untuk like komen dan favoritnya 💜
__ADS_1