
Rafan dan Ara tengah makan malam bersama Fadil, Laras dan kakek Herman.
"Ara gimana udah ada tanda-tanda hamil belum ?"
"Uhuk." Ara tersedak mendapat pertanyaan dari Herman.
"Pelan-pelan, ini minum dulu."
Ara langsung meminum air dari Rafan.
"Kakek cuman minta cicit laki-laki. Biar nanti bisa melanjutkan langkah Kakek di perusahaan."
"Mau anak laki-laki atau perempuan semua wajib di terima dan syukuri kek." sahut Rafan.
"Kalau nanti anak kami perempuan juga tidak apa-apa, mungkin saja anak ke dua kami bisa laki-laki, iyakan Ra." Rafan tersenyum menggoda Ara.
Ara tersipu malu.
Bisa-bisanya bilang anak kedua. Kita ngapa-ngapain aja belum.
Fadil dan Laras hanya tersenyum melihat tingkah Rafan dan Ara. Sudah lama sekali mereka tak bercanda gurau si meja makan itu. Biasanya hanya denting sendok dan deru nafas yang terdengar.
"Ara makan yang banyak ya biar kuat." Laras mengedipkan mata menggoda pada Ara.
Yahh, Ara hanya tersenyum malu.
"Emang Ara mau ngapain ma ? kuli bangunan ?" tanya Fadil.
"Ih papa." memukul pelan lengan Fadil. "Kayak gak pernah jadi pengantin baru aja deh."
Fadil beroh ria, mengerti maksud istrinya.
"Mama tadi gak sengaja memergoki mereka. Upss maaf mama keceplosan."
Blussh.
Memerah lah wajah Ara, Rafan sendiri tak kalah malu. Dia juga merasa malu ketahuan berbuat seperti itu.
"Kan Mama liat muka Rafan sama Ara merah tuh." tunjuk Fadil.
"Mama gak sengaja pa, suer. hihihi."
******
Rafan dan Ara sudah kembali ke kamar. Mereka tak tahan terus-terusan di goda Laras.
"Kamu liat apa, serius banget ? senyum-senyum sendiri lagi. " Rafan mendekat ke samping Ara.
"Ini, lagi nonton kontennya artis." meletakkan Hpnya di tengah agar Rafan bisa ikut melihat.
__ADS_1
"Ini anaknya Kak Baim Wong, namanya kiano. Lihat deh Pak, manis ya. Ih imut banget !" Ara gemas sendiri melihat tingkah anak kecil itu di Hpnya.
Rafan ikut memperhatikan.
Gemesin, batinnya.
Ara masih mengoceh kemana-mana menceritakan anak artis itu. Ara tampak antusias sekali bercerita tentang anak kecil sambil terus menonton.
Rafan terus memperhatikan Ara, semangat Ara bercerita. Raut wajahnya gerakan bibir Ara, membuat Rafan lagi-lagi menelan kasar ludahnya.
Jadi gemes sendiri.
"Kamu mau anak ?" tanya Rafan.
"Ya maulah." Ara menjawab sekenanya. Dia tak tau singa buas dihadapannya sudah benar-benar lapar. Singa yang bisa menerkamnya kapan saja.
"Eh, bapak tadi nanya apa ?" Ara sadar dengan jawabannya.
"Kamu mau anak ?"
"Ma, maksud bapak gimana ?"
"Masa gak paham ?" Rafan sudah tak tahan lagi, mimik muka Ara yang tambah menggemaskan jika bersikap seperti itu.
"Mau bikin anak gak ?" ucap Rafan.
Rafan sudah mengambil HP dari tangan Ara. Meletakkannya di atas nakas di sampingnya.
Kemudian beralih menatap Ara yang mematung, dan memegang bahu Ara.
"Kamu tidak dengar kakek bilang apa ?"
Ara menggeleng polos sembari mengingat ucapan kakek. Bulu kuduknya berdiri merasakan sentuhan Rafan di wajahnya.
A iya, kakek mau cicit.
Ara langsung ingat.
"Gimana udah inget ?" Rafan sudah mengelus pipi Ara.
Ara mengangguk.
"Jadi, mau gimana ?"
Dengan perlahan Rafan merebahkan tubuh Ara.
"Kita mau mulai dari mana ?" masih membelai sekitar wajah Ara.
Ara mengerjap takut, jantungnya berdetak kencang, wajahnya sudah merona.
__ADS_1
Rafan beralih ke jilbab Ara, berusaha untuk membukanya. Dia tampak kesusahan, dan Ara membantu melepaskan. Rafan tersenyum seperti mendapat lampu hijau dari Ara.
Jilbab biru laut milik Ara sudah teronggok di lantai. Pelecehan memang Rafan ya, mentang-mentang dapet sinyal, wkwkwk.
Dibelainya surai halus dan lembut sang istri, menatap wajah Ara yang sedang malu-malu.
"Kenapa wajahmu merah sekali ?" goda Rafan.
"E, engga papa." jawab Ara terbata.
Rafan tersenyum kecil. Dia beralih mencium kening Ara. Ciuman lembut mengalir hangat ke tubuh Ara yang memejamkan mata.
Mereka bertatapan kembali, mata Rafan tertuju pada bibir Ara yang selalu menggoda.
Tak lama keduanya berbagi nafas dalam ciuman lembut dan hangat. Rafan tampak bersemangat dan agresif. Ara sendiri berusaha mengimbangi permainan Rafan. Dia sudah memantapkan hati dengan apa yang Rafan akan lakukan pada dirinya. Itu sudah menjadi kewajibannya.
"Apa boleh ?" tanya Rafan melepaskan pagutannya.
"A, aku takut." jawab Ara ragu.
"Aku akan pelan dan tak menyakitimu."
"Pintunya sudah dikunci ?" Ara tak mau malu kedua kalinya, jika mertuanya memergokinya lagi.
"Sudah." jawab Rafan. "Jadi bolehkan ?" manik Rafan tampak memohon pada Ara.
Ara mengangguk mantap melihat Rafan.
Tanpa banyak kata sang singa yang lapar menerkam mangsanya. Dimulai dari gigitan di leher, memberi banyak tanda disana. Ara menggigit bibir bawahnya menahan suara agar tak keluar. Dia masih terlalu malu memperlihatkan bahwa dia juga menikmatinya.
Rafan menyeringai. "Lepaskan saja."
Ara menggeleng pelan.
Bukan Rafan namanya jika tak menjahili Ara. Rafan malah semakin kuat memberi hisapan di dada Ara. Baju yang di kenakan Ara sudah sedikit tersingkap sampai didada, karena ulah Rafan.
Ara melenguh, tak tahan dengan gerakan Rafan. Yang di bawahnya menyeringai mendengar suara Ara.
Malam terus beranjak. Kedua insan yang tengah di mabuk cinta dan kenikmatan surga dunia dalam label halal tak terusik dengan dinginnya malam. Pancaran sinar rembulan terang menemani keduanya berbagi nafas, mengalirkan hangatnya cinta.
Hai up lagi nih...
Gimana greget gak atau baper gitu😁
Reader tercinta bayangin aja sendiri ya gimana kelanjutannya 😁. Otak polos author gak mampu Mikirinnya.
Jangan lupa ya dukungan dan semangat untuk author. Terimakasih untuk yang selalu like, komen dan favoritnya semoga menghibur.
🤗🤗
__ADS_1