Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Cerai


__ADS_3

"Emhh." Ara terbangun dari tidurnya, memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Kau sudah bangun sayang." terdengar suara serak dari sampingnya. Ara menoleh melihat kesamping dan kaget setengah mati, matanya membelalakkan lebar melihat laki-laki didepannya.


"Ha ! kamu siapa ! Ini dimana !" seru Ara. Laki-laki itu tersenyum menyeringai. Ara Kemudian beralih melihat dirinya sendiri, menutup mulutnya dengan tangan. Menyadari bahwa dia hanya menggunakan pakaian dalam.


Apa yang sebenarnya terjadi, Ara memukul kepalanya, berusaha mengingat kejadian yang dialaminya.


Brakkkk


Terdengar suara keributan dari arah luar. Sosok Rafan sudah berada di depan Ara, mengepalkan erat tangannya menghampiri laki-laki di samping Ara, memukulnya membabi buta.


"Mas Rafan cukup mas ! nanti dia bisa mati !" teriak Ara.


Teriakan Ara tak dihiraukan oleh Rafan yang masih membabi buta memukuli.


"Brengsek ! sialan kau ! berani-beraninya bermain bersama istriku hah !" Rafan mengumpat sambil terus memukul. Laki-laki itu tidak berniat membalas pukulan Rafan, dia hanya tersenyum.


"Mas cukup !!"


Teriakan Ara menghentikan kegiatan Rafan.


Rafan beralih menatap Ara, di hampiri istrinya itu.

__ADS_1


Plakk


Tamparan keras mendarat pada pipi Ara. Nafas Rafan memburu, dadanya bergemuruh menahan amarahnya.


"Dasar tidak tahu malu kamu ya ! Begini caranya menghargai suami mu. Kamu bilang akan menurut dengan ku semalam ! Tapi sekarang malah asik bermain dengan bajingan itu hah !" seru Rafan.


Hati Ara mencelos, sakit sekali rasanya. Baru pertama kalinya ia di tampar oleh laki-laki yang begitu di cintanya.


"Mas, aku mohon ini tidak seperti yang kamu bayangkan."


"Cukup Ra ! kamu jangan bohong lagi. Begitu besarkah keinginan kamu untuk bercerai dariku. Sampai-sampai kamu melakukan perbuatan yang keji seperti ini hah !"


"Mas aku mohon percayalah. Aku, aku juga gak tau, bagaimana bisa aku ada di sini. Aku di fitnah mas." Ara berusaha menjelaskan yang sebenarnya, dengan air mata yang sudah menetes.


Rafan melemparkan handphonenya. Ara kaget melihat fotonya di gendong seorang laki-laki.


"Mas ini pasti ada kesalahpahaman mas ! Aku tadi pergi ke cafe bersama Hana mas, bukan laki-laki itu. Ada yang mau fitnah aku mas. Aku mohon mas percaya dengan Ara mas."


"Jangan beralasan Jalang, kau yang mengajak ku ke Cafe dan tidur di hotel ini. Dan kau akan membayar jika merasa puas." sela Laki-laki yang dipukuli Rafan sembari mengusap bibirnya yang berdarah karena pukulan Rafan.


"Diam kau brengsek ! Kita tidak saling mengenal. Aku tidak tahu siapa kau ! Jangan coba-coba memfitnah !" sentak Ara. "Mas aku mohon mas, aku gak tahu dia siapa mas. Aku mohon percaya sama aku mas. Mas bisa tanya Hana kalau mas gak percaya." Ara mengusap-usap tangannya di depan dada memohon Rafan mempercayainya.


Rafan masih menatap kesal Ara. Istrinya itu sudah tidak berbusana lengkap lagi, aurat Ara yang seharusnya hanya bisa dilihat olehnya. Kini dilihat dan mungkin juga sudah di jamah oleh laki-laki bajingan yang hanya menggunakan celana pendek.

__ADS_1


"Kamu jangan fitnah Hana ya ! Bagaimana bisa dia pergi ke cafe bersama dengan mu. Dia sedang berada di Australia sekarang !" teriak Rafan berapi-api.


"Sudahlah Ra, seharusnya kamu bisa bicara baik-baik padaku jika ingin segera bercerai. Jangan mengkhianati cinta dan kepercayaan ku padamu."


Hati Ara benar-benar sakit, tak percaya jika Rafan tidak mau mempercayainya dan malah mempercayai wanita lain.


"Mas," Ara meremas selimut yang menutupi tubuhnya, air matanya terus mengalir tak kuasa menahan sakit.


"Aku akan ceraikan kamu." lirih Rafan.


Deg


Ara tertunduk lesu, Rafan mau menceraikan dirinya. "Mas aku mohon," untuk kesekian kalinya Ara memohon, berharap Rafan akan mempercayainya.


"Kamu tenang saja, aku akan mengurus perceraian kita secepatnya. Dan aku akan segera menikah dengan Hana. Itukan yang kamu mau, aku menikah dengan Hana dan kamu bisa bebas bermain dengan laki-laki lain." Dengan langkah lebar Rafan meninggalkan Ara tanpa menoleh sedikitpun.


Ara tak mampu berkata apa-apa lagi. Bibirnya terasa kaku, air matanya tak berhenti mengalir dengan derasnya. Haruskah Ara senang Rafan akan segera menikah dengan Hana, itu artinya Rafan bisa memiliki keturunan. Tapi, bagaimana dengan pernikahannya dengan Rafan. Apa harus berakhir dengan tragis seperti ini.


Ara meremas kembali selimut yang membungkus tubuhnya. Menangis meratapi nasibnya yang malang. Laki-laki bajingan itu pun sudah meninggalkan Ara seorang diri.


Apa salahku. Kenapa ada orang tega memfitnah ku seperti ini. Ya Allah, ampunilah hamba mu yang lemah ini.


Dengan lemah Ara meraih pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian memakainya. Tubuhnya lunglai, Ara memukul pahanya keras-keras. Menyesali perbuatannya yang begitu hina.

__ADS_1


"Arghh !" teriakan Ara menggema di ruangan itu.


__ADS_2