
Nisa masuk kembali ke dalam rumah menghampiri Budi yang masih diam. Nisa mendekat dan mengelus punggung Budi.
"Ayah,"
"Ara gak mungkin ngelakuin hal serendah itu kan bu ?"
"Ibu juga gak yakin kalau Ara bakal gitu. Kita orang tuanya Yah, kita tahu bagaimana Ara bukan ? untuk saat ini kita tunggu penjelasan dari Ara dulu Yah."
"Telepon Ara Bu,"
Dengan cepat Nisa mengambil handphone di meja rias dan menghubungi nomor Ara.
Lima panggilan telepon tak juga di jawab Ara. Menambah khawatir Budi dan Nisa yang bahkan tidak tahu dimana Ara berada sekarang.
"Telepon Sarah aja Bu, kalau Ara gak bisa si hubungi. Mungkin Ara disana." usul Budi.
Nisa segera menghubungi Sarah, untung nomornya aktif.
Nisa : Assalamualaikum Mbak.
Sarah : Waalaikumsalam Ibu.
Nisa : Kabar kamu gimana Mbak ? Sehatkan ?
Sarah : Alhamdulillah, Sehat. Ibu sama Ayah sehatkan ?
Nisa : Alhamdulillah sehat semua. Mbak Ibu mau tanya,
Sarah : Tanya apa Bu ?
Nisa : Ara ada di tempat kamu gak ? Soalnya Ibu telepon dari tadi gak diangkat-angkat.
Sarah : Iya Ara di tempatku, dia lagi di rumah jagain Fariz. Mungkin handphonenya di kamar, memangnya kenapa Ibu telepon Ara.
Nisa : Tadi suaminya Ara datang ke rumah. Dia bilang mereka sudah cerai.
Sarah : Apa ! cerai ! kok bisa Bu !
Nisa : Ara gak cerita sama kamu ?
Sarah : Enggak, dia gak cerita sama sekali.
__ADS_1
Nisa : Adik kamu memang suka gitu, di pendam sendiri semuanya.
Sarah : Dasar, pantes aja dia suka nangis kalau malam Bu.
Nisa : Ya Allah, kamu tolong hibur adik kamu ya Mbak.
Sarah : Iya Bu pasti, Tapi alasan mereka cerai kenapa Bu ?
Nisa menceritakan semuanya, perihal Ara yang mandul dan juga tuduhan Ara yang selingkuh. Sarah geram mendengarkan penuturan Ibunya, siapa yang berani memfitnah adiknya. Sarah percaya jika adiknya tak mungkin berbuat hal serendah itu.
******
Sore harinya Sarah sudah kembali ke rumah. Dia mencari keberadaan Ara, dan menemukannya di dapur sedang memasak dengan ditemani Fariz.
"Bunda !" Seru Fariz yang langsung berlari menghampiri Sarah dan memeluknya.
"Kakak sudah pulang ?"
" Iya, " Sarah diam sejenak memerhatikan Ara dari belakang, hatinya terasa sangat sedih mengingat penuturan Nisa. Bagaimana bisa bahu sekecil Ara menopang beban seberat itu, tidak bisa hamil lalu di fitnah dan di ceraikan.
Air mata Sarah terjun bebas membasahi pipinya, tak sanggup membayangkan jika dirinya menjadi Ara.
"Bunda kok nangis ?" celetuk Fariz melihat Sarah menangis.
"Iya bunda kenapa, kok nangis. Bunda sakit ?" Bocah berusia 3 tahun itu tampak khawatir sambil menempelkan tangannya di kening Sarah. "Tapi gak panas." sambungnya.
"Kakak kenapa ?" Ara sudah berada di depan Sarah. Sontak saja Sarah langsung memeluk adiknya dengan erat, tangisannya semakin keras.
Ara yang kaget dan bertanya-tanya ada apa gerangan dengan Sarah. " Kakak kenapa si ?"
"Dasar bodoh !" cetus Sarah. "Dasar Ara bodoh sekali kau !" Sarah memukul pelan punggung Ara. Yang di pukul hanya diam tak mengerti.
"Bunda jangan pukul Tante, kasihan Tante." ucap Fariz.
Sarah melepas pelukannya lalu menatap Ara.
"Kakak kenapa si ?"
"Kamu kenapa gak bilang sama Kakak kalau kamu sudah cerai hah !" tanya Sarah mengguncang bahu Ara.
Ara tampak kaget berusaha untuk tenang dan tersenyum getir. "Jadi Kakak sudah tahu ?"
__ADS_1
"Dasar bodoh ! Kenapa tidak cerita hah ! Kau tidak tahu bagaimana kecewanya ayah dan ibu di rumah hah !"
"Apa ! Ayah sama ibu tahu !" tanya Ara syok.
" Nye-nye." Sarah meledek. "Aku juga tahu dari ibu, suamimu datang ke rumah ayah."
" Apa ! ke rumah, ngapain !"
" Ya mana aku tahu lah !" ledek Sarah. "Lagian kenapa kamu gak cerita si sama Kakak. Terus fungsinya di Kakak lahir duluan itu buat apa ? kalau kamu gak mau cerita hah ! gitu aja terus di pendam sendiri aja semuanya, makan tu sakit hati." kesal Sarah, tak habis pikir dengan Ara yang selalu memendam rasa sakitnya sendirian.
"Ara malu mau cerita."
"Hadeuhhh ! Yuk kita makan dulu abis itu kamu ceritain semuanya ke Kakak. Gak ada tapi tapian." ucap Sarah.
Ara menurut tanpa banyak bicara, Mereka pun makan bersama. Seperti yang si ucapkan Sarah, Ara pun menceritakan semuanya secara detail. Sarah menyimak dengan serius, tak menghiraukan panggilan Fariz yang sudah mengantuk dan akhirnya tertidur pulas di paha Sarah.
"Hemmm, Kakak rasa ada yang janggal deh sama cerita kamu. Pasti ini semua ada kaitannya dengan wanita bernama Hana itu. Jangan jangan dia dalang di balik semua ini." selidik Sarah.
"Gak boleh suudzon Kak,"
"Bukan suudzon, cuma menerka saja. Kakak harus bilang sama suami kamu kalau kamu itu gak salah."
" Gak usah Kak, lagian kita juga udah cerai."
"Kamu harus balikan lagi sama Rafan. "
"Gak usah Kak, lagian juga percuma. Akukan gak bisa hamil." lirih Ara sedih.
Sarah menatap iba adiknya, mengelus kepala Ara lembut. "Kamu yang sabar ya." Ara mengangguk lemas.
" Besok kita periksa ke dokter yuk. Kata kamu kan penyakit kamu bisa diobati, dan kalau sembuh kamu juga bisa hamil dong."
"Gak usah Kak, kapan-kapan aja ya. Aku belum siap untuk berhadapan sama dokter lagi." pinta Ara.
"Ya udah deh. Kabarin Kakak kalau kamu siap, pokoknya kamu harus sembuh. "
Ara tersenyum haru, kakaknya ini sangat menyayangi dirinya. Sungguh beruntung sekali dirinya memiliki Kakak yang perhatian dan menyayangi adiknya seperti itu.
"Kalian gak pernah komunikasi lagi ya Ra ?"
Ara tahu siapa yang di maksud Sarah. " Enggak Kak, kemarin aja yang ngurus perceraian sekretaris Kakeknya."
__ADS_1
"Dasar laki-laki bodoh. Kakak yakin, suatu saat nanti dia pasti akan mencari dan memohon sama kamu supaya mau balik lagi sama dia. Lihat aja nanti, dia bakal nyesel seumur hidupnya sudah sia-siakan kamu." ucap Sarah bersemangat.
Ara terkekeh geli melihat tingkah Sarah yang kekanakan menurutnya. Ya, walaupun sebenarnya ia sedikit mengharapkan itu semua terjadi.