
Waktu berlalu begitu cepat. Tiga tahun sudah rumah tangga yang di bangun tanpa cinta, harus berakhir dengan luka. Saling mengikhlaskan, itulah yang selalu terucap dari bibir mereka.
Pagi hari seperti biasa Ara selalu sibuk dengan aktivitasnya, tiga tahun tinggal bersama Sarah setelah perceraian dengan Rafan. Di sana Ara sudah mendapatkan pekerjaan impiannya, menjadi pekerja kantoran. Perihal perceraian Sarah pun Budi dan Nisa Memang berbuah kecewa. Tapi keduanya tidak bisa berbuat apa-apa, keputusan anak-anak mereka sudah bulat.
"Kak aku berangkat kerja duluan ya ! Assalamu'alaikum !" pamit Ara.
"Waalaikumsalam ! hati-hati Ra !" jawab Sarah yang sedang mempersiapkan keperluan anaknya sekolah.
Ya, Fariz sudah tumbuh dan ingin sekolah katanya.
Malam itu "Pokoknya Fariz mau sekolah !" rengek anak kecil itu pada ibunya.
"Iya, Fariz bisa sekolah. Besok kita beli seragam Fariz sekolah ya ."
"Asik," Fariz loncat kegirangan. "Tante Ara ikut tapikan Ma ?" tanyanya lagi.
Sarah menatap Ara yang masih sibuk dengan laptop di pangkuannya. "Dek besok ada waktu luang gak ?" tanya Sarah.
"Malam ada Kak, pagi sampe sore paling masih di kantor. Soalnya lagi ada projek ini. Emang mau ngapain Kak ?"
"Fariz mau ajak kamu beli seragam sekolahnya."
__ADS_1
Ara meletakkan laptopnya, beralih pada Sarah dan Fariz di sofa seberangnya.
"Fariz belanja baju sekolahnya sama Mama ya. Tante gak bisa ikut, soalnya Tante banyak kerjaan. Gak papa ya."
"Yah, " Raut wajah Fariz nampak jelas sedih, dia memang sangat menyayangi Ara. Kemauannya selalu di turuti, apapun yang di inginkan Fariz, Ara selalu berusaha untuk mengabulkan. Ara tak tega melihat ekspresi Fariz yang kecewa.
"Gini aja, Tante janji nanti kalau kerjaan Tante sudah selesai, Gimana kalau kita belanja lagi. Besok Fariz belanja baju sama Mama, nah Besok sama Tante kita beli sepatu sekolah gimana ?"
Fariz tersenyum bahagia, setuju dengan rencana Ara. "Oke ! tapi janji ya Tan !" serunya girang.
"Janji !" Fariz mendekat dan menautkan kelingkingnya pada Ara.
****
"Alhamdulillah."
"Akhirnya ya Ra, selesai juga proyek kita. Lancar aman, damai semuanya." kata Fina teman sekantor Ara.
"Alhamdulillah semuanya berjalan sesuai harapan kita."
""Eh pada ngobrol apa nih ! Bos gak di ajak." seru laki-laki berhidung mancung, berlesung pipi dan senyum yang melelehkan hati kaum hawa yang melihatnya.
__ADS_1
"Eh, Pak Niko. Lagi ngobrolin proyek kita Pak." sahut Fina.
"Ikut duduk boleh ya."
"Silahkan Pak." ucap Fina.
Laki-laki bernama Niko mengambil tempat duduk di depan Ara. Fina hanya tersenyum, Dia tahu jika Laki-laki itu menyukai Ara. Siapa yang tidak bisa menilai Niko memang menyukai Ara. Jika perhatian yang Niko berikan kepada Ara selalu beda dan terkesan mengistimewakan Ara.
"Alhamdulillah ya Pak, proyek kita berhasil."
"Alhamdulillah Fin. Ini semua juga berkat kerja keras kita bersama. Apalagi Ara, ini semua kan ide dia dan gak disangka ternyata atasan kita setuju."
Ara tersenyum malu, diakan hanya menjalankan tugas yang seharusnya ia lakukan pikirnya. "Pak Niko berlebihan, inikan kerja keras kita bersama."
"Tapikan ini memang ide brilian kamu Ra." timpal Fina.
"Iya Ra. Kami berterima kasih sama kamu. Jarang banget lo tim kita maju di proyek besar gini." tambah Niko.
"Alhamdulillah kalo gitu, ini juga berkat kerja keras Pak Niko, Fina dan teman-teman tim lainnya."
Niko tersenyum penuh arti. Ini yang membuat Niko jatuh cinta pada Ara, bukan hanya parasnya yang menawan, Akhlakul Karimah Ara yang membuatnya menjadi tertarik pada wanita. Sekian banyak wanita yang berusaha untuk mendekati Niko, namun kesia-siaan belaka yang didapatkan.
__ADS_1
Niko yang terkenal dingin tapi maskulin, membuat wanita jatuh hati.
Tapi tidak dengan Ara yang sebenarnya bersikap biasa saja pada Niko. Pesona wanita seperti Ara mampu menaklukkan hati seorang Adzriel Niko.