
"Keren banget tau gak Ra kamu tadi." kata Ulfa sembari mereka pulang ke asrama.
"Ah biasa ajalah, kan aku Memang keren dari dulu. hehehe."
"Dasar sombong." menoyor kepala Ara.
"Isshh, Ulfa jangan di toyor kepalaku."
"Hehehe maaf ya." nyengir kuda. "Kamu lihat kan tadi Ra, Pak Rafan senyuman manisnya itulohhhh. Klepek-klepek aku liatnya." lanjut Ulfa.
"Biasa aja kali pake klepek-klepek segala."
"Ye, gak percaya. Gantengnya nambah seribu persen." cicit Ulfa sembari membentangkan tangannya lebar sampai mengenai Ara.
"Ini tangan." menepis tangan Ulfa.
Ulfa masih dengan semangat menceritakan perubahan wajah Rafan saat di gombali Ara. Yang diajak mengobrol hanya tersenyum saja.
*****
Mereka tengah makan siang bersama. Seperti kelompok biasa, Ara, Ulfa dan Siti.
"Alhamdulillah kenyang juga aku." ucap Ulfa.
"Alhamdulillah." sahut Ara dan Siti bersamaan.
"Aduhh mulai nih perut. abis makan kebiasaan deh." Ara memegang perutnya.
"Dihh, dasar jorokk Araaa!!. Udah sana setoran, hus." Ulfa menggerakkan tangan mengusir.
"Iyaa, mau ikut gak. hahaha."
"Iss ogah udah sana."
Mungkin Memang sudah jadi kebiasaan Ara. Sehabis makan siang dia hampir selalu buang air besar.
Tring...
Pesan masuk di HP Ara. Notifikasi muncul di layar HP Ara.
*Pak Rafan
"Kau kenapa ? "
"Kau marah ?"
"Jangan marah."
Isi pesannya. Ulfa tak sengaja melihat kemudian membacanya. Dia mengernyitkan keningnya, siapa ?? pikirnya.
Pak Rafan!. siapa dia. Gumam Ulfa.
Tring..
Pesan masuk lagi. batin Ulfa.
"Sayang balas."
Apaa!!!. Sayang!! Araa!!. Ara pacaran ? Siapa Pak Rafan ini ?. Ulfa masih bertanya tanya.
"Kenapa Fa." tanya Siti melihat wajah Ulfa yang tampak heran.
"Mbak Siti sini deh." Ulfa meminta Siti mendekat.
"Kenapa ?"
"Udahh, mbak sini dulu."
"Kenapa sih Fa ?" Siti mendekat.
"Ini Mbak baca ini."
Siti membaca pesan di HP Ara. Dia kaget dan menutup mulut dengan tangannya.
"Beneran ini Fa ?" Siti menatap Ulfa tak percaya.
"Gak tau mbak, aku juga baru baca ini."
"Wahhh. Ara berani juga dia. tapi setau mbak nih Fa, Ara itu gak mau pacaran deh. Deket sama laki-laki aja nggak ada kayaknya."
"Iya sih mbak. Tapi, mbak ngerasa ada yang aneh gak sih sama Ara."
Siti menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ara sejak pulang dari liburan idul Fitri kemarin dia banyak berubah deh."
"Berubah gimana maksud kamu ?"
"Masak mbak Siti gak ngerasa sih. Ara sekarang suka diem-diem senyum sendiri. Terus HP dia juga gak boleh aku pinjam. biasanya kan aku suka mainin HP dia."
"Iya ya, mbak juga ngerasa kalo yang HP itu."
"Kan mbak siti juga ngerasa, jadi curiga aku." timpal Ulfa.
"Pak Rafan itu siapa mbak ? mbak kenal gak nama Rafan ?" tanya Ulfa.
"Emm, Rafan. Rafan siapa ya. Mbak juga gak kenal kayaknya Fa." Jawab Siti sambil mengingat-ingat nama Rafan.
Tak lama kemudian Ara kembali ke kamar.
"Kalian lagi ngobrolin apa ?" tanyanya membuat Ufa dan Siti kelabakan.
"E, enggak ngobrolin apa-apa Ra." jawab Siti.
"Ra sini." tampang Ulfa sudah tak tahan ingin mendengar penjelasan Ara tentang siapa Rafan itu.
Ara mendekat lalu kaget mendapati HP nya hidup, dan melihat Notifikasi pesan dari Rafan.
Ya Allah lupa lagi matiin datanya. Aduhh jangan-jangan Ulfa sama mbak Siti liat lagi.
Pake manggil sayang lagi. Mampuss aku.
Gerutu Ara.
__ADS_1
"Kenapa Ra, kamu takut ya kalau kami baca pesan kamu ?" tanya Ulfa to the poin.
"A, e itu Fa Mbak Siti aku bisa jelasin semuanya. kalian jangan salah paham dulu ya." Ara panik.
"Sebenarnya mbak gak nyangka kamu gitu Ra. Pantes aja kamu sekarang agak berubah." tambah Siti.
"Maaf mbak, bukannya Ara gak mau cerita. Ara cuma takut."
"Kenapa kamu gak cerita sama aku Ra ?, akukan sahabat kamu." sahut Ulfa.
"Maaf." Ara menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Woii Ulfa, kalian pada ngomongin apa sih ? serius banget." Seru Mutia yang tengah mengerjakan tugas sepertinya.
"Dihh, kepo amatt."
"Aelah, nanya doang kali." Mutia kesal dan memilih melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu harus ceritain ke kita Ra."
Siti menganggukkan kepala tanda setuju dengan perkataan Ulfa.
"Iya aku bakal ceritain, tapi jangan disini ya." Pinta Ara.
"Okee, nanti malam kita tunggu. Ya kan mbak ?" Ulfa meminta persetujuan Siti.
"Iya." jawab Siti.
*****
Siti, Ara dan Ulfa sudah berada di tempat yang aman untuk bercerita.
"Ayo Ra cepet ceritanya." desak Ulfa.
"Iya bentar." Ara menarik nafas dalam-dalam.
"Tapi kalian harus janji gak bakal cerita sama siapapun itu tentang cerita aku ini." pinta Ara.
"Okee kami siap." Siti mengangguk setuju.
"Jadi sebenernya aku itu udah,, aku udahh.." Ara tampak gugup menjelaskan.
"Udah apa Ra cepetan dong." sergah Ulfa.
"Aku udah nikah." jawabnya cepat.
"Apaa!!!!!! Nikahhh" teriak Ulfa dan Siti bersamaan.
"Ssttt, jangan kuat-kuat dong." Ara menutup mulut kedua orang didepannya dengan tangannya.
"Kamu nikah Ra ?, beneran nikah, sah gituu?!"
"Iya."
"sama Pak Rafan itu" tanya Siti.
Ara menganggukkan kepalanya.
"Ya Allah Araa! kok bisa."
"Kenapa kamu gak cerita dari awal sama kami."
"Aku takut Fa. takut kalau aku cerita kalian gak mau lagi temenan sama aku. Karena Aku juga tau kalau kamu suka sama Pak Rafan." Ara tanpa sadar malah memercik Api untuk menyala.
" apa pak Rafan, aku suka!!" Ulfa tambah penasaran. "Tunggu tunggu dulu. aku gak kenal pak Rafan Ra. aku suka dati mananya coba ??"
Ara menutup mulutnya keceplosan.
Duhhh mati akuuu.
"Apaa!!! Ara beneran ini kamu nikah sama pak Rafan." Sahut Siti tak kalah heboh.
Ara mengangguk lemas, tak ada cara lagi menghindar.
"Tunggu, mbak Siti kenal sama yang namanya Rafan." Sergah Ulfa.
"Ulfa, Pak Rafan itu Bapak ganteng kamu. Pak Ghifari." jawab Siti dengan berapi-api.
"A, apa !" Ulfa melongo kedua matanya membulat sempurna. "Gak gak mungkin, mbak pasti boong kan." Ulfa menggeleng-gelengkan kepala seolah tak mau percaya.
Ara semakin merasa bersalah dengan sahabatnya itu.
"Ulfa, kamu tau gak nama lengkap Pak Ghifari siapa." tanya Siti.
"Pak Ghifari nama lengkapnya. Rafan Ghifari Abdullah." Dia kaget sendiri dengan kata pertama yang diucapkannya.
"Gak mungkin mbak." Dia masih syok.
"Ra serius, bilang ini gak mungkin." Ulfa beralih ke Ara.
"Maaf Fa." Ara menjawab sambil sesenggukan. Dia menangis.
"Ara kenapa nangis." tanya Siti.
"Huaaa." tangisnya makin kencang. Ulfa dan Siti bingung lalu memeluk Ara.
"Maafin aku. maafin aku gak cerita sama kalian. Maafin aku fa udah nyakitin kamu. A, aku juga gak tau kalau yang dijodohin sama aku itu pak Ghifari. aku benar-benar gak tau, hiks hiks."
"Udah jangan nangis Ra." Siti menepuk pelan punggung Ara menenangkan.
Mereka melepaskan pelukannya.
"Maafin aku Fa." Menggenggam erat jemari Sahabatnya.
"Aku gak papa Ra. jangan minta maaf terus. tadi aku hanya kaget." jelas Ulfa.
"Tapi kamu bencikan sama aku. hikss, aku gak mau kamu benci akuu Faaa" semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Sstt, udah jangan nangis. emang siapa yang mau benci kamu Ra. Nih dengerin ya aku gak bakal benci sama kamu. Aku malah yang mau minta maaf. pasti selama ini kamu sakit hatikan aku sering bilang i love you sama Pak Ghifari. Aku juga sering curhat sama kamu tentang pak Ghifari. Aku seharusnya yang minta maaf." cicit Ulfa.
" Udahh kalian minta maaf nya nanti aja. lanjutin dulu ceritanya Ara, nanggung nih." Siti menengahi.
"Yahh, mbak Siti gak seru dehh. padahal lagi dramatis ini tadi. hahaha." Ulfa menyahut.
__ADS_1
Ara tersenyum, ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan.
"Jadi kalian beneran nih Ra ?" tanya Ulfa lagi.
"Iya Fa."
"Wahhh, pupusss sudah harapanku mendapatkan pak ganteng ku, huaaa pengen nangis." Ulfa pura-pura merengek dan memasang wajah sedih.
"Maaf Fa." Ara merasa bersalah.
"Udah santai aja kali."
"Pantesan ya Fa yang kamu bilang, Ara berubah gara-gara udah nikah dia, hihihi." timpal Siti.
"Berubah ? aku ?. maksudnya berubah gimana ?."
"Iya kamu tu berubah tau, sejak pulang dari libur. suka senyum-senyum sendiri. HP mu gak boleh lagi aku pinjam. Dari itu aku kulai curiga sama kamu." jawab Ulfa.
"Ternyata eh ternyata, udah punya suami toh. lucu yaa hihihi." Siti terkekeh geli.
Dan Ara di buat malu olehnya.
"Oke jadi gini aja deh Ra. aku sebenarnya ikhlasin aja calon suamiku kawin sama kamu." tutur Ulfa.
"Ihh kawin apaan sih Fa. hahaha." Ara geli mendengarnya.
"Nah kan gitu enak, aku gak suka liat kamu nangis. baru kali ini loh aku liat kamu nangis."
Ara dan Siti tersenyum dengan ucapan Ulfa.
"Aku dukung kamu sama pak ganteng. Dan aku gak benci sama kamu. Yaa, sebenarnya kalian cocok sih, kamu cantik pinter, pak Ghifari juga gitu, ganteng pinter lagi. Kamunya cerewet pak Ghifari kek es kutub di formalin. Dahh keluarga bahagia itu. hahaha." Ulfa tertawa terbahak-bahak tak sanggup membayangkan Ara dan Rafan berkomunikasi seperti apa, pastilah seru pikirnya.
"Makasih Fa, sayang deh sama kamu." Ara terharu dengan dukungan sahabatnya, lalu memeluk Ulfa erat.
"Ehemm, cuma Ulfa yang dipeluk mbak enggak."
"Aaa, sayang mbak Siti jugaaa." Ara memeluk sahabat terbaiknya di pesantren.
Mereka berpelukan bersama. Ara merasa lega dengan sikap sahabatnya yang mau mengerti keadaannya.
"Eitss, tapi tunggu dulu ya." Kata Ulfa sambil melepaskan pelukannya.
"Apa lagi fa ?" tanya Siti.
"bentar Mbak, Ara harus janji dulu sama kita harus bikinin ponakan yang imut-imut dan banyak !"
Blussh.
Wajah Ara seketika merona.
Bikin ponakan gimana. Orang aku di cium aja udah melayang-layang. batin Ara.
"Iya betul juga kamu Fa." sahut Siti.
Ara hanya diam sambil tersenyum malu.
"Gimana Ra udah siapkannn?" goda Ulfa.
"Apaan sih Fa, udah ah malu aku. ngapa-ngapain aja belum, baru ciuman doang."
Astaghfirullah ini mulut lemessnyaaa!!
Ara membekap mulutnya sendiri.
"Apaa!! jadi belum ngapa-ngapain ?" seru Ulfa dan Siti bersamaan.
Yang ditanya mengangguk malu.
"Astaghfirullah Araa." Ulfa menepuk keningnya. "Tau gitu aku aja yang nikah sama pak ganteng, masa orang ganteng di sia siain Ra."
Ara masih tersenyum malu-malu.
"Nah bener itu itu kata Ulfa." tambah Siti.
"Aku kalau jadi istrinya pak ganteng, behhhh bakal tak tempelin aja tubuhku kedia pake lemm. biar lengketttt." cicit Ulfa.
"Dihh apaan sih Fa."Ara memukul pelan lengan Ulfa.
"Dihhh beneran, emang kamu. tau rejeki nomplok di sia-siakan." ledek Ulfa.
"Udah udah, kalian malah ribut lagi kan." Siti menengahi.
"Lagian mbak si Ara berlian didepan mata dianggurin." ledek Ulfa.
"Udah Fa, kali aja kan Ara belum siap." sahut Siti.
"Ngomong ngomong gimana rasanya di cium pak ganteng Ra ?"
Wajah Ara semakin memerah mendengarnya.
"Wah si Ara udah bisa ciuman ya. ciee cieee." Ulfa menggoda lagi.
Ara makin tersipu malu.
******
Malam itu mereka masih bercengkrama bersama. Ara tak lagi merasa ketakutan, bayangan kemarahan Ulfa yang dulu berenang dikepalanya, kini hilang.
Tak seburuk yang di duga pikirnya.
Ara sudah berbaring di sebelah Ulfa. Senyumannya masih setia menghias bibir mungilnya. Ingatannya kembali ke ucapan Ulfa tentang membuat anak. Dia malu sendiri mengingatnya.
Astaghfirullah, ya Allah lupa chat Pak Rafan belum ku balas dari siang tadi.
Nah kan Ara lupa bales chat. Marah gak tuh suami?🤭
Haii author up lagi nih.
Gak kurang panjang kan ?🤭
Jangan lupa tinggalin jejak deh.
like, komen favorit juga deh biar komplit.😁
__ADS_1
Salang sayang 🤗🤗.