
Setelah tidak menemukan keberadaan Ara Rafan pun kembali pada Hana dan Rafka. Mereka pun akhirnya pulang dan tidak jadi makan. Selama perjalanan pulang pun Rafan tampak diam saja dan tidak menggubris Hana yang terus mengoceh.
"Mas maafin aku ya, Aku sadar sudah teledor menjaga Rafka Aku janji mas aku nggak bakal ngulangin lagi".
Rafan masih tak bergeming dan tetap fokus menyetir.
"Mas kamu dengerin aku nggak sih ! aku lagi ngomong sama kamu. Kamu lagi mikirin apa sih ! Oh atau jangan-jangan kamu lagi mikirin wanita itu ya ! kamu pasti lagi mikirin mantan istri kamu itu kan ! mantan istri yang sudah berselingkuh dari kamu mantan istri yang tidak bisa kasih kamu anak dan akhirnya dia berselingkuh di belakang kamu !" ucap Hana kesal.
"Cukup Hana jangan kamu hina Ara ! dan diamlah aku sedang fokus menyetir Aku sedang tidak mau ribut denganmu, Rafka tidur jangan gara-gara keributan mu dia terbangun."
"Biar saja Rafka bangun ! biar dia tau kalau papanya ini sudah membuat ibunya sakit hati. Biar sekalian juga dia tahu kebusukan Kakak cantik yang sudah menolongnya."
"Cukup Hana aku bilang cukup. Aku bilang diam ya diam !"
"Kenapa mas kenapa kamu suruh aku diam ?apa jangan-jangan kamu masih ada rasa sama mantan istri kamu itu ? jawab mas kamu jangan macam-macam kita sudah punya anak. Dan aku nggak mau kebahagiaan kita hancur cuman gara-gara wanita wanita mandul itu."
"Cukup Hana cukup ! aku bilang cukup jangan lagi kamu hina Ara. Dan ingat ini aku tidak pernah merasa bahagia hidup denganmu ! Aku merasa bahagia hanya karena Rafka dan bukan karena mu !"
Deg
Hana pun terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil. Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa ditahannya.
Sakit ! pasti itulah yang dirasakan oleh Hana. Bagaimana bisa suaminya yang sangat ia cintai
berbicara seperti itu.
Pertengkaran mereka pun terhenti sampai di sana. Hana yang masih terus menangis dan Rafan yang masih fokus menyetir mobilnya
Rafan melirik Hana, ada rasa bersalah karena membuat Hana menangis.
"Sudahlah jangan menangis kita bicarakan lagi dirumah." Rafan melajukan mobilnya kembali menuju rumah.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan Ara, dia sudah menyiapkan berbagai macam makanan untuk menyambut kedatangan Sarah kakaknya.
kedatangan Sarah pun disambut dengan baik oleh Ara dan mereka pun banyak berbincang-bincang. Ara tidak mau menunjukkan kesedihannya kepada Sarah dia tidak mau membebani pikiran Sarah dengan masalahnya.
"Ara kamu gimana udah nemu penggantinya belum ?"
"Apaan sih Kakak ini, pengganti apa coba ?"
"Itu maksudnya pengganti mantan suami kamu. Masa udah 3 tahun gini kamu belum bisa move on, ayo dong move on cari pengganti yang baru. Nggak baik tahu kalau misalnya kamu terus-terusan terperangkap sama masa lalu dan kamu juga harus bisa memikirkan masa depan yaitu dengan cara mencari pengganti mantan suami kamu yang sok itu !"
"Kakak nggak boleh gitu ngomongnya."
"Tuh kan kamu pasti masih belum bisa move on, buktinya masih dibelain. Apa sih kelebihannya mantan kamu itu, ganteng sih iya tapi cuma dikit ya ! cuma buat apa ganteng Kalau cuma nyakitin aja."
Ara terkekeh kecil mendengar Sarah yang memuji ketampanan mantan suaminya.
"Ayo dong Ra move on ! Oh atau Kakak cariin kamu pacar ? kebetulan banyak nih temen-temen kakak yang lumayan ganteng terus mereka udah mapan dan kayaknya sih penyayang keluarga. Nanti deh kamu kenalin kamu ke temen-temen Kakak ya kalau nggak temen, pasti mereka ada adik. Pokoknya kamu harus bisa move on dari mantan suami kamu itu."
"Kakak gak usah repot-repot dan aneh-aneh ya. Aku bisa cari sendiri nanti, hanya saja sekarang belum nemu."
Ara menghembuskan nafasnya kasar pikirannya terbayang kembali akan kejadian beberapa hari yang lalu.
Andai kakak tahu aku sebenarnya hampir bisa move on dari Mas Rafan tapi karena pertemuan kemarin rasa itu kembali lagi. Aku masih rindu dengannya kalau aku bilang kakak pasti Kakak akan marah lebih baik aku diam saja.
"Ra ! kamu kenapa kok malah ngelamun, atau jangan-jangan kamu udah ada ya ? Hayo kamu udah ada penggantinya kan ? Ayo jangan bohong kasih tahu kakak dong cerita siapa dia ganteng nggak ? sudah mapankah, masih bujang atau duda ?" cecar Sarah sambil menggoda Ara.
"Ih apaan sih Kak ! nggak ada ya aku belum ada pacar, gak ada bujang ataupun duda pokoknya gak ada."
"Lah terus kamu maunya apa, Kakek-kakek gitu ? Iss amit-amit ya Ra, jangan sampai kamu mau sama kakek-kakek." Sarah merinding geli seraya mengelus pundaknya sendiri.
Ara memukul pelan sarah "Iss Kakak nyebelin deh !
"Tuh kan kamu apa Kakak bilang yang kamu pasti belum bisa move on kan ayo jujur ?"
__ADS_1
" Kak aku udah move on dari mantan suami aku, tapi aku butuh waktu untuk bisa membuka hati aku lagi untuk laki-laki."
" waktu apalagi sih Ra, ini udah 3 tahun. Kamu sendiri masak nggak bisa buka hati untuk laki-laki lain gitu seneng sama seseorang atau gimana."
"Aku takutkan Kak ! aku takut kalau misalnya aku deket sama laki-laki dan hubungan kami serius dan misalkan dia tahu kalau ternyata aku ini mandul pasti semuanya akan berakhir seperti hubungan ku dengan Mas Rafan. Laki-laki mana yang mau menikah dengan wanita mandul seperti aku, mereka menikah bukankah itu tuk mencari keturunan. Lalu apa gunanya mereka menikah dengan wanita mandul bukankah itu sama saja bohong." Ara menghembuskan lagi makanya dengan kasar air matanya sudah mengalir tanpa sadar.
Sarah yang tidak tega dengan adiknya itu pun memeluknya erat, "Sabar Ra, kamu pasti bisa sembuh. Kakak yakin pasti akan ada laki-laki yang bisa menerima kekurangan kamu." Sarah memegang erat bahu Ara. "Bukannya itu hanya penyakit mandul Ra dan bukankah dokter pernah bilang bahwa penyakit itu bisa diangkat dari rahim kamu. Besok kita periksa ke dokter ya ?"
"Bukannya aku nggak berani Kak. Aku takut semuanya nanti tidak sesuai dengan apa yang aku bayangkan."
"Kamu nggak boleh ngomong gitu, kamu harus yakin sama kakak kita harus berdoa bersama-sama supaya kamu segera sembuh, kakak yakin kamu bisa dan besok kita harus ke dokter oke."
"Iya kak besok . Tapi mungkin agak sore kan aku kerja."
"Ya udah deh terserah kamu yang penting besok kita periksa ke dokter oke."
Ara pun mengangguk dan kembali memeluk Sarah
"Makasih ya kamu udah ngertiin aku Kak, udah berusaha membantu aku dan mau semangat in aku terima kasih banyak."
Sesuai dengan rencana Sarah seusai Ara pulang dari kantor mereka pun segera berangkat ke rumah sakit untuk mengecek keadaan dan kesehatan Ara.
Tidak menunggu lama mereka pun dipersilahkan untuk menunggu hasil tes yang dilakukan oleh dokter dan beberapa saat kemudian seorang dokter seorang suster menghampiri arah dan suara.
"Maaf dengan ibu Ara ?"
"Iya benar, ada apa suster ?"
"Silahkan masuk ke ruangan ibu rena bu, karena hasil tes anda sudah keluar."
"terima kasih suster." Mereka pun memasuki ruangan dokter Rena
Ara sudah berkeringat dingin dan meremas tangan kakaknya di bawah meja.
__ADS_1
"Dengan ini hasil tes mengenai kesehatan rahim ibu dan setelah saya periksa ternyata...