
Memiliki sifat ramah dan mudah bergaul, membuat Ara cepat beradaptasi dengan lingkungan kerja barunya. Hari libur tiba, Ara banyak menghabiskan waktu di rumah yang di belinya dengan uang hasil bekerja di Semarang saat pindah ke Bandung. Rumah sederhana dengan tembok berwarna putih, nuansanya yang damai dan memiliki tetangga yang baik seakan bonus bagi Ara.
"Ah, sudah siang ternyata." Ara bangkit dengan malas dari ranjangnya, meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri melemaskan otot. "Bukankah ini hari libur ? Ya ini hari libur, waktunya untuk malas." Ara tersenyum lebar dan seketika menjatuhkan kembali tubuhnya di atas ranjang.
"Ah, ranjang yang empuk sekali." memeluk erat guling berwarna biru langit dengan gambar burung-burung putih. Pelan dengan pasti Ara akan memejamkan matanya, namun gagal karena dering telepon genggamnya berbunyi.
"Halo Assalamualaikum..."
"Oh jadi mau main kesini, oke."
Sepersekian detik kemudian Ara bergerak cepat merapikan tempat tidurnya.
"Padahal hari ini aku sudah berencana untuk bermalas-malasan, Kenapa Kakak mengabarinya tiba-tiba sih !"
Rupanya Sarah yang menelpon dan mengabarkan akan datang mengunjungi Ara. Dengan sedikit terpaksa Ara menyeret kakinya keluar kamar.
"Hufh, untung saja semuanya masih rapi." Setelah memastikan keadaan dalam rumahnya rapi, Ara melanjutkan pergi ke dapur.
"Hem, persediaan makananku habis. "Argh," Ara mendongakkan kepalanya menatap langit-langit dapur dan mengomel "Kakak kenapa datang hari ini sih ! aku ingin bermalas-malasan, aku tidak ingin kemana-mana! Aku hanya ingin tidur, tidur, tidur dan tidurrrr !"
Bruk
Suara pintu kulkas yang ditutup keras Ara dengan kesal. "Argh ! argh ! argh !" itulah Ara jika dalam mode kesal, teriak sekenanya. Toh dia hanya tinggal sendiri, jadi teriakannya tidak menggangu orang lain, begitulah kira-kira pikirnya.
Tidak butuh waktu lama Ara sudah duduk manis di mobilnya, dengan kecepatan sedang mobil Ara melesat pergi untuk membeli bahan baku untuk memasak.
Sesampainya di pusat perbelanjaan Ara bergegas mencari yang dibutuhkannya.
"Em, apalagi yang kurang ya ? Daging sudah, ini, ini sudah semua. Sip sudah semua."
Setelah membayarkan belanjaan Ara pindah ke tempat mainan, walaupun sedikit kesal dengan Kakaknya yang tiba-tiba datang, Ia tak lupa pada Keponakan tersayangnya Fariz.
Saat sedang memilih mainan Ara mendengar suara tangis anak kecil. Ara mencari sumber suara dan menemukan anak kecil tengah menangis memeluk mobil mainannya tanpa ada orang dewasa di sampingnya.
__ADS_1
Ara celingukan mencari orang tua anak itu, tapi dia tidak melihat ada orang tua yang panik seperti kehilangan anaknya. Sejenak Ara menatap anak kecil itu dari kepala sampai kaki, semua yang dikenakannya pakaian mahal semua.
Sepertinya anak orang kaya ini tersesat.
"Hai adik kecil," Ara mendekat dan jongkok di depan anak laki-laki yang menangis itu. Anak kecil itu terlihat takut dan malah menangis lebih kencang, sehingga membuat Ara panik.
Aduh kenapa makin keras nangisnya
"Ssstt, adik kecil jangan nangis ya, Kakak bukan orang jahat oke. Jangan nangis ya."
Setelah bujuk rayunya berhasil Ara tersenyum, di usapnya Kepala anak itu.
"Udah ya jangan nangis," anak kecil itu terlihat tenang dan menatap Ara. "Kamu ngapain disini, Mama kamu mana ?" tanya Ara. Anak kecil itu hanya menggelengkan kepalanya, tanda tidak tahu.
Ara kembali tersenyum kecil dan kembali bertanya " Nama kamu siapa ?"
"Rafka, hiks."
Rafka masih tampak ragu, namun setelah melihat senyum Ara, Rafka seolah merasa aman dan mengangguk mantap.
Ara tersenyum, lalu menggendong Rafka dan pergi menuju tempat dimana Rafka bisa menemukan orang tuanya.
"Kakak siapa ?" tanya Rafka.
"Em, Kakak orang, hihihi." canda Ara.
Rafka yang seolah mengerti dengan candaan Ara sedikit kesal. "Bukan itu, maksudnya nama Kakak siapa ?" tegas Rafka.
Pintar juga anak ini
"Oh, nama Kakak Ara, Rafka bisa panggil Kak Ara."
"Oh, Kak Ara." Rafka mengangguk paham.
__ADS_1
"Jadi Rafka Kenapa tadi nangis di sana ? Mama Rafka kemana ?" tanya Ara. Rafka hanya menggelengkan kepalanya lagi. "Ya sudah, nanti kakak bantu cari mamanya Rafka ya ?" Lagi-lagi Rafka hanya mengangguk setuju.
Mereka melanjutkan perjalanan dan tiba-tiba Rafka menghentikan langkah Ara.
"Rafka kenapa ? Rafka lihat Mama Rafka ? Mana ?" tanya Ara.
Rafka menggeleng, lalu menunjuk ke tempat jualan makanan. "Rafka lapar Kak,"
"Rafka lapar ? Mau makan ?" tanya Ara memastikan dan di balas anggukan kecil Rafka. Tak banyak bicara mereka menuju gerai makanan dan memesannya.
Rafka makan dengan lahap dan begitu rapi makanan yang disajikan.
Anak orang kaya beda ya kalau makan, rapi banget. Tapi ini kayak orang kelaparan gini makannya. batin Ara
" Pelan-pelan Rafka, nanti tersedak,"
Rafka hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Ara memperhatikan wajah Rafka, seperti tidak asing lagi.
Ah, kenapa wajahnya mirip sekali dengan Mas Rafan ya bentuk bibirnya, hidung dan bola matanya mirip? Apa jangan-jangan dia anak mas Rafan ?
Ara menggelengkan kepalanya mengusir pikiran anehnya.
Heh, kenapa aku masih mengingatnya sih. Dia hanya masa laluku. Tidak boleh di ingat lagi.
Ara melanjutkan makannya juga, dia belum sempat sarapan dulu sebelum pergi.
Hai semuanya ๐ค Author update terbaru nih. Maaf ya jedanya lama banget ๐
Author juga berterimakasih banyak sama reader yang masih setia nungguin author up๐
Insyaallah author bakal usahain untuk terus update episode terbaru.
Jangan lupa untuk like, komen dan favoritnya ya, biar gak ketinggalan update terbaru author ๐ค
__ADS_1