Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Jalan-Jalan


__ADS_3

Hari pernikahan Rafan dan Ara sudah selesai. Keluarga Rafan sudah kembali ke rumahnya masing-masing.


Fadil dan Laras pun kembali ke Bandung. Mereka ingin mengajak Rafan dan Ara, tapi Ara menolak. Ara ingin lebih lama di rumah sebelum kembali ke pesantren dengan Rafan.


Sore itu pukul 15:05 Ara sudah berpakaian rapi dan wangi.


“Mbak mau kemana kok rapi banget ?” tanya Nisa.


“Mau ke Alfamart bu, mau jajan. hehehe.”


“Sama siapa ?” Tanya Nisa lagi.


“Sendirian.” jawab Ara.


“Kok sendirian ! kamukan udah punya suami, kenapa gak minta anterin suami kamu. Lagian gak baik loh cewek jalan sendirian ke Alfa. Mana udah mau sore ini.”


“Kan biasanya Ara sendiri bu ke Alfa. Sebelum nikah juga gitu.”


“Tapikan sekarang udah nikah, udah ada yang jagain kamu.”


“Ya udah deh aku ajak Pak Rafan.”


Ara kembali ke kamarnya dan mendapati Rafan sedang tiduran santai.


“Pak anterin aku ke Alfamart yuk. disuruh ibu.”


“Iya, tunggu bentar aku ganti baju.”


mereka pun berangkat ke alfamart bareng.


Tidak ada obrolan, mereka hanya saling diam. Ara menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, dan Rafan masih fokus ke jalan.


“Masih jauh gak alfanya.” tanya Rafan.


“Gak kok pak denget lagi.”


Rafan hanya menganggukkan kepala.


Mereka sudah sampai di Alfa. Ara sudah turun begitupun dengan Rafan.


Rafan melangkah masuk ke dalam dan menyadari Ara tak mengikutinya.


Tuh anak ngapain coba malah disitu bukannya masuk. Gumam Rafan dalam hati


Ara sedang berdiri di dekat motor. Memandang indahnya awan yang mulai berwarna orange itu.


“Kamu liatin apa sih Ra.” tanya Rafan.


Ara tersadar “Oh, itu pak liat langitnya bagus banget. Pasti indah banget deh kalau liat dari danau.” ucap Ara dengan mata berbinar.


“Danau.” ujar Rafan.


“Iya pak disini tu kawasan wisata Danau Ranau, bagus banget deh pak. jadi pengen kesitu deh.”


“Kamu mau kesana?”


“Emang Bapak mau.” tanya Ara balik dengan raut wajah berbinar.


“Ya kalau kamu mau, kita berangkat.”


“Yeahh aku mau, yuk berangkat pak.” Ara berloncat kecil girang.


Rafan menggeleng pelan melihat kelakuan Ara.


Dasar Bocil


Mereka melajukan motor pergi ke danau yang dibut Ara.


“Kamu kok kayak seneng banget pergi ke danau.” tanya Rafan.


“Aku tu suka banget kalau main di danau. tapi kadang gak boleh sama ayah kalau mau main ke danau. Soalnya kalau mau main kadang gak ada yang anter. Terus kalau mau main sama temen, ayah gak ngebolehin. Bukan mahram katanya.” jelas Ara.


Rafan hanya ber oh ria, dan fokus kembali untuk menyetir. Rafan tau Ara tidak memiliki teman perempuan. Karena teman-teman Ara kebanyakan sudah menikah dan ada yang merantau.


Mereka sudah sampai di jalan pinggiran


danau.


“Ternyata beneran bagus.” Gumam Rafan.


“Wah nambah bagus aja ni danau.” cicit Ara.


“Mau parkir dimana kita ?” tanya Rafan.


“Maju terus pak, nah nanti di sana ada warung bakso. itu tuu yang warna biru.” tunjuk Ara.


Rafan mengikuti petunjuk Ara.


“Assalamualaikum, Mang Kamal.” ucap Ara.


“Waalaikumsalam, eh ada Ara. Sini Ra.” sambut yang di panggil mang Kamal itu.

__ADS_1


Ara pun duduk di tempat yang ditunjuk mang Kamal dan Rafan mengikutinya duduk.


“Udah lama ya Ara gak main ke tempat mamang.” tanya Kamal.


“hehehe. iya nih mang.kadang mau main gak di bolehin ayah.” jelas Ara.


“Ayah kamu emang gitu orangnya.” Kamal tertawa. “ Eh kamu sama siapa itu , pacar kamu ya Ra.”tanya Mang Kamal.


“Oh ini suami aku mang, kenalin ini Pak Rafan. Pak kenalin ini mang Kamal.”


Rafan dan mang Kamal berjabat tangan.


“Rafan mang.”


“Saya Kamal, panggil aja mang Kamal.”


Rafan hanya mengangguk dan tersenyum.


“Suami kamu ganteng banget ya Ra.” ucap Kamal. Ara hanya tersenyum canggung mendengarnya.


“Mang aku pesen bakso dua ya.” seru Ara.


“Kok banyak banget,” tanya Rafan heran.


“Lah emang bapak gak mau makan bakso.”


“Enggak saya gak suka bakso.”


“Yah padahal baksonya mang Kamal enak banget loh.” tutur Ara.


“Kamu aja yang makan, saya masih kenyang.” jawab Rafan.


“Ya udah deh. mang Kamal baksonya satu aja ya.” seru Ara.


“Oke, tunggu ya.”


Tak lama bakso Ara pun datang. Ara menuangkan kecap, saus dan sambal yang cukup banyak di baksonya, lalu mengaduknya.


“ Itu gak kebanyakan sambalnya ?” tanya Rafan.


“Ini Cuma dikit kok pak.”


Dikit dari mana, itu tadi tiga sendok. dia bilang sedikit. Rafan hanya menggelengkan kepala.


“Bapak mau.” tawar Ara.


“Gak kamu makan aja.”


“Ya udah kalo gak mau.”


Ara tau kalau Rafan sebenarnya lapar. Karena tadi siang rafan tidak makan. Dia hanya mengemil jajanan sisa dari acara pernikahan mereka.


Ara berinisiatif mengambil garpu baru dan menusuk potongan bakso kecil lalu mengarahkan ke depan mulut Rafan.


Rafan melirik tangan Ara yang di depan wajahnya.


“Mau ngapain kamu ?”


“Nyuapin bapaklah. Aaaa.” Ara memajukan lagi garpunya.


“Kamu aja yang makan saya gak lapar.” tolak Rafan.


“ Bapak gak usah boong, tadi siangkan bapak gak makan. dikit aja ya. Yaa.” ucap Ara dengan mata berbinar penuh harap.


Kok jadi gemes sih. batin Rafan melihat manik mata Ara.


“Ya ya pak, ini baksonya enak loh. Kapan lagi coba makan disini. ya ya pak ya.” Ara mengedipkan matanya cepat dengan tatapan yang memohon itu.


Rafan mengusap kasar wajahnya. Tidak tahan melihat kegemasan di depannya ini.


Astagfirullah, ternyata imut sekali dia. Batin Rafan.


Rafan membuka mulut dan mulai mengunyah bakso yang diberi Ara.


Hemm, gak terlalu buruk rasanya.


“Gimana pak enakkan baksonya ?” tanya Ara.


“Lumayan.”


“Ihh, gini kok dibilang lumayan, ini mah enak banget.” Ara mencebikkan bibir kesal.


“Iya, ya. “ Rafan berusaha mengalah.


“Ya udah kalo gitu bapak pesan satu ya baksony.”


“Iya.”


Ara memanggil mang Kamal.


“Mang baksonya satu lagi ya.” seru Ara.

__ADS_1


“Okee tunggu.”


Rafan makan baksonya dengan lahap, sesekali melirik Ara yang juga makan.


Dihhh katanya gak lapar. Itu makan lahap banget. ketauan boongnya. Batin Ara.


mereka saling lirik dan tatapan mereka bertemu. Rafan buru-buru mengalihkan pandangannya merasa gugup.


Ya Allah kok aku deg-degan sih di tatap gitu. Batin Mereka.


Setelah selesai makan, mereka berpamitan dengan mang Kamal.


“Mang Kamal itu siapa kamu ?” tanya Rafan saat mereka di parkiran.


“Mang Kamal itu langganan aku beli bakso kalau aku main ke sini.” jawab Ara.


“Ohh gitu.”


“Iya.” jawab Ara. “Kita mau pulang nih pak ?”


“Emangnya mau kemana lagi ?”


“Kita jalan-jalan aja dulu yuk.” ajak Ara.


“Ya udah ayo.” Rafan menjalankan motornya.


Mereka berkeliling danau. Ara dengan semangatnya memandu dan menceritakan segala sesuatu tempat wisata yang ada di sekitar danau, muulai dari pantai pelangi, pantai bidadari, taman pelangi, dan lainnya.


Mereka mengobrol sepanjang jalan dan sesekali Rafan tertawa dengan candaan yang dibuat Ara yang tak masuk akal itu.


“Bapak tau itu rumah siapa ?” Tanya Ara menunjuk rumah dengan cat berwarna biru muda.


“Nggak tau.” jawab Rafan. “ Emang punya siapa ?” lanjutnya.


“Itu rumah aku.” ucap Ara dengan bangganya.


Citt, brukkk.


Rafan mengerem motornya mengejut mendengar ucapan Ara. tubuh Ara menabrak punggung Rafan.


“Ihh bapak kok main ngerem aja sih. bikin takut tau gak ! ” Ara memukul perlan punggung Rafan.


“Maaf tadi saya kaget kalau kamu bilang rumah biru itu tadi rumah kamu.”


“Emang kenapa kalau itu rumah aku.” tanya Ara antusias.


“Ya, kenapa gak tinggal disini aja. itukan rumah kamu, kan kalau tinggal disini gak usah ijin lagi sama ayahmu kalau mau main ke danau.” jelas Rafan.


“Hahahaha. Bapak lucu juga ya ternyata.”Ara tertawa sambil memukul pelan punggung Rafan.


“Kok ketawa sih. benerkan yang saya bilang.” tutur rafan dengan wajah sedikit kesal ditertawakan Ara.


“Hahaha,” Ara masih belum menghentikan tawanya ditambah melihat wajah kesal Rafan yang menurutnya sangat lucu.


“Gini loh pak rumah itu ya emang rumah aku. kata yang punya rumah. hahahaha.”


Rafan hanya melongo dan meresapi kata-kata Ara.


“lah iya yang punya rumah kan kamu. jadi emang punya kamu kan.” ucap Rafan.


“Hahaha bapak gak maksud nih omongan saya. Iya rumah itu punya aku kata yangg punya, dan sayangnya bukan aku yang punya rumah itu. hahahahha.” Ara melanjutkan lagi tawanya.


Rafan hanya diam dan melongo seolah memahami kata-kata Ara.


“Dasar aneh.” ujar Rafan dengan wajah kesal itu.


Ara masih tertawa lepas melihat wajah kesal Rafan yang sudah berhasil ia bohongi.


Rafan menghidupkan motor dan mulai berjalan lagi. Ia tidak memperdulikan Ara yang masih mentertawakannya dibelakang.


Rafan sebenarnya kesal tapi dia menyunggingkan senyum mengingat kelakuan jahil Ara. Bagaimana bisa dia sebodoh iu di bohongi istrinya itu.


Dasar bodoh kenapa aku tidak paham dengan ucapannya. Batin Rafan.


Tapi kenapa aku senang sekali melihat dia tertawa sepuas itu. Menggemaskan sekali.


Rafan melajukan motornya pelan sembari tersenyum membayangkan tawa Ara yang memenuhi pikirannya itu. Dia tidak menyadari Ara yang memanggilnya dari tadi.


“Pak” panggil Ara. “Pak Rafan.” Ara menepuk pelan lengan Rafan.


“Eh iya kenapa Ra.” ujarnya sedikit terkejut.


“bapak mikirin apasih dipanggil dari tadi gak denger. Ujan nih.” sungut Ara.


“Eh iya ujan.”


“Astagafirullah jadi bapak gak kerasa ujan. padahal ini agak deras loh.” Ara menengadahkan tangannya ke atas. “ Nih basah tanganku.Bapak mikirin apa sampe ujan gak kerasa ?” tanya Ara sambil menunjukkan tangannya yang basah terkena hujan.


Arrrghhh, aku gini karena mikirin kamu dari tadi. Batin Rafan.


Cieee yang mulai uwuuuu.🤭

__ADS_1


Bab per UWUan kita mulai ya.


Jangan lupa tinggalin jejak.🤗


__ADS_2