
Rafan melajukan mobilnya dengan cepat. Menerobos kendaraan yang lain. Tak jarang umpatan dari pengendara lain dilontarkan untuk Rafan. Tak mau ambil pusing, Rafan terus tancap gas, dan akhirnya sampai di rumahnya.
"Aden sudah pulang." ucap Bi Inah. Setelah menyadari ada yang berbeda dari biasanya. Raut wajah yang tampak kesal, dan penampilan yang berantakan, Bi Inah mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.
"Ikut saya ke atas Bi," titah Rafan.
Tanpa banyak tanya, Bi Inah mengikuti langkah Rafan naik ke lantai atas.
Sampai di kamar Rafan mengeluarkan koper pakaian milik Ara, menyerahkan pada Bi Inah.
"Masukkan semua pakaian Ara ! pastikan tidak ada yang tertinggal."
Bi Inah dengan cepat melaksanakan perintah Rafan. Meskipun hatinya bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan majikannya ini.
"Sudah den." Bi Inah menyerahkan koper yang sudah terisi penuh.
"Bawalah turun."
Bi Inah masih mematung, belum beranjak.
"Eh, anu den. Sebenarnya ada apa ? kenapa Aden suruh bibi untuk beresin barangnya Non Ara." tanya Bi Inah dengan takut.
"Gak usah banyak tanya, bawa ke bawah cepat !"
Teriakan Rafan membuat Bi Inah merinding. Selama bekerja di rumah itu, baru kali ini dia melihat tuan mudanya marah. Cepat-cepat Bi Inah pergi membawa koper besar milik Ara.
Rafan menatap komputer milik Ara di mejanya. Komputer yang baru di belinya satu hari yang lalu, kini Rafan banting. Ia melemparkan alat-alat tulis di mejanya. Memukul kaca dan barang-barang yang ada di kamar.
"Argh !" teriaknya frustasi.
****
"Rafan kamu kenapa nak, bicara sama Mama. Kenapa bisa gini." ucap Laras sambil mengobati luka di tangan Rafan.
Ya Laras sudah pulang, karena telepon dari Bi Inah yang mengadukan Rafan bersikap aneh dan mengemasi barang-barang milik Ara.
__ADS_1
Tak hanya Laras, Fadil dan Herman turut pulang.
"Sebenarnya apa yang terjadi Fan ? Kenapa kamu mengemasi barang-barang Ara ?" tanya Fadil.
Rafan masih diam, tangannya terus mengepal erat, sorot matanya bak ingin membunuh.
"Fan, lihat Mama." lirih Laras, "Ada apa antara kamu dengan Ara, kenapa kamu mengemasi barang Ara ?"
"Rafan sudah ceraikan Ara ma."
"Apa !" seru Fadil dan Laras bersamaan. Keduanya sontak syok mendengar penuturan Rafan, sampai bisa menceraikan Ara. Kecewa sekaligus tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Tidak mungkin wanita yang selama ini mereka kenal sebagai istri yang Solehah dan tidak mungkin berbuat macam-macam, berani selingkuh di belakang Rafan.
"Kakek bilang apa. Dia bukan wanita baik-baik." sela Herman.
"Sekarang Ara dimana Fan ?" tanya Laras.
"Sama laki-laki bajingan. Sudahlah ma, gak usah di bahas lagi." Rafan beranjak meninggalkan ruang keluarga.
"Kamu mau kemana Fan ?" seru Laras.
"Kerja." sahut Rafan, lalu melangkah pergi.
"Ara !" pekik Laras, berlari menghampiri menantunya yang tengah menangis, mata sembab dan penampilan yang acak-acakan. "Kamu kenapa Ra ? Bilang sama Mama kalau yang di bilang Rafan itu gak bener kan ?" tanya Laras mengguncang bahu Ara.
"Maafin Ara Ma."
Tangan Laras, meluruh terlepas dari bahu Ara. Menatap tak percaya pada menantunya.
"Ara gak tau kenapa bisa gini Ma ? Ara di fitnah Ma." lirih Ara sambil menangis.
"Mama percaya sama kamu Ra. Bilang sama Mama siapa yang fitnah kamu ?"
Ara menggeleng lemas, pasalnya Dia sendiri tidak tahu siapa yang memfitnah dirinya. Seingatnya Dia hanya pergi menemui Hana di Cafe, tapi Rafan bilang Hana sedang di Australia sekarang. Bagaimana dia bisa menjelaskan semuanya, pasti tidak akan ada yang percaya dengannya.
"Sudah mandul, masih bikin masalah ya." sindir Herman yang keluar bersama Fadil dan Bi Inah yang menenteng koper milik Ara.
__ADS_1
Fadil tak bereaksi apapun, hanya diam menatap Ara.
"Maaf Non, ini tadi Den Rafan yang suruh bibi untuk beresin barangnya Non." Bi Inah menyerahkan koper besar Ara. Bi Inah langsung masuk kembali kedalam rumah setelah di pelototi Herman.
"Makasih Bi."
Ara menatap satu persatu wajah keluarga suaminya yang begitu ia sayangi. Laras, Fadil dan Herman tak bereaksi mencegah Ara untuk pergi. Hati Ara mencelos, benar-benar tidak ada yang percaya dengannya.
"Kalau begitu Ara pamit ya Ma." Dengan berat hati Ara mengambil kopernya. "Maafin semua kesalahan Ara Ma. Ara pamit Pa." Ara beralih pada Fadil yang tak berekspresi sama sekali.
"Ara pamit kek." ujar Ara pada Herman.
"Pergilah jauh-jauh, jangan ganggu keluarga saya lagi." ketus Herman, menatap tak suka pada Ara.
Ara tersenyum getir lalu mengangguk. Kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah mantan suaminya. Laras menangis meratapi kepergian Ara, bahu Laras terguncang karena tangisannya.
"Sudah Ma, jangan nangis lagi. Semuanya sudah terjadi." bisik Fadil.
Ara sudah di luar gerbang rumah mantan suaminya. Sejenak Ara menghentikan langkahnya, menoleh kembali melihat Laras tampak menangis di pelukan Fadil. Air matanya mengalir deras, dadanya terasa sesak harus mengecewakan kedua mertuanya.
Tak lama kemudian, Ara memasuki Taxi yang mengantarkannya tadi. Seolah tahu apa yang akan terjadi padanya, Ara meminta sang supir untuk menunggunya. Dan benar saja, Dia di usir oleh suaminya.
Dari kejauhan tampak mobil Rafan masih mengawasi mobil yang di kendarai Ara. Wajahnya memanas, tangannya menggenggam erat kemudi mobil. Rafan benar-benar di kuasai amarah. Ingin rasanya Rafan memeluk Ara untuk terakhir kalinya. Meminta agar Ara memberi penjelasan lagi padanya. Tapi, ego mengalahkan semuanya.
Mobilnya melaju kencang, saat Taxi Ara melesat jauh meninggalkan Rafan.
😭Para readerku sedih gak sih bacanya ?
Apa cuma author yang mewek nulisnya 😭.
Kalau iya, kasihan banget author sedih sendirian 😌. (Biasalah)
...Double (H) POV :...
...Yes ! Rencana berhasil😏...
__ADS_1
...Ara POV :...
...Dasar Kurang ajar ! Tunggu aja tanggal mainnya 😒...