
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapapun insan Tuhan
pasti tau cinta kita sejati.
Ara bernyanyi dengan riangnya sembari menyapu halaman rumah belakang.
"Udah mbak, gak usah nyanyi ! ngerusak suasana pagi yang indah aja !" seru Nisa dari dapur.
"Yee ibu bukannya di dukung biar anaknya jadi artis !" teriaknya.
"Kamu mau jadi artis, kasihan yang denger kamu nyanyi Ra, rusak kuping mereka."
"Ya ibu gitu deh." mendatangi ibunya yang di dapur dan kaget melihat Rafan sedang di dapur juga.
"Bapak kok di dapur ?"
"Nak Rafan tu kaget tadi denger suara kamu jelek katanya."
Rafan mendelik mendengar kebohongan mertuanya.
Siapa yang bilang gitu bu.
"Eleh mentang-mentang suara bapak bagus, ngatain suara aku jelek gitu." berkacak pinggang kesal.
"Enggak Ra, ibu tadi yang bohong aku gak bilang suara mu jelek."
"Alah boong pasti."
"Udah ah, kalian malah ribut. Iya tadi ibu yang bohong Ra. Memang Suami kamu gak bilang suara kamu jelek, tapi dia tadi senyum-senyum denger suaramu yang merduuuuuuu." ujar Nisa sengaja melebaykan kata merdu.
"Kan ibu !"
Mereka sarapan bersama di ruang makan. Nisa masak berbagai macam lauk, ada ikan balado, ayam, capcai, tempe goreng dan sambal.
Ara mengambilkan nasi untuk Rafan.
"Bapak mau lauk apa ?"
"Ayam sama capcai aja."
"Nih."
"Makasih Ra."
"Hemm."
Mereka makan dengan khusyuk, hanya terdengar suara desahan nafas saja.
"Kalian mau pulang ke Bandung kapan ?" tanya Budi.
"Emm, aku terserah Pak Rafan aja yah."
"Gimana Fan, kapan mau pulang ke Bandung nya?".
"Minggu-minggu ini jadi yah kalau Ara mau." melirik Ara yang masih fokus makan.
"Ara sih mau aja, tapikan di pondok masih sepi kalau Minggu ini."
"Kata siapa pulang ke pondok ?" kata Nisa.
"Emang pulang kemana ?"
"Ya pulang ke rumah suami kamulah Ra."
"Kok kesana, gak langsung ke pondok ?" tanyanya melirik Rafan.
"Kan kamu udah nikah, jadi tinggalnya ikut sama suami." jelas Nisa.
"Ya udah deh kalo gitu."
Ara mengerti kewajiban sebagai seorang istri harus ikut suaminya jika sudah menikah.
"Oh iya Ra kemarin ayah dipesenin sama kakekmu. katanya kalau mau pulang ke Bandung main dulu ke rumah kakek."
"Yeey main ke rumah kakek. Aku ikut ya kak." Seru Lana.
__ADS_1
"Gak usah Na, biar mbak Ara sama Mas Rafan yang kesana, nanti malah ganggu aja kamu." jelas Nisa.
"Yah ibuu, aku ikut ya yahh." rengeknya.
"Gak usah kamu besok-besok aja sama ayah." tambah Budi.
Lana pun mengalah, Ara dan Rafan pergi ke tempat kakek Ara hari itu juga.
"Assalamualaikum kakek, Araaa datang !" teriak Ara.
Rafan geleng-geleng kepala melihat kelakuan wanita itu.
"Waalaikumsalam, gak usah teriak-teriak, kakek belum tuli Ara !" sahut kakek sembari keluar menyambut Ara.
"Hehehehe, takutnya kan kakek gak denger."
"Ayo masuk, eh ini suami kamu." tanya kakek merangkul Rafan.
"Iya kek saya Rafan."
Mereka masuk ke rumah kakek yang masih kental dengan suasana pedesaan. Dinding rumah masih dari bambu yang disebut geribik (dalam bahasa jawa). Semua perabot rumah yang sebagian besar dari hasil alam, masih terlihat bagus dan rapi.
"Ayo duduk sini nak Wawan." memberi kursi ke Rafan.
"Rafan kek namanya." jelas Ara.
"Oh iya maaf kakek udah agak pikun."
Rafan tersenyum, " Iya kek tidak papa."
Mereka berbincang-bincang agak lama, Ara sangat antusias sekali bercerita dengan kakeknya. Rafan sesekali ikut ngobrol dan tersenyum.
"Kata ayah kakek mau manen muntul ya kek?" tanya Ara.
"Iya tapi belum jadi, biasanya ada Joko yang bantuin kakek. Tapi, dia lagi gak enak badan, jadi gak bisa bantuin kakek."
"Ara mau bantu panen ya kek."
"Kamu ngambil aja secukupnya buat di bawa pulang, biar nanti Joko sama kakek yang panen."
"Ya udah deh, ayo Pak kita ngambil muntul." Ara mengajak Rafan pergi mengambil muntul (ubi jalar).
Mereka pergi ke kebun belakang rumah kakek yang di tanami ubi jalar itu.
"Ra ambil yang barisan sebelah sini aja ya." kakek menunjuk barisan sebelah kanan di sampingnya.
"Siap bos." Ara mengambil posisi seperti hormat upacara bendera.
"Bapak ayo sini." ajak Ara menarik tangan Rafan.
"Bapak bisa ngambil ini gak."
"Aku gak pernah congkel-congkel tanah gitu Ra." jawab Rafan.
"Emang beda ya kalau orang kota pergi ke kampung." sindir Ara.
Rafan hanya tersenyum mendengar celotehan Ara.
" Ya udah sini pak, liatin aku sini ." Ara menyuruh Rafan untuk lebih dekat lagi.
Ara mengajari Rafan cara mengambil uni yang benar seperti apa, agar ubinya tidak rusak.
"Tangan kamu kotor Ra." menunjuk tangan Ara yang belepotan tanah.
"Ya emang ginilah Pak, kalo gak kotor gak seru." sahutnya.
"Gak jorok?"
"Ya enggaklah."
Ara melanjutkan mengambil lagi ubi jalar madu itu. Kata kakeknya ubi jalar madu itu ubi jalar yang paling enak dan paling manis diantara ubi jalar lainnya.
Ara melihat cacing di sampingnya. Timbullah niat usil Ara pada Rafan. Dia mengambil cacing tanah dan diletakkan di telapak tangannya.
"Pak tebak ini apa coba ?" memberi genggaman tangannya yang berisi cacing tadi.
"Gak tau." ucap Rafan sambil menggeleng.
"aku buka ya, tapi bapak sini lebih deket lagi biar pas di buka dia gak lari."
__ADS_1
Rafan menurut dan memajukan tubuhnya sampai hampir menempel di tangan Ara.
"Emang apaan sih isinya."
"Bapak penasaran kan, oke saya buka. satuu.... dua... ti... ga. Huaaaaaa !!" Ara mendekat kan ke wajah Rafan cacing tanah tadi.
"Aaaaaaaaaaa, cacing !!" Rafan terkejut sampai jatuh terduduk.
"Ara !! jorok !"Deeserunya dengan nada kesal.
"Hahaha, " Ara tertawa terpingkal melihat kondisi Rafan. " Bapak takut to sama cacing."
"Enggak cuma jorok aja. Ih ayo pulang geli Ra." menarik tangan Ara menjauh dari cacing tadi.
"Iya ya."
Rafan dan Ara rencana untuk langsung pulang ke rumah. Tapi sepeda kakek rusak, dan Rafan menawarkan diri untuk membenarkan nya. Sambil menunggu Rafan selesai, Ara merebus Ubi yang mereka dapat tadi.
"Kek ubinya udah mateng nih." Ara keluar membawa sepiring ubi rebus.
"Wah udah mateng nih. Nak Rafan udahan dulu bengkelnya. Dimakan dulu ubinya."
"Silahkan kakek dulu, tanggung ini dikit lagi."
Ara dan kakek lebih dulu menikmati ubi rebus. Ara memperhatikan Rafan yang berkeringat, hari ini memang lumayan panas. Ara berinisiatif untuk menyuapi Rafan.
" Pak," panggil Ara.
"Kenapa." jawab Rafan
"Ini buka mulutnya, saya suapin ayo aaaaaa." Ara memberi isyarat Rafan untuk buka mulut.
Rafan memandang kakek sebentar, kakek sedang memperhatikannya.
"Udah gakpapa, makan aja biar Ara yang suapin. tangan kamukan masih belopotan oli tuh." tunjuk kakek.
"Iya pak itung-itung aku minta maaf soal cacing tadi, hehehe." Ara nyengir.
Rafan memakan ubi suapan dari tangan Ara.
"Gimana pak enakkan."
"Iya manis."
"Ya iyalah, wong aku yang ngambil, aku yang masak, aku lagi yang nyuapin, pasti manislahhh." ucap Ara menyombongkan diri.
"Sombongg !" ujar kakek dan Rafan berbarengan.
"Ciee irikan kalian bareng ngatain aku sombong, emang aku semanis itu kan." Ara tersenyum penuh kesombongan.
"Yang sabar ya Nak Rafan ngadepin cucu kakek yang satu ini, emang anaknya agak-agak."
"iya kek." sahut Rafan.
"Kakek ihh gitu." Ara pura-pura merengek.
Rafan dan kakek berbarengan menertawakan Ara.
Hari sudah mulai sore, Ara dan Rafan pamit pulang ke rumah.
"Kami pamit ya kek, jangan kangen sama aku."
Kata Ara sembari salim ke kakek.
"Iya, pulanglah kakek gak bakal kangen sama kamu."
"Kan kakek nyebelin." Ara mencebikkan bibirnya kesal.
"Hahaha, udah sana pulang hati-hati ya." mengusap pucuk kepala Ara.
"Kami pulang kek." pamit. Rafan.
Mereka pulang ke rumah, sepanjang perjalanan pulang Ara bercerita banyak tentang kakeknya. Rafan diam, sesekali menjawab celotehan Ara. Ara tertawa menceritakan kakeknya, tanpa di sadari Rafan tengah memperhatikan tawa Ara.
Ternyata kamu memang manis ya. cerewet lagi.
Sebuah senyuman terbit di wajah Rafan
mengingat kelakuan Ara yang usil padanya, tapi juga perhatian sampai menyuapi Rafan tadi.
__ADS_1