
"Masih sakit ya mas." memegang pipi Rafan.
"Masih dikit." balasnya sambil tersenyum.
Mereka sudah berada di dalam kamar. Untung Fadil dan Herman sedang pergi keluar kota untuk mengurus bisnis. Jika Papa dan Kakeknya ada, bisa-bisa Rafan akan di sidang.
"Mereka sebenernya siapa sih mas ? Kenapa mas nggak bales pukulan mereka ? mas kan bisa beladiri ?"
"Mereka itu temen mas sayang."
"Nggak mungkin teman. Kalau temen itu nggak mungkin menyakiti temannya sendiri." protes Ara.
Rafan menghembuskan nafasnya kasar." sebenarnya dulu sebelum mas pergi untuk masuk ke pesantren. waktu itu mas masih SMP. dan penampilan mas waktu itu culun, mas masih suka pakai kacamata, poni ke depan pokoknya culun lah. Hehehe." Rafan tersenyum getir.
"Terus apa hubungannya mas dengan orang yang bernama Bagas."
"Dia dulu dulu sering mem buli mas selama disekolah."
Ara kaget, menangkupkan tangan ke mulutnya. " Apa mass !! Di buli !!" seru Ara.
Rafan mengangguk lemas. Ara meraih tubuh Rafan memeluknya erat sembari mengelus punggung Rafan. Isa kan tangis suaminya terdengar di telinganya. Ara tau suaminya pasti sedih. Ara tau bagaimana rasanya di buli, meskipun ia tak pernah merasakannya. Tapi, Ara tau karena sering melihat film tentang buli. Dimana korban bisa mengalami sakit mental yang parah.
Rafan mulai menangis keras. Selama ini dia hanya memendam sendiri ketakutannya. Papa Mamanya pun tak tau jika Rafan pernah menjadi korban pem-bulian. Kini Rafan rasa sudah waktunya ia bercerita tentang masa lalu kelamnya pada Ara.
Rafan mengeratkan pelukannya, menangis terisak dalam pelukan seseorang yang ia cintai. Rafan menemukan ketenangan dan kedamaian di sana.
"Mas nangis aja. Lepasin aja. Disini ada Ara yang meluk mas." Ara mengusap punggung Rafan. Air mata Ara sudah meleleh dari tadi.
Setelah tangis Rafan mereda, ia melepaskan pelukannya.
"Udah ya, mas jangan nangis lagi ya." mengusap air mata Rafan. "Nanti gak ganteng lagi kalau nangis, hehehe. "
__ADS_1
Rafan mengelus rambut Ara sambil tersenyum.
Terimakasih ya Allah atas nikmat -Mu ini.
"Ra, kemarin kamu kenapa bisa melawan mereka. Padahal mereka laki-laki, gede-gede lagi badannya."
"Oh itu, aku dulu pernah ikut kayak bela diri gitu. Jadi taulah dikit jurus-jurus."
"Makasih ya"
"Udahlah mas, jangan makasih terus. Aku tau aku hebat." ucap Ara dengan sombongnya.
"Dasar sombong." memainkan pipi Ara. Mereka tertawa bersama.
"Mas kenapa gak lawan mereka sih. Badan mas juga kan gak kalah gede sama mereka."
"Mas gak mau Ra. Dan mas juga rasanya masih trauma dengan perlakuan mereka dulu."
"Mas kira mereka bakal berubah, jadi mas samperin mereka."
Ara paham dengan suaminya yang berhati lembut, Rafan sudah memaafkan perlakuan jahat Bagas. bahkan berfikir mereka tidak akan berbuat buruk lagi padanya.
"Ra, mas kemarin denger kamu ngomong kasar lo Ra." menatap serius Ara.
"Hehe, itu . Em maaf mas, Aku suka kelepasan kalo lagi marah. Abis mereka pengecut banget sih. Main keroyokan aja beraninya." sungut Ara.
"Tapi tetep ya sayang perempuan gak boleh ngomong kasar gitu. Rasulullah gak suka perempuan yang berkata kasar."
"Maaf mas, Ara khilaf." menundukkan kepalanya menyesal.
"Besok-besok jangan di ulangi ya," memeluk Ara. "Iya." jawab Ara.
__ADS_1
"Udah kita tidur yuk mas udah malem, sekalian mas istirahat, pasti badannya capek semua."
"Iya kita tidur. Tapi mas mau ke kamar mandi dulu." Rafan beranjak turun dari ranjang berjalan agak susah.
"Ara bantu ya." khawatir melihat Rafan susah seperti berjalan.
"Gak usah, kamu tunggu sini aja."
Malam mulai larut, Rafan dan Ara sudah terlelap dalam pelukan hangat, mungkin karena hari yang cukup melelahkan dilewati keduanya.
Ya, walaupun sebelum tidur Rafan sedikit drama yang membuat Ara malu dan senang.
"Masa mau langsung tidur."
"Ya emang mau tidurkan, emangnya mas mau apa lagi. Apa masih ada yang sakit." tanya Ara cemas.
"Enggak kok. Mas cuma mau di kasih bekal tidur."
Ara mengernyitkan. "Bekal tidur apaan. emangnya mau kemah ke alam mimpi. Haha. Mas aneh-aneh aja deh."
"Istriku gak peka banget ya "
"Maksudnya mas gimana sih, gak peka gimana." tanya Ara semakin bingung.
Cup. Tak butuh waktu lama Rafan mengecup bibir Ara duluan.
"Gitu aja gak paham." Sindir Rafan. Ara tersipu malu.
Cup
Kecupan Rafan sudah sampai di bibir Ara, Rafan menahan tengkuk Ara untuk memperdalam ciumannya. Dengan senang hati Ara menyambut bahkan mulai membalas ******* Rafan. Keduanya terpaut cukup lama, sebelum akhirnya tertidur, memeluk satu sama lain. Rafan mengecup lembut kening Ara lalu beranjak tidur. Dia tak mau beraksi malam ini, tubuhnya masih terasa sakit.
__ADS_1
Rafan berjanji akan menggandakan aksinya besok, pikirnya.