
Nico dan Ara sampai tujuan, Nico mengajak Ara untuk makan terlebih dahulu.
"Kamu jadi pindah ke kantor pusat Ra ?" tanya Nico.
"Insyaallah jadi Kak."
"Em, gitu, semoga sukses selalu ya. Jangan lupain teman kerja disini."
"Aamin, Nanti kalau ada waktu luang aku main kesini.
Nico tersenyum menatap Ara, Wanita yang bisa membuatnya jatuh hati. Namun kini dia harus rela melepas kepergian Ara.
Cukup lama Mereka berbincang sembari berjalan beriringan keliling taman.
"Pak Nico suka main ke taman ya ?"
"Lumayan Ra, kadang kalau lagi suntuk ya ke taman."
"Sama siapa ?"
"Sendirian." lirih Nico.
" Sendirian ?" Ara menghentikan langkahnya menoleh ke Nico dan di balas anggukan. "Masa sendirian, Gak Sama pacar gitu, atau orang yang di suka, atau sama teman ?"
"Saya gak punya pacar."
"Hah !" Ara pura-pura kaget, walaupun dia tahu jika Nico memang tidak punya pacar. "Masa Kak Nico gak punya pacar !"
"Kita ceritanya sambil duduk aja, pegel dari tadi jalan terus." ajak Nico.
Mereka memilih duduk di kursi panjang di taman dan melanjutkan ceritanya.
"Jadi Kak Nico beneran gak ada pacar gitu ?" tanya Ara antusias.
Nico tersenyum kecil, "Kamu ternyata kepo ya orangnya. Kalau di kantor kayak gak peduli aja sama sekitar."
__ADS_1
"Ye, Kan beda Kak, kantor mah harus profesional. hehehe."
Lihatlah bagaimana Nico tidak jatuh hati pada wanita di depannya. Melihat senyumnya saja membuat Nico susah bernafas.
"Ra,"
"Iya,"
Hening. Sejenak mereka saling bertatapan mata, dan Ara memalingkan wajahnya malu.
"Aku mau bilang sesuatu. Sebenarnya aku..." Nico tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku apa ?" tanya Ara tidak sabar.
" Em, itu . Sebenarnya Aku mau jujur Ra sama kamu. Kalau aku suka sama kamu." ucap Nico gugup.
Deg.
Apa yang di takutkan Ara benar terjadi bukan. Ara bukan wanita bodoh yang tidak tahu bahasa orang yang suka padanya. Namun Ara sudah bertekad, dia sudah bersiap untuk menghadapi saat seperti ini.
Kenapa dia tersenyum ? atau jangan-jangan dia juga memiliki rasa yang sama denganku ?
"Sebelumnya Ara mau berterimakasih karena Kakak sudah mau jujur. Jujur Ara juga gak tau sebenarnya apa yang Kakak suka dari Ara. Kakak tahu sendiri kan Ara gimana ? Ara bukan wanita yang sempurna dan masa lalu Ara ? Ara kan janda, iya janda yang di ceraikan suaminya karena tidak bisa hamil." Ara tersenyum kecut mengingatnya.
"Maaf Ra, aku gak bermaksud ingin mengingatkan kamu sama masa lalu."
"Enggak papa Kak. Eh, sudah malam nih, kayaknya kita harus pulang deh."
"Hah !" Nico sedikit kaget, kenapa secepat ini. Ara bahkan belum menjawab perasaannya. "Tapi Ra ?" Nico tampak keberatan.
Ara bangkit dari duduknya diikuti oleh Nico. Saat Ara melangkah, tangannya di cekal Nico.
" Tunggu Ra, Aku ingin bertanya sama kamu Ra. Apa kamu punya rasa yang sama denganku ?"
Dengan pelan Ara melepaskan tangan Nico, terdengar Ara menghempaskan nafas panjang. Ara melihat Nico, Ara tahu ini akan sangat menyakitkan untuk Nico. Tapi bagaimana lagi, perasaannya pun tidak bisa dia paksakan. Dirinya terlalu lemah dan Hatinya sudah terpatri bersama masa lalunya.
__ADS_1
"Jangan menyukai aku," lirih Ara. " Kalau aku tahu ada orang yang menyukai ku, aku menjadi lemah. Kalau aku lemah, hidupku bisa berantakan." Ara menatap mata Nico, "Jadi, jangan menyukai ku."
Nico hanya tertegun mendengar perkataan Ara. Maniknya menatap Ara, mencari kejujuran di sana. Nico tahu Wanita cantik dihadapannya masih terbelenggu cinta masa lalunya.
"Terimakasih sudah mau jujur Ra. Saya gak bisa memaksakan perasaan ini." Nico tersenyum getir. "Ah, sudah malam. Sepertinya kita harus pulang, langit pun mendung sepertinya akan turun hujan." cicit Nico memandang langit.
Pandai sekali Nico, padahal langit sangat indah dengan bintangnya. Mendung pun tak terlihat. Ya, ternyata mendungnya hinggap di hati Nico.
Tanpa ba-bi-bu lagi mereka kemudian pulang. Tidak ada percakapan sama sekali selama di perjalanan. Nico menghantarkan Ara di tempat ia menjemputnya tadi.
"Terimakasih banyak atas waktunya Ra." ucap Nico.
Ara tersenyum, "Terimakasih banyak juga atas ajakannya Kak." jawabnya.
"Kalau begitu saya pamit, sampai jumpa lagi." Nico hendak membuka pintu mobilnya. Namun, terhenti ketika Ara memanggilnya.
"Kak Nico,"
"Iya,"
"Percayalah Kak, bunga tidak hanya satu. Masih ada banyak bunga yang lebih cantik dan indah di luar sana. Saya harap Kakak bisa menemukan bunga-bunga itu." ucapnya sambil tersenyum.
"Saya duluan Kak, assalamualaikum."
Ara melangkah memasuki rumah, meninggalkan Nico yang masih setia memandang punggung Ara dari kejauhan. "Waalaikumsalam." lirihnya.
Nico melajukan mobilnya pelan, kemudian berhenti di sisi jalan. Matanya menatap langit yang indah, Nico berdecak kesal. Dilihatnya bintang di langit mengejeknya. Nico meremas kesal rambutnya.
Ah, Tuhan. Sesakit ini kah jatuh cinta.
"Percayalah Kak, bunga tidak hanya satu. Masih ada banyak bunga yang lebih cantik dan indah di luar sana. Saya harap Kakak bisa menemukan bunga-bunga itu.
Kata-kata yang terus terngiang-ngiang di kepala Nico.
Andaikan kamu tahu Ra. Kamu satu-satunya bunga yang aku harapkan. Andaikan takdir terlebih dahulu mempertemukan kita, pasti aku sangat bahagia.
__ADS_1