Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Kedatangan Hana


__ADS_3

Tak lama setelah bi Inah turun, Rafan dan Ara menyusul ke ruang keluarga. Fadil, Laras dan Herman sudah disana. Namun ada satu orang lagi di samping Herman, seorang wanita karena tampak berhijab dari belakang. Rafan dan Ara bertanya-tanya siapakah gerangan orang disamping Herman.


"Kalian sudah datang, duduklah." titah Herman.


Rafan dan Ara duduk bersebrangan dengan Fadil dan Laras.


Hana. Bagaimana dia bisa ada disini.


Rafan sedikit terkejut setelah melihat orang yang di samping kakeknya. Ara yang ridak kenal hanya diam, mengamati perempuan itu.


Cantik sekali. Ya Allah kayak bidadari surga. Dia siapa ya. Apa anak Kakek. Tapikan Mama bilang, Papa Fadil anak tunggal. Mana masih muda, kayaknya seumuran aku deh.


"Kamu masih ingat sama dia Rafan ? Cinta pertama kamu ?" tanya Herman.


Ara melihat Rafan yang mengernyitkan keningnya. Cinta pertama ? Mas Rafan kenal sama dia.


"Hana ya ?"


"Iya aku Hana. Masih inget aja kamu Fan."


Gadis yang dipanggil Hana itu tersenyum kala Rafan masih mengingatnya.


Dia gak lupa sama aku.


Ara tertegun sejenak. Oh jadi namanya Hana.


"Sudah lama ya Fan sekitar 5 tahun kita gak ketemu. Kamu udah banyak perubahan ternyata." ucap Hana.


Rafan tersenyum "Ya begini yang kamu lihat. Oh iya Han kenalin ini istri aku Ara."


"Oh kenalin aku Hana." menyodorkan tangan ke Ara.


"Ara mbak." jawab Ara sambil tersenyum.


"Gak usah manggil mbak lah, kitakan seumuran. Kakek juga udah cerita banyak tentang kalian kok." balas Hana.


Mereka pun mulai banyak perbincangan yang di dominasi Herman dan Hana. Fadil, Laras dan Rafan hanya menimpali sesekali. Ara sendiri menjadi pendengar yang setia, sesekali Ara memergoki Hana yang tengah memperhatikan Rafan sembari tersenyum.


Ara melirik curiga ke arah suaminya yang sepertinya tak tahu atau memang mengabaikan jika Hana memperhatikannya.


Hana kok liatin mas Rafan terus ya. Sambil senyum-senyum gitu lagi.


"Kenapa sayang ?" tanya Rafan tahu jika istrinya tengah memperhatikannya.


"Oh gakpapa mas."


Rafan tersenyum kecil lalu meraih tangan Ara untuk digenggamnya.


"Mas lepasin gih. Malu masih banyak orang nih." bisik Ara.


"Biarin aja." sahut Rafan. Ara tersipu kala Rafan semakin mengeratkan genggamannya.


Mesra sekali mereka.


"Kalian ternyata mesra banget ya. Kayak yang si ceritakan kakek." ucap Hana.


"Mereka emang gitu Han. Apalagi Rafannya aduhh maunya itu nempel terus sama Ara. Mama jadi gemes sendiri liatnya."


"Mama iri ya." ejek Rafan.


"Eleh kamu, ada Ara aja berani ngejek Mama ya." tukas Rafan.


Ara tersenyum, dan melihat senyuman kesedihan jelas terlihat dari Hana.


Hana kok kayaknya sedih gitu ya.


"Orang di mabuk cinta ya gitu." tambah Fadil.


"Semoga kalian bahagia terus ya.".

__ADS_1


"Aamiin makasih ya Han." jawab Rafan.


"Semoga cepat dikasih momongan." imbuh Hana.


"Aamiin." sahut semuanya.


"Iya, apalagi udah hampir setahun mereka menikah, kakek belum juga dapet cicit. Takut keburu habis waktunya. hehehe." Herman tertawa dengan tawa khasnya.


"Jangan ngomong gitu kek, kami juga lagi berusaha." jawab Rafan tak enak hati dengan Ara. Dia bisa merasakan kesedihan hati Ara karena ucapan Herman. Tangan Ara yang di genggamannya refleks meremas tangan Rafan.


"Haha, iya kalian sudah berusaha selama ini, tapi belum juga ada hasil."


"Kek !" seru Rafan kesal.


Fadil dan Laras mengernyitkan keningnya tanda tak suka dengan ucapan Herman.


Ara menundukkan kepala malu, hatinya terasa sakit, sepertinya Herman sengaja menyindir pikirnya. Hana tersenyum miring ke Ara.


"Udah kek, jangan gitu. Mungkin emang belum rejekinya Rafan."


"Iya Han, kakek tau. Coba aja kalau dulu Rafan nikah sama kamu pasti kakek udah punya cucu."


"Kakek."


"Papa. Jangan kelewatan."


Seru Rafan dan Fadil bersamaan.


"Kakek jangan kelewatan deh. Anak juga kan Allah yang kasih. Kalau sekarang belum dikasih mungkin dikasihnya tahun depan atau kapan kitakan gak tau. Yang penting kita sudah berusaha dan bersabar." Seru Rafan semakin kesal dengan kakeknya.


"Ya tapi kapan ! "


"Ya kakek sabar aja. Aku sama Ara aja masih sabar nunggu."


"Sampai kapan Fan ? sampai kakek masuk kubur gitu." tukas Herman.


"Kakek bisa sabar gak si !" sentak Rafan.


"Jangan-jangan istri kamu aja yang emang gak bisa hamil." sindir Herman.


"Kakek!" seru Rafan berdiri dari duduknya.


"Papa, jangan kelewatan pa." seru Fadil.


Rafan menahan amarahnya, dadanya bergemuruh tak suka jika Ara di hina seperti itu. Ara berusaha menenangkan Rafan, mengelus punggung tangan Rafan digenggamnya.


Hana hanya tersenyum. Laras pun geram dengan perkataan mertuanya, wajahnya nampak tak suka melihat Hana, bisa-bisanya gadis itu tersenyum di situasi seperti ini.


Dasar, dari dulu gak berubah juga dia.


"Kalau kakek masih mau bahas itu. Kita mau pamit pergi ke kamar aja. Rafan capek abis dari kantor, mau istirahat. Ayo Ra kita pergi." ajak Rafan menarik tangan Ara.


"Kamu mau sampai kapan hah mau nunggu Ara hamil. Kenapa gak nikah lagi aja. Ini ada Hana cinta pertama kamu. Ada orang bilang kalau cinta pertama itu bisa jadi cinta sejati kita."


Deg.


Tak hanya Ara yang kaget, semua yang disana tak habis pikir dengan Herman.


"Terserah kakek mau ngomong apa. Ayo Ra kita ke kamar."


Ara masih terdiam di tempat duduknya, menahan Rafan. "Mas udah disini aja, kitakan belum ngobrol."


"Kita ngobrol dikamar !" seru Rafan.


Mau tak mau Ara mengikuti ajakan Rafan yang sudah menarik tangannya.


" Maaf semuanya kami pamit dulu." ucap Ara.


"Iya Ra." sahut Laras.

__ADS_1


Rafan berjalan dengan tergesa - gesa menarik tangan Ara yang susah mengimbangi langkah Rafan.


"Papa bisa gak jangan bahas masalah ini terus. Kasihan Rafan Pa , Ara juga dia sebagai seorang wanita merasa tertekan sama ucapan papa." seru Fadil.


"Papa kan bilang apa adanya." sahut Herman dengan tampang tak berdosa.


"Mungkin memang belum rejeki mereka Pa." tambah Laras.


"Halah kalian selalu saja bilang begitu. Belum rejeki lah, belum di kasihlah. Kalau emang gak bisa hamil mau gimana hah ! "


Fadil mengurut keningnya , bingung dengan cara berpikir Papanya itu.


"Ah sudahlah, terserah kalian. Papa gak mau tau pokonya papa mau cicit dari Rafan. Kalau Ara gak bisa kasih, biar Rafan suruh Rafan nikah lagi. Ayo Hana kamu ikut kakek." tegas Herman, lalu mengajak Hana pergi.


"Gak bisa gitu dong pa!" timpal Fadil tak setuju.


"Terserah." jawab Herman sambil melangkah pergi meninggalkan Laras dan Fadil.


"Sabar pa." Laras mengelus dada Fadil menenangkan.


"Papa cuma habis pikir ma. Pemikiran papa tu kolot banget. Kalau belum bisa dikasih ya mau gimana lagi."


"Iya sih pa. Mama juga khawatir dan kasihan sama Rafan sama Ara. Takut bener Ara gak bisa kasih Rafan anak, dan papa nyuruh Rafan. nikah lagi."


"Udah ma jangan ngomong gitu, doa itu namanya." sergah Fadil.


"Maaf pa. Tapi mama juga heran, kenapa Hana bisa balik lagi ke sini."


"Mungkin aja papa yang nyuruh. Udahlah gak usah dipikirin dulu. Mending kita ke kamar aja. Apa udah capek banget nih. Abis pulang kantor langsung dikumpulin gini. Eh malah bahas yang enggak-enggak lagi."


"Ya udah kita ke kamar yuk."


Mereka pun memutuskan pergi ke kamar, untuk segera beristirahat melemaskan otot-otot yang menegang.


*****


Di ruang kerja Herman.


"Kakek tadi kelewatan banget gak si, ngomong gitu."


"Ya enggaklah, emang kenyataannya begitu."


"Tapi kasian juga liat Ara tadi kek."


"Kamu masih cinta kan sama Rafan ?"


"Masih kek."


"Bagus kalau gitu, kakek bakal bantuin kamu. Kamu usaha aja terus, Rafan sepertinya sudah mencintai istrinya."


"Kenapa kakek gak suka sama Ara ?"


"Gak tau, kakek gak suka aja. Dia itu anaknya sahabat Fadil, kalau dulu mereka gak janjian untuk menjodohkan anak mereka. Mungkin sekarang kami yang jadi istri Rafan. Dan Kakek gak suka sama ayahnya Ara, dia berteman dengan Fadil hanya untuk dijadikan batu loncatan untuk menggapai cita-citanya. Dikit-dikit minta bantuan dari Fadil. Sama dengan Ara, dikit-dikit minta di belikan barang mewah dari Rafan. Jam tanganlah, ini itulah pokonya. Ditambah pernikahan Rafan yang belum di karuniai momongan."


"Kakek yang sabar ya."


"Kakek selalu sabar Han."


"Ya udah Hana pamit pulang ya kek, udah malem nih." menunjukkan jam tangannya.


"Ya udah kamu hati-hati ya."


"Oke deh kek, Hana pamit Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Hana sudah berlalu dari pandangan Herman yang tampak memikirkan sesuatu berjalan menuju meja kerjanya.


Meremas geram beberapa lembar foto dalam genggamannya.

__ADS_1


Dasar, ternyata anak dan ayahnya sama saja. Mau memeras keluarga ku ya.


__ADS_2