Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Latihan


__ADS_3

Rafan dan Ara memutuskan untuk kembali ke Bandung. Mereka pergi menggunakan pesawat seperti biasanya.


"Ibu Ara pamit ya jangan kangen." Memeluk erat ibunya.


" Iya kamu hati-hati ya, jangan lupa pesan ibu jadi istri yang baik buat suamimu, kalau ada masalah n selesaikan dengan kepala dingin, jangan gunakan amarah mu berlebihan ya mbak." Nisa memeluk tubuh Ara yang mungkin akan dirindukan oleh nya.


"Iya bu, hiks hiks . Ara bakal kangen sama ibu." Ara mengusap air matanya yang menetes.


"Ibu terus yang dipeluk." tanya Budi.


"Aaa ! ayah jangan kangen aku ya. nanti aku sering-sering main ke rumah nemenin ayah nonton bola ya !" Ara memeluk erat Budi.


"Iya kamu yang patuh ya sama suami." ucap Budi sembari mengelus kepala Ara.


Selesai berpamitan Ara dan Rafan pergi ke bandara.


"Kamu udah biasa naik pesawat?" tanya Rafan sambil membawa koper mereka.


"iya udah biasa, soalnya kalo naik bis kelamaan, mana aku mabok lautan." jelas Ara.


"Oh gitu."


Rafan dan Ara segera naik karena sebentar lagi mereka akan landing.


setelah kurang lebih 2 jam mengudara mereka sampai di Bandung.


Supir yang diperintahkan Laras sudah menunggu Rafan dan Ara.


"Silahkan Den, non." membukakan pintu mobil.


"Terimakasih pak." Ara senyum.


Sampailah mereka di rumah dan langsung istirahat, karena Laras, Fadil dan kakek Herman sedang bekerja.


"Pak kapan kita balik ke pondok?"


" Kamu maunya kapan ?"


"Secepatnya kalau bisa."


"Nanti aku bilang sama mama dulu ya."


"Oke deh." Ara membuka lemari pakaian Rafan.


"Wah banyak banget ternyata baju bapak ya, kenapa gak dipake ?" Ara melihat isi lemari pakaian yang disusun rapi.


"Itu kebanyakan pakaian buat kerja di kantor, jadi jarang saya pake.".


"Pak Rafan kerja di kantor juga ?"


"Iya disuruh kakek."


"Tapi kenapa masih di pesantren?" tanya Ara sembari merapikan pakaiannya dan pakaian Rafan di lemari yang disebut kan Rafan.


"Nanti kalo udah waktunya saya kerja di kantor. sekarang masih betah di pondok." merebahkan tubuhnya di ranjang king size miliknya.


" Ohh gitu." Ara mengangguk paham.


Hari sudah malam, keluarga Fadil sudah siap di meja makannya. Makanan sudah tersedia dengan berbagai macam rasanya.


Sebenarnya Ara ingin ikut membantu memasak, tapi dilarang Laras. Di rumah kakek sudah banyak pembantu yang melakukan pekerjaan rumah.


" Jadi kalian gak mau bulan madu dulu?" tanya Laras.


" Enggak ma, soalny Ara denget lagi mau KKN. Nanti malah ganggu kegiatan kuliah dia." jawab Rafan.


Sebelum itu Laras sudah bertanya kepada Ara perihal bulan madu. Ara terkejut karena sampai sekarang pun mereka belum melakukan apapun yang semestinya suami istri lakukan.


"Terserah kalian mau bulan madu atau tidak yang penting kakek dapat cicit." sahut Herman.


Uhuk.


Ara tersedak mendengar ucapan Herman.


"Pelan-pelan Ara , nih minum dulu." Rafan menyodorkan minum ke Ara.


"Iya papa juga gak sabar mau menimang cucu iyakan ma?" tambah Fadil.


Uhuk , uhuk.


Ara tersedak lagi


Ya Allah udah pada Minta cucu lagi, mereka gak tau ya aku belum ngapa-ngapain, tidur pelukan aja belum, disuruh bikin cucu. Huaaa ibu Ara takutttt.

__ADS_1


" Udah pa jangan bahas disini, nanti niar aku sama Ara yang urus itu." seru Rafan.


"Iya papa serahin ke kamu sama Ara baiknya gimana."


Mereka kembali melanjutkan makannya.


Dikamar Rafan Ara masih saja memikirkan omongan Herman dan Fadil mengenai cucu.


"Ra ibu kasih tau ya, nanti kalau suami kamu minta haknya kamu gak boleh nolak."


"Hak apa bu ?"


" Yaa hak atas tubuh kamulah."


"Astaghfirullahaladzim Ara belum siap ibuu." rengek Ara.


"Siap gak siap kalau suami kamu mau kamu gak boleh nolak, dosa loh hukumnya."


"Aaa ibu jangan gitu , Ara takut tau."


"Udah ah, ibu mau nyusul ayah. Jangan lupa pesan ibu ya mbak."


Ara teringat akan percakapan dengan ibunya tentang hak suaminya.


Aaa gimana nih kalau Pak Rafan minta haknya. Ihhh Takut.


Ara bergidik ngeri membayangkan nya.


"Kamu kenapa Ra." tanya Rafan penasaran.


"Eh , e itu."


"itu kenapa ?"


"Ee, soal yang papa sama kakek bilang tadi gimana." Ara sudah diperintahkan untuk biasa memanggil orang tua dan kakek Rafan sebagai mana Rafan memanggil.


"Oh itu, itu mah gak usah dipikirin. Saya nunggu kamu siap aja." jawab Rafan.


"T, tapikan kita belum pernah apa-apa gitu." ucap Ara takut-takut.


"Kitakan udah pernah pelukan. Masa kamu lupa?"


"Ya, ya itukan katanya waktu itu bapak bilang cuma kasihan liat aku kedinginan."


"Loh emangnya kita pernah pelukan kapan lagi, selain dimenara sama di motor gak pernah kita pelukan lagi. Seingat aku tapi." cicit Ara.


"Ohh !" Ara menutup mulutnya dengan tangan "Jangan-jangan bapak udah macem-macem sama aku ya, hayo ngaku gakk !" teriak Ara.


"Apasih Ra, emang siapa yang macem-macem sama kamu. Wong waktu itu kamu yang paksa meluk aku kok."


"Ihh, kapan aku maksa meluk bapak, mimpi kali ya aku mau peluk bapak duluan !"


"Itu tau."


Ara kaget,


Apa sih maksudnya, kapan aku paksa buat meluk Pak Rafan. kayaknya gak pernah deh.


Itu tau, mimpi apasih ah.


"Masih gak inget ?" tanya Rafan sudah posisi bersila menghadap ke Ara.


Ara menggeleng.


Rafan pun menceritakan kronologi Ara yang memeluk Rafan dengan paksa, saat tidur sewaktu dirumah Ara.


Ara yang kaget, syok dan sekaligus malu hanya menundukkan kepalanya.


"Tapikan aku gak sadar itu, jadi bukan salah aku dong." Ara membela diri.


"Terus sekarang mau peluk, kan sadar sekarang." tawar Rafan.


"Gak, gak mau." tolak Ara.


" Ya udah kalo gak mau."


Mereka diam lagi.


"Eh, anu pak."ucap Ara gugup.


"Apalagi."


"Kalo kita, eh bukan, eh itu, aduh gimana sih bilangnya bingung aku." Ara kesal dan bingung, ekspresi wajah yang malu-malu terlihat jelas. Bibir mungilnya yang berwarna kemerahan terlihat menggoda dimata Rafan.

__ADS_1


Ya Allah gemesnya, jadi imut pengen nyiumkan bawaannya.


Astaghfirullah mikir apa aku.


Rafan mengusir pikiran nakalnya.


Rafan masih menunggu kelanjutan kata-kata Ara.


"Eh, itu, emm kita kalau mau punya anak bisa latihan dulu gak ?, soalnya aku masih takut gitu. hehe."


Pertanyaan apa itu, astaghfirullah ini anak masih polos banget apa gimana sih?.


Itu ekspresi nya lagii pake imutnya subhanallah.


"Mau latihan sekarang?" goda Rafan.


"Ya, ya gak papa kalo mau latihan sekarang." ucap Ara dengan wajah takut.


Kan nambah imut kalo gitu. Malah khilaf aku nanti liat di gitu terus.


"Yakin mau latihan sekarang?"


Ara mengangguk yakin.


"Oke, kita mulai latihan sekarang. Sini kamu jangan jauh-jauh, kita latihan dulu."


Ara mendekat ke arah Rafan.


"Jadi kita mulai latihan yang paling dasar dulu, yaitu ciuman."


"A, apa ciuman ?" Ara kaget dan agak menjauh dari Rafan.


"Iya, ciuman." ujarnya sembari Rafan mengangguk."Ciuman itu baru dasar, masih ada kegiatan lain yang lebih dahsyat dibandingkan ciuman."


Percayalah Rafan sudah tidak tahan melihat mimik wajah Ara yang ketakutan sekaligus malu.


"Ta, tapi pak saya masih takut." jawab Ara.


"Saya akan ajarin kamu, udah siap sekarang?"


Ara hanya mengangguk dan diam.


"Oke kalau sudah siap, saya mulai. saya hitung sampai tiga." mendekat ke tubuh Ara.


Ara memejamkan mata takut-takut cemas.


"satuu..., "


"Aaaaa ! tunggu bentar pak." ucap Ara gugup.


"Katanya udah siap."


"Iya saya siap tapi pelan-pelan ya." Ara memejamkan matanya lagi.


Ya Allah, baru mau cium disuruh pelan-pelan. Emangnya mau ngapain.


"Iya, pelan-pelan. saya hitung lagi. satuu....duaaa... tiga !"


Ara semakin mengerutkan keningnya. Dia menunggu ciuman dari Rafan.


Rafan masih diam memperhatikan wajah Ara dari dekat. Kulitnya putih bersih, bibirnya yang mungil menggoda imannya. Dia tersenyum dengan ekspresi wajah Ara sekarang.


Subhanallah, Maha Besar Engkau ya Allah. Sungguh indah ciptaan-Mu ini. Dia istriku cantik sekali. Terimakasih atas segala nikmat yang telah engkau berikan kepadaku ya Allah.


Ara yang menunggu ciuman itu sekarang membuka mata karena penasaran.


Tatapan mereka saling bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Ara melihat bibir Rafan yang juga terlihat jelas menggoda imannya menelan ludah kasar.


Rafan yang tersadar langsung mengalihkan pandangan nya.


"Latihan nya besok aja, sekarang udah malem. Kamu juga kelihatan belum siap."


Ara menurut kata Rafan, dan kembali ke posisi nya. Kemudian merebahkan tubuhnya membelakangi Rafan.


Hehehe, imut sekali dia nurut gitu. Rafan terkekeh geli melihat tingkah Ara.


Ara memegang dadanya yang berdetak kencang tak karuan selepas melihat wajah dan bibir Rafan yang menggoda itu.


Astaghfirullah aku mikir apaaan si.


Rona kebahagiaan masih tergambar jelas di wajah keduanya.


Akhirnya mereka masing-masing tertidur , mungkin karena cukup lelah melewati hari itu.

__ADS_1


__ADS_2