Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Khawatir


__ADS_3

Rafan tengah memainkan HPnya, sesekali mengecek pesan Ara.


Dibaca pun belum, Kemana dia ? Tidak biasanya, walaupun hanya read.


Rafan nampak cemas, sesekali melirik jam dinding.


Sudah hampir tengah malam, kemana dia. Apa dia sakit,? Rafan dilanda kekhawatiran akan Ara.


Tring....


pesan masuk, cepat-cepat Rafan melihatnya. Berharap Ara yang mengirimkan pesan. Dan harapannya terkabul.


*Mine


Maaf Pak, saya tadi sibuk. HP juga lowbat. Jadi baru bisa balas😁.


Huff. Rafan bernafas lega, senyumnya mengembang. Rasa khawatirnya terobati sudah.


Rafan: Iya gkpp, tidurlah sudah malam ini.


Ara : Belum ngantuk.


Rafan : Kenapa ?


Ara : Ya belum ngantuk aja.


Rafan : Kebiasaan tidur malam ya?. jangan dibiasakan gak baik buat kesehatan.


Ara : Iya, nanti tidur. Bapak sendiri kenapa belum tidur ?


Rafan : Masih sibuk.


Ara : Sibuk ngapain ?


Rafan tersenyum, senang Ara menanyakan kegiatannya. Perhatian padanya, tepatnya.


Rafan : Sibuk Mikirin kamu.


Hahh!!. Ara kaget sedetik kemudian tersenyum, lalu bangkit dari tidurannya beralih duduk bersandar pintu lemarinya.


Ara : Mikirin aku!!. Kenapa ?


Rafan : Kamu cuekin saya dikelas tadi, kenapa ?


Ara tampak berpikir keras, lalu beroh ria. Dia ingat dia cuek saat Rafan masuk kelas dan melihatnya.


Ara : Ohh, itu tadi aku lagi kesel aja sama bapak.


Rafan : Kesel ? kenapa ?


Ara : Gak tau kesel aja


Rafan : Gak mungkin gak ada sebab, ngomong aja biar nanti aku gak ngulangin lagi kesalahan yang sama, yang bikin kamu kesel.


Ini yang Ara suka dari Rafan, dia lebih dewasa dalam menghadapi masalah. Rafan bahkan rela sampai malam hari menunggu chat darinya.


Ara : Jauh-jauh dari ustadzah Nisa.


Rafan mengernyitkan dahinya, kenapa pikirnya.


Rafan : Iya aku usahain. Tapi mungkin sekarang belum bisa, kami lagi ada tugas bareng. Gak cuma berdua kok. Ada ustadz Imam dan Ustadz Robin juga.


Ara tersenyum lagi, Rafan pun tak menanyakan alasan Ara memintanya. Tapi, dia memilih menceritakan tentang ustadzah Nisa tadi pagi yang membuatnya kesal.


Rafan menjelaskan alasan dia memanggil Ustadzah Nisa pagi-pagi hanya untuk masalah tugas mereka.


Rafan : Tidurlah, sudah malam.


Ara : Iyaaa, suamiku🤭


Rafan : Tidurlah, dan terimakasih.


Ara : Terimakasih untuk apa ?


Rafan : Gombalan mu tadi siang. Besok-besok cukup aku yang digombalin. Jangan laki-laki lain.


Ara : Cie cemburu ceritanya.🤭

__ADS_1


Rafan tengah salah tingkah sendiri membaca balasan Ara.


*Rafan : Wajarlah aku cemburu. Kamu istriku.


Ara : Iyaaa suamiku, maaf ya tadi kesel aja liat muka suamiku 🙂.


Rafan : Maaf diterima.


Ara : Terimakasih 🙇


Rafan : Udah tidur sana, jangan main HP lagi.


Ara : Siap komandan ! LAKSANAKAN👩‍✈️*.


Ara mematikan HP, kemudian pergi tidur.


Rafan pun mematikan Hpnya, menyusul Ara tidur. Meskipun jauh ia selalu Merasa Ara tidur disampingnya, memandangnya penuh senyum manis Ara.


*****


Pagi pun tiba, hari Jum'at hadir membawa keberkahan. Asrama putri tengah sibuk dengan kegiatan gotong royong bersih bersih asrama masing-masing.


"Ayoo semuanya semangat, bersihin kamarnya. ayo ayoo!!"


Teriakan ustadzah Ani memenuhi ruangan asrama putri. Dia berkeliling memastikan bahwa semua santri ikut kebersihan. Tidak ada yang malas-malasan, semuanya harus saling membantu. Jika ada santri yang santai-santai, maka siap-siap dihukum olehnya.


Dikamar Ara juga sedang bersih-bersih. ustadzah Ani sudah disana, ia tengah memeriksa lemari Ulfa.


"Ulfa !! Ini anak udah dibilangin abis makan jajan kulitnya dibuang di tempat sampah. malah disimpan didalam lemari lagi." seru ustadzah Ani sambil menarik telinga Ulfa pelan.


"Aduhh duh, sakit Zah." pura-pura kesakitan.


"Ini gak kuat fa." ustadzah Ani melepaskan tangannya.


"Hehehe, iya Zah maaf, ini mau dibersihin kok." menunjukkan tempat sampah di tangannya.


"Sudah sana bersihin."


"Siap Zah." sahut Ulfa.


"Siappp laksanakan komandan!." seru Ara berlagak hormat.


ustadzah Ani pergi meninggalkan mereka. Ulfa membersihkan lemarinya dibantu Ara.


"Issh, jorok banget sih Fa!!." Ara bergidik jijik melihat tumpukan sampah bekas jajan Ulfa di lemari Ulfa.


"Ya kan aku suka gitu Ra. Takut aku tu kalo malem-malem buang sampah diluar , nanti kalo alu diculik hantu gimana??. hi." Ulfa bergidik ngeri membayangkan hantu yang menculiknya.


"Dasarrr, mana ada hantu mau nyulik kamu." menoyor kepala Ara. "Hantu juga mikir-mikir ya mau nyulik kamu." lanjutnya.


"Isss, Ara!! ngeledek deh." Ulfa merengek kesal.


Setelah selesai Ulfa membuang sampahnya di belakang asrama putri. Kebetulan di belakang asrama putri yang ditempati Ulfa, ada dapur umum tempat memasakan untuk para santri, dan tempat sampah.


Ulfa berjalan menuju ke arah belakang, langkahnya terhenti melihat rombongan santri putra yang juga menuju ke belakang membawa potongan kayu untuk memasak.


Ada yang lebih menarik perhatiannya. Diantara rombongan santri putra ada ustadz Ghifari suami dari sahabatnya.


Di kepala Ulfa terlintas ide untuk mengajak Ara untuk ikut membuang sampah bersamanya.


Ulfa segera berlari kembali ke kamar.


"Araa!!!!." teriaknya.


"Gak usah teriak teriak woyy." Sahut Ara.


Ulfa menarik tangan Ara lalu sedikit berlari menuju ke belakang.


"Aduh Fa, kenapa sih cepet-cepet ?" sergah Ara.


"Udah diem, temenin aku ke belakang."


"Mau ngapain, ogah ah."


"Udah ikut aja."


Ara mengikuti Ulfa ke belakang. Ara terkejut melihat ada Rafan disana. Tatapan mereka saling bertemu. Ara mengalihkan tatapannya, Rafan tersenyum kecil melihatnya.

__ADS_1


Pasti kerjaan Ulfa ini. Dasar ini bocah.


Ara mencubit pelan pinggang Ulfa.


"Auu, sakit ra." Ulfa mengelus pinggangnya.


"Ini kerjaan kamukan."


"Hehehe iya." nyengir kuda.


"Dasar nyebelin."


"Alahh padahal sukakan ketemu sama SUAMI disini." goda Ulfa.


"Isshh, udah ah ayok balik." Ara menarik tangan Ulfa.


"Nanti dulu sampahnya belum di buang." menunjukkan sampah ditangannya.


"Ya udah buang sana, aku tunggu. cepetan."


"iyaa bawelll." Ulfa beranjak pergi untuk membuang sampah melewati rombongan santri putra.


Ara masih memperhatikan Ulfa, sesekali melirik ke arah Rafan. Dan tak sengaja tatapan mereka bertemu lagi. Ara gugup langsung mengalihkan pandangannya.


Rafan tersenyum kecil.


Manis sekali dia.


"Pak ustadz Ghifari." panggil Ulfa.


Rafan menoleh melihat Ulfa.


Dia teman Ara. pikirnya.


"Kenapa ?" tanya Rafan.


"Tolong buangin sampah ya." pinta Ulfa memasang wajah memelas.


Rafan mengernyitkan keningnya, ada yang berani menyuruhnya, pikirnya.


"Ini sampah punya Ara pak, dia gak berani buang sendiri malu sama bapak katanya." Ulfa berbisik pelan agar santri putra tidak dengar.


Rafan kaget lalu melirik Ara yang sedang melihatnya, lalu mengalihkan pandangannya ketahuan memperhatikan Rafan.


Rafan tersenyum.


"Sini saya aja yang buang." Rafan mengambil tempat sampah di tangan Ulfa.


Ulfa tersenyum, rencananya berhasil pikirnya.


Sambil menunggu Rafan selesai membuang sampah, Ulfa melihat Ara dan mengacungkan jempolnya lalu tersenyum jahil.


Itu bocah ngapain lagi, pake main jempol. senyum-senyum lagi. batin Ara.


"Nih udah." Rafan menyerahkan tempat sampah yang sudah bersih ke Ulfa.


"Makasih pak, Ara pasti seneng banget kalo bapak yang buang." ucap Ulfa sembari meninggalkan Rafan menuju Ara.


"Ayo pulang." Ajak Ara.


"Yakin mau pulang ?" goda Ulfa. "Gak mau nungguin suami ? hehehe." lanjutnya.


"Issh apaan sih, ayo pulang." Ara menarik tangan Ulfa.


Tak lupa Ara menoleh sebentar untuk melihat Rafan. Rafan pun tengah melihatnya. Ia jadi salah tingkah dan mempercepat langkahnya.


Curi-curi pandang ya. batin Rafan lalu tersenyum samar saat tubuh Ara hilang dari pandangan nya.


Aaa kok aku deg-degan sih. Ara tersenyum dan berlalu.


Haii guys, up lagi nih.


Jangan lupa klik favorit, biar gak ketinggalan episode terbaru.


Like komennya juga ya🤭.


🤗

__ADS_1


__ADS_2