Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Gagal ke dua kalinya


__ADS_3

Matahari sudah menampakkan diri, kicauan burung , hembusan angin, goyangan bunga-bunga yang gemulai seolah gembira menyambut mentari pagi. Setelah ditinggal Rafan, ia pergi untuk membantu memasak. Tapi dilarang Laras. Alhasil Ara pergi ke taman belakang mengikuti Laras.


Disana ada taman bunga yang cukup besar, ada juga meja dan kursi berwarna putih ditengah taman. Sangat indah berpadu dengan warna warni bunga. Ara sampai takjub dibuatnya.


"Ini taman mama. Kebetulan mama suka banget sama bunga. Saking sukanya sama bunga, mama jadi sering pergi ke taman buat sekedar liat bunga. Dan papanya Rafan gak suka, ya akhirnya dibuatin deh taman ini. " ucap Laras


Ara mengerjap tak percaya. "Perhatian banget ya papa."


Mereka duduk di tengah taman dan akhirnya mengobrol panjang lebar sambil menunggu Rafan kelar urusan dengan Kakek.


"Ra."panggil Laras.


"Iya ma."


"Makasih ya udah mau nerima Rafan sebagai suami kamu." menggenggam tangan Ara. "Rafan itu sejak dulu anaknya pendiam. Mama tu sampe sedih ngeliat dia jarang senyum. Dingin, cuek anaknya. Tapi Mama bersyukur banget, semenjak ada kamu, Mama jadi sering liat dia senyum. Apalagi manja-manja sama kamu. Pokoknya dia bisa berubah gitu semenjak ada kamu."


"Hehehe, bisa aja Mama." Ara tersenyum tulus, ia juga tak menyangka bisa membawa perubahan besar dalam diri Rafan.


"Ehemm." suara Deheman Rafan menghentikan kegiatan Ara dan Laras.


"Ngapain tuh Mama pegang-pegang istri Rafan ?"


"Ih, suka-suka Mama dong. Arakan menantu Mama."


"Diakan istri aku."


"Kamu cemburu ceritanya ?" goda Laras.


"Ya iyalah, dia istri aku." Rafan duduk di samping Ara.


Ara Menggeleng pelan dengan kelakuan Rafan, bisa-bisanya dia cemburu pada Mamanya sendiri.


"Lihatkan Ra, suami kamu. Cemburuan banget." keluh Laras.


"Hehehe maafin suami Ara ma, emang agak kurang."


Laras terbahak mendengar penuturan Ara. Rafan sendiri menatap tak suka pada Ara. Yang ditatap pura-pura tidak tau.


"Iya kurang jatah dari istri Solehah !" Sengaja Rafan menekan ucapannya menyindir Ara.


Ara tersipu, melihat Laras ganti mentertawakan dirinya.


Itu mulut lemes banget deh !


"Hahaha, kalian ada-ada aja ya. Dasar pengantin baru." ledek Laras.


"Iri bilang bosss!!, hahaha." gantian Rafan meledek Laras.


Karena tak tahan terus-terusan di ledek dan disuguhi pemandangan romantis Laras memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.


"Kan mas, Mama masuk. Diledekin aja si." sungut Ara.

__ADS_1


"Biarin aja, biar mama gak ganggu kita."


"Durhaka deh."


" Itu gak masuk kategori durhaka sayang. Udah sini kamu. " memerintah Ara mendekati dirinya.


"Inikan udah deket mas."


"Sini duduk di sini." menepuk pahanya.


"Gak ah, malu nanti ada yang liat. lagian aku berat mas." tolak Ara.


"Udah cepetan sini. Atau mau mas aja yang duduk di pangkuan kamu." Rafan mengutarakan ide gila lagi, pikir Ara.


Ara mengalah lagi, ia memilih duduk di paha Rafan. Daripada Rafan yang mendudukinya, bisa pegal kakinya.


Rafan memeluk Ara erat, menyenderkan kepalanya ke dada Ara. Walaupun risih takut ada yang melihat, Ara tak bisa menolak.


"Mas belum sarapan loh. kita sarapan dulu yuk." ajak Ara


"Kamu belum sarapan ?" tanya Rafan tak menjawab pertanyaan Ara.


"Udah sih tadi sama Mama. laper banget soalnya."


" Mas juga udah sarapan."


"Sarapan dimana ?" tanya Ara karena tak melihat siapapun mengantar sarapan ke ruangan Kakek.


Wajah Ara sudah seperti kepiting rebus mendengar ucapan Rafan.


"Dasar gombal."


Mereka bercengkrama, tertawa bersama. Sesekali Ara memukul pelan bahu Rafan. Bagaimana tidak ? bisa-bisanya Rafan menggigit lengan dan area sensitif di luar seperti itu. Jika ada yang memergoki bagaimana ?


"Mas aku tadikan cerita sama Mama tentang bunga kan. Terus aku dibilangin Mama wanita jadi-jadian, gara-gara gak suka bunga gitu." ucap Ara mengalihkan perhatian Rafan agar tak menggigitnya lagi.


Dan berhasil."Aneh-aneh aja Mama, menantu cantik di bilangnya jadi-jadian. "


"Mamakan bercanda mas." memainkan rambut Rafan yang wangi.


"Memang kenapa gak suka bunga ?"


"Gak tau gak suka aja."


"Selain bunga yang disukai sama perempuan, apalagi yang disukai perempuan tapi gak kamu suka. Makanan atau apa ?" tanya Rafan.


"Emm, kalau makanan aku gak suka seblak. Padahal kata temen-temen gitu seblak enak, bagiku enggak."


"Terus."


"Pizza gak suka, Terus ada itu makanan Jepang

__ADS_1


apa ya namanya, sasimi, apa susimi gitu."


"Sasuke kali." jawab Rafan lalu terbahak.


"Bukanlah, Sasuke kan orang. Ya pokoknya itulah yang ada daging mentah itu."


"Iya." Rafan menganggukkan kepalanya. "Terus makanan kesukaan kamu apa ?"


"Banyak makanan kesukaan aku mah. Martabak, bakso, sate, sempolan, naai goreng.mie ayam..." dengan semangat Ara menyebutkan makanan kesukaannya.


"Sama mas suka kan ?" celetuk Rafan


"Ya sukalah." jawab Ara cepat. Rafan terkekeh senang mendengarnya.


"Ehh mas tadi bilang suka apa ?"


"Kamu suka gak sama mas, dan kamu jawabnya suka." ledek Rafan.


Wajah Ara memanas, dia mengakui bahwa dia menyukai Rafan. Ara pun bingung sejak kapan ia bisa menyukai Rafan, merasa senang, nyaman saat di dekat Rafan.


"Kan mas jahil deh sama aku." Ara pura-pura merengut.


"Mukanya jangan gitu deh, mas jadi gak tahan." Rafan berbisik membuat Ara bergidik dibuatnya.


"Ih, kan kebiasaan."


"Mas udah gak tahan sayang," bisik Rafan lagi.


"Jangan ma..."


Bibir Ara kalah cepat dengan bibir Rafan yang sudah ******* bibirnya. Ara sedikit memberontak, tapi ditahan Rafan. Akhirnya ia menyerahkan dan membiarkan Rafan ********** lagi.


"Astaghfirullah, dasar anak muda gak tau tempat !" seruan keras itu membuat Ara dan Rafan kelabakan. Dengan cepat Ara turun dari pangkuan Rafan.


"Dikamar woy ! ini taman!! " Teriak Fadil sambil berbalik masuk rumah lagi.


Ara malu bukan kepalang, dia sudah kepergok mertuanya lagi. Ia menyubit pinggang Rafan.


"Kan gara-gara mas sih. Kena marah papa." sungut Ara.


"Biarin, papa itu iri. Udah yuk kita ke kamar aja. Digangguin terus dari tadi." Rafan menarik tangan Ara untuk pergi ke kamar, melanjutkan kegiatannya yang terus diganggu dan tertunda.


Hufhh, Astaghfirullah. Yang sabar ya Ra.


Untung sayang. Untung suami aku.


Hai up lagi nih. Udah panjang kan 😁.


Maaf kalau banyak typo ya.


Jangan lupa untuk selalu like, komen and favorit deh. Kalau males like aja gakpapa🤭.

__ADS_1


Terimakasih untuk para readerku 🤗🤗


__ADS_2