
Kegiatan wisuda Ara telah rampung. Semua berjalan dengan lancar. orang-orang tidak ada yang curiga dengan kedekatan dirinya dengan Rafan. Kedua orang tua Rafan dan Ara pun berusaha memaklumi dan mengaku bahwa mereka hanya sebatas teman.
Selesai wisuda dengan prestasi yang membanggakan, Ara kemudian berpamitan langsung untuk keluar dari pesantren. Sesuai dengan permintaan Herman Rafan sudah harus mengurus perusahaan.
"Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga" ucap Laras saat mobil yang ditumpanginya memasuki area rumah bak istana.
"Ayo Jeng Nisa masuk." ajak Laras pada Nisa.
Orang tua Ara ikut serta ke rumah Rafan. Sebenarnya mereka keberatan dan berencana untuk langsung pulang ke Sumatera. Namun, karena permintaan dari besannya mereka tak enak untuk menolak.
"Wah bagus banget ya rumah besan kita yah. Beda sam rumah kita." ucap Nisa menggandeng tangan Budi.
"Namanya orang kaya bu."
Mereka berjalan memasuki rumah, mengikuti Fadil dan Laras. Ara dan Rafan tampak masih sibuk dengan barang-barang dari pesantren.
"Ra kita masuk aja dulu, biar nanti Bi Inah aja yang beresin barangnya."
Ara mengeluarkan barang-barang miliknya dan milik Rafan dari mobil. "Tapikan ini banyak mas, nanti ngerepotin lagi. Kan kasian Bi Inah"
Rafan tersenyum, mulia sekali istrinya ini.
"Nanti dibantu sama Mang Ade, kan banyak juga pembantu yang lain. Udah kita masuk dulu istirahat. Kamu pasti capek kan ?"
"Ya udah deh. Kebetulan capek juga abis wisuda, mana pake sepatu tinggi tadi." keluh Ara.
"Ya udah yuk masuk" menggandeng tangan Ara memasuki rumah menyusul orang tua mereka.
Fadil, Laras dan besannya tengah berkumpul di ruang keluarga. Rafan dan Ara Menghampiri.
"Ma, Rafan ke kamar dulu ya. Soalnya Ara kecapean mau istirahat dulu"
"Oh ya udah, kamu juga istirahat ya temani Ara"
"Rafan permisi pak bu " Rafan berpamitan pada mertuanya, lalu mengajak Ara untuk ke kamar.
__ADS_1
"Mereka udah deket ya ?" ucap Nisa.
"Alhamdulillah iya jeng. Ya walaupun pertamanya mereka masih agak canggung. Sekarang sudah nempel terus kayak lem. Apalagi Rafannya aduhh ! gak bisa lepas gitu dari Ara, hehe." Sahut Laras bersemangat.
Mereka melanjutkan perbincangan, kemudian Laras mempersilahkan besannya untuk istirahat dikamar yang sudah di siapkan.
****
Dikamar Rafan, Ara sedang membersihkan makeup di wajahnya, sambil menunggu Rafan selesai mandi.
"Ra, mandi gih. aku udah selesai nih." Rafan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Tentunya mengekspos keindahan tubuhnya.
Ara tertegun sejenak, lalu memalingkan wajahnya malu.
Aduhh, ganteng banget ya suamiku. Mana abis mandi gitu cuma pakai handuk lagi. Aaa, gemes sama roti sobeknya.
"Ra" panggil Rafan.
"Iya mas" jawab Ara masih berpura-pura membersihkan wajah, sambil melihat pantulan tubuh Rafan disana. Buliran air yang membasahi rambut, dada dan perut Rafan membuat nafas Ara kembang kempis tak karuan.
Sexynya.
"Kamu lagi mikir jorok ya" bisik Rafan menyeringai menatap Ara di cermin.
Ara gelagapan sendiri "Is, siapa yang mikir jorok!" protes Ara tak terima.
"Jangan bohong," Rafan berbisik lagi.
Wajah Ara merona malu "A, terserah mas. Aku mau mandi." Ara bergegas pergi ke kamar mandi.
Rafan terkekeh geli dengan tingkah Ara. Dia sendiri akhirnya beranjak untuk berpakaian.
"Mas," Ara sudah di belakang Rafan yang sedang memilih baju.
"Kenapa sayang ?" membalikkan badan menatap Ara.
__ADS_1
"Ini bantuin bukain bajunya, susah banget." Ara memutar tubuhnya menunjukkan resleting baju di punggungnya. Ara yang memakai kebaya modern berwarna merah maroon dengan desain yang elegan untuk acara wisudanya. Dia kesusahan membuka resleting yang sepertinya macet.
Rafan bergegas membuka resleting Ara, Dia pun nampak kesusahan membukanya.
"Bisa gak mas ?"
"Bentar, macet ini." berusaha keras menarik resleting Ara.
"Nah udah"
Rafan sudah berhasil membuka resleting baju Ara, hingga bahu mulus Ara terlihat. Rafan mendekatkan wajahnya, mencium wangi tubuh Ara lalu Menempelkan bibirnya di bahu mulus Ara.
"Ih mas ngapain gigit aku."
Rafan terkekeh, dan melepaskan gigitannya."Kamu wangi sayang."
" Wangi darimana, orang bau keringat juga. Udah aku mau mandi dulu." Ara mau beranjak pergi tapi ditahan Rafan yang memeluk dari belakang.
"Mas lepasin" Ara merengek, merasa malu sekaligus senang.
"Bentar ya, mas pengen gini" Rafan mengeratkan pelukan dan mencium bahu Ara sesekali menggigitnya.
" Geli Mas, badan aku juga bau jangan di gigit."
"Badan kamu wangi sayang." Rafan menggesek-gesek kan bibirnya di bahu Ara.
"Udah mas, aku mau mandi panas." Ara memberontak melepaskan pelukan Rafan, setelah berhasil Ara kilat berlari ke kamar mandi. Ia sudah tak tahan, jantungnya berdetak tak karuan.gara-gara dipeluk Rafan.
"Jangan lari-lari nanti jatuh" seru Rafan.
"Iya sayang, makasih." sahut Ara lalu menutup pintu.
Rafan tertegun, kemudian tersenyum. Wajahnya memerah malu, sesenang itukah dia di panggil sayang oleh Ara.
Hai up lagi nih.
__ADS_1
Maaf ya beberapa hari ini gak update episode terbaru. Ada hal yang urgent banget harus author kerjain ππ.
Sebagai gantinya author bakal up banyak episode deh, bayar hutang kemarin π.