Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
BAB 58


__ADS_3

Nico sudah bersiap untuk menemui Ara. Wewangian paling wangi dipakainya, persiapannya sungguh sangat matang. Pasalnya Nico yang tidak terlalu mengerti fashion style, rela mencari berbagai sumber di internet untuk mendapatkan fashion style yang cocok saat bertemu dengan seseorang yang spesial, yaitu Ara.


"Oke sip. Ini sudah lumayan. Gak sia-sia aku nyari inspirasi kesana kemari."


Nico sedikit berlenggak lenggok di depan cermin. "Oke sekarang kita berangkat jemput tuan putri !"


Sepanjang perjalanan menuju tempat Ara, Nico sudah mempersiapkan segala sesuatu yang akan dilakukannya.


Oke, Pakaian sudah rapi. Nanti selalu tersenyum, terus bukain pintu mobilnya, terus ajak dia ngobrol santai. Baru kita lancarkan aksinya.


Tidak butuh waktu lama Nico sudah sampai di tempat Ara. Karena desakan Nico Ara terpaksa harus mau di jemput Nico. Padahal rencana awal, Nico cukup share lokasi saja, tidak perlu menjemputnya.


"Ara ! teman kamu sudah datang !" panggil Sarah yang mengintip Nico dari jendela.


"Iya bentar !" Ara bergegas keluar dengan penampilan yang rapi dan cantik.


"Ehm, emang beda ya aura orang lagi jatuh cinta." ledek Sarah.


"Apaan sih Kakak. Siapa juga yang jatuh cinta."


"Iya-iya, udah sana. Sudah di tungguin dari tadi."


"Ara pergi Kak, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Nico tengah berdiri bersandar pada mobilnya, sesekali berkaca merapikan rambutnya. Tubuh Nico seketika tegap melihat Ara yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Cantik sekali tuan putri, lihatlah Tuhan. Bagaimana aku tidak jatuh cinta pada mahluk-Mu yang satu itu. Pesonanya terlalu indah untuk ku tolak. Dia tersenyum seperti itu pun, rasanya ingin sekali aku terbang menggenggam erat tangannya dan tidak akan pernah ku lepaskan lagi.


"Maaf sudah buat Pak Nico nunggu lama." ucap Ara. Nico yang masih sibuk dengan lamunan ngawur sambil tersenyum tidak menyadari Ara di dekatnya.


"Pak ! Pak Nico !" Ara menggerakkan tangannya di depan wajah Nico.


"Pak Nico, Bapak gak apa-apa kan !" seru Ara sambil menepuk pelan lengan panjang Nico.


Nico kaget, memasang wajah malu sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bapak sehat kan ?" tanya Ara.


" Em, saya sehat kok." jawab Nico terbata.


"Terus kenapa melamun ?"


"A, enggak saya cuma terpesona sama bidadari."


Ara memicingkan matanya "Terpesona ! Bidadari !" Ara celingukan mencari bidadari yang di maksud Nico. "Gak ada bidadari deh Pak. Bapak ngelantur ya ?" selidik Ara.


Mampus Nico, mau jawab apa kau hah ! Ya kali mau jawab kalau bidadari nya Dia. Kan malu Nico !


Lagi-lagi Nico menggaruk tengkuknya bingung harus menjawab apa. "Ah sudahlah, tidak usah dipikirin. Mungkin saya benar-benar ngelantur deh. Ayo masuk Ra." Nico mempersilahkan Ara untuk segera naik mobil.


Ais. Kenapa lupa aku. Rencananya tadi kan aku yang bukain pintu mobilnya, romantis dikitlah. Dasar Nico bodoh, Nico pelupa. Yah begitulah, Nico merutuki kebodohannya lagi.


****


Mobil Nico melesat memecah keramaian malam. Ya, mereka akhirnya pergi malam hari, menurut Nico malam itu suasananya penuh dengan keromantisan.

__ADS_1


"Pak Nico mau ajak saya kemana ?"


"Kalau cuma kita berdua gak usah panggil Bapak lah, biar enak. Emang saya setua itu ya Ra ? sampai dipanggil bapak ?"


"Em, ya enggak sih Pak. Cuma, gak enak aja, gak sopan aja gitu kesannya." jawab Ara melihat NicoSambil tersenyum.


Nico jadi salah tingkah melihat senyuman Ara. Please jangan senyum Ra ! Bisa gawat darurat aku liat kamu senyum.


Nico balas tersenyum sembari menetralkan nafasnya yang baper." Santai aja Ra. Panggil aja Kak, atau Mas, sayang juga boleh." lirih Nico.


"Hah !" Ara sedikit kaget dengan Nico yang mau di panggil sayang.


"A, gak usah di dengerin Ra. Mulut saya emang susah di kontrol." Nico menepuk bibirnya pelan.


Sial ! Dasar mulut kenapa keceplosan si !


"Hahaha, bapak. Eh maksudnya Kakak ada-ada


saja ! Hahaha. Eh gak apa-apa kan saya panggil Kakak ?"


Lagi-lagi Nico mendapatkan rejeki nomplok. Ara tertawa mendengar penuturan Nico yang nyeleneh menurutnya. Ditambah panggilan Kakak, sejuk sekali masuk telinga Nico. Meskipun diluar ekspektasi tinggi Nico yang ingin dipanggil sayang, menurutnya Kakak tidak terlalu buruk.


"Eh iya, panggil Kakak juga gak apa-apa." sahut Nico terbata.


Tuhan, izinkan senyuman itu hanya tersaji untuk, jadikan senyum itu milikku.


Ah, hatiku kenapa rasanya berbunga ya ? Indah sekali malam ini.

__ADS_1


Suasana kembali hening, Nico pun mulai fokus pada kemudinya sembari tersenyum melirik Ara. Dan Ara tampak melihat keluar jendela, menatap keindahan malam penuh bintang. Mobil masih melaju sesuai arahan Nico.


__ADS_2