Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Gombalan Ara


__ADS_3

Rafan masih diam bingung mau jawab apa. Dia ingin masuk kelas tapi malu karena ada Ara disana. Entahlah padahal ara tidak berbuat apa-apa, dan mereka tidak ada yang tau tentang pernikahannya.


"Pak Robin." panggil Ara. Suara Ara yang keras berhasil membuat semua mata menatap Ara. Rafan pun cukup terkejut dengan panggilan Ara.


"Kenapa Ra ?"


"Bapak coba tutup mata bapak."


Semua kaget, dan bertanya-tanya ada apa dengan Ara. Tapi mereka ingin menonton dulu apa yang akan Ara lakukan. Begitu juga dengan Rafan.


"Kenapa saya harus tutup mata saya ?" tanya Robin.


"Nanti bapak bakal tau jawabannya."


Robin tak banyak protes dan menuruti perkataan Ara. Dia memejamkan matanya.


"Sudah Ra."


"Sekarang buka pak."


Robin membuka matanya.


"Apa yang bapak lihat waktu bapak tutup mata ?" tanya Ara.


"Gelap." jawab Robin.


"Yah begitulah pak masa depanku kalau gak sama bapak. Gelapp."


Semua tercengang dengan perkataan Ara. Rafan tak kalah kaget dan hatinya merasa sakit.


Suasana kelas hening,


"Cieeeee." Ulfa berusaha memecah keheningan yang terjadi.


"Cieeee." kelas mulai gaduh dan menyoraki Ara.


Robin hanya senyum senyum sendiri.


"Araaa ! bisa gombal kamu ya." Robin menetralkan rasa malunya.


"Ah bapak bisa aja." Ara tersipu malu.


"Lagi-lagi, lagi." sorak-sorai orang dikelas.


"oke-oke, semuanya saya masih ada gombalan lagi. Gakpapa kan pak." Ara meminta persetujuan Robin.


"Silahkan Ra."


Ara melirik sekilas Rafan yang masih terus menatapnya. Tapi dia acuh, masih kesal dengan Mutia dan melampiaskan ke Rafan.


Robin kemudian duduk di kursinya dan mempersilakan Rafan duduk dikursi dekat mejanya dan Rafan setuju.


"Pak Robin." panggil Ara.


Seisi kelas serius mendengarkan apa lagi yang akan Ara utarakan.


"Ya Ra."


"Saya tadi abis solat subuh pak, tapi saya malah sedih."


"Kenapa sedih ?"


Rafan dan seisi kelas mengernyitkan keningnya heran.


"Bapak tau kenapa?." Robin menggeleng-gelengkan kepalanya.


"saya sedih karena tadi bukan bapak imamnya."


"Uhuyyyy, cieee, cieee." semua bersorak Sorai.


Robin tersenyum salting.


Hanya wajah Rafan yang terlihat kesal.


Bisa-bisanya dia menggombali laki-laki lain. batin Rafan.


"Oke cukup guysss, kita mulai lagi." Ara memberi isyarat diam kepada teman-temannya.


"Nif." sekarang sasaran Ara Hanif yang duduk di depannya. Suasana kelas kembali kondusif.


"Iya Ra."


"Kamu tau bedanya kamu dengan bola."


Hanif diam lalu menggeleng.


"Kalau bola dikejar buat ditendang. tapi kalau kamu dikejar terus disayang."


"Wowwww, wihhh, cieee cieee !" kelas gaduh lagi. Bahkan ada yang memukul-mukul meja kesal, menunggu bisa di gombali Ara.


Rafan semakin kesal, wajahnya sudah memerah menahan marah.


"Stoppp guyss, oke stop." Robin angkat bicara menenangkan kegaduhan.


"Ara saya kasih tantangan kamu."


"Tantangan apa pak ?"


"Saya kasih tantangan ini kalau berhasil saya akan kabulkan permintaan kamu." ucap Robin.


Ara merasa tertantang dan langsung menerima tantangan Robin.


"Oke pak saya terima, lalu apa tantangannya."


"Ini tantangan yang sulit Ra kamu harus ekstra kerja keras dan hati-hati."


Ara, Rafan dan seisi kelas masih menyimak penasaran.


"Tantangannya kamu harus bisa buat Pak Ghifari tersenyum atau tertawa dengan gombalan kamu."


"Apaaaa!!!" teriak seisi kelas. Rafan tak kalah terkejut dirinya yang dijadikan tantangan.


"Gak mungkin bisa."

__ADS_1


"Mission Impossible."


"Mustahil broo."


"Gak usah diterima Ra, bahaya coy."


"tantangannya udah kek dihukum pancung deh."


seisi kelas masih dengan gumaman yang sama, mustahil. Sangat sulit bahkan tidak mungkin bisa membuat Rafan tersenyum hanya dengan gombalan.


Lelaki itu seperti Es yang di formalin, dinginnya awet. itulah kata mereka.


Ara tampak berpikir keras lalu melirik Rafan, dan Rafan pun sedang melihatnya, tatapan mereka bertemu.


"Okee saya terima tantangan bapak."


Ya, jawaban Ara berhasil membuat semua orang terkesima dengan keberanian Ara.


"Silahkan di mulai Ra." Robin mengisyaratkan untuk memulai.


"Ehemm," Ara berusaha menguasai kegugupannya sambil menatap Rafan kemudian tersenyum.


Dahlah kalah aku, disenyumin dia aja udah gak tahan aku. batin Rafan. Dia menggenggam erat jemari tangannya mengusir gugup.


"Pak Rafan." Ara memulai dengan nada seperti polisi sedang mengintrogasi.


Rafan diam.


"Saya mau bapak menyelesaikan teori saya dulu."


Apaa!!! gombalan macam apa ini.


Yaa. Bisa diperkirakan seperti itulah pikiran orang-orang di dalam kelas termasuk Rafan.


"Teori apa ?" tanya Rafan.


"Teori pasangan abjad."


"Teori pasangan abjad. memang ada ?" Rafan semakin penasaran.


"Ya ada, kan itu saya yang buat." wajah Ara terlihat santai, berbeda dengan teman-temannya yang di lingkupi rasa takut dan penasaran dengan permainan Ara.


"Gimana caranya."Rafan bertanya lagi.


"Caranya bapak cukup pasangkan abjad pertama dengan abjad selanjutnya yang di depan. Contoh A love B gitu. dan seterusnya. Nanti saya yang koreksi benar atau salah jawabannya. kalau saya bilang benar berarti benar kalau salah ya salah." jelas Ara.


Wahh mantap si Ara berani juga sama pak Ghifari pikir temannya


"Oh gitu oke." Rafan paham. "Oke saya mulai A love B."


"bener."


"C love D."


"bener."


"E love F."


"Bener."


"Belum selesai pak lanjut lagi."


"Oke, selanjutnya eem," Rafan lupa.


"G love H. pakk!!." seru seisi kelas membantu Rafan. Mereka pun penasaran.


Ara terkekeh kecil.


"Oke oke thanks semuanya. G love H." lanjut Rafan.


"Bener."


"I love J."


"No no, salah pak." seru Ara.


"Kok salah." tanya Rafan bingung.


Lah kok salahh,


seisi kelas kembali dibuat makin penasaran saja.


"Iya salah, yang bener itu I love you !"


Bluss.


Wajah Rafan memerah sempurna.


Dasarrr. Aaa kenapa jadi salting aku.


"Wahhh, woww yuhuuuuu, cieee ! Cieeee !" sorak Sorai berkumandang lagi. Gebrakan meja terdengar keras. Mereka juga baper dengan gombalan Ara.


Robin pun menganga tak percaya dengan gombalan Ara, ditambah melihat ekspresi Rafan yang malu-malu kucing.


Prok-prok. Tepuk tangan Robin diikuti seisi kelas.


"Wahh hebat kamu Ra, lihatlah wajah Pak Ghifari sudah memerah.


"A cieee pak Ghifari salting. cie cieee." Seru Hasyim teman Ara.


"Cieee." seisi kelas menggoda Rafan.


"Sudah semuanya diam." pinta Robin. "Lanjut Ra, Pak Ghifari cuma merah mukanya. dia gak senyum." lanjutnya.


Robinnnn!!! cukup, bisa-bisa lari jantung ku. Gak aman dia kalau digombalin Ara. pekik Rafan dalam hati.


"Oke saya masih banyak stok gombalan." ucap Ara memasang wajah Sombong.


"Oke Pak Rafan bapak tau bedanya bapak dengan angka sembilan."


"Tidak, memang apa bedanya saya dengan sembilan."


"Kalau angka sembilan itu nine, kalau bapak itu mine."

__ADS_1


"Wihhhhhh, cieeeee. uhuy !


Suasana riuh lagi.


Rafan sedikit menyunggingkan senyumannya.


Tolong jantung, mohon kerjasamanya, berdetak sewajarnya jangan lompat-lompat.


" Ciee kan lihat Pak Robin, Pak Ghifari tersenyum." seru Hasyim tak mau kalah.


otomotis semua orang menatap Rafan yang gugup ketahuan tersenyum.


"Wahhh Ara berhasil !" teriak Ulfa girang


"Yey Ara hebat !" teriak lainnya.


"Hebat kamu Ra." puji Robin sambil tepuk tangan, diikuti oleh seluruh manusia yang ada dikelas Ara.


Ara bangkit dari duduknya memberi tanda terimakasih membungkukan badan dan tangan didepan dada, seperti sehabis menyanyi, lalu duduk lagi.


"Wahhh kamu bisa Ra saya daftarkan ke museum biar dapet penghargaan."


"Penghargaan apa pak ?" tanya Ara penasaran.


"penghargaan bergengsi bisa membuat manusia salju di samping saya untuk tersenyum dengan gombalan kamu."


"Ah, bapak bisa saja." giliran Ara yang tersipu malu.


Tepuk tangan masih untuk Ara.


"Lagi dong Ra gombalannya." pinta Hasyim.


"Iya lagi dong ra. lagi, lagi, lagi." teriak seisi kelas.


"Oke guys Ara silahkan lanjutkan gombalannya, tapi kalian jangan ribut, kecil-kecil aja teriaknya ya." Robin menginstruksikan.


"Siappp Pak!!!." jawab serempak.


"Ayo Ra cepetan." Pinta Hasyim tak sabar.


"Iya sabar," Ara menarik nafas. "Pak Rafan, emang bapak gak capek." tanya Ara.


seisi kelas semangat menyimak.


"Capek kenapa?" Rafan mengernyitkan keningnya.


"Capek lari-lari di pikiranku."


Jawaban Ara memberi kesempatan seisi kelas ribut lagi, walaupun tidak sekeras tadi.


Percayalah wajah Rafan sudah merah padam karena maluu.


"Satu lagi pak." lanjut Ara. "Bapak mau gak main Upin Ipin sama saya, bapak jadi Upin saya jadi Ipin."


"Kenapa begitu." Rafan semakin gugup dibuatnya.


"Karena kalau saya jadi Ipin, saya bisa betul betul betul mencintai bapak." ucap Ara dengan logat khas Ipin.


"Wuih gila ! sadis Ara brooo !" Hasyim paling kuat suaranya.


Kelas kembali riuh.


Rafan sudah dipastikan tak lagi bernyawa, jantungnya sudah lompat-lompat tak beraturan.


Siallll, aku baperrr.


"Sudah-sudah semuanya jangan ribut. Hasyim jangan kuat-kuat teriaknya." seru Robin.


"Maaf pak." sahut Hasyim.


"Oke Ara sudah selesai, kalau sudah kita akhiri pertemuan kita hari ini. Bapak udah gak kuat sama fombalan kamu." Robin terkekeh.


"Satu lagi ya pakk." pinta Ara.


Oke satu lagii, setelah itu kita pulang. Nanti hadiahnya saya dua kali lipatkan." kata Robin.


"Wahh beneran Pak." wajah Ara senang sekali.


Robin mengangguk.


"Satu lagi guysss, oke." seru Ara.


"Okeee sis tarik semongkoooooo." lagi-lagi teriakan Hasyim mendominasi.


"Oke syim tenang, satu lagi pak Ghifari." Ara mengerjapkan mata sebelah menggoda Rafan.


"Bapak tau perbedaan bapak dengan bunga melati ?"


"Tidakkk!!!!." malah seisi kelas yang menjawab. Mereka sudah tau jika Rafan tidak tau perbedaan nya.


Rafan sendiri menggeleng pelan.


"Bedanya kalau bunga melati itu Jasmine, Kalau bapak itu JUST MINE." ucap Ara menekankan kata pada Just mine.


Blussh.


Wajah Rafan semakin terlihat seperti kepiting rebus hampir gosong.


Ya, ketahuilah kelas sudah tak terkendali lagi ributnya.


Setelah selesai mereka memutuskan untuk mengakhiri sesi kelas hari ini.


Mereka sibuk mengingat gombalan maut yang Ara ucapkan tadi, bahkan mungkin ada yang mencatatnya. Sebagai bekal untuk menggombali pasangan mereka mungkin🤭.


Ara pun kembali ke asrama dengan Ulfa. Hatinya pun maaih deg-degan dengan gombalan nya tadi. Entah mengapa gombalan yang ia tujukan pada Rafan semunya tulus iq berikan.


Rafan juga sudah kembali ke tempatnya. Ia pun bisa merasakan ketulusan dari ucapan Ara tadi untuknya. Senyuman itu tak lagi tenggelam di bibir Rafan. Dia masih saja mengingat gombalan Ara yang membuat jantungnya lompat-lompat.


Aissaah, Araaaaa!!!. tak cium ntar kamuuu!!!.


Haloo guysss update lagi nih


Jangan lupa likenya ya, komen juga boleh. Favorit juga deh biar semangat up-nya.

__ADS_1


🤗🤗🤗


__ADS_2