Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Rafan Jahil


__ADS_3

Angin berhembus pelan, lantunan dzikir terdengar dari rumah Rafan. Ara juga tengah berdzikir di kamarnya. Dia solat sendiri, Rafan sudah pergi solat jama'ah di masjid dengan Fadil.


Selesai solat Ara bergegas membereskan tempat tidurnya. Wajahnya memerah melihat tempat tidur yang sangat berantakan karena ulahnya dan Rafan semalam. Dia malu sendiri membayangkan bagaimana Rafan berhasil membuatnya menikmati permainan suaminya itu.


Astaghfirullah, aku mikirin apa coba.


Dengan cepat Ara menggantikan sprei baru, ia memilih sprei tanpa motif, ia menyukai yang polos.


Pintu kamar terbuka, dilihatnya Rafan sudah berdiri dan tersenyum menatap Ara.


"Cie yang abis keramas." mendekat ke Ara. Rambut panjang istrinya masih basah setelah mandi.


"Iss, apaan sih pak." Ara berusaha mengelak menutupi rasa malunya.


Rafan menarik pinggang Ara, merengkuh dalam pelukannya. Mencium kening Ara.


"Bapak kenapa ?" bingung dengan perlakuan Rafan.


"Emang gak boleh cium istri sendiri ?" makin mengeratkan pelukannya.


"Yaa, boleh sih."


"Ya udah biarin aja, mau peluk dulu gini."


Ara pasrah dan membalas pelukan hangat Rafan.


Rafan melepas pelukannya lalu menatap Ara. "Jangan panggil pak dong sayang."


"Terus mau panggil apa ?" Ara tampak malu-malu bertanya.


"Sayang gitu, kalau gak mas. Masa di panggil Bapak. Kan gak romantis gitu." ucap Rafan memainkan ujung hidung Ara.


"Aku panggil mas aja deh."


"Nah gitu, pintarnya istriku." memainkan pipi Ara.


Dengan cepat Rafan menarik tengkuk Ara, mengikis jarak diantara mereka.


Ara kelabakan. "M, mas mau ngapain ?"


Ara sudah fasih ya manggilnya.


"Menurut mu?" Rafan menyeringai lebar melihat Ara gugup.


"Mas jangan gitu ah," mendorong dada Rafan.


"Kenapa." Rafan menarik pinggang Ara sampai Tubuh mereka menempel.


"Mas masih pagi,"


"Memangnya kenapa Ra. Aku gak mau ngapa-ngapain kok. Ohh, jangan-jangan kamu mikir yang aneh-aneh ya ?!!" Rafan malah menggoda.


"Is apaan deh."

__ADS_1


mereka diam, Rafan menatap wajah Ara yang ia dirindukan. Padahal hanya pergi solat subuh, ia sudah merindukan sosok di dekapannya.


"Mas kenapa liatin gitu ?"


"Gakpapa cuman kangen." Rafan mengalihkan anak rambut Ara yang berjatuhan mengganggu wajah Ara.


Ara cengo, Dia merindukan ku, padahal hanya pergi solat. Astaghfirullah dasar deh.


Tak bisa Ara pungkiri ia senang Rafan merindukannya, ia tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum gitu."


"Gakpapa cuma mau bersyukur aja."


Rafan menaikkan alisnya kemudian bertanya "Bersyukur atas ?"


"Kamu mas."


"Aku ?" Rafan menunjuk dirinya. Ara mengangguk. "Kenapa ?" lanjutnya.


"Kadar ketampanan kamu itu loh, kenapa tiap hari nambah terus si. Bukannya kurang malah nambah ganteng aja. Pantes aja mbak-mbak santri pada terpesona sama kamu. Orang gantengnya aja gini. Ihh gemesnya." memainkan wajah Rafan.


Gantian Rafan yang cengo. Ada apa dengan istrinya, baru kali pertama ini Ara bilang jika dia tampan. Apa Ara tak menyadari bahwa Rafan memang tampan dari dulu.


"Kamu baru tau aku tampan ?" Ara mengangguk.


"Aku tampan dari lahir sayang." Rafan berbisik di telinga Ara. Memberikan kesan geli disana.


"Ra ?"


Cup.


Ciuman kilat mendarat di bibirnya.


Aduh, jangan sampai muka kayak kepiting rebus lagi nih.


Cup.


Rafan mencium bibir Ara lagi. Dia menahannya disana. Rafan mulai memberi ******* kecil, tangannya menahan tengkuk Ara, matanya pun sudah terpejam.


Ara sendiri menikmati ciuman itu, bibirnya terbuka membiarkan Rafan mengeksplor lebih dalam. Tangan Ara sudah bertengger manis di leher Rafan. Perlahan Rafan memboyong Ara ke ranjang lagi. Meletakkan dengan hati-hati tubuh Ara tanpa melepas ciumannya.


Mereka ngos-ngosan mengambil nafas. Wajah Ara melebihi kepiting rebus merahnya. Ia menatap Rafan diatas dirinya.


"Ra, mau lagi." nada Rafan merengek seperti anak kecil meminta sesuatu pada ibunya. Dan Ara tak mampu menolaknya.


Mereka beraksi lagi seperti semalam. Bedanya pagi ini Lebih banyak. Semalam hanya dua jam, sekarang Rafan minta lebih. Ara sampai kelelahan meladeni permainan Rafan.


Setelah hampir tiga jam, barulah Rafan menyelesaikannya. Itu juga Ara yang meminta karena perutnya minta segera di isi.


" Udah mas capek." Ara menyingkirkan tangan Rafan yang maaih bermain di area favoritnya.


"Kan cuma main-main ini." menggigitnya gemas.

__ADS_1


"Auu, sakit jangan di gigit. Nanti anaknya gak kebagian gimana ?"


Rafan terkekeh kecil, "Kan masih ada sebelahnya." jawab Rafan.


"Kan gitu." menarik selimut sampai leher tapi ditahan Rafan.


"Dingin mas." rengek Ara.


"Ya udah aku angetin deh." Rafan beranjak naik lagi ke tubuh Ara.


"Ih udah, nanti lagi capek nih."


Rafan tersenyum tak tega pada Ara, lalu kembali berbaring sembari memeluk Ara.


"Mas aku mau turun. Mau bantuin Mama masak." Ara memindahkan tangan Rafan dan beranjak dari tempat tidur.


"Gak usah disini aja." mengeratkan pelukannya.


"Gak enak sama Mama, masak gak bantuin masak."


"Mama juga gak masak sayang. Kan ada pembantu, masa tuan masih mau masak."


Rafan benar, pikir Ara. Rumah sebesar itu memang memerlukan pembantu. Apalagi orang-orang eumah yang sibuk bekerja. Beda dengan rumahnya di desa sana.


"Ya udah deh kalo gitu." merosot lagi masuk kedalam selimut.


Tiba-tiba tangan Rafan mengangkat selimut sampai menutup kepala Ara. Yang dibawah selimut gelagapan.


"Ih mass, ngapain si!!"


"Bentar ada yang mau lewat."


"Hah, siapa ?" Ara mau mengintip sedikit, tapi kepalanya di tahan Rafan agar tak keluar dari dalam selimut. "Siapa si!!"


Dut, dutttt.


Suara kentut Rafan keluar diselingi tawa puas Rafan. Ara yang didalam selimut merasa engap.


"Ihhh, masss!!!!!. Jorok ih."memukul Rafan berkali-kali. Yang dipukul masih dengan tawanya. Lalu berlari masuk kamar mandi.


"Mas Rafan bauuuu!!!!!." teriak Ara kesal.


"Maaff sayanggggg!!!" Teriak Rafan dari dalam kamar mandi.


"Hahaha." Tawa Rafan maaih menggema di kamar mandi. Puas sudah ia mengerjai istrinya.


Dasar jorok, nyebelin banget si. Iiii bau banget lagi. MAS RAFANNN!!! JOROKKK !!.


Hai up lagi nih.


Maaf ya baru up. Lagi banyak drama di dunia nyata.


Tapi jangan lupa untuk selalu dukung author ya. Like, komen dan favoritnya jangan lupa.

__ADS_1


🤗💜


__ADS_2