
Kumandang adzan subuh sudah mengalun merdu. Ara menggeliat pelan membuka matanya, meraba disampingnya Dia menyentuh dada bidang Rafan. Memainkan tangannya di dada Rafan, mengusap-usap pelan, wajahnya merona sendiri.
Astaghfirullah, mikirin apa aku ini.
Ara segera mengalihkan tangannya lalu membangunkan Rafan untuk solat subuh.
" Mas bangun udah subuh nih." menggoyangkan tubuh Rafan.
"Hemm." Rafan menarik Ara ke pelukkannya. "Lima menit lagi ya."
"Mass, bangun ih nanti kesiangan solat subuh."
"Bentar lagi yang, masih dingin." Rafan menimpakan kakinya diatas tubuh Ara memeluknya seperti guling.
"Ih mass, ayok bangun." Ara memberontak melepaskan pelukan Rafan, tapi dia kalah kuat. Rafan masih tak bergeming dengan gerakan Ara.
Ide cemerlang seketika muncul di kepala Ara. Dia tau cara membuat suaminya agar cepat bangun.
Cup.
Kecupan kecil Ara berhasil membuat Rafan membuka matanya.
"Sudah berani sayangku. " Rafan menyeringai. Wajah Ara sudah merona." Ya lagian mas dibangunin, gak bangun. Yaa aku cium deh." jawab Ara.
Rafan tersenyum mendengarnya.
"Kan malah senyum, ayo cepetan bangun. kita solat sub..., emhh." Ara membelalakkan mata.
Rafan ******* bibir Ara. Dia tak kuat melihat istrinya mengoceh, menggemaskan pikirnya.
Setelah beberapa rengekan Ara, Rafan akhirnya melepaskan ciumannya lalu beranjak untuk melaksanakan shalat.
"Diluar ujan, kita solat jama'ah di bawah aja ya, sama papa Mama." ajak Rafan. Ara menurut, kemudian mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah, bersama Fadil, Laras dan beberapa pembantu yang ikut solat.
Selesai solat dan berdzikir mereka kembali ke kamar masing-masing. Para pembantu menyiapkan makanan untuk sarapan. Ara dan Rafan kembali ke kamarnya.
"Mas aku tadi, gak liat kakek solat bareng kita. Apa kakek solat dikamar ?" tanya Ara sambil melipat mukenanya.
Suara hembusan nafas Rafan yang berat terdengar sampai di telinga Ara. "Kakek tidak solat Ra."
"Astaghfirullah, kok gitu mas ?"mendekat ke Rafan yang duduk di sofa.
__ADS_1
"Kakek tidak pernah mau solat. Kami sudah berusaha mengingatkan tapi kakek kekeuh tak mau mendirikan solat. Setiap kami tanya apa alasannya kakek tak mau menjawab dan akan marah-marah. Jika kakek marah penyakit jantungnya bisa kambuh."
"Sabar ya mas semoga aja kakek lekas di beri hidayah sama Allah dan diampuni dosanya. Asalkan mas Rafan gak berhenti buat terus ngingetin Kakek solat."
Rafan tersenyum menatap istrinya."Istriku Memang Solehah ya." ucapnya.
"Akukan emang solehah."
"Solehah itu kalau mau nurutin kemauan suaminya."
Ara menaikkan alisnya. "Emang kapan aku gak pernah nurutin kemauan mas ?"
"Sekarang."
Ara mengernyitkan keningnya. " Sekarang gimana, mas aja belum minta apa-apa sam aku." kesal Ara memajukan bibirnya.
"Aku mau minta cium." seru Rafan.
Deg.
Ara baru pertama kali ini Rafan minta cium langsung ngomong.
"Itu bukan main sosor, mas cuma gak tahan liat kamu."
"Ihkan, otaknya gitu mulu isinya."
Rafan tergelak melihat wajah Ara yang kesal sekaligus malu itu, sangat menggemaskan.
"Jadi mau cium gak nih ?" goda Rafan.
"Cium aja tapi, jangan aneh-aneh. Aku mau bantuin Mama masak sarapan."
"Yah kan gitu."Rafan pura-pura merengek. "Mama gak masak sayang, ada bik Sumi yang masak dibantu mbak yang lain, jadi gak perlu repot-repot."
"Yaa, aku mau bantuin aja. Masak aku jarang kedapur selama di sini, Malah gak pernah kayaknya deh." Ara mencari alasan agar bisa bebas dari Rafan.
"Jadi gak mau jadi istri Solehah ?" Nada bertanya sudah kesal.
Ara menghela nafasnya pelan. Ia harus ekstra sabar menghadapi suaminya ini. Rafan kadang suka tidak waras jika disamping Ara, pikirnya.
"Ya udah boleh lebih deh, tapi jangan lama-lama." Ara akhirnya mengalah.
__ADS_1
Rafan mendongak melihat Ara, maniknya berbinar bahagia.
Dasar. Liat seneng banget aku ngomong gitu. Ekspresinya kayak kucing dikasih ikan goreng terus di sambal. Pedeskan, kapokk. Untung sayang. untung suami. Hufhh, sabar Ara.
Ara berusaha tersenyum tulus. Rafan yang mendapat lampu hijau tak mau berlama-lama, langsung di sosor bibir Ara,hehe.
Tangannya menahan tengkuk Ara, tangan Ara pun sudah memeluk leher Rafan. Ciuman Rafan beralih ke leher Ara, memberi tanda disana.
"Jangan kuat-kuat mas, sakit."
"Maaf sayang," bicara tanpa mengalihkan ciumannya. Rafan sudah membuka kancing piyama Ara.
Tok Tok Tok
Pintu kamar Rafan ada yang mengetuk.
"Mas ada yang datang."
"Biarin, pasti mama itu tang jahil."Sahut Rafan melanjutkan kegiatannya.
Ketukan pintu kembali terdengar.
"Mas udah dulu, takut itu penting." mendorong bahu Rafan agar menjauh.
" Ganggu aja. Kamu tunggu sini, biar aku yang buka." titah Rafan.
Ara mengangguk, lalu melihat dan meraba beberapa tanda pemberian Rafan di dadanya.
Suka banget ya kasih ginian. Yang kemaren aja belum ilang, udah dikasih lagi. Kayak macan deh tubuhku.
Rafan sudah masuk lagi, wajahnya terlihat kesal.
"Kita lanjutkan lagi nanti sayang, mas dipanggil Kakek."ucap Rafan kesal sambil membenahi bajunya.
Alhamdulillah makasih kakek.
Ara bersorak gembira dalam hati. Tapi wajahnya seolah menunjukkan kekecewaan.
"Jangan sedih ya. Nanti mainnya lama kita." Cup. Rafan beranjak pergi setelah mengecup bibir Ara.
Main lamaa?! emang gak capek apa sih main terus. gerutu Ara
__ADS_1