
Kondisi Herman di kabarkan kritis oleh dokter, dan harus segera melakukan operasi. Pendonor jantung yang cocok sudah di temukan, hanya tinggal melaksanakan operasi.
"Bagaimana dok kondisi ayah saya ?" tanya Fadil.
"Kondisi tuan semakin memburuk, dan harus segera di operasi jantungnya."
"Cepat lakukan dokter, selamatkan kakek." pinta Rafan.
"Kami akan segera melakukan operasi, tapi tuan Herman mengajukan beberapa persyaratan sebelum di operasi. Tuan dan seluruh keluarga di minta untuk masuk."
Fadil dan anggota keluarga lainnya kaget, kenapa Herman mengajukan persyaratan untuk operasi jantungnya.
Bergegas lah mereka memasuki ruangan Herman sebelum di operasi. Herman terbaring lemah, saat anggota keluarganya mendekat.
"Pa, " panggil Fadil. "Kenapa papa mengajukan syarat untuk operasi papa ? untuk apa pa ?"
"Ini permintaan terakhir papa Dil. Papa gak tau operasinya akan berjalan lancar tidak, papa juga gak tau bisa hidup lebih lama atau tidak, uhuk uhuk."
"Pasti lancar pa, pasti papa bisa sembuh." potong Fadil.
"Fan," panggil Herman.
"Iya kek."
"Mendekat cucuku."
Rafan mendekat persis di samping kanan Herman. "Sebelum kakek mati, kakek ingin sekali Fan. untuk terakhir kalinya di dunia. Kakek ingin menimang cucu dari kamu Fan."
Rafan tertegun sejenak, Ara sendiri berusaha untuk tegar, menahan air matanya agar tak tumpah.
"Tapi kek...."
"Kakek tau Ara tak bisa memberikan kamu anak. Tapi Kakek mohon kali ini saja Fan. Tolong penuhi permintaan kakek. Kamu menikah lagi ya, biar kamu bisa dapat anak. Kakek mohon Fan. Kalau kamu mau menikah lagi, kakek akan bersedia untuk melakukan operasi jantung kakek. " pinta Herman
Tubuh Rafan menegang, bingung harus bagaimana. Ia sangat ingin mengabulkan permintaan kakeknya. Tapi, di satu sisi dia tak mau menyakiti Ara, istri yang sangat di cintanya.
__ADS_1
Mendengar penuturan Herman, Ara semakin meremas kuat bajunya. Ingin sekali ia menangis sejadi-jadinya.
Kenapa harus aku ya Allah.
"Maaf kek, Rafan gak bisa"
"Pa, tolong jangan paksa Rafan." sela Fadil.
Laras hanya menangis sesenggukan, ia juga tak mau jika harus kehilangan mertuanya. Tapi Laras kasihan dengan Ara jika harus dimadu.
Rafan menatap sayu Herman "Rafan mohon kek, jangan seperti ini." lirihnya.
"Kalau kamu masih tidak mau menuruti kakek. Terserah kamu, tapi kakek gak mau operasi. Biarlah, kakek mari cepat aja." ancam Herman.
"Kek, Rafan cinta sama Ara. Gak mungkin Rafan menduakan Ara. Dan Rafan juga tidak ada wanita lain untuk mengandung anak Rafan selain Ara kek. " lirih Rafan.
"Dia mandul Fan !" tegas Herman. "Kalau Ara gak bisa kasih kamu keturunan, Hana bisa. Menikah dengan Hana ya."
Tubuh Rafan menegang lagi, maniknya menatap Hana yang tengah salah tingkah, lalu beralih ke Ara yang menundukkan kepalanya. Hati Ara bagaikan di banting, di tusuk ribuan jarum, di sayat pedang tajamnya pedang. Saat dirinya bersedih karena di vonis mandul, di tambah permintaan Herman untuk dirinya agar di madu.
"Ara," panggil Herman. " Kemari."
Ara mendongak menatap Herman dan beranjak mendekat. "Ra, kakek tau berat untuk kamu, tapi kakek mohon sama kamu Ra. Kamu tolong izinkan Rafan menikah lagi ya. uhuk uhuk." Herman batuk lagi. "Usia kakek tak akan lama lagi Ra, kakek cuma ingin bahagia bisa menimang cucu kakek dari Rafan. Kamu masih muda Ra, kamu bisa melakukan pengobatan untuk penyakit kamu dan punya keturunan. Tapi Kakek takut, umur kakek tak kan sampai menunggu kamu hamil. Jadi kakek mohon ya Ra." ucap Herman sedikit terisak.
Ara sungguh tak kuasa menahan tangisnya. Air matanya mengalir tak terbendung lagi. Apa yang harus ia lakukan, ia tak boleh egois memikirkan dirinya sendiri.
"Ra kakek mohon."
"Kek jangan paksa Ara kek, Rafan juga tak mau menduakan Ara." lirih Rafan.
"Mas, yang dikatakan kakek benar." akhirnya bibir Ara berucap, dengan senyuman terpaksa mendampingi. Lantas saja Rafan dan yang lain syok akan ucapan Ara.
"Ara ! apa-apaan kamu !" seru Rafan.
"Mas, aku masih muda, jalan ku masih panjang. Aku bisa nanti berusaha untuk mempunyai keturunan jika di izinkan oleh Allah." mengelus dada Rafan. "Tapi kakek, kita gak tau umur kakek sampai kapan. Jadi kamu bisa mewujudkan impian kakek untuk menimang cucu, aku setuju sama pendapat kakek. Kamu nikah lagi ya mas."
__ADS_1
Kata yang harusnya tidak terucapkan dari bibir Ara, terpaksa harus keluar. Ara pun sangat sakit mengucapkan semuanya. Tapi dia tak boleh egois.
Rafan tak percaya kata-kata yang terlontar dari bibir Ara. "Ara ! stop ! " seru Rafan.
"Mas, Ara mohon kali ini aja ya." tersenyum secerah mentari menutup kesakitan hatinya, kemudian memeluk Rafan.
"Please Ra, jangan gini." bisik Rafan.
Saat Rafan sedang berada dalam dilemanya, tiba-tiba dokter masuk.
"Maaf tuan, kita harus segera melakukan operasinya." ucap dokter.
"Rafan, istri kamu sudah mengizinkan Fan. Sekarang keputusan kamu ?" tanya Herman.
Rafan menatap wajah Ara yang sembab, dan pucat tapi masih menerbitkan senyuman manis itu.
"Mas, kamu harus cepat. Jangan mengambil keputusan yang salah." ucap Ara tersenyum.
"Maaf tuan kita benar-benar harus cepat."
Dokter tampak tergesa.
Rafan masih menggeleng. "Mas jika kamu mencintai aku. Menikahlah lagi mas." bisik Ara lembut.
Rafan terkejut kaget, kini Ara yang memintanya untuk menikah lagi yang artinya Ara siap untuk si madu. Rafan menatap Ara, lalu beralih ke Herman, kemudian ke Fadil papanya. Rafan tak tega jika harus melihat kondisi Fadil yang seperti kehilangan kehidupan jika Herman sakit. Laras yang masih menangis, tatapan Rafan kembali ke Ara. Rafan benar benar dilema.
"Mas, aku mohon." lirih Ara.
Rafan menghembuskan nafas berat. "Cepat dok laksanakan operasi jantung kakek. Permintaan kakek aku kabulkan."
Herman tersenyum senang, Fadil Laras dan Hana masih belum percaya dengan keputusan Rafan, tapi mereka tak bisa berkata apapun.
"Terimakasih mas." Ara tersenyum getir.
Tak butuh waktu lama, operasi jantung Herman dilakukan. Semua orang cemas menunggu diluar ruangan operasi.
__ADS_1