
"Huff. Capek juga ya olahraga gini." Ulfa mengusap peluh yang membasahi dahinya.
"Yee, baru juga lari dikit udah capek aja." ejek Ara.
"Capek tau Ra, lari gini juga. Liat keringat ku udah banyak nih." menunjukkan keringat yang membasahi dahinya.
"Ya hitung-hitung diet kali."
"Eh bagus juga ide kamu Ra,"
"Kan aku bilang apa, ini nih buat kecilin perut nih, yang suka ngemil malem nih." Ara memainkan perut Ulfa yang sedikit gembul menurutnya.
"Iss Ara tangannya." Menepis tangan Ara dari perutnya.
"Abisnya gemes sama nih perut." mau menyentuh lagi Perut Ulfa, tapi di tepis dengan yang punya perut.
"Jangan pegang pegang, malu tau."
"Hehehe, ya maaf deh."
"Jam berapa Ra ?"
Ara memajukan jam ke arah Ulfa, untuk dilihat sendiri.
"Jam sebelas toh, pantes panas." mengipas tangan ke wajahnya.
Mereka diam sejenak.
"Ulfa ! Ara!!, ayo pulang !" Seru Siti dari kejauhan.
"Oke mbak!" jawabnya bersamaan.
*******
"Yes, sampe juga deh"
Ulfa merebahkan tubuhnya di lantai teras depan kamarnya.
"Beli es yuk Fa,"ajak Ara
"Kuy ke kantin," Ulfa tampak bersemangat.
"Mbak titip ya Ra, " ucap Siti.
"Mbak mau rasa apa ?"
"Mangga aja dua ya esnya, sama keripik juga tiga bungkus."
"Oke siap laksanakan komandan, ayo Fa"
"Ayok."
__ADS_1
Merekapun segera pergi ke kantin. Setelah selesai kembali ke asrama lagi.
"Eh Ra kamu beli jam ya ?" Siti meraih tangan Ara. "Kayaknya baru kali ini deh kamu pake jam, biasanya kamu gak suka pake aksesoris di tangan. Mahal lagi nih kayaknya jam." mengamati Jam tangan yang terlihat elegan dengan brand kenamaan.
"Biasalah mbak barang couple." jawab Ulfa. Ara tersenyum malu.
"Sama siapa ?" tanya Siti penasaran.
"Sama siapa lagi kalau bukan suamii." lirih Ulfa.
"Cieee Ara, udah bisa ya." Siti ikut-ikutan menggoda.
Ara tersipu malu dan tersenyum. Jam tangan bertengger dengan anggunnya di pergelangan Tangan Ara. warna hitam dan desain yang elegan, ditambah keluaran brand ternama membuat kesan mewah semakin terlihat.
*****
Waktu itu dibelakang kelas. Ciuman lembut masih berlanjut. Nafas Rafan dan Ara saling memburu satu sama lain. Cengkraman Rafan sudah tak lagi di pinggang Ara. Tangannya sudah berani bergerak ke tempat lain, meremas sesuatu.
Ara kaget kemudian melepaskan ciuman.
"Maaf Ra aku gak bermaksud, maaf aku khilaf." ucap Rafan. Ia mengusap wajahnya kasar, mengusir nafsunya. Ara tau Rafan tengah menahan nafsu. Ara bisa melihat kelebatan nafsu dari manik Rafan.
"Em, saya pulang ke asrama dulu pak." Ara tak mau kebablasan, ia masih tau tata Krama. Ini dilingkungan pesantren, tak mungkin ia melakukan hal-hal senonoh seperti itu.
"Tunggu bentar Ra." mencegah Ara, mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Untuk kamu." menyerahkan benda itu si genggaman Ara.
Di balas anggukan kepala Rafan.
"Itu sengaja aku beli buat kamu, rencananya mau aku titip ke Ulfa untuk kasih ke kamu. dipakai ya, aku juga pake." menunjukkan jam yang sudah melingkar di tangannya.
"Makasih." Ara tersipu malu tau jika jam pemberian Rafan ternyata couple.
"Sini." Rafan meraih tangan Ara kemudian memasangkan jam Ara. Ukuran yang pas ditangan Ara, Rafan sudah tau ukuran tangan istrinya, karena ia sudah sering memegang tangan Ara. "Sudah." tersenyum menggenggam erat jemari Ara.
Rona wajah Ara sudah padam. Dirinya di dera malu akan sikap Rafan padanya. Dia menarik tangannya dari genggaman Rafan.
"E, kalau gitu saya pamit pulang ke asrama Pak."
"Iya"
Ara berlalu sambil sesekali menengok kebelakang dan tersenyum pada Rafan.
Tubuh Ara hilang dari pandangan Rafan, ia menyusul untuk pergi dari sana.
*****
"Oh jadi gitu ceritanya, sosweet banget ya pak Rafan." Siti menggumam gemas membayangkannya.
"Makanya mbak cepetan nikah dong, biar di sosweetin, hahaha" sahut Ulfa.
__ADS_1
"Jodohku belum keliatan."
"Emangnya apaan pake belum kelaur mbak,bak " Ara ikut menimpali dan mereka tertawa bersama.
*****
"Bisa mampir sebentar gak ?" tanya Rafan.
"Kemana ?" sahut Robin masih fokus menyetir.
"Beli hadiah."
"Untuk siapa ?"
"Ara."
Chitt.
Mobil berhenti mendadak, tubuh Rafan dan Robin terhuyung kedepan.
"Astaghfirullah, hati-hati Bin." keluh Rafan
"Serius, mau beliin Ara hadiah." tak menggubris keluhan Rafan.
Rafan menghembuskan nafas lemas. "Iya."
"Untuk apa ?" tanya Robin lagi.
"Memang memberikan hadiah harus ada alasan."
"Yaa, kan kebanyakan orang memberikan hadiah ada alasan tertentu."
Rafan melengos, mengalihkan pandangan keluar jendela. "aku tak butuh alasan, ini keinginan hatiku."
"Wahhh, Pak Rafan sudah main hati ternyata ya." goda Robin.
Rafan menoleh pada Robin. "Apa maksudmu ?"
"Ah, sudahlah jangan dipikirkan. Kemana kita akan membeli hadiah." menghidupkan mobil dan mulai melaju.
"Menurut mu hadiah apa yang pantas untuk dia?"
"Bagaimana jika jam tangan?"
"Ayo pergi."
Mobil melesat cepat ke toko mencari hadiah jam untuk Ara. Rafan dan Robin memilih jam yang pas untuk Ara. Pilihan Rafan jatuh pada jam couple berwarna hitam, setelah mendapat rekomendasi dari penjaga toko. Jam tangan mewah langsung di bwli Rafan. Harganya yang mahal membuat Robin terkejut, tapi ia paham Rafan anak orang kaya, jadi bebas pikirnya.
Haii up lagi nih, tapi maaf ya dikit🤭.
Semangatin author dong, lewat like, komen dan favoritnya 🤗, lewat doa juga boleh 🤭.
__ADS_1
🤗🤗.