
Dengan tergesa Rafan dan Ara berjalan di koridor rumah sakit. Menaiki lift menuju ruangan Herman di rawat. Meskipun Rafan marah atas perlakuan Herman. Tapi, Herman adalah kakeknya, kakek yang selalu menyayangi sedari Rafan kecil.
"Assalamualaikum." ucap Rafan saat sampai di ruangan Herman dirawat.
"Waalaikumsalam, kamu datang juga Fan." jawab Laras.
Ada Fadil dan Hana juga di sana yang menjawab salam. Rafan berjalan mendekati Herman yang tengah terbaring, dengan selang di tubuhnya.
"Bagaimana dengan keadaan kakek ma ? Kenapa kakek bisa serangan jantung ?" tanya Rafan.
" Mama juga gak tau Fan, pas kamu pergi sama Ara tadi. Kakek juga pergi ke kamar, terus Bi Inah tiba-tiba sudah nemuin kakek pingsan di depan kamarnya. Lalu kami cepat-cepat bawa kakek ke sini." jawab Laras.
Fadil sedang duduk di sebelah Herman, tatapan sedih jelas tergambar di raut wajahnya.
Seorang dokter masuk " Maaf tuan saya mau memeriksa kondisi tuan Herman dulu."
"silahkan dokter." ujar Fadil mempersilahkan.
Dokter itu dengan cepat, memeriksa kondisi Herman.
"Bagaimana dengan kondisi kakek saya dok ?" tanya Rafan cemas.
"Kondisi tuan Herman sedang tidak baik-baik saja. Ada masalah pada jantungnya, sehingga kami harus melakukan operasi untuk bisa membuat tuan Herman hidup lebih lama."
"Apa maksud anda dokter !" seru Rafan.
"Begini tuan, kondisi tuan Herman sekarang sedang parah. Kita harus segera mengganti jantungnya. Dan pihak rumah sakit sedang mencari pendonor yang cocok untuk tuan Herman."
"Kalau begitu cepat, cari pendonornya ! Segera lakukan operasi pada kakek !"
"Tapi, dengan kondisi tuan Herman yang sudah lanjut. Tetap tidak berefek banyak, meskipun sudah melakukan operasi tuan. Kecuali ada keajaiban yang datang." Dokter itu tampak takut-takut menjelaskan pada Rafan.
Rafan terlihat sangat frustrasi dengan keadaan Herman. Fadil sendiri hanya diam mematung, pandangannya seolah kosong, mendengar sang ayah yang harus di operasi jantungnya. Kemungkinan besar pun, operasi tak berefek banyak untuk Herman.
"Lakukan sebaik mungkin dok," pinta Rafan. "Saya tidak mau kehilangan kakek." lirihnya.
"Kami akan melakukan sebaik mungkin tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."
Dokter itu pun pergi. Rafan masih berdiri di samping Herman, menatap sendu wajah kakeknya. Teringat akan kenangan indah masa kecilnya dengan sang kakek. Saat Fadil dan Laras tak membelikan mainan robot untuk Rafan, karena di rasa Rafan sudah memiliki banyak mainan dan tidak ingin memanjakan Rafan.
Tapi, Herman selalu menuruti kemauan Rafan saat menginginkan mainan baru.
"Mas, kita duduk yuk." ajak Ara menunjuk sofa yang di duduki Hana.
Rafan yang tersadar Ara masih berdiri disampingnya. Mereka memutuskan duduk disebelah Hana.
"Kamu yang sabar ya Fan. Kakek pasti sembuh kok." ucap Hana.
"Aamiin, makasih Han." balas Rafan.
Mereka terdiam sejenak, Ara melihat Laras masih berdiri di samping Fadil. Sepertinya Laras tak bisa meninggalkan Fadil yang tengah bersedih. Ara merasa kasihan pada Laras yang terus-terusan berdiri. Ara pun bangkit untuk mengambilkan kursi untuk Laras duduk.
"Mau kemana Ra ?" tanya Rafan.
"Mau ambil kursi buat mama, kasihan mama berdiri terus."
__ADS_1
"Mas aja kamu duduk." Rafan mencekal tangan Ara, lalu mengambil kursi untuk Laras.
"Mama duduk ya." Rafan menyerahkan kursi.
"Makasih Fan." meraih kursi yang di berikan Rafan.
Fadil masih tak bergeming, bahkan tak mempedulikan Laras di sampingnya yang terus menerus berdiri. Rafan tahu itu, Papanya sangat lemah jika harus berhadapan dengan Herman. Rafan memakluminya, karena Fadil sangat menyayangi Herman. Apalagi setelah mendiang nenek Rafan meninggal, dan meminta Fadil untuk selalu menjaga dan menyayangi Herman.
"Kamu habis nangis ya Ra ?" tanya Hana yang memperhatikan mata sembab Ara.
"Oh ini, Enggak kok tadi cuman kemasukan debu. Jadi kayak abis nangis." jawab Ara berbohong. Hana hanya oh ria.
Dia berbohong, heh ! Dikiranya aku tidak tahu.
Mendengar pertanyaan Hana, Rafan menatap Ara. Dilihatnya mata Ara yang memang sembab dan wajah yang pucat.
"Kamu pulang aja ya. Biar bisa istirahat, muka kamu pucat banget." Rafan mengelus punggung tangan Ara.
"Gak usah mas. aku gakpapa kok." membalas menepuk tangan Rafan.
Harusnya aku yang di perhatikan Rafan.
"Papa !" seru Fadil senang. Tangan Herman tampak bergerak dan dengan pelan membuka matanya.
"Alhamdulillah." Laras menimpali.
Ara, Rafan dan Hana mendekati Herman.
"Alhamdulillah kakek sadar juga akhirnya." ucap Rafan.
"Kenapa ada dia di sini hah !" seru Herman.
Hati Ara mencelos. Begitu bencinya kah Herman pada dirinya.
Rafan menghela nafasnya. "Kek, please jangan sekarang." pinta Rafan.
"Huh !" Herman memalingkan wajahnya dari Ara.
"Kakek, sekarang ini Kakek jangan banyak pikiran dulu ya. Nanti gak sembuh-sembuh loh sakitnya." ucap Hana, di balas senyuman oleh Herman.
"Kayak Hana dong perhatian !"
"Pa, udah jangan gitu." sela Fadil.
Herman tersenyum lebar, lalu beralih ke Rafan.
"Rafan mumpung kamu masih di rumah sakit, sekalian kamu cek istri kamu. Dia mandul apa enggak."
Rafan mengepalkan tangannya geram, tapi dia harus bisa menahan emosinya. "Kami akan periksa kek, tapi nanti ya. setelah Kakek pulih." bujuk Rafan.
"Kakek sudah sembuh, sekarang kalian cek aja. Kakek akan temani kalian," ucap Herman masih kekeuh memaksa.
"Tapi kek,"
"Gak ada tapi tapi, harus sekarang !"
__ADS_1
"Pa, jangan ngotot. Besok kan masih ada waktu. Papa masih belum pulih." sela Fadil.
Herman masih tetap kekeuh dengan niatnya memeriksa kondisi Ara. Setelah perdebatan agak lama, mereka bersedia untuk memeriksa kondisi Ara. Herman sendiri yang langsung memanggil dokter untuk memeriksa Ara.
*****
Pemeriksaan Ara sudah selesai. Dokter keluar dari ruangannya di ikuti Ara di belakangnya. Ruangan dokter yang sudah dipenuhi Herman dan anggota keluarga lainnya.
"Bagaimana dok hasilnya ?" tanya Herman tak sabar.
"Jadi, menurut hasil pemeriksaan saya. Nona Ara memang benar mengidap penyakit PCOS. Dan penyakit ini sudah menyerang organ dalam, terutama di bagian rahim. Dan maaf tuan, karena penyakit ini Nona Ara mengalami kemandulan. Sebenarnya penyakit ini bisa diobati, namun membutuhkan waktu yang cukup lama. Dan kemungkinan juga belum bisa menyembuhkan secara total."
Tubuh Ara seketika lunglai, kalau tidak Rafan menopang. Sudah tentu Ara akan terjatuh.
"Ara !" seru Rafan panik. Dengan cepat Rafan memboyong Ara untuk duduk di sofa.
Senyuman kemenangan terbit di bibir Herman.
Semua anggota keluarga nampak syok, tak percaya jika Ara benar-benar mandul.
"Kakek bilang apa kan ! istri kamu beneran mandul kan !" seru Herman bersemangat, tak mempedulikan Ara yang menangis.
Fadil dan Laras tak bisa berkata apa-apa lagi, melakukan pembelaan pun sepertinya percuma.
"Kakek mau cucu Fan. Sebelum kakek pergi, kakekmu ini ingin menimang cucu untuk terakhir kalinya. Uhuk uhuk." Herman berpura-pura batuk.
Rafan masih sibuk menenangkan Ara, tak menggubris perkataan Herman.
"Gimana kakek mau punya cucu, tapi istri kamu malah mandul."
"Kakek cukup ! bisa gak bahas ini nanti lagi. Ara lagi sedih kek !" sentak Rafan.
"Kamu berani bentak kakek hah ! kakek cuman mau liat cucu di waktu terakhir kakek Fan. Kakek tahu, umur Kakek gak bakal lama lagi !"
"Kakek udah, kasihan Ara kek." Hana mengelus pundak Herman dikursi roda yang di dorongnya, mencoba menenangkan.
"Biarin, sekali mandul ya tetap mandul."
"Kakek cukup !" teriak Rafan kesal.
"Kamu berani bentak kakek lagi hah ! kamu, ka ...." suara Herman tercekat. Tangannya memegang dadanya yang tampak kesakitan.
"Kakek !" seru Hana panik.
"Papa !" seru Fadil dan Laras bersamaan.
Hai guys, author up lagi nih.
Gimana greget gak sih ? Maaf ya kalau ceritanya agak gaje. Bab selanjutnya sudah bisa ketebak sama kalian, author belum bisa bikin timbul rasa penasarannya🙏. Author masih pemula jadi mohon di maklumi ya☺️.
Tetap dukung author ya, supaya bisa menyelesaikan novel ini. Krisan dari para readerku juga bisa loh, membantu author untuk lebih baik lagi menulis cerita ke depannya.
Jangan lupa untuk selalu like, komen dan favoritnya ya.(
🤗🤗
__ADS_1