Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Perihal Bahagia


__ADS_3

Rafan dan Ara sudah sampai di rumah. Malam itu mereka sedang makan malam bersama dengan keluarga Budi.


“Makan yang banyak nak Rafan, gak usah malu-malu anggap aja rumah sendiri.” kata Nisa.


“Iya bu, “ jawab Rafan tersenyum.


“Nak Rafan jangan kaget ya kalau Ara makan.” ucap Budi.


“Kenapa emangnya pak “ tanya Rafan sambil melirik Ara yang cuek-cuek saja.


“Ara itu suka makan banyak tapi gak gemuk-gemuk. Padahal makan banyak seneng ngemil, tapi masih kurus aja.”


“Itu namanya berkah pak.” sahut Ara.


“Eleh berkah apa ?” Lana menyahut.


“Diam bocil, masih kecil gak usah ikut-ikut.”


“Nye nye nye. wekk.” Lana menjulurkan lidah mengejek Ara.


“Wekk.” Balas Ara.


Rafan tersenyum melihat interaksi dua saudara itu. Dia selaku anak tunggal tidak pernah merasakan kebahagian cekcok, ribut dan bercanda dengan saudara. Tapi dia bersyukur menjadi satu-satunya yang di sayang mama papanya.


“Ra, nanti kalau sudah tinggal sama suami jangan malu-maluin suami. makan banyak kok gak gemuk-gemuk.” lanjut Budi.


“Iya ayah, Ara tau kok. Lagian badan Ara yang sekarang itu udah bagus idealllll !! banyak orang diluar sana yang pengen punya badan kayak aku.” ucapnya dengan mulut masih mengunyah paha ayam.


Rafan lagi-lagi tersenyum geli melihat kelakuan Ara.


Dia memang suka membanggakan diri seperti itu ya, dasar.


Selesai makan Rafan izin untuk naik ke kamar Ara. Sedangkan Ara masih ingin menonton bareng keluarganya, meskipun sudah di perintah ibunya untuk menemani Rafan.


Rafan berbaring di ranjang, ia merasa badannya agak pegal-pegal karena harus kehujanan tadi.


Badanku pegal-pegal lagi, pasti gara-gara kehujanan tadi nih. Tapi kalau kehujanan kayak tadi sih gak papa, dapat pelukan gratis.


Rafan tersenyum-senyum sendiri mengingat bagaimana eratnya Ara yang memeluknya tadi. Ia mengelus pelan perutnya, seperti masih merasakan bekas pelukan Ara.


Astagfirullah mikir apaan sih aku, gitu kok kepikiran terus.


Rafan tersadar, lalu turun untuk mengambil obat di lantai bawah. kepalanya dirasa pusing.


Rafan mendengar suara tawa Ara dari ruang TV. karena penasaran ia mendekat dan mengintip apa yang sedang keluarga Budi lakukan.


“Itu gak laku dek duit itu.” ucap Ara.


“Kok gak laku itukan uang asli kak.” jawab Ara.


“Dikasih tau gak percaya, uang yang laku itu yang gambar Pak Soekarno-Hatta yang warna merah itu baru laku. Hahaha” jawab Ara sambil tertawa.


Budi dan Nisa tertawa mendengar penuturan Ara yang konyol itu.


“Alah dasar modus, bilang aja mau minta yang merah mbak, mbak.” Sahut Nisa masih tertawa.


Ara masih tertawa.” Hahaha, kalau duit yang gambar bapak pala botak, ada 10 lembar ya mau aku, hahaha.”


“Alah sama aja itu namanya nanti jadi seratus ribu juga, hahaha.” budi ikut menimpali.


Mereka tertawa bareng, suara tawa Ara yang paling besar dan tak henti-henti.


Rafan yang menyaksikan keharmonisan keluarga mereka merasa iri. Dia melihat Ara yang tertawa lepas teringat dengan ucapan mamanya saat iya menanyakan perihal calon istrinya.


“Fan calon istri kamu ini orangnya super humoris, hahaha, mama aja kalo inget dia ngomong aja gitu bawaannya pengen ketawa terus. Pokoknya mood booster banget dia itu.” ucap Laras.

__ADS_1


“Emang mama denger dia ngomong dimana, katanya jarang ketemu ?” tanya Rafan.


“Mamakan sering telponan sama ibunya, jadi tau kadang-kadang juga ibunya banyak cerita tentang calon istri kamu itu.” imbuh Laras.


Rafan hanya menganggukkan kepala paham.


Ternyata benar yang dikatakan mamanya, kalau Ara itu mood booster bagi banyak orang. tingkahnya yang lucu dan ceria mampu menghidupkan suasana di sekitarnya.


Rafan memutuskan untuk kembali ke kamar, sakit kepala dan pegal di badannya sepertinya sudah hilang dengan hanya melihat senyum Ara.


Entahlah Rafan pun bingung dengan dirinya.


“Mbak udah malem ini, tidur sana. kasihan suami kamu sendirian.” ujar Nisa.


“Iya bu, Ara naik dulu ya ke atas.” jawab Ara.


Ara masuk ke kamar dan mendapati Rafan belum tidur, masih dalam posisi PW.


“Bapak belum tidur ?” tanya Ara.


“Belum ngantuk.” jawab Rafan.


“Oh gitu.” Ara meraih piyama tidur dan pergi ke kamar mandi untuk ganti baju.


Rafan menatap punggung Ara sampai hilang masuk kamar mandi.


Dia di sayang banget sama keluarganya. Mereka bisa buat Ara bahagia, masa dia nikah sama aku gak bahagia. Pikir Rafan.


Ara sudah membaringkan tubuhnya disamping Rafan dan membelakanginya.


“Ra boleh aku tanya sesuatu.”


“Tanya apa pak.” Ara beralih duduk dan menatap Rafan.


Kenapa malah tatap aku gitu, aku jadi gugup nih. Batin Rafan


“Eh itu, kamu bahagia gak nikah sama aku?”


Eh kok dia malah tertawa. Emang salah ya aku nanya gitu.


“Hahaha, bapak kok aneh sih, kenapa pake nanya gitu.” tertawa pelan.


“menurut bapak gimana.”


“Kok malah nanya balik,saya kan tanya kamu.”


“Ya kalo menurut saya sih emm bahagia gak ya ?” Ara memangku dagunya sok berpikir.


Imutnya.


“Kalau bapak bahagia gak nikah sama saya.” bertanya lagi.


“jawab dulu pertanyaan saya tadi.”sergah Rafan.


“Ya saya tanya bapak dulu, bapak jawab saya juga bakal jawab.”


“Kok gitu ?”.


“Ya gitu.”


Rafan masih diam bingung dengan perasaannya. Bahagiakah dia dengan Ara. Dia merasa bahagia melihat Ara tertawa seperti tadi sore bersamanya.


“Ah ah sudah aku sudah tau jawaban bapak.” sahut Ara memecahkan lamunan Rafan.


“Apa ?” tanya rafan penasaran.

__ADS_1


“Pasti bapak bahagia banget nikah sama saya.”


Rafan menganga mendengar jawaban Ara.


“Secara saya itu cantik, baik, manis, pinter, pokonya semuanyalah ada.” lanjut Ara dengan bangganya.


“ Udah salah malah Sombong.” jawab Rafan.


“Eh bapak sombong dimana coba emang gitu kenyataannya.”


“Iya tapikan gak boleh sombong gitu.” tutur Rafan.


“Tapi bapak bahagia kan ?” tanya Ara lagi.


Rafan diam.


“Kalau bapak gak bahagia, gak mungkin bapak tadi meluk saya seerat itu.” jawab Ara dengan tatapan yang nakal mengerjapkan matanya sok imut. “ ya kan, iya kan, cieeee yang udah bahagia.” goda Ara.


Rona wajah Rafan sudah berubah merah, dia malu dan gugup dengan ucapan Ara. Dia segera mengalihkan pandangannya mengurangi rasa gugupnya.


Astagfirullah geernya anak ini, malah sok ngimut lagi, kamu udah imut tau. Batin Rafan.


“kan bapak diem, ciee udah nyaman ya sama aku. aku emang gitu orangnya suka bikin nyaman.” cicit Ara dengan bangganya.


“Dih geer.” sahut Rafan.


“Ciee yang udah bahagia, ciee udah nyaman, cie cie. itu mukanya bapak merah. cieeeee !” Ara meledek Rafan lagi.


“Apa sih Ra.” Rafan mengusir rasa malu dan bahagia menyelam dihatinya di goda Ara.


“atau bapak mau saya peluk lagi biar nambah bahagia.” Ara mendekati Rafan dan membentangkan tangan seolah ingin di peluk.


“Araaa !! jauh-jauh jangan peluk-peluk.” seru Rafan.


“Yang bener nih,bapak gak mau saya peluk.”Ara semakin mendekat ke tubuh Rafan sambil memejamkan mata.


“Araaa, udah stop disana.” seru Rafan dengan wajah sudah merona tak karuan.


Ara berhenti dan kembali ke posisi awal di duduk. Jantungnya juga deg-degan, antara sadar dan tidak Ara merutuki dirinya kenapa bisa se-pede itu ngomong.


Ya Allah, maafin Ara tadi gak sengaja. Ya Allah, kok hatiku seneng banget sih liat Pak Rafan malu-malu gitu. gantengnya Nambah banyak ihh. Batin Ara yang rona wajahnya sudah mulai memerah juga menahan malu.


Mereka saling diam,


“Udah malem Ra, kita tidur aja.” ajak Rafan.


Ara mengangguk, dan merebahkan dirinya lagi, kali ini menghadap Rafan dan menatap laki-laki itu.


Rafan dilanda gugup dan malu di tatap seperti itu.


“Jilbabnya gak di lepas.” tanya Rafan, mengalihkan rasa gugupnya.


“Ampun pak Ara masih kecil, jangan Pak !” rengek Ara dengan wajah meledek dan tangan disilangkan di depan dada.


“Dasar geer, udah sana tidur.” Seru Rafan membaringkan tubuhnya membelakangi Ara.


Ara cekikikan berhasil menggoda Rafan. Yang di goda hanya tersenyum mendengar tawa Ara yang semakin hilang.


Astagfirullah, apa-apaan aku. berani goda-goda pak Rafan gitu, kalau dia khilaf gimana. Aaaaa bodo amatlah. gerutu Ara pada dirinya. Tapi gak papalah kan suami sendiri hihihi. Sekali- sekali ya kan, mukanya ganteng banget kalo lagi malau-malu. Ara tersenyum mengingat wajah Rafan yang malu-malu tadi.


Jantung please jangan lari-lari, nanti kalau aku mati gak bisa liat dia senyum lagi. Batin Rafan sambil menyentuh dada sebelah kirinya, berusaha menormalkan detak jantung yang sudah tak karuan lagi.


Semoga rasa ini benar adanya.


Doa keduanya dan tersenyum menikmati bahagia.

__ADS_1


Malam semakin larut, keduanya sudah terlelap dalam tidurnya. Tanpa di sadari mereka mengulangi rasa malu-malu dan bahagia sama seperti sore tadi. Bedanya malam ini gantian Ara yang bertindak.


Haii, jangan lupa tinggalin jejak ya😁, like, komen en sebkrebb🤭.


__ADS_2