Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Malu (Part 2)


__ADS_3

Aduh gimana coba ?


Minta tolong Pak Rafan gimana ya?


Tapi nanti dia malah jahil. Ihh, gimana ?


Ara menggerutu kesal sambil bolak-balik berpikir bagaimana caranya keluar dari kamar mandi.


Hufhh, minta tolong Pak Rafan aja deh.


Ara kemudian memutuskan keluar dan meminta tolong pada Rafan. Kepalanya menyembul di pintu.


"Pak !!" tak ada sahutan. "Pak Rafan!!." panggilnya lagi.


"Kok sepi ?, Pak Rafan gak." Ara tersenyum sumringah. "Yesss, Gak ada orang."


Ara keluar sambil memastikan bahwa Rafan benar-benar tidak ada.


"Hufhh aman." Dengan cepat Ara mengambil pakaian ganti, takut Rafan datang.Dia membuka almarinya mencari baju.


"A !!," Ara kaget bukan kepalang, jantungnya hampir copot. Bagaimana tidak ? Ia menemukan Rafan di dalam Almari pakaian.


Tubuh Ara hampir terjatuh ke belakang jika Rafan tak segera menangkapnya.


Bruk


Akhirnya mereka terjatuh juga. Tubuh Ara menimpa Rafan. Mereka terdiam, saling pandang. Sampai Ara sadar dan segera bangun dari tubuh Rafan.


"Ihh Bapakk!!!!" Ara memukul dada Rafan kesal. Rafan meringis, pukulan Ara cukup kuat membuatnya kesakitan.


"Au, a sakit Ra."


"Ngapain coba dalam lemari ? ihh kurang kerjaan deh." memukul lagi.


" Sakit Ra."


"Bodooo amat."


Rafan tertegun melihat tubuh Ara, putih bersih tanpa cacat. Baru kali ini dia melihat tubuh istrinya dari atas sampai ke ujung kaki. Dia menelan kasar ludahnya. Ara segera menyadari pandangan Rafan yang melihatnya.


Dia sadar hanya memakai handuk.


Astaghfirullah,


"Aaaa, bapak liat apa ?" menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya.


"Engga liat apa-apa." Tapi matanya belum beralih dari tubuh Ara.


Ara melihat pahanya yang tersingkap. "Aaaa, bapakk !! tutup matanya !." seru Ara berusaha menutup pahanya dengan satu tangan.


"Ihh, bapak !!"


"Kenapa Ra ?" senyuman licik Rafan terbit.


"Ihhh, keluar sana !, aku mau ganti !"


"Ya tinggal ganti, udah liat juga."


"Pak Rafannn !!! Aaaa jahat !" Ara memukul lengan Rafan.

__ADS_1


Rafan terkekeh, lalu berdiri.


"Ayo bangun." mengulurkan tangan, melihat Ara masih duduk bersimpuh.


Ara Menggeleng. "Bapak keluar nanti aku bangun."


"Yahh, gak jadi keluar deh kalo gitu."


Ara mendelik menatap Rafan yang berdiri didepannya. "Kenapa ?"


"Ya kamu bangun dulu, nanti aku keluar." Senyuman Licik Rafan timbul lagi.


"Is, apaan sih pak. Udah keluar sana."


"Bangun dulu, gak bangun aku gak keluar."


Isss, apa coba maunya.


Ara menggumam kesal. Rafan masih berdiri melihat Ara, ia menelan susah Salivanya.


Sabar Rafan, sabar. Tahan, jangan sekarang.


Ara mengalah lalu bangkit dari duduknya.


"Nih aku udah bangun, bapak keluar sana."


Rafan melihat Ara sudah bangun, ia tersenyum kecil, lalu melangkah keluar kamar.


Dasar mesum.


Dengan kilat Ara memakai baju. Benar saja Selesai Ara memakai baju, Rafan masuk kamar.


"Emang gak boleh ?"


"Ya enggak si."


"Ya udah, gak papa kan ?"


Rafan berjalan menuju kamar mandi untuk mandi sambil tersenyum.


Iss nyebelin banget si.


*****


Ara selesai dengan solat dan ritualnya setelah mandi, biasalah perempuan. Setelah selesai Ara berencana turun ke lantai bawah, tapi malu mengingat mertuanya tadi memergokinya.


Di urungkan niatnya, kemudian memutuskan memainkan Hpnya.


Rafan selesai solat, ikut duduk di samping Ara.


"Pak !"


"Hmm."


"Kenapa tadi aku panggil gak jawab ? Pake masuk almari lagi." ketus Ara.


Rafan terkekeh. " Gak papa, pengen usil aja. hahaha"


Ara memukul lengan Rafan. "Isskan, kurang kerjaan."

__ADS_1


"Kamu kelamaan di kamar mandi."


"Ya itu, " bingung mau menjawab bagaimana.


"Itu apa ?"


"Ya itu tadi saya bingung, gak bisa keluar kamar mandi."


"Kenapa ? pintunya kekunci."


Ara Menggeleng.


"Terus ?" Rafan sedikit demi sedikit tanpa disadari Ara, Rafan sudah menempel didekat Ara.


"Ya kan tadi saya gak baju. Mau keluar malu dilihat bapak." Ara menjawab jujur sembari menutup wajahnya malu.


"Hahaha." Rafan tertawa puas mendengarnya.


"Masih kelihatan juga, hahaha." tertawa lagi.


Rona wajah Ara sudah memerah. Memang Rafan sudah melihatnya tadi.


Sial.


"Malu ?" Rafan merangkul Ara, tak ada penolakan dari Ara.


"Ra, mau ku kasih kiat-kiat keluar dari kamar mandi yang mudah."


"Hah." menatap Rafan serius. "Emang ada gitu kiat-kiat khusus keluar dari kamar mandi ?"


"Ada dong."


"Apa ? "


Sebelum memulai penjelasan Rafan meminta agar Ara duduk menghadap dirinya.


"Jadi kiat-kiat khusus membuka kamar mandi itu..." Rafan hampir tertawa melihat wajah Ara serius mendengarkannya.


"Cepetan kok malah diam."


"Iya bentar. Kiat-kiatnya itu yang pertama ketika kamu ingin keluar dari kamar mandi. Yang pertama kamu harus membuka pintu,.." diam lagi.


"Terus ?"


Percayalah Rafan sudah tidak tahan lagi ingin menerkam istrinya yang menggemaskan.


Sabarrr Rafann, sabarr.


"Kiat yang kedua, setelah buka pintu. Kamu tinggal keluar. Lalu tutup lagi pintu kamar mandinya."


Ara mengernyitkan keningnya, lalu tersadar.


"Iss kan, aneh-aneh aja bapak." memukul dada bidang Rafan. "Kiat apa itu, haa !? semua orang juga gitu kali pakkk!!"


"Hahaha, ya kamu aneh-aneh aja, keluar kamar mandi pake bingung. Ya udah aku jelasin gitulah. Hahaha." Rafan tak sanggup menahan tawanya. Raut wajah Ara sudah kesal.


"Dasar nyebelin." sungut Ara.


Tawa Rafan belum reda, ia semakin tertawa terbahak.

__ADS_1


__ADS_2