
“Ara....”
Budi dan Nisa menunggu dengan harap harap cemas.
“Ara mau terima perjodohan ini.” ucap Ara dengan yakin.
Budi dan Nisa senang bukan main ibu itu langsung memeluk anaknya.
“Makasih ya Mbak.” ujar Nisa sembari memeluk haru anaknya. Budi pun tak mau ketinggalan untuk memeluk anaknya itu.
Ara merasa tersentuh dengan ucapan terima kasih yang di ucapkan kedua orang tuanya. Pasalnya selama Ara hidup sampai umur sekarang bisa di hitung mereka mengucapkan terimakasih.
Ara tak memperdulikan itu tapi ia senang. Toh juga apa jasanya sampai orang tuanya berterimakasih padanya pikir Ara.
“ Gak usah makasih gitu ah bu kan jadi malu aku.” melepas pelukan ayah dan ibunya.
“Kok malu.” Nisa bingung.
“Seharusnya aku yang terima kasih sama Ayah sama ibu, sudah mau melahirkan aku, merawat, sampai aku gede gini bisa lihat indahnya dunia ini. hiks hiks.” Ara menangis kecil.
“Itukan sudah kewajiban kami sebagai orang tua Ra. Karena anak itu titipan yang paling berharga bagi orang tua.” Nisa mengelus lembut kepala anaknya.
“Nanti kalau kamu sudah nikah dan punya anak, kamu akan merasakan indahnya jadi orang tua dan punya anak-anak yang lucu.” lanjut Nisa.
Ara tersadar dengan kata-kata ibunya jika sudah menikah dia akan jadi ibu terus punya anak.
“Tapikan aku gak suka anak kecil buu.” rengek Ara.
“Hahahaha.” Budi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan anaknya itu.
“Kok ayah ketawa sih ? ihh sebel deh sama ayah. Bu ! lihat ayah ngeledek.” Ara pura-pura merengut kesal dan merengek ke ibunya.
“Mbak dulu ibu kamu juga ngomongnya gitu waktu ayah lamar. Gak mau punya anak gak suka anak kecil. Eh pas nikah udah tau enaknya terus punya anak, malah mau nambah terus. Hahahaha.” Budi tertawa melihat wajah istrinya yang merah menahan malu. “Aduhh eh aduhh sakit ibu !” cubitan keras bersarang di pinggang Budi.
“Lagian ayah bikin ibu malu deh.” ketus Nisa.
Ara hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan orang tuanya.
“Ya udah mbak kamu istirahat gih, udah malem. Ibu juga mau istirahat capek, pegal-pegal nih badan ibu.” ucap Nisa.
“Mau aku pijitin gak bu ?” tawar Ara.
“Gak usah deh kamu tidur aja ya, kan ada ayah nanti biar ayah yang mijatin ibu.”
“Nyuruh suami nih ceritanya?” Budi melirik istrinya.
“Gak mau pijitin ibu, gak dapet jatah satu bulan.” Nisa berbisik ditelinga suaminya, takut Ara mendengar apa yang dikatakannya kan Ara belum nikah.
“Iya deh ayah mau.” Budi yang tidak mau kehilangan jatah pun terpaksa menuruti kemauan istrinya itu.
“Ibu bisik-bisik mantra apa sih sampai ayah mau pijitin ibu. Biasanya kan gak mau ayah.
“Rahasia suami istri. hehehe”
“Iss ibu main rahasia sekarang ya. Udahah aku mau tidur dulu.”
“Ya udah sana tidur. jangan main HP terus.”
“Nggeh Ndoro.” Ucap Ara sambil membungkukkan badan seperti memberi penghormatan.
Ara sudah pergi ke kamarnya yang terletak di lantai atas. Lantai atas aada kamar Ara dan adiknya. Adiknya sedang tidak ada dirumah karena sedang libur sekolah, jadi adiknya menginap dirumah nenek yang lokasinya lumayan jauh dari rumah Ara.
Semoga keputusan yang ku ambil sudah benar. Semoga semuanya berjalan dengan lancar sesuai harapan aku dan orang tuaku.
Harapan Ara sebelum terlelap dalam tidur.
***********
__ADS_1
Seperti biasanya rumah keluarga Budi setiap pagi selalu dipenuhi kegiatan masing-masing anggota keluarga.
Budi dan Nisa yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke tempat usaha mereka sendiri. Ara yang selalu sibuk didapur, Ia tak mau siapapun mengganggunya di dapurnya.
Nisa sudah paham dengan anaknya itu, selalu bersemangat dengan dapur. Bahkan Nisa tak di izinkan membantu Ara menyiapkan makanan didapur, alasannya banyak, tidak mau diganggu lah, gak mau nanti ibunya repotlah dan sebaainya. entahlah Nisa pun heran dengan kebiasaan Ara.
“Mbak ayah sama ibu pergi dulu ya” seru Nisa.
“Iya” sahut Ara yang masih sibuk di dapur.
“Gak usah lama-lama di dapur ntar capek mbk” kata Budi.
“Siap yah, ini tinggal buat brownis lagi.”
“Ya udah ibu tinggal ya.”
“Iya bu.”
Budi dan Nisa pun pergi ke tempat kerja. mereka punya usaha furniture yang lumayan besar. Mereka tak pernah absen walaupun mereka bosnya. Jarak rumah dan tempat kerja mereka tak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit jika menggunakan motor.
Ditempat lain.
“Ma cepetan dong ini taksinya udah nunggu dari tadi.” gerutu seorang pria.
“Iya sabar pa, ini sudah kok mama.”
“Lama tau gak.”
“Iya deh maaf deh.”
Rafan hanya terkekeh melihat kelakuan orang tuanya itu. Bye the way mereka sekarang lagi di bandara ya. Mereka mau perggi kerumah Budi sahabat Fadil yang sudah lama tak ia temui itu.
“Udah ma pa, jalan yuk.” ucap Rafan.
Taksi mulai melaju menuju alamat yang sudah diberikan oleh Fadil. Ya itu alamat rumah Budi.
Ya mereka tau siapa yang jadi arsitektur rumah itu kalau bukan Nisa, istri Budi.
“Wah rumah mereka bagus ya pa.” ucap Laras memandang takjub rumah itu.
“kamu kayak gak tau selera Nisa aja.”
Rafan hanya diam melihat-lihat rumah dan sekekeliling rumah.
Sangat asri. pikirnya.
“Assalamualaikum.” ucap Fadil sembari mengetuk pintu.
“Assalamualaikum.” ulangnnya lebih keras.
“Ih papa ya orangnya gak dengerlah, dengerin coba musiknya kuat banget didalem.” Laras menempelkan telinganya di pintu.
“Kayaknya mereka gak ada dirumah deh.”
“telpon aja temen ayah.” usul Rafan.
“Tapi yang di dalam siapa ya?. Musiknya kuat banget lagunya kesukaan mama lagi itu.” Laras penasaran.
Antassalam, waminkassalam.
Lantunan lagu Maher Zain terdengar jelas diluar rumah.
“Udah lah papa telpon aja Budi.”
“Iya pa.”
Tut- tut
__ADS_1
Handphone Budi tempak bergetar.
“Yah Mas Fadil nelpon kamu nih.” Seru Nisa dari ruang kerjanya.
Budi yang mendengar teriakan istrinya terburu-buru datang.
“Fadil nelpon ada apa ya ?”
“Nis angkat dulu.” Nisa menyerahkan Handphone Budi.
“Halo assalamualaikum, ada apa Fad tumben nelpon pagi. Biasanya kerja.”
“Waalaikumsalam. Dasar Budi emang aku gak bisa libur kerja gitu.”
“ Mungkin ajakan Om Herman gak ngebolehin libur. hahaha.”
“Yeh udah tua udah berubah kali papa ya.” ujar fadil.
“Hahaha udah tua ya. hahaha.” Budi tertawa lagi. Nisa dan Laras hanya diam melihat suami mereka. Hal biasa jika keduanya telponan seperti itu, mungkin saking asiknya lupa dengan orang sekitar.
“Bud aku ada kejutan buat mu.”
“Astagfirullah gak usah gila Fad, udah tua gak usah main romantis-romantis lah.”
“Astagfirullah Budi inget udah tua. Yang ngajak romantis siapa?”
“Terus apa kalo gak romantis?”
“Aku sama keluarga aku di rumah kamu.”
“Apaaaa !!”. teriak Budi.
Nisa yang terkejut dengan suara Budi mendekat dan berbisik.
“Ada apa mas ?. kenapa teriak gitu.” Nisa penasaran.
“Jangan bercanda deh Fad, tak tabok ntar.”
“Astagfirullah mana aku bohong sayang.hahaha” kekeh Fadil.
Laras dan Rafan hanya geleng-geleng melihat kelakuan Fadil.
“Serius aku Fadil. Kamu udah di rumah ?” Budi bertanya memastikan lagi.
“Ya Allah iya kau sudah di depan pintu rumahmu. Kalau gak percaya ubah panggilan ke vidio.”
Budi langsung menuruti Fadil dan melongo melihat Fadil, istri dan anaknya sudah ada di depan pintu rumahnya.
“Tunggu aku pulang.”
Tanpa banyak kata Budi mematikan panggilan dan menarik tangan istrinya.
“Aduh kenapa sih Yah buru-buru banget.” Nisa berusaha menyamakan langkah dengan Budi.
“Fadil ada dirumah.”
“Apaa!. Kok gak ngabarin sih mau dateng. kan gak ada persiapan buat nyambut mereka.”
“Udah ayo cepet mereka udah nunggu.”
mereka melajukan motor yang dikendarai dengan cepat.
“Yah kan ada Ara kenapa gak disuruh masuk mereka.” tanya Nisa pada Budi yang masih fokus menyetir.
“Ara gak tau ada orang di rumah. Dia kan kalau musikkan serasa dunia milik sendiri.”
Nisa menganggguk paham kebiasaan putrinya, suka mendengarkan musik dengan suara yang kras jika orang tuanya tidak ada dirumah.
__ADS_1
Jika Budi di rumah Ara tidakakan berani mendengarkan musik dengan Volume yang keras, cukup dia yang mendengar saja. Karena Budi tidak terlalu suka dengan selera musik Ara.